Tiga Sahabat (16): Curcol – Curhat Colongan

Wesiati Setyaningsih

 

“Mau ikut ke rumah Aji, lagi?” Juwandi menawari Lukito di tempat parkir.

Lukito menatap Aji. Aji mengangguk.

“Ayo, ikut aja. Kakakku pintar masak, lho.”

Aji tersenyum menggoda. Juwandi ngakak. Lukito terkekeh. Bertiga mereka ke rumah Aji. Juwandi membonceng Aji, Lukito naik motor sendiri.

Sampai di rumah Aji, Sekar sedang di depan rumah ngobrol dengan temannya yang mengantar, seorang anak laki-laki sebayanya. Aji dan Juwandi melewati mereka begitu saja. Tapi Lukito menyapa Sekar.

“Dik Sekar, ini pacarnya, ya?”

Wajah Sekar segera berubah masam sambil menatap Lukito kesal.

“Bukan, mas. Saya ojeknya Sekar, kok.” Anak lelaki itu menukas sambil tertawa.

Sekar jadi ikut tertawa.

Di dalam, Lukito duduk di lantai.

“Duduk sofa situ, Luk. Dingin di situ,” kata Aji.

Lukito menggeleng. “Memang nyari dingin. Di luar tadi panas banget. Eh, itu pacar adikmu ya?”

Aji mengangkat bahu. “Nggak tau.”

“Lha kok ndak tau tu gimana, to? Anaknya baik, kayanya. Cocok sama adikmu yang jutek.”

Aji dan Juwandi tertawa kecil.

“Mama kamu mana, Ji? Enggak pernah keliatan. Kerja?” tanya Lukito.

“Mamanya Aji udah meninggal.” Juwandi yang menjawab.

“Oh.. Kita punya masalah kita masing-masing, ya? Orang tuaku cerai. Mamanya Aji sudah meninggal. Juwandi orang tuanya lengkap, kan?”

curcol

Lukito menatap Juwandi penuh tanya.

“Lengkap lah. Kalo enggak masak jadi aku.” Juwandi melucu dan Lukito tertawa. “Cuma Bapakku entah kemana. Sampai sekarang enggak pernah liat.”

“Kok bisa?”

“Kerja. Jadi pelaut atau apa, gitu. Kirim uang kok ke Ibuku. Tapi nggak pernah datang.”

“Memang sejak kapan dia pergi, Ju?” Aji ikut bertanya.

“Kapan, ya?” Juwandi berpikir. “Kayanya waktu SD aku masih liat.”

“Kamu sudah tanya Ibu kamu?”

Juwandi menggeleng. “Buat apa?”

“Kan biar tahu,” Lukito berkata.

“Enggak lah. Aku takut Ibu sakit hati. Ibu juga pasti sudah berusaha mengatasi kesulitannya sendiri. Beliau juga enggak tau pasti. Kalo Ibu tau pasti aku dikasi tau. Iya, kan?”

“Iya juga,” Aji menggumam.

Lukito termenung. “Kirain cuma aku yang hidup merana.”

“Alah, merana karena cinta durjana?” Juwandi menggoda.

Lukito tertawa kecil.

“Yah, ini semua kan ndak mudah. Tiba-tiba aku harus pindah sekolah, pindah tempat tinggal. Papa pergi. Mama nggak kuat biayain aku dan nyuruh aku tinggal sama Om-ku. Tau-tau temannya ganti. Situasi rumah ganti. Pengennya ndak kaya gini.”

Lukito menunduk. Air matanya hampir jatuh. “Aku kangen situasi jaman Papa dan Mama masih bareng.”

“Aku juga pengennya jaman Mamaku masih ada.” Aji menukas. “Semua tampak indah. Aku bisa bermanja-manja kalo pas Papa nggak ada karena suka pergi tugas lama. Sekarang nggak bisa lagi. Beruntung ada Iyem yang baik dan bisa ngemong sama aku dan Sekar. Jadi kami lumayan keurus, lah.”

“Sama. Aku juga pengennya Bapakku ada di rumah, atau seenggaknya aku tau dia dimana.” Juwandi menimpali.

“Pengennya…” Aji menggumam.

“Iya, pengennya…” Juwandi ikut menggumam.

“Tapi nggak bisa.” Aji kembali menimpali.

Aji dan Juwani tertunduk sedih. Lukito melongo menatap kedua temannya. Heran karena tiba-tiba keduanya sedih seperti itu.

“Kalian ini ngapain? Malah ikut-ikutan sedih.”

“Kan kita solider…” kata Juwandi berusaha tersenyum.

Aji mendongak menahan matanya yang mulai berair. “Aku cuma ingin melepas kangen aja. Kadang-kadang kangen sama Mama. Cuma aku nggak bisa bilang sama siapa-siapa. Bilang sama Sekar, bisa habis aku diledekin. Bilang sama Papa, sama juga kaya Juwandi, malah bikin Papa ikutan sedih. Baru kali ini aku bisa bilang sama seseorang kalo aku sering kangen sama Mama.”

“Ji, tapi kamu memang enggak pantes sedih-sedih. Kurasa Sekar benar kalo ngetawain kamu nangis. Ini aja kamu enggak pantes banget. Gede kaya Giant tapi mukanya muram.”

“Giant?” Lukito bertanya.

“Yang di Doraemon itu. kan Giant mukanya bengis. Ini sedih. Enggak pas kan?”

Lukito tertawa. “Iya. Kalo istilahku, wagu!”

Lukito dan Juwandi tertawa. Aji sibuk mengusap matanya.

“Wagu itu apa?”

“Wagu itu ndak pantes.” Lukito terkekeh.

“Sudah, ah. Sedih boleh tapi ada waktunya. Sekarang mumpung lagi rame-rame kita jangan sedih.” Juwandi menepuk lengan Aji.

Aji tersenyum dan mengangguk.

“Biar aja kalo Aji mau menumpahkan kesedihannya, Ju. Nggak papa. Memange orang besar gitu ndak boleh sedih. Ya boleh aja.”

Aji mengangguk. “Kamu bijak banget, Luk..”

“Ah, aku kan tau rasanya kaya apa ngalamin kaya gini. Kamu enak, Ji. Masih ada Papa, kamu masih tinggal di rumah sendiri. Lha aku? Tiba-tiba mesti tinggal di rumah Om-ku. Biarpun Omku baik kaya apa, juga, tetep aja enggak senyaman di rumah sendiri. Dan lagi ndak ada Mama. Aku tinggal sama orang-orang yang asing sama sekali. Kamu masih bisa bersyukur.”

“Kamu juga bersyukur masih bisa sekolah, Luk. Seenggaknya dengan pindah sekolah kamu bisa ketemu teman yang aneh kaya Juwandi,” kata Aji.

“Apaan? Aku aneh? Aku biasa aja. Cuma memang makanku banyak. Itu kan enggak aneh.” Juwandi pura-pura merengut.

Aji tertawa.

“Kamu yang mulai, sih. Pakai mengenang masalah segala.” Juwandi menonjok lengan Lukito.

Lukito tertawa sambil balas menonjok. “Lha kan aku cuma bisa curhat sama kalian aja. Aku ndak pernah ngomongin yang kaya gini sama Lukman, biarpun dia teman sebelahku.”

Aji mengangguk. “Iya juga. Ternyata justru dengan kalian aku bisa curhat. Berarti kalian sahabatku.”

Juwandi melongo. “Aku juga nggak pernah cerita gimana perasaanku selama ini. Baru kali ini aku bisa bilang. Cukup melegakan.”

Aji menatap Juwandi dan Lukito. “Andai tidak takut keliatan lebay, aku sudah peluk kalian berdua.”

“Woo…woo.. No, no. Enggak Ji. Jangan sampai terjadi skandal antara kita.” Juwandi sudah tampak mengelak.

“Aku juga nggak ngapa-ngapain. Aku kan Cuma bilang, andai tidak takut keliatan lebay. Kamu ini ngapain, sih?”

“Aku tidak takut keliatan lebay. Ayo berpelukan!” Lukito membuka kedua tangannya lebar-lebar.

“Ihh… Apaan, sih?” Juwandi memandang jijik.

“Kenapa? Kan ini cuma antara sahabat. Ndak ada urusannya sama orientasi seksual. Aku juga tetep naksir Sekar, bukan Aji.”

Aji tersenyum dan menyambut pelukan Lukito. Keduanya berpelukan sambil saling mengusap punggung. Tanpa terasa air mata mengalir di mata keduanya.

Pada saat itu Iyem keluar dengan tiga gelas es sirup. Dia melongo melihat Aji dan Lukito berpelukan sementara Juwandi sibuk mengusap mata.

“Ini pada ngapain? Tumben ada acara pelukan segala.”

curhat1

Aji dan Lukito melepas pelukan dan segera menghapus air mata mereka. Untuk mengalihkan perhatian Iyem Juwandi mendekatinya dan membuka kedua tangannya.

“Iyem, peluk aku. Aku belum ada yang peluk..”

“Hah? Ini pada habis makan apa, sih?” Iyem menghindar dengan takut.

Aji dan Lukito tertawa sambil masih membersihkan mata dari sisa air mata. Begitu melihat ada es sirop di atas meja, Lukito langsung segar.

“Mbaknya Aji, baik banget. Makasih, ya..” Tanpa dipersilahkan Lukito segera menyambar satu gelas.

Iyem tersenyum. “Senang kalo ada tamu yang kaya gini. Ndemenakke.”

“Apa itu?” Juwandi heran.

“Duh, apa ya..” Iyem berpikir. “Pokoknya menyenangkan. Mbuh mas, Iyem ndak tau Indonesianya.”

“Lha sudah dibikinin, ya disambar aja to?” Lukito membela diri.

“Iya, kalo sudah minum, langsung makan siang aja ya. Sudah siap tuh di meja.”

Bertiga mereka segera menyeruput es sirop masing-masing dan beranjak ke ruang makan. Siang itu mereka bertiga tahu bahwa mereka bisa menyandar pada satu sama lain. Persahabatan memang selalu indah.

 

About Wesiati Setyaningsih

Seorang guru yang tinggal di Semarang. Awalnya tidak ada niat untuk menjadi guru, tapi kemudian "kesasar" menjadi guru. Mencoba mendobrak "pakem baku" proses pengajaran, juga mendobrak ketidaklogisan pencekokan agama membabibuta di sekolah dan keseharian murid-muridnya. Sering dianggap "off-track" bahkan tidak jarang mendapat cap sesat karena sikapnya yang tidak seperti kebanyakan mainstream.

My Facebook Arsip Artikel

16 Comments to "Tiga Sahabat (16): Curcol – Curhat Colongan"

  1. Nur Mberok  15 July, 2013 at 12:06

    Haiaaaaaaaa … iyem iyem….

  2. Lani  15 July, 2013 at 10:32

    EL-NANO-NANO : halah malah ngajan2-i disuruh Pam-Pam memeluk diriku………..mmgnya tangane iso moloooooooooooor sampai Kona?????

  3. J C  15 July, 2013 at 09:50

    Terharu biru…

  4. [email protected]  15 July, 2013 at 09:14

    belom sempet meluk ci lani…. wong baru lari dari jauh… mau minta peluk…
    dikasihnya satu piring kuetiauw… gimana….

  5. elnino  15 July, 2013 at 06:33

    Pams kamu minta peluk sama tante Lani toh… Kan mamamu jauh

  6. Lani  14 July, 2013 at 22:41

    WESIATI : mmg mengharukan mengetahui org yg segede buto………punya hati yg lembut, bs mbrebessssss mili………jd jgn dikira orang gede, gagah, duwur koyok werkudoro ndak duwe ati selembut salju kkkkkk………

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.