Ayah ‘Osama’

Yuli Duryat

 

Aku duduk di dalam mobil penuh pengawal? Ketika aku memandang keluar, aku merasa iri pada seorang gadis kecil yang berjalan beriringan dengan ayah ibunya. Sama seperti yang aku saksikan di televisi.

Ayah tak pernah mempunyai waktu bermain denganku. Dia selalu mempunyai kagiatan yang berurusan dengan orang dewasa. Katanya, aku tak perlu tahu. Yang ia ajarkan padaku, adalah lari apabila ada orang asing datang membawa senjata. Senjata yang sering aku temui di rumah. Bahkan aku sudah akrab dengan senjata itu.

Aku merindukan saat aku bisa bebas menghirup udara segar. Aku bosan ada di dalam kamar mewahku setiap hari.

Dan hari ini, ketika aku sedang asik menonton film keluarga di kamarku, sambil membayangkan aku ada dalam lingkaran keluarga itu, aku dikejutkan oleh suara itu-itu lagi.

Aku panik, aku bersembunyi di dalam lemari pakaian. Tak bergerak, dan bahkan aku berusaha untuk tidak bernafas kalau saja nafas itu bisa membuat mereka curiga.

Air mataku berderai ketika ayah masuk ke kamar dan memanggilku. Aku menggigil ketakutan, suara gaduh menggaung di sudut-sudut rumah mewah ayah. Aku tak berani menjawab panggilan ayah. Ketakutanku telah mengunci mulut dan menggetarkan tubuhku.

“Aku hanya ingin bebas, Ayah..”

“Aku ingin seperti yang lain, bisa bermain dan berjalan bebas di tepi danau dengan rumput menghijau…”

“Aku ingin makan bekal yang kita bawa saat kita pergi piknik… berlari dan tertawa lepas.”

“Aku ingin hidup sederhana, damai dan bahagia.”

Ketika gaung pertikaian dalam rumah itu mereda. Ketika rumah itu menjadi sunyi. Ketika tinggal derap kaki yang kian menjauh, aku mencoba untuk keluar dari lemari itu.

Puing-puing kaca pecah memenuhi kamarku. Berantakan, semua barang berubah menjadi kepingan. Tubuhku bergetar ketika mata ini menangkap kubangan darah di mana- mana. Aku ikuti goresan di lantai berupa darah akibat sesuatu yang di seret. Aku mengendap- endap dengan kaki yang gemetar.

Sesampai di gerbang aku melihat itu, tangan yang terkulai, kaki yang diseret. Dan ternyata goresan darah itu adalah darah yang mengalir dari tubuhmu. “Ayahhhhhhh…” Aku mejerit keras dalam hati. Air mataku kian deras derainya.

“Ayahhhh, aku tak pernah menginginkan ini. Ketika engkau mengatakan bahwa ini adalah Jihad yang belum sepenuhnya aku mengerti, namun sungguh bukan ini yang aku ingkan.”

“Aku tak membayangkan sebelumnya akan terlahir dalam kubang kejam dan ketakutan yang menguntitku ke mana pun aku pergi.”

“Ayah demi aku sendiri, yang enggan terus melihat darah dan amarah, yang tak lagi menghiraukan anak-anak sepertiku. Aku ingin pergi Ayah. Mencari kota damai, bertabur cinta.”

“Ayah aku pergi, aku tak mau melihat semua ini lagi.”

Setelah aku melihat muka-muka sangar itu pergi menjauh, aku berlari dan terus berlari. Aku ingin menemukan kota seperti dalam imajinasiku. Namun ketika langkahku belum lagi jauh, aku merasakan panas dan sakit yang tiada terkira dalam dadaku.

blood

Seketika aku roboh dan jatuh terkulai. Aku meraba dadaku. Dan aku melihat sekali lagi. Bahkan kali ini milikku sendiri.

DARAH.

 

18 Comments to "Ayah ‘Osama’"

  1. Dewi Aichi  24 July, 2013 at 08:12

    Imajinasi yang luar biasa…waduh Yuli, ternyata anaknya Osama Bin Laden he he..kerennnn…ahh..Yuli emang cantik.

  2. Chandra Sasadara  15 July, 2013 at 18:19

    menunggu “keluh kesah” anak Aiman Al-zawahiri yg masih sembunyi..

  3. J C  15 July, 2013 at 09:42

    Waduuuuhhh…ending’nya…(iya, aku sudah menduga ini berlatar belakang di’dor’nya Osama waktu itu)…perenungannya mendalam…

  4. Yuli Duryat  13 July, 2013 at 10:44

    Mba Probo hehehe

  5. Yuli Duryat  13 July, 2013 at 10:43

    Mas EA.Inakawa hahaha

  6. Yuli Duryat  13 July, 2013 at 10:42

    Mba Lani, memedenikan iya hehehe

  7. Yuli Duryat  13 July, 2013 at 10:41

    Mas Dj. 813. Salam hangat selalu, terima kasih kembali.

  8. Yuli Duryat  13 July, 2013 at 10:40

    Mas Handoko Widagdo, terima kasih banyak.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.