Daoed Joesoef: RSBI Mengkhianati Janji Soempah Pemoeda 1928

Ita Siregar

 

Semalam saya berada di acara memperingati setahun berdirinya Soegeng Sarjadi School of Government (SSSG), dan menyaksikan penyerahan Soegeng Sarjadi Award on life time achievement, kepada mantan menteri  pendidikan di era orde baru, yaitu Pak Daoed Joesoef. Salah satu penerima hadiah yang lain di antaranya adalah Hariman Siregar, tokoh Malari 15 Januari 1974. Malam itu Pak Moh Mahfud MD, Ketum MK, memberi kuliah ringan yang menarik, soal Bernegara adalah Berkonstitusi.

Dalam sepatah dua patah katanya, Pak Daoed menyatakan, bahwa dia dapat menerima award ini karena hati nuraninya menerima (barusan beliau menolak untuk menerima award yang lain). Dan satu ucapan yang menarik perhatian saya, yang menyenangkan saya karena beliau memberi perhatian itu, adalah bahwa pemerintah mengganti departemen pendidikan nasional menjadi kementerian pendidikan nasional, yang menciptakan sekolah-sekolah internasional (RSBI-Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional). Menurut beliau, salah satu persyaratan menjadi sekolah bertaraf internasional ini adalah pemakaian bahasa Inggris sebagai kata pengantarnya. Dan yang saya tahu juga, pengantar bahasa Inggris itu tidak hanya pada pelajaran bahasa Inggris, tetapi juga pelajaran-pelajaran lain, seperti kimia, fisika, dan lain-lain. (Di Jakarta banyak sekolah untuk anak pra-usia sekolah menggunakan bahasa Inggris sebagai pengantar, dengan harapan itu menjadi bahasa ibu kali ya).

Dengan suara bergetar Pak Daoed berkata bahwa gagasan tersebut justru telah mengkhianati  janji Soempah Pemoeda tahun 1928, yang salah satunya berikrar untuk berbahasa satu yaitu bahasa Indonesia. Sebagai contoh, beliau mengatakan bahwa negara-negara seperti Amerika dan Inggris, maju bukan karena mereka berbahasa Inggris, tetapi karena mereka menguasai ilmu pengetahuan. Jadi, artinya, kalau kita ingin maju BUKAN dengan menjadikan bahasa Inggris sebagai keseharian yang dipaksakan.

Bulan Mei lalu, saya dan teman-teman SMP, satu kelas bereuni. Salah satu acaranya adalah kami mengunjungi sekolah dulu, SMP Negeri 2 Sukabumi. Hati kami tergetar melihat posisi-posisi kelas yang tidak sama seperti dulu, termasuk bahwa sekolah ini sekarang bertaraf internasional. Dan saya bisa memandangi banyaknya kutipan-kutipan bahasa Inggris di dinding dan melayang-layang di atas kepala, lalu di bawah kutipan tersebut adalah nama-nama asing yang saya tidak kenal.

RSBI

Kok bisa gini ya sekolah saya? Apakah kita kekurangan nama tokoh bangsa sendiri yang mempunyai jasa bagi negeri ini, kenapa nama-nama asing disebutkan di sana? Lalu saya bayangkan rumitnya lidah guru kimia menjelaskan rumus-rumus kimia dalam bahasa Inggris. Kenapa bahkan tidak dengan bahasa Sunda saja, lebih mengena di hati dan pas di ceuli, selain usaha kita merawat bahasa daerah dan percaya diri dengan identitas lokal? Saya memahami persyaratan-persyaratan yang harus dipenuhi sekolah demi mendapat julukan RSBI dan tidak mengurangi kesadaran akan betapa pentingnya bahasa Inggris dalam percaturan dunia. Tapi, kalau generasi baru bangsa ini fasih berbahasa Inggris lalu merasa asing dengan akar dirinya bermuasal, akan ke mana kita ini? Ke mana lagi kita akan mencari Indonesia?

Pak Daoed layak dapat menerima penghargaan itu atas konsistensinya seumur hidup terhadap pendidikan bangsa ini. Selamat, Pak Daoed. Semoga kegelisahan Bapak cepat terobati oleh pihak-pihak berwenang yang meninjau kembali keputusan tersebut, sebelum terlalu terlambat.

 

Itasiregar, 19 Agustus 2010

 

6 Comments to "Daoed Joesoef: RSBI Mengkhianati Janji Soempah Pemoeda 1928"

  1. Dj. 813  15 July, 2013 at 17:29

    Mempelajari banyak bahasa itu baik adanya.
    Asal tahu waktu dan tempat, saat menggunakannya.
    Lebih banyak bahasa yang kita kenal, maka cara kita berkomunikasi dengan
    orang lain, semakin akrab.
    Terlebih kalau kita tidak hanya mengenal bahasanya saja, tapi mengenal juga dari mana itu bahasa
    berasal. Negaranya dan budayanya.

    Contoh.
    Bila kita dalam satu liburan, kita tahu bhs setempat, maka kita pasti akan diterima oleh penduduk
    setempat dengan lebih ramah.

    Saat kita rapat dan peserta rapat, bukan hanya orang Indonesia saja.
    Setidaknya dengan bahasa international ( inggris ), akan memperlancar jalannya rapat.
    Apalagi kalau pesertanya ada yang dari Italy,Pranci dan negara lain.
    Saat istirahat makan siang, kita bisa ngobrol dengan baik.

    Tapi kalau hanya untuk dalam kehidupa setiap hari dan dalam masyarakat yang sama.
    Apalah artinya, bukankah kita juga harus bangga dengan bahasa ibu kita.
    Dj. belum pernah mengaku berbahasa inggris, Jerman dengan lancar.
    Karena itu bukan satu keistimewaan untuk kehidupan Dj.
    Lebih bangga dengan bhs Jawa atau setidaknya bhs Indonesia dengan baik.

    Walau pernah sekolah di Oxford dan hampir 40 tahun di Jerman.
    Tapi bhs Indonesia dan Jawa, lebih Dj. banggakan.

    Semua tergantung masing-masih orang.
    Kalau dia bangga sudah bisa bhs Inggris, arab atau yang lainnya, ya silahkan saja.

    Maaf Dj. kutip kaliamat diatas.

    *** Lalu saya bayangkan rumitnya lidah guru kimia menjelaskan rumus-rumus kimia dalam bahasa Inggris.***

    Ini sebagai guyonan saja.
    Saat pelajaran kimia dalam bhs Inggris.
    Juwandi yang sedikit ngantuk, kaget saat namanya dipanggil.
    Guru: Juwandi, tell me please H2O
    Juwandi menjawab : H I J K L M N O !!! ( H to O )

    Salam,

  2. Nur Mberok  15 July, 2013 at 15:52

    Bu Guchan : ya memang banyak sekolah2 keblinger.

    Tap kalau yang mau pake bahasa Inggris sehari-hari dalam rangka melancarkan kemampuannya ya biar aja. Tapi kalau tujuannya buat kemayu yo embuh hahahaha…

    Aku kerja di PMA, tapi pemiliknya aku ajari bahasa Indonesia. Jadi kalau ngomong ama dia aku sebisa mungkin justru pake bahasa Indonesia. Alasanku ya satu biar dia fasih bahasa Indonesia, 2. biar dia tahu ini Indonesia, yang ke 3. aku cinta bahasa Indonesia, terus yg ke 4. ngeles aja sih ben ra konangan ra pinter bhs inggris..xixixixixi

  3. probo  15 July, 2013 at 12:01

    sekarang kan orang merasa derajatnya lebih tinggi ketika ngomong diselipi bahasa Inggris dan Arab
    dari hari ke hari, bahasa Indonesia makain nggak ‘laku’, smemua masjid dan sekolah Islam namanya Arab semua……yang satunya namanya Inggris semua…..

    saya malah dalam rangka berusaha meminimalisasi penggunaan bahasa asing, biar saja dianggep bodoh dan tidak agamis

  4. Osa KI  15 July, 2013 at 10:28

    Saya setuju dengan Pak Daoed Joesoef. Pendidikan kita memang sudah keblinger, sok keinggris-inggrisan. Sekolah negeri maupun sekolah anak-anak saya juga sama seperti yang ada di foto itu. Keinggris-inggrisan semua. Saya sih tidak anti Bahasa Inggris, bahasa itu menjadi bahasa sehari-hari di kantor saya plus sedikit-dikit bahasa Perancis tapi mbko yao jangan lebay begitu. Kalau memang niat pakai Bahasa Inggris ya pakai aja sekalian jadi bahasa sehari-hari jangan sepotong-sepotong hanya pas buat slogan atau semboyan atau nama acara dan bangunan.
    Kebayang dulu waktu masih sekolah di kampung….nggak pernah keinggris-inggrisan kayak sekarang tapi toh saya wong ndheso ini masih bisa berdiri tegak sejajar dengan orang-orang bule itu.
    Nggak hanya di sekolah-sekolah, di gereja-gereja pun mulai keinggris-inggrisan pula dengan buat acara dengan nama sok inggris. saya kadang mikir saya ini masih tinggal di Indonesia atau bukan sih?!

    Salam,
    OsaKI

  5. J C  15 July, 2013 at 09:51

    Kalau urusan pendidikan di Indonesia, bikin mumet dan pusing saja ngikuti beritanya…

  6. [email protected]  15 July, 2013 at 09:27

    Setuju… harus ada keseimbangan antara bahasa inggris dan bahasa indonesia… untuk urusan nama2 sejarah, harus disesuaikan dengan sejarah indonesia….
    tapi jika mengenai sejarah dunia (seperti sejarah perang dunia ke 2)…. boleh jg lah di sebut…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.