Reverse Culture Shock and Informalities

Louisa Hartono

 

Halo Pembaca setia Baltyra, apa kabar? Perkenalkan nama saya Louisa, orang baru dalam komunitas ini, tapi sudah beberapa lama menjadi pembaca Baltyra juga. Saya saudaranya Sasayu yang suka nge-post resep makanan yang enak-enak itu loh :p

Saya mau cerita sedikit mengenai reverse culture shock yang saya alami ketika saya kembali dari Swiss untuk menempuh pendidikan S2 di sana. Dibanding anggota Baltyra yang lain, kehidupan saya di luar negeri belumlah lama, baru sebentar sekali, tepatnya 10 bulan. Saya pulang ke Indonesia untuk liburan musim panas, sekaligus untuk melakukan magang dengan salah satu NGO di Jakarta.

Walaupun belum setahun penuh di luar negeri (LN), namun begitu balik ke Indonesia saya sudah culture shock. Ga bisa bayangin deh, seperti apa rasanya culture shock (CS) bagi orang-orang yang sudah tinggal belasan tahun di LN dan balik Indonesia lagi. Justru ketika kali pertama saya menginjakkan kaki di LN, saya sama sekali enggak mengalami CS. Kenapa? Karena segalanya serba teratur dan ada prosedur yang pasti. Hukum berjalan baik di sana, dan masyarakatnya juga sudah sadar hukum.

Reverse-culture-shock

Hal ini ditambah dengan keinginan saya untuk bisa tinggal di LN sejak kecil, sehingga dalam hal bahasa dan gaya hidup relatif tidak ada masalah karena saya banyak membaca buku-buku asing sejak kecil. Untuk soal makanan juga tidak begitu masalah. Yaaa kadang-kadang kangen dengan pecel lele, rendang, ayam bacem, tahu dan tempe bacem, sama bakul nasi goreng atau mie goreng tek-tek yang malam-malam suka lewat, tapi masih bisa ditahan lah. Di Swiss, makanan Indonesia relatif sedikit, tidak seperti di Belanda yang setiap tahunnya ada pasar malam Indonesia dan bumbu-bumbu Indonesia relatif mudah ditemui. Yaaa mentok-mentoknya restoran Singapura dan Malaysia yang menyediakan rendang, nasi goreng, bakmi goreng, bahkan gado-gado juga ada, tapi harganya gak worth it banget dan saya juga gak akin dengan kualitas rasanya. Di Swiss juga, mana ada penjual makan gerobakan. Pukul 7 malam toko-toko sudah tutup semua, apalagi hari Minggu. Justru di Indonesia, toko-toko pada ramai di hari Sabtu dan Minggu karena itulah kesempatan untuk dapat uang yang lebih banyak dibandingkan hari-hari biasa hehe.

Adaptasi terberat saya adalah soal cuaca dan transportasi. Hawa panas dan pengap langsung menyergap saya begitu keluar dari Bandara Soekarno Hatta. Saya langsung diserbu dengan pedagang-pedagang asongan yang menawarkan jasa taksi, sim card, minuman, rokok, dll. Saya langsung berkeringat kepanasan dan mendambakan ruangan ber-AC. Saya hanya sempat mengalami sedikit nuansa summer ketika di Jepang, yang memang panas menyengat (kalo orang Jawa bilang sih, panase nyenthor banget hoho). Tapi at least mendingan karena cuaca di sana kan bersih, gak ada polusi udara. Begitu juga di Swiss, udara di sana enak dihirup, begitu bersih dan segar. Sedangkan di Jabodetabek, kalo keluar rumah ga pake masker rasanya seperti ada sesuatu yang kurang.

Menyeberang jalan juga menjadi isu tersendiri di kota Jakarta dan sekitarnya. Di Indonesia, mau menyeberang jalan itu susahnya minta ampun. Bahkan sekalipun kita sudah nyeberang di zebra cross, kendaraan tidak mau melambatkan jalan. Pokoknya ya, kalau motor-motor dan mobil mau melambatkan jalan sedikiiiit saja, rasanya udah syukur Alhamdulillah…. Apalagi angkot. Weleh, ga usah ditanya. Dari dulu angkot sudah menjadi musuh terbesar saya. Hampir saya ga pernah misuh-misuh atau ngedumel tiap kali naik motor di jalan. Masalahnya pasti seputaran dengan angkot yang suka ngetem sembarangan dan menyupir ugal-ugalan.

Saya rasa, gap yang ada antara Indonesia dengan negara-negara maju di Eropa bisa disebut sebagai informality. Apa itu informality? Informality menggambarkan suatu keadaan atau kondisi dimana banyak terdapat jasa atau layanan informal yang dilakukan atau disediakan oleh masyarakat. Hal ini biasanya disebabkan karena adanya gap atau absennya layanan dari pemerintah. Ekstrimnya, masyarakat menilai Negara gagal untuk memberikan layanan atau fasilitas kebutuhan dasar bagi warganya. Atau kalaupun ada, layanan itu tidak berfungsi dengan baik, sehingga mereka tidak puas dan merasa perlu untuk bergerak sendiri menyediakan layanan yang mereka perlukan.

culture-shock

Saya banyak melihat kondisi ini terjadi di Indonesia. Misalnya, adanya preman-preman yang bertugas menjaga keamanan di sekitar kompleks ruko atau perumahan. Tak heran jika kita dimintai untuk turut menyumbang “jasa keamanan” kepada mereka. Hal seperti ini patut ditanyakan, mengapa bisa terjadi? Mengapa beberapa orang bisa berinisiatif untuk menjadi preman, dan masyarakat bisa sampai menerima keadaan mereka? Dimanakah peran polisi sebagai aparat Negara untuk menyediakan keamanan?

Kemudian ada calo-calo yang menjual tiket kereta api, tiket pesawat, bahkan tiket nonton bioskop pun ada haha. Contoh lain adalah banyaknya tukang-tukang parkir yang berseliweran di pinggir jalan. Saya kurang begitu jelas dengan negara Eropa lain, tetapi di Swiss, di setiap ruas jalan yang bisa dijadikan tempat parkir, pasti ada mesin otomatis dimana pengemudi bisa mengambil tiket sendiri dan membayar, sesuai lamanya parkir. Jam parkir di sana juga ada ketentuannya, misalnya dari pukul 9 pagi hingga 6 sore. Dan saya juga kagum dengan kesadaran warga untuk mendaftar, mengambil tiket sendiri, dan membayar setelah mereka menggunakan jasa parkir tersebut. Well, salah satu faktornya juga karena penegakan hukum di sana ketat sih. Biasanya suka ada semacam satpol PP di sana yang jalan-jalan, dan kalau ada mobil yang ketahuan sembarangan parkir, bisa diderek deh itu mobil. Diangkut paksa, atau ditempelin karcis tilang di kaca depannya. Sayang sekaliii disana ga ada jalan damai….

Mengenai transportasi, transportasi umum di Eropa itu tertata sekali. Bus-bus umum beroperasi baik, ada tempat-tempat pemberhentian yang sudah jelas, dan tersedia setiap 5 hingga 10 menit sekali (tergantung rutenya) sehingga masyarakat mudah melakukan mobilitas dengan aman dan nyaman. Ga ada yang namanya ngetem sembarangan karena mereka digaji. Masyarakat membayar dengan menggunakan kartu abonnement yang diisi ulang setiap bulan, seperti kartu multi trip yang sekarang diberlakukan di commuter line Jabodetabek. Saya lihat sistim transportasi di Jabodetabek sekarang sudah membaik dibandingkan waktu-waktu sebelumnya, terutama dengan adanya commuter line, penggunaan kartu multi trip, dan bus transJakarta.

Bus transJogja yang ada di Jogja juga sudah bagus. Apalagi sekarang Pak Jokowi sedang memulai pembuatan MRT. Saya rasa, pemerintah Indonesia, khususnya di Jakarta memang perlu berinvestasi di bidang transportasi ini. Daripada bikin jalan tol terus, mending perbaiki armadanya, baik kualitas maupun kuantitas. Dengan jumlah penduduk Jakarta yang lebih dari 12 juta, rasanya ga bakal rugi buat nginvest di transportasi, karena pasti balik modal hehe. Mungkin lebih baik bila diberlakukan sistim gaji bagi para supir angkot, biar mereka ga ngetem seenaknya cuma buat kejar setoran :(  Sistim yang sekarang membuat pelayanan mereka hanya mengutamakan bayar setoran daripada kenyamanan penumpang.

Tapi menurut saya, ga selamanya informality di Indonesia itu jelek. Yah ada plus-minusnya lah. Di Eropa pada umumnya dan di Swiss pada khususnya, karena semuanya serba formal dan legal, maka segala sesuatu harus menurut aturan main. Jeleknya, kadang-kadang kalau kita butuh sesuatu yang mendesak, ga bisa langsung dapet ato selesai dengan cepat. Semua ada prosedur.

Misal, soal nyari kos-kosan. Di Indonesia, kalo mau cari kos tinggal datengin satu-satu kos yang ada, liat-liat kamar, nego harga, bayar buat sekian periode tertentu, dan besoknya atau hari itu juga, kita bisa tinggal disitu. Di Swiss, mana bisa!!! Saya sebelum pergi ke sana untuk belajar, sudah pontang-panting cari student housing dari Indonesia melalui internet. Rata-rata residence di sana mempunyai website sendiri. Prosedurnya, kita kirim email ke mereka, beritahu maksud dan tujuan kita datang ke Swiss, dan lengkapi dokumen-dokumen yang diperlukan. Habis itu masih ada daftar tunggu. Kalo kita daftarnya belakangan, ya dapetnya lama. Geneva, kota tempat saya belajar, adalah kota dengan permasalahan housing atau akomodasi yang cukup parah. Permintaan jauh lebih tinggi daripada penawaran, dan sistim di sana tidak seperti di Indonesia yang ada uang ada barang. Pokoknya harus ngantri sesuai prosedur…. Hampir semua housing yang saya “datangi” lewat website menolak saya karena semua sudah fully booked bahkan hingga semester berikutnya. Akhirnya, saya bisa dapet housing permanen di Swiss ketika saya sudah sampai di sana, dan saya harus persistent buat hubungin landlord-nya sering-sering buat kasih saya kamar tidur kekekeke.

Kemudian pernah kejadian, laptop saya rusak. Saya lumayan kesulitan mencari toko elektronik yang bisa mereparasi komputer. Kalo di Indonesia, toko-toko elektronik kan ada dimana-mana. Orang Indonesia emang serba bisa deh. Di Swiss, semua berlisensi *duuuuh! =.=” jadi kita ga bisa sembarangan pergi ke toko buat benerin barang yang rusak. Saya butuh waktu seminggu untuk benerin laptop itu, dan harganya setengah harga laptop yang baru alias 180 CHF (kira-kira Rp 1.8 juta). Asli saya nyesel abis, tahu gitu saya langsung beli laptop baru (karena laptop lama saya emang udah tua, sudah 5 tahun usianya). Sedangkan di Indo, saya bisa dateng ke toko blablabla Center dan benerin laptop dalam waktu dua jam, ya ga nyampe seminggu lah. En paling-paling cuma bayar Rp 100.000,00. Kalo inget itu, rasanya geli-geli sekaligus nyesek. Teman saya pernah sewa pompa ban sepeda di Belanda, dan harganya 15 euro alias sekitar Rp 180.000 =.= Sedangkan di Indonesia, tambal ban sepeda paling-paling cuma Rp 2.000 sampai Rp 5.000,00.

Saya harap, mudah-mudahan ketika saya kembali lagi ke Indonesia setelah menyelesaikan studi di Swiss, Indonesia bisa jadi lebih baik….

 

Note Redaksi:

Selamat datang dan selamat bergabung di Baltyra, Louisa Hartono…make yourself at home. Terima kasih Sasayu memperkenalkan saudaranya ke sini…semoga kekoplakan dan kegemblungannya juga ditularkan…haha…

 

About Louisa Hartono

Nonik – cewek kelahiran Semarang dan besar di Purworejo. Setelah menamatkan studi masternya di Swiss, dia kembali ke Indonesia. Saat ini bekerja sebagai CSR Field Coordinator & Donor Liaison Officer di salah satu perusahaan ternama di Surabaya. Hobinya masih sama: jalan-jalan, membaca, dan belajar bahasa asing. Walaupun tulisannya banyak mengkritik Indonesia, tapi mimpi dan hatinya tetap bagi Indonesia. Suatu saat ingin bisa kerja di UNESCO sambil membawa nama Indonesia di kancah internasional, lalu pulang dan bikin perpustakaan dan learning center di Purworejo, kampung halamannya.

My Facebook Arsip Artikel

45 Comments to "Reverse Culture Shock and Informalities"

  1. Nonik  27 February, 2014 at 04:18

    Halo semuanya.
    Saya tiba2 pingin napak tilas ke tulisan2 lama saya di Baltyra. Emang masih sedikit sih, baru 4 tulisan yg saya hasilkan >.< pas baca komentar teman2 di artikel ini, jadi tertawa terbahak-bahak saya…. Apalagi baca komentarnya mbak Matahari tentang orang Indonesia yang semua seba bisa dan serba ada…. semua keahlian dijadiin satu di toko hahahahahahahahaa!!!

  2. Swan Liong Be  8 August, 2013 at 16:27

    Hallo Louisa atau Nonik, maaf baru baca postingmu hari ini ,tgl. 08.08.2013,jadi sudah sebulan. Iya memang, saya bisa merasakan culture shock yang kamu alami, sedangkan itu hanya setelah 10 bulan! Waktu saya pulang pertama kali tahun 1979 sejak tahun 1963 , jadi setelah 16 tahun baru pulkam pertama kalinya , “reverse culture shock” yang saya alami “dahsyat” sekali! Waktu itu harga ticket pesawat tinggi sekali,dan pilihan airline juga nggak sebanyak sekarang, jadi nggak bisa pulang tiap tahun atau dua kali setahun seperti jaman sekarang.

  3. Bagong Julianto  11 July, 2013 at 10:23

    Yaaaa….
    Semoga nian, nanti sekembalinya lagi Louisa Hartono bisa mendermabhaktikan ilmu, pengalaman dan pengetahuannya yang baik yang dibutuhkan oleh kita semua….
    SEmoga….

  4. Alvina VB  11 July, 2013 at 07:37

    Selamat gabung Louisa….semoga gak ‘culture shock’ masuk rumah ini….he..he…..
    Segi positifnya…..banyak org yg nolongin kl di Ind, di sini ditolongin sama sapa? semua serba mesin, gak banyak org yg bisa nolongin, kl butuh betulin ini dan itu, kadang suka nunggu luama banget/ masuk waiting list dan biayaan pula……

  5. elnino  10 July, 2013 at 12:19

    Salam kenal, Nonik..

    Yah, setidaknya dibalik semrawutnya Indonesia, masih ada hal-hal positifnya ya
    Loh, kok bisa pak Han mencuri start, ketemuan duluan sama Nonik nih?
    Udah lama gak ngumpul di Pondol, terakhir ketemuan sama siapa ya, itsmi dari Belanda atau Mawar dari Pittsburgh ya?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.