Hitung-hitungan

Risma Purnama

 

Kali ini saya sedang mengasah otak kembali untuk hitung-hitungan ala persentase matematika, menguji apakah otak saya masih mampu mencerna angka-angka atau tidak, hehehe…apa pasal rupanya, kok mendadak mau hitung-hitungan? Kalau sama kawan janganlah hitung-hitungan, ga kok, ini sama penguasa saya mau hitung-hitungan. Jadi begini…kemarin kan saya beli roti buat sarapan, gaya benar ya kek bule sarapan pakai roti, hehehehe..Roti yang saya beli itu naik harga Rp 1.000 dari yang biasanya . Loh, naik ya mbak, tanya saya. Iya, cuman seribu kok, kata penjualnya? Lah, iya cuman seribu tapi dari berapa item? Semua harga sudah mulai naik merangkak. Lucunya kenaikan ini ga pakai hitung-hitunganan persentasi. Hampir semua pukul rata naik minimal Rp. 1.000.

hitung-hitungan

Misalnya ya, harga roti tadinya Rp. 4.000 naik Rp. 1.000 berarti itu naik 25%, atau harga teh tawar yang tadinya gratis naik menjadi Rp. 1.000 alias tak ada lagi yang gratisan! Coba saya bandingkan dengan kenaikan UMR yang baru baru ini serentak dinaikkan, semua persentasinya  rata-rata sama. Tarohlah kenaikan gaji pokoknya 10%  kalok dibandingkan dengan kenaikan harga tentu saja harga-harga di pasaran  jauh berlari kencang, artinya kenaikan gaji itu hanya hembusan angin doang. Euphoria sesasat untuk kemudian gali lobang tutup lobang, masih bagus lobangnya bisa di tutup, ada bahkan gali lobang, gali lagi lobang baru, sampai terjerambab di lobang itu sendiri.

Alih-alih pemerintah berusaha menekan harga pasar, yang terjadi justru malah menaikkan  harga BBM. Kita semua tahulah, kalok BBM sudah naik, yang lain ikut-ikutan naik, tentu para pelaku bisnis menghitung biaya operasional mereka terutama yang berkaitan dengan transportasi yang kemudian berefek domino ke sektor lain! Lantas kapan rakyat atau buruh  bisa menikmati kenaikan UMR tersebut? Jadi jangan heran kalok kaum buruh masih terus berdemo menyampaikan aspirasinya! Siapa yang akan mendengar keluhan mereka, alih-alih perusahaan, malah juga ikut-ikutan mengancam PHK. Dilemma bagi kedua belah pihak!

Pasar juga tidak mau tahu, kalok misalkan kita bilang, duh, mpok saya kan gajinya naik cuman 10 persen kok dagangannya semua naik 25 % bahkan 100 %…pedagang mah mana mau tahu, mereka juga tentunya terjepit oleh kebutuhan mereka yang juga naik! Lantas salahkan para pekerja kemudian hitungan-hitungan untuk mengeluarkan tenaga mereka dalam menyelesaikan kewajibannya, sementara hak mereka tak mencukupi untuk menutupi kebutuhan sehari-hari? Ah, mereka pasti dinasihati begini, bersyukurlah dalam hidup ini, atau segera mencoba mencari peluang baru, bukalah usaha dan segudang motivasi motivasi yang susah dicerna dan diserap pikiran.

Sementara di lain cerita, penguasa sibuk mengurusi lahan yang bisa di korupsi.  Sibuk membuat anggaran ini dan itu, bagi-bagi proyek ! Lah, untuk rakyat mana? Andaikan dana yang ada benar dialokasikan buat rakyat, sudah pasti kaum marginal bisa bernafas sedikit lega dari himpitan faktor ekonomi. Janganlah dulu kita bicara peningkatan pendapatan perkapita, bisa belanja dengan harga-harga yang terjangkau saja sudah sangat menolong! Atau kalok mau bagi bagilah hasil korupsi itu buat rakyat  kalaok tak mau mengembalikan ke negara. Bukalah sektor industri yang berpihak kerakyatan, bukan malah dibuat hadiah kepada si ini atau si itu. Sungguh sudah sangat memuakkanmelihat dagelan yang ada di media massa. Rakyat hanya disuguhi berita-berita tak mencerdaskan tapi membodohkan!

Jadi jangan tanya apa yang bisa rakyat berikan kepada negara, tapi tanyakan berapa dana korupsi yang  sudah dikembalikan ke rakyat! Supaya hitung-hitunganannya enak sama enak!

 

15 Comments to "Hitung-hitungan"

  1. Linda Cheang  13 July, 2013 at 10:58

    makanya hitung-hitungan bikin kepala pening…..

  2. Dewi Aichi  11 July, 2013 at 22:58

    Saya ngitung puasanya masih berapa hari ya wkwkwkwkw

  3. Lani  11 July, 2013 at 22:57

    9 PAM-PAM : komen itu kan buat dirimu……….malah kamu nyimak wae pie to?????? hayo kasih tanggapan sama Handoko

  4. Dj. 813  11 July, 2013 at 21:41

    Risma….

    Terimakasih…
    Memang rakyat kecil yang selalu kena getahnya.
    Kami pernah alami tahun 2000, saat Euro keluar dan DM ( Deutsche Mark ) mata uang Jerman ,
    diganti.
    Contoh 0,5 liter susu di kantin, saat itu DM 0,50
    Dan saat Euro keluar,maka harga Susu, menjadi € 0,25 ( normal ) karena € berharga 2X DM atau € 1,- = DM 2,-
    Nah tidak sampai beberpa bulan, harg susu jadi € 0,50 kalau di DM kan, jadi DM 1,- ( 100% naik )
    Tapi gaji dari DM ke Euro, hanya separoh nya.
    Banyak orang yang panik, karena jelasm bukan hanya susu saja yang naik,semua harga juga naik.
    Sehingga, banyak orang menginginkan DM kembali.

    Puji TUHAN . . ! ! !

    Sekarang belum 100% kembali, tapi sudah sedikit stabil.
    Hanya mereka yyang berpenghasilan rendah seperti Dj. ya tetap masiih terasa.
    Dulu bisa liburan 3X setahun, sekarang 1X saja sudah bersyukur.
    Dulu kalau belanja di super market dengan DM 100,- gledekan bisa penuh.
    Tapi sekarang, denga € 100,-, jangankan penuh, separoh juga tidak.
    Hahahahahahahaha…..

    Salam dan semoga sehat selalu.

  5. J C  11 July, 2013 at 20:04

    Setuju sama mbakyu Probo, emoh ngitung aku…dilakoni saja dengan semeleh…

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Current ye@r *

Image (JPEG, max 50KB, please)