The Butterfly Code [Lesson 3: Under the Stars]

Awan Tenggara

 

butterfly-code

Ia merasa terganggu dengan kacamata yang seharusnya bisa membantunya melihat kejauhan dengan lebih jelas itu. Udara yang dingin dan kabut yang wara-wiri membuatnya berembun dan buram. Itulah kenapa Raya akhirnya memutuskan untuk melipatnya dan memasukkannya ke dalam saku kemeja.

Ia melewati jalan setapak kebun teh yang berbatu-batu tanpa siapapun. Langkahnya gagah bak seorang Bhimasena—tokoh wayang yang terkenal enggan menekuk lututnya dengan alasan apapun itu. Jrak! Jrak! Jrak!. Walau kadang nafasnya ngos-ngosan dan menyandarkan tubuhnya yang gembul di batang randu.

Benar-benar mencerminkan anak orang kaya penampilan Raya hari itu; memakai kemeja biru, celana pendek jins dengan sabuk berwarna hijau, sepatu kats putih dengan lampu yang bisa menyala kelap-kelip di bagian belakangnya, kaus kaki setinggi lutut, tas punggung kura-kura ninja tebal yang entah berisi apa dengan tempat air yang diselipkan di bagian sampingnya, dan topi berwarna merah yang ia pakai menyamping, juga jam tangan berbentuk kepala tokoh kartun Marvin The Martian di tangannya. Aku hampir tak percaya kalau itu adalah kostum untuk mendaki gunung. Memang seperti itu kebiasaannya ketika pergi, atau barangkali memang ia berniat pamer kepada orang-orang sebab benda-benda yang melekat di tubuhnya itu kelihatan baru, aku tak tahu.

Hari itu sabtu sore. Ia tersenyum lebar dan penuh rasa bangga ketika telah berhasil mencapai kampung Promasan—kampung para pemetik teh yang ada di gunung Ungaran seorang diri. Apalagi setelah merasa akhirnya menemukan teman, dua lelaki kecil seusianya. Ia berlari menuju bukit yang tak seberapa tingginya di atas kampung Promasan menghampiri dua lelaki kecil yang sedang menyusun kayu unggun itu, namun sepuluh meter sebelum mencapai mereka ia berhenti, nafasnya menjadi berat, ia menekuk badannya dan memegang kedua lututnya dengan tangan. Barangkali karena ia tak memakai kacamata, ia jadi tak tahu siapa dua lelaki kecil yang dihampirinya itu. Baru setelah di jarak sepuluh meter dari mereka, ia benar-benar sadar kalau dua lelaki kecil tersebut adalah kami—aku dan Linggar. Menyesallah dia.

“Apa kabar, anak pramuka?” sapa Linggar usil, “Mau bergabung dengan kami?”

“Hosh, hosh, hosh, sial.” Kata Raya dengan nafas yang masih berat karena kelelahan. “Tidak memakai kacamata ternyata membuat kebodohanku meningkat drastis.”

Raya memalingkan tubuh. Ia berniat hendak kembali ke kampung di bawah bukit, tapi Linggar segera berlari mencegahnya. Ia menopang tubuh Raya yang hendak jatuh karena kelelahan dan memaksakan diri untuk kembali berjalan itu dengan pundaknya dan merangkulkan satu tangan Raya ke tubuhnya. “Kau lebih berat dari yang kukira,” katanya.

“Lepaskan,” kata Raya, “Kau menjatuhkan harga diriku.”

“Hah? Harga diri katamu? Hahaha,” Linggar tertawa, “Anak sekecil kamu sudah bicara harga diri. Seperti dugaanku, kau ini memang luar biasa.”

“Hentikan. Sebenarnya apa yang membuat sikapmu akhir-akhir ini berubah sih?”

“Sudahlah, kau akan tahu sendiri nanti.” Linggar nyengir, “Sekarang, bergabunglah dulu sama kami. Aku membawa banyak jamur dan seekor ayam. Kita akan membakar dan memakannya sama-sama.”

Raya akhirnya menerima ajakan Linggar. Entah soal makanan atau apa alasannya sehingga ia mau, tapi ia tetap jelas bersedia bergabung bersama kami meski kelihatan melakukannya dengan berat hati. Hari itu, untuk pertamakalinya, sikap mereka dengan sukses mendebat dugaanku bahwa dua makhluk keras kepala ini pernah terlahir sebagai yang satu adalah minyak, dan satu lainnya adalah air di kehidupan yang sama sebelum kehidupan ini.

 

**

Hari menutup sore dengan indah ketika itu, langit berwarna ungu di bagian barat, tak seperti biasanya yang berwarna jingga, saat matahari perlahan tenggelam, sementara di arah berlawanan langit berwarna biru tua. Alam menjadi amat riuh oleh suara tonggeret dan jangkrik. Bintang-bintang muncul satu persatu di langit ketika matahari sempurna hilang. Kabut sesekali melintas di tempat kami menyalakan api unggun, tapi ia segera berlalu hanya dalam hitungan menit. Beberapa pendaki gunung mendirikan tenda di dekat kami. Mereka gembira dengan gurauan-gurauan yang asing didengar telinga orang gunung seperti kami sambil melingkar di tepi api unggun. Sementara kami bertiga sibuk membakar ayam dan jamur di atas bara sendiri.

Pada mulanya memang kami bertiga saling diam, tapi kemudian waktu dengan sendirinya mengakrabkan kami. Aku, Linggar dan Raya bisa terbahak-bahak dalam udara yang dingin dan kehangatan yang dikirim oleh api unggun hari itu, seolah tak pernah terjadi sesuatu di antara kami, Linggar dan Raya khususnya.

“Jamur ternyata enak, mirip daging.” Kata Raya, “Jamur kuping yang banyak tumbuh di kayu-kayu tua di hutankah ini?”

“Bukan. Ini jamur kancing. Ayahku membudidayakannya di belakang rumah.” Linggar menanggapi. “Jamur kuping ‘kan pipih, sementara ini, lihat dong bentuknya, mirip perutmu.”

“Hahaha, sialan.”

“Jangan bicara begitu, itu kata-kata yang kasar. Anak kecil sepertimu tidak boleh mengucapkannya.”

“Kau juga ‘kan sering mengucapkannya.”

Mereka tertawa. Aku tidak tahu apa yang lucu. Dua makhluk ini mendadak begitu akrab, aku jadi cemburu karenanya. Tapi ini lebih baik. Melihat hubungan mereka yang seperti itu paling tidak membuatku bisa sedikit lebih tenang jika berangkat ke sekolah nantinya.

Langit malam sangat cerah, sama sekali tak ada awan yang menggantung. Tapi sebagai gantinya, udara jadi lebih dingin sebab angin juga bertiup lebih kencang dari biasanya. Beberapa bintang melesat berjatuhan, seolah jarum-jarum hidup di langit malam yang entah di mana tepinya itu.

“Kenapa kalian di sini?” tanya Raya kepada kami.

“Aku punya saudara di kampung itu,” jawabku sambil menunjuk rumah-rumah di bawah bukit, “Kami mengantar kopi. Kadang langsung pulang, kadang bermain dulu seperti ini jika dapat ijin dari paman.”

“Oh,”

“Kau sendiri? Kenapa kau datang ke sini sendiri?” Linggar giliran tanya.

“Aku,” Raya menghentikan sejenak bicaranya, tulang ayam yang ia makan sepertinya menyangkut di giginya. “Aku memang biasa datang kemari sendiri, kau saja yang tidak pernah melihatku.”

“Kau pemberani, ya.” Kata Linggar, “Kau memang pantas menguasai dunia menggantikan aku.”

“Hah? Kau lagi-lagi konyol.” Kata Raya dengan raut muka sengak, “Kapan memangnya kau menguasai dunia?”

“Hohoho, aku salah ya. Maksudku, setelah aku memutuskan untuk menghapus ingin menguasai dunia dari daftar cita-citaku, kau tidak akan punya saingan lagi jika kau juga bercita-cita ingin menguasai dunia.”

“Kau kira aku Gorgom,” Kata Linggar sambil mungkin membayangkan muka tokoh antagonis di film Ksatria Baja Hitam. “Imajinasimu saja. Aku tak pernah bercita-cita begitu. Memangnya kau kira itu cita-cita yang mudah diwujudkan?”

“Hah? Jadi untuk apa kau membaca buku-buku tebal selama ini?”

“Apa jika sudah membaca buku tebal berarti aku ingin menguasai dunia?” Raya kembali mengambil jamur yang sudah matang. Memang jago dia kalau soal makan. ”Aku cuma ingin jadi pintar saja. Aku ingin jadi orang nomor satu di sekolahan.”

“Jadi selama ini aku salah mengira, ya.” Linggar menggaruk kepalanya, “Lalu, cita-citamu sebenarnya apa?”

Raya tak menjawab. Ia sibuk dengan makanannya. Kami menunggu ia bicara. Namun diamnya Raya dalam panjang waktu yang berjalan setelah pertanyaan itu membuat kami yakin bahwa ia memang tidak mau menjawabnya.

“Ngomong-ngomong, apa orangtuamu tidak marah jika kau pergi sendirian begini?” aku mengganti pertanyaan.

Raya hanya menundukkan kepala. Ia tetap diam. Beberapa waktu kemudian kulihat sebelah tangannya menghapus sesuatu di matanya. Kami baru menyadari kalau saat itu ia ternyata menangis.

“Kalian tahu,” ia terisak. Jawabannya terhenti di situ. Ada sebuah rahasia yang sepertinya enggan dikatakannya kepada kami.

Aku dan Linggar menyadari bahwa ternyata salah menanyakan pertanyaan-pertanyaan itu kepada Raya setelah beberapa waktu kemudian akhirnya lelaki kecil gembul itu mau membuka rahasianya sendiri kepada kami. Aku belajar satu hal darinya ketika itu, bahwa ternyata menjadi anak orang kaya tidak menjamin kehidupan seseorang akan bahagia. Orang tua Raya sering tak ada di rumah karena sibuk dengan pekerjaannya, keduanya punya bisnis yang lain selain jadi juragan sayur. Yang mereka lakukan hanya mengumpulkan uang supaya keluarga mereka terpandang. Dan akhirnya waktu bagi Raya hampir tak ada. Ia hanya tinggal di rumah bersama seorang pembantunya yang sudah tua. Sebuah cerita yang klise, memang. Dan yang membuatku terharu adalah cita-cita Raya ketika itu, ia ternyata terus membaca buku dan belajar biar jadi pintar adalah supaya kelak dia bisa mendapatkan pekerjaan yang dapat membuatnya memiliki banyak uang, dan dari uang tersebut, ia berharap bisa membeli waktu kedua orang tuanya supaya mereka semua bisa berkumpul dalam satu ruang keluarga setiap Raya menginginkannya.

“Beruntung kau, Ray.” Aku pun terbawa suasana mendengar ceritanya dan gatal ingin curhat juga. “Lebih beruntung kamu daripada aku.”

“Maksudmu?” tanya Raya.

“Aku bahkan tidak tahu seperti apa wajah Bapak dan Ibuku.”

Pandangan mata Raya mendadak beku.

“Ga,” Linggar bermaksud memintaku menghentikan cerita dengan memanggil singkat namaku. Aku paham hal ini dari cara dia menatapku dan tangannya yang tiba-tiba menyentuh pundakku. Ia barangkali berharap tak ada orang lain yang boleh tahu keadaanku yang sebenarnya. Tapi aku merasa saat itu adalah kesempatanku untuk mencurahkan perasaan yang sejak kecil aku pendam. Aku juga berfikir ceritaku bisa menabahkan hati Raya, dan ia bisa berjalan dengan lebih tegak di kemudian hari.

Ingin sekali aku bercerita panjang lebar, tapi cahaya mata Linggar ketika itu membuatku terpaksa menghentikannya. Ada rasa iba, tapi juga kecewa di sana. Dan itu membuatku tahu diri. Aku tak mau menyakiti perasaannya, sebab selama ini ayahnya dan nenek kamilah yang membesarkanku. Utung saja Raya bisa memaklumi. Dan aku bahagia, karena ceritaku, yang walau singkat itu, ternyata sudah bisa menabahkan hatinya dan membuatnya bisa berjalan lebih tegak di kemudian hari.

Kami biasanya tidur di rumah saudara kami yang ada di Promasan sana ketika kami bermain di kawasan kebun teh itu. Tapi hari itu kami berdua memilih menggelar tikar yang kami pinjam dari saudara kami dan tidur bertiga bersama Raya di atas bukit kecil itu. Kami kadang menggigil sebab udara terlampau dingin. Tapi nyala unggun dan kehangatan persahabatan dapat membuat kami tidak memedulikannya.

“Kau biasanya tidur di mana jika naik gunung sendiri begini, Ray?”

“Aku numpang di tenda para pecinta alam.”

“Kelakuanmu liar. Kacamatamu pasti menyesal menempel di wajahmu.”

“Hihihi, sialan kau.”

Percakapan itu mengakhiri hari. Kami tidur pulas setelahnya. Denting gitar tabung para pecinta alam yang sayup-sayup dan suara serangga kebun menjadi lulabi paling menyenyakkan bagi kami. Di atas langit yang gulita, bintang-bintang barangkali cemburu dengan cara tidur kami yang usel-uselan seperti anak-anak tikus laci malam itu.

**

 

Hari sudah terang, Linggar menjadi yang paling pertama bangun di antara kami bertiga. Di tangannya sudah ada buku Mengaji di Surau Angin karangan Kak Yoenda. Begitulah yang pasti dilakukannya sehabis bangun tidur, seperti pagi biasanya. Lirik lagu “bangun tidur kuterus mandi” memang tidak berlaku khusus untuk seorang dia. Menyusul kemudian aku dan Raya.

Para pecinta alam yang semalam membangun tenda di dekat kami juga sudah tidak lagi kelihatan. Mereka barangkali sudah berjalan ke puncak yang bisa ditempuh cuma dalam waktu dua jam saja dari Promasan itu. Raya bergegas pamit, ia tidak mau bareng dengan kami yang berencana pulang agak siangan. Sikapnya benar-benar tak seperti malam sebelumnya, ia merasa malu atau entah kenapa sehingga cuma mengucapkan terimakasih atas makanan yang kami berikan sambil berlalu tanpa terlebih dahulu bersalaman. Sekitar sepuluh meter setelah dia beranjak, dia mendadak memberitahu kami satu rahasia lagi.

“Kalian tahu kenapa aku kerap mendaki gunung ini sendiri?” Teriaknya sambil tetap memalingkan tubuh.  “Aku berharap mati. Aku berharap ada beruang yang akan memakanku saat aku berjalan sendiri di hutan.”

Kata-katanya sungguh di luar dugaan. Itu kata-kata yang sangat tidak pantas diucapkan oleh anak sekecil dia, menurutku. Kami jadi paham betapa berat tekanan batin yang ia alami selama ini. Aku dan Linggar hanya diam. Si gembul itupun melanjutkan langkahnya.

“Hey, superman!” teriak Linggar kemudian. “Menghadap kemari!”

“Kenapa memangnya?” kata Raya tanpa mengubah sedikitpun posisinya.

“Topimu ketinggalan.”

Mendengar itu, Raya baru mau berbalik arah. Linggar melempar topi merah punya Raya dengan sekuat tenaga ke arah anak jenius dari kelas A itu. Tapi topi tersebut malah terbang ke arah yang lain dan nyangkut di pohon teh, sehingga membuat Raya kerepotan mengambilnya. Karena perlu sebuah tongkat panjang untuk bisa mengambil topi tersebut.

“Sial,” aku melihat Raya mengucapkan kata itu dari gerak bibirnya. Linggar hanya tertawa.

Setelah Raya berhasil meraih topinya dan berlalu, suasana kembali hening. Kulihat para pemetik teh sudah berkumpul di satu bagian kebun, mereka memetik pucuk-pucuk teh dan memasukkannya ke dalam tas yang terbuat dari bambu di belakang punggungnya dengan gerakan yang canggih. Langit begitu biru hari itu.

“Dia itu cerdas,” kata Linggar kemudian. “Tapi, juga bodoh.”

“Kenapa kau bilang bodoh?” tanyaku.

“Mana ada beruang di gunung ini.”

Aku hanya tersenyum mendengarnya.

“Ga,” katanya lagi, “Kita akan libur melakukan ritual minggu hari ini.”

“Kok?”

“Aku mau menulis banyak hal.”

 

The Butterfly Code [Lesson #3 : Under The Stars] – End

© Awan Tenggara 2013

 

4 Comments to "The Butterfly Code [Lesson 3: Under the Stars]"

  1. J C  15 July, 2013 at 09:41

    Alur cerita asik, dialognya apik…mantap…

  2. Yuli Duryat  13 July, 2013 at 10:59

    Menunggu kelanjutannya….

  3. [email protected]  12 July, 2013 at 11:39

    mantap ui… mantab….

  4. James  12 July, 2013 at 11:19

    SATOE, kode kupu-kupu

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.