Pindahan Monyet

Bagong Julianto, Sekayu-Muba-Sumsel

 

 

Kenal dan Bertepuk Sebelah Tangan

Ini adalah mahluk ke dua yang saya lihat keberadaannya di seputar kantor HR Travel Sekayu. (Kami berlangganan jasa travel ini. Baik untuk antar jemput tamu dan ataupun paket. Nyaris dua tiga kali seminggu kami mesti ke kantor travel ini untuk ambil paket). Mahluk ini monyet betina. Yang pertama jantan. Si jantan diikat pinggangnya secara ketat pada satu sisi kemudian sisi lainnya diikatkan longgar  pada batang pohon waru yang miring sehingga si monyet bisa bermain-main naik turun berayun. Saat saya lihat si monyet yang ke dua ini, saya diberitahu bahwa si jantan sudah dilepaskan. Saya sampaikan ke si Udin, karyawan travel, itu tindakan bijak. Beberapa kali saya lihat si monyet ini tititnya ereksi dan secara instingtif melakukan gerakan-gerakan goyang pinggul maju mundur. Sungguh sayang, tidak ada sasaran tembaknya. Mudah-mudahan di alam liarnya dia segera mendapat pasangan atau jodohnya hingga mencapai kelegaan dan kepuasan.

Berbeda dengan si jantan, si betina ini, konon karena masih tergolong bayi, dibiarkan lepas. Saya sering melihatnya bermain dan sembunyi di rak kosong. Saya selalu memberinya permen yang sudah saya kulum, seperti yang saya berikan kepada si jantan. Saya harap dia menandai liur saya, mengakrabinya dan selanjutnya bisa saya pegang dan elus-elus. Harapan yang tak kunjung jadi nyata. Si monyet tetap nggak tersentuh sekalipun. Entah sudah berapa puluh permen saya dinikmatinya. Sungguh monyet yang pandai. Semakin hari daya jelajahnya bertambah hingga akhirnya dia berumah dan banyak bermain di sebatang pohon bungur besar yang meneduhi kantor travel itu. Begitupun setiap saya datang dan saya tiupkan “chect chect chetc”, secara mengatupkan seluruh geligi kemudian merapatkan ujung lidah ke geligi atas kemudian saya hembuskan suara dan keluarlah sejenis suara cerecak tersebut, si monyet akan segera mendekat dan meraih permen yang saya letakkan di seputar pohon. Beberapa kali permen saya letakkan di telapak. Toh kami sudah saling kenal dan minimal dia tahu saya mengasihinya, tetap dia nggak percaya sama saya. Nasib!

Bebarapa saat berlalu hingga tiba hari di mana saya sendiri lihat si Sarinah, demikian monyet betina itu diberi nama, meraih dan merobek-robek surat pengantar dan sembarang amplop yang berhasil diraihnya di meja yang sebenarnya merupakan paket kiriman. Si Elis, karyawati yang sebetulnya lebih diakrabi si Sarinah, sudah mulai menunjukkan ketidaksenangan bahkan kemarahannya pada si Sarinah.

“Mau Pak?!”, tiba-tiba si Udin mengagetkan saya.

“Susah diatur dia Pak! Kabel-kabel diputuskannya. Surat dikoyak dirobeknya.”

Saya tak berpikir lama.

“Kapan bisa saya bawa?”, cepat pertanyaan ini saya ajukan.

“Besok pagi Pak”. Si Udin tampaknya butuh satu hari satu malam untuk menangkap si Sarinah.

 

Pagi berikut saya sudah tiba untuk serah terima si Sarinah.

“Bagaimana  membawanya Pak?”

“Pakai apa Pak?”

“Mana kotaknya Pak?”, bertubi-tubi pertanyaan itu diajukan oleh si Elis, si Udin dan Iwan, anak pemilik travel tersebut saat mereka lihat saya bertangan kosong. Tak ada apapun yang saya bawa. Hanya mobil.

“Tenang. Kalian berarti belum tahu caranya bawa monyet kecil!”, jawab saya sambil mulai membuka tiga kancing baju saya.

Secepat itu Sarinah diserahkan ke saya, secepat itu saya surukkan ke badan dan secara reflekpun dia memeluk bawah ketiak saya. Saya yakin Sarinah kembali teringat saat masih bersama Induknya. Sekarang Sarinah memeluk saya. Nasib lagi!. Sekarang saya berarti jadi Mama Sarinah!

Bermobil setir sendiri, saya bawa Sarinah pindahan menuju tempat baru di mana dia nggak bisa lagi merobek amplop dan atau menarikputuskan kabel.

pindahan-monyet01

Gambar 1. Pindah Monyet

Perhatikan perut buncit saya, basahan urine bawah kantong dan ujung ekor yang menyembul di ujung bawah baju. Reaksi normal saat binatang stress atau ketakutan adalah berkemih dan atau BAB. Untung, saya hanya dibasahi cairan Sarinah saja, nggak sempat dihadiahinya padatan.

pindahan-monyet02

Gbr.2 & 3. Pergerakan Sarinah Setelah Tiba di Tempat Baru

pindahan-monyet03

Gambar 4 s/d 7. Memeluk Kehangatan Bawah Ketiak (Mamanya)

 

Serah Terima Lagi

Saat mengiyakan tawaran Udin, saya sudah bayangkan tempat baru yang nyaman bagi Sarinah. Sebuah tempat di kawasan timur Sekayu, walau di sisi jalan utama jalur Palembang-Sekayu namun masih ada dikelilingi rendahan dan vegetasi alami serta tanaman karet dan tanaman buah lainnya yang mulai meranggas akibat genangan air. Pastori rumah ibadah kami. Ya, Sarinah bakal dipiara secara lebih terperhatikan. Pasti! Saya yakin reputasi keluarga ini.

Keluarga Pendeta dengan satu anak putri tunggal yang lagi praktek kependetaan di NTT dan sungguh menyayangi binatang ternak/peliharaan. Koleksi peliharaannya antara lain: seekor beo, tujuh ekor anjing kampung dan anjing keturunan, beberapa ekor ayam, seekor merpati putih jantan yang dua kali ditinggal mati pasangan betinanya, beberapa ekor entog dan beberapa ekor monyet liar yang suka-suka datang dari rerimbunan pohon belakang dan menyembul di pintu belakang yang sering diumpan makanan oleh Ibu Ev. Bekti M Utami, nyonya Pendeta Hadi Wulyono STh.

Masing-masing binatang peliharaan punya keunikan tersendiri. Si beo fasih bersalam Shallom. Si ayam jago suka minta dibantu angkat-lempar-terbangkan untuk tidur bertengger di sebuah dahan pohon pule. Si merpati jantan putih suka nyelonong dan bertengger di atap papan yang masih bolong di depan mimbar sambil menatap P Pendeta Hadi yang lagi khotbah Minggu. Kami tidak ada yang merasa terganggu. Biarlah kiranya dia juga diberkati karena keunikannya itu dengan cara yang hanya jadi otoritas Illahi. Dua ekor anjing kampung juga suka menyuruk-nyuruk di sela-sela bawah bangku kayu manakala Ibu Ev. Bekti M Utami beraktivitas di dalam tempat ibadah.

pindahan-monyet04

Gbr. 8 & 9. Tempat Baru, Diintai Kawan Baru

Selepas Sarinah dari pelukan saya, cepat pula dia memeluk Ibu Ev. Bekti M Utami, sementara itu tak berapa lama kemudian seekor monyet liar menengok dan menyambut kedatangan Sarinah. Sebetulnya dia mengecheck, sudahkan Ibu memberi dan menyiapkan makan pagi atau sarapannya.

Semalaman si Sarinah menangis manakala diletaktaruhkan di kandang. Selama ini dia lepas liar. Saat digendong Ibu Ev.Bekti, baru terdiam lagi.

Satu hari saya diberitahu adanya serangan monyet liar ke Sarinah. Tampaknya mereka cemburu ada pesaingnya. Lain hari, si Sarinah terlepas. Sekali itu Sarinah mau ditangkapbelai dan masuk kandang lagi. Saat terlepas kali kedua, Sarinah nggak mau lagi ditangkapbelai. Termonitor dia mengamati kami di sebuah batang pohon keban di kejauhan dua-tiga puluhan meter. Dua tiga hari kemudian kami nggak lihat lagi si Sarinah. Biarlah dia menuju alam bebas liarnya. Setidaknya dia sudah jadi monyet betina remaja dan dewasa, butuh perhatian lawan jenis dan semoga nian dapat pasangan yang menyayanginya.

 

Sampunnnnn. Suwunnnnn. (BgJ, 080713)

 

25 Comments to "Pindahan Monyet"

  1. Dj. 813  16 July, 2013 at 03:42

    Matahari Says:
    July 16th, 2013 at 03:11

    Pak Djoko..saya yang sebenarnya bingung dengan kalimat bapak….kalau bapak makan sebanyak banyaknya…justru berat bertambah donk tapi bapak malah menulis….”tapi belum bisa turun banyak…”
    Mohon komen 19 dibaca ulang heheheh
    ————————————————————————–

    Ibu Matahari….

    Tenang…… tenang…. jangan bingang-bingung….
    Molai hitung dari 23…22…21…20…19……….0
    Nah ini yang namanya turun… menghitung dari atas turun ke bawah..
    Turun keatas tidak ada ya…..???

    Dj. mohon maaf yang sebesar-besarnya, karena Dj. hanya guyonan.
    Jangan diambil dalam ati, jangan bingung, tidak ada gunanya.

    Okay, sekarang sudah ngantuk, agar tidiak bikin pusing ibu Matahari,
    Dj, mau istirahat dulu. Sampai besok lagi ya.
    Salam manis dari Mainz.

  2. Matahari  16 July, 2013 at 03:11

    Pak Djoko..saya yang sebenarnya bingung dengan kalimat bapak….kalau bapak makan sebanyak banyaknya…justru berat bertambah donk tapi bapak malah menulis….”tapi belum bisa turun banyak…”
    Mohon komen 19 dibaca ulang heheheh

  3. Dj. 813  16 July, 2013 at 03:06

    Ibu Matahari….

    Benar sekali, apa yang Dj. tulis.
    Berat badang Dj. ( 86 Kg ) kebalikan dengan berat badang mas Bagong yang 68 Kg.

    Tapi ibu Matahari tulis..
    *** kalau makan sebanyak banyaknya dan tidak bisa turun turun….bukannya malah terbalik? ***

    Jadi dibalik lagi ya….???
    Wallaaaah…. malah bolak-balik, terus balik kemana lagi…???
    Hahahahahahahaha….!!!
    Lha bingun sendiri kan….???
    Sekarang, apa lagi yang akan dibalik…??? Agar terbalik…???

  4. Matahari  16 July, 2013 at 02:43

    Pak Djoko menulis begini..saya copy ya komen 19..

    .”Mas Bagong…
    68 kok enteng men…
    Kebalikan dengan Dj. saat ini, sudah turun 2 Kg. sekarang masih 86 Kg.
    Sudah berusaha makan sebanyak-banyaknya, tap belum bisa turun banyak.

  5. Dj. 813  16 July, 2013 at 02:40

    Matahari Says:
    July 16th, 2013 at 02:21

    kalau makan sebanyak banyaknya dan tidak bisa turun turun….bukannya malah terbalik?
    ———————————————————————

    Ibu Matahari….
    Selamat Malam dari Mainz…
    Maaf Dj. tidak nyambung, apa yang dimaksud ” malah sebalik ? ”
    Apa Dj. harus balik, kemana atau bagaimana baliknya…???
    Apa harus kepala dibawah…??? ( Kopfstand…??? )
    Ada-ada saja, tapi logis juga, makanannya bisa kembali keluar ya…???
    Hahahahahahaha….

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.