Kesaksian Kluprut: Catatan Retrospektif (10)

Kang Putu

 

 

The Words Must be Crazy

SUNGGUH, saya senewen ketika Anda paksa untuk menulis artikel buat mengisi koran mahasiswa yang Anda kelola. Ketidakpercayaan saya pada kata-kata adalah kesulitan pertama. Saya merasa kata-kata sudah menjadi gila. Kata-kata acap kali menjungkirbalikkan logika penalaran saya. Kata-kata acap kali sudah mengamburadulkan pencecapan rasa saya.

Bagaimana tidak? Bila ternyata kenyataan faktual bahwa “orang itu ditahan oleh aparat keamanan” harus dipahami sebagai “orang itu diamankan oleh aparat keamanan”. Atau bahwa “harga kebutuhan pokok dinaikkan” harus dimengerti sebagai “harga kebutuhan pokok disesuaikan”.

Apalagi, kelak, jika gejala-gejala kebahasaan berkecenderungan bak Newspeak dalam Nineteen Eighty-Four George Orwell. War is Peace? Freedom is Slavery? Ignorance is Strength? Nah, bagaimana mungkin otak-lugu-bin-naif saya mampu menangkap pijar-pijar makna filosofis di balik ungkapan yang membingungkan tersebut?

The words must be crazy.

Kesulitan kedua, seperti Anda ketahui, saya mempunyai tingkat kebebalan yang lumayan. Nah, tentu saja, karena kombinasi dua kesulitan itu, nyaris musykil bagi saya untuk menelurkan tulisan yang menarik dibaca dan enak dicerna. Tapi ternyata masih ada kesulitan yang semula tidak saya sadari, yakni begitu jemari tangan siap menekan tuts mesin ketik, saya termangu. Apa yang bisa saya tulis? Apa yang mesti saya tulis?

Akhirnya saya tulis saja kesan yang saya peroleh ketika menyelundup tanpa membayar ke ruang pintar, mengikuti seminar tentang konglomerasi tempo hari. Tapi, payah memang. Saya tak mampu mengeja kata “konglomerat” selatah-secanggih para peserta dan para pembicara. Di lidah saya, kata itu terkontaminasi menjadi “kon padha mlarat”. Maklum, seribu duka otak awam, saya gagap mengeja dengan bahasa ekonomi Harorld Geneen, Charle J. Stokes, Leonard S. Silk, S.R. Reid, atau Mark & Spencer. Saya cuma paham bahasa perut si Polan dan si Badu and his gangs. Saya cuma paham bahasa luka 30.000.000 jiwa pemakan remahan roti cap “Pembangunan Ekonomi” kuasiproduk invisible hands Adam Smith.

Celaka! Yang terngiang di kuping saya adalah kesimpulan seorang pembicara yang menyatakan, “Tidak semua pakar merasa khawatir konglomerat mampu mengancam kehidupan ekonomi.” Yang terngiang di kuping saya adalah ajakan sang pengusaha kepada sesama, yang “tidak ambil pusing dan cinta perdamaian” agar “if you can’t beat them, join them”! Maka ketika sang pengusaha bilang bukan konglomerat yang menimbulkan praktik monopoli, melainkan monopolilah yang melahirkan praktik konglomerasi, saya jadi berpikir bila monopoli kawin dengan konglomerasi, maka lahirlah anak-anak haram berwujud: “la, yang lain ya sekarat”.

Memang sebelum masuk ke ruangan pintar seminar, nurani saya gerah gelisah. Kegerahgelisahan tersebut berpangkal dari ucapan segelintir usahawan yang mengancam bahwa bila situasi politik di negeri ini rawan, “Kami akan angkat kaki dari Indonesia.” La, di seminar kok tidak ada yang peduli terhadap pernyataan yang amboi congkak itu? Apakah kuasa sang waktu, giuran teh botol, dan makan siang yang tersaji sudah begitu dahsyat seribu kiat meretas semangat keilmuan para peserta untuk mencari kebenaran?

Sekilas mengelebat solusi yang ditawarkan seorang kawan agar praktik konglomerasi dan dampak negatifnya dijinakkan melalui kontrol moral yang kuat. Dengan demikian, diharapkan bisa memperkecil kecemburuan sosial yang diakibatkan oleh keserakahan yang tidak terkendali oleh pihak-pihak tertentu. Karena, menurut pendapat dia, konglomerasi sebagai suatu jenis keserakahan – satu sisi sifat manusia – adalah manusiawi. Maka, ujarnya, “Apa salahnya kita rakus, serakah, ingin mengembangkan usaha-usaha yang rasanya masih belum memuaskan? Bukankah itu lumrah?”

Manusiawi. Lumrah. Tidak mengkhawatirkan. Duh, bahasa apa pula itu? Saya memang bebal. Saya tak paham bahasa ekonomi, lebih-lebih bahasa politikus. Saya cuma paham bahasa nurani. Maka ketika kegerahgelisahan saya meruyak, nurani saya pun terhenyak dan pertanyaan beranak-pinak.

Kalau keserakahan itu lumrah dan manusiawi, bisakah kita memegang kendali dan membatasi diri sendiri? Kalau keserakahan, kendati “keserakahan yang manusiawi”, sudah dimonopoli sekelompok orang, masih dapatkah disebut lumrah dan manusiawi? Apakah sejarah (ekonomi) cuma bakal memberikan nisan kepada konglomerasi?

Ibu Pertiwi, Dewi Kesuburan Ilahi, haruskah engkau abai terhadap 30.000.000 jiwa pemakan remahan roti, yang cuma bisa bermimpi? Bukankah kefakiran cenderung mengakrabi kekafiran? Bukankah kefakiran bisa menjadi lahan subur bagi kian mengecambahnya benih apak ideologi cap “marxisme-leninisme”? Lantas, apalagi?

must be crazy

The words mus be crazy. The world must be crazy. Atau kita yang crazy?

Akhirulkalam, saya pun kian suntuk merenungi nujum sang kawi, Ranggawarsito: Amenangi jaman edan/ewuh aya ing pambudi/melu edan nora tahan/yen tan melu anglakoni/boya keduman melik/kaliren wekasanipun/ndilalah kersaning Allah/sakbegja-begjane kang lali/isih begja kang eling lawan waspada.

 

Desember 1989

 

3 Comments to "Kesaksian Kluprut: Catatan Retrospektif (10)"

  1. Boy Kuro  25 June, 2019 at 12:32

    Enake ngopi disik, Kang

  2. J C  11 July, 2013 at 06:54

    Mantep tur jeru…

  3. Handoko Widagdo  10 July, 2013 at 13:17

    Wah ternyata Kang Putu baca 1984 juga.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.