Manajemen Penis

Patrisius Djiwandono

 

Judul di atas saya kutip dari seorang ibu yang bergerak di bidang pemberdayaan wanita di suatu sesi kuliah umum di kampus. Beliau sedang membahas tentang fenomena wanita-wanita muda yang dijadikan istri simpanan, atau istri kedua, ketiga dst. Sebagai tokoh wanita dia tentu gemas dengan fenomena sosial seperti ini.

Dia mengatakan: “pria-pria yang tidak puas hanya dengan satu istri itu memerlukan ilmu manajemen. Manajemen apa? Ya manajemen penis!” Kontan seluruh balai pertemuan bergetar saking kerasnya suara tawa yang menyambut omongan itu.

penis-management

Ilmu manajemen penis. Biyuh, biyuh, baru sekali ini saya dengar diucapkan dengan begitu lantangnya oleh seorang wanita separuh baya. Tapi kalau dipikir lebih lanjut, ilmu manajemen penis itu tidak hanya berguna untuk pria yang sudah beristri dan masih kepingin punya istri lagi, tapi juga untuk mereka yang sudah “mendapat restu” untuk beristri lebih dari satu. Betul kan?

Lha, coba kita hitung sederhana saja: kalau seorang istri berhak untuk mendapatkan nafkah batin setidaknya seminggu sekali, kalau dia punya 3 istri kan dia benar-benar harus mengelola kesehatan maupun kondisi alat vitalnya itu sehingga setiap istri bisa minimal mendapatkan jatah nafkah batinnya 1 kali seminggu? Itu kalau sekali seminggu lho ya; lha kalau istrinya masih pada usia puncak (konon awal 30 – pertengahan 40’an tahun), kan bisa lebih sering lagi? Yaah, semakin sibuklah sang pria ini membeli “oli pelumas” dan “suplai tenaga turbocharger” untuk menjaga dan meningkatkan kinerja sang tombak sialan pembawa nikmat  itu.

Manajemen penis juga berguna untuk pria baik-baik yang dosa terbesarnya adalah kecanduan merokok. Menurut seorang wanita, iklan layanan masyarakat yang mengatakan bahwa merokok bisa menyebabkan impotensi itu perlu didukung. “Pria kalau hanya ditakut-takuti tentang sakit jantung atau kanker paru-paru mah ndak mempan,” katanya. “Tapi kalau dibilang bahwa merokok bisa membuatnya impoten, nah, baru mereka gentar.”

penis-management1

Yah, tapi nyatanya pria-pria jantan itu kok ya ndak berhenti merokok ya? Malah rokok dijadikan simbol maskulinitas dan kemachoan. Nah, itu pasti karena entah bagaimana pria-pria itu berhasil melakukan manajemen penis dengan baik. Jadi, rokok tetap  ngebul, tapi sang ujung tombak kejantanan juga tetap prima. Hmm, jadi penasaran gimana ya caranya? Saya mah pria lugu; walaupun nikah dah hampir 20 tahun kurang tahu yang begituan.

Konteks terakhir untuk manajemen penis adalah dalam hubungan seksual. Saya tanya seorang teman wanita yang sedang menggebu-gebu berbicara tentang masalah hubungan seks yang sehat: “Is that true that size does matter?” (apa benar ukuran penis itu penting buat wanita?).  Dia menjawab: “ah, lu boleh pilih: mau yang kerempeng tapi panjangnya semeter atau yang tuebel tapi panjangnya cuma seukuran flash disk?”. Yia ha ha haa! Lalu dia teruskan: “sebenarnya ndak, kok. You know, once it is inside you wont feel the difference (begitu dah di dalam, ndak terasa kok bedanya).”

Sejenak saya diam dengan raut agak kebego-begoan membayangkan hal itu. “Kok bisa?” tanya saya. “gimana caranya?”

“Yah, manage your penis, man!” jawabnya sambil tertawa.

Ah, kurang ajar benar, persoalan manajemen penis ini . . .

 

47 Comments to "Manajemen Penis"

  1. Dewi Aichi  25 July, 2013 at 10:38

    Siapa butuh manajer..aku siap he he he….

  2. hendrik  25 July, 2013 at 10:33

    Memang berbeda2 tiap laki2 memanaj nya, ada yg sukanya dilayani tiap malam ada yg 2 hari sekali atau ada yang seminggu 2 kali (Senin – Kamis), atau tergantung suami/istrinya kapan dia mau, tapi yg lebih pusing si Istri nggak mau tau dan selalu menolak ketika diajak berhubungan badan dengan berbagai alasan, tapi yg lebih penting yaitu memanaj si Penis itu tadi agar tetap tegar dan jantan.

  3. anoew  23 July, 2013 at 09:00

    manajemen penis… salah satu mata pelajaran dari pegunungan Tibet.

  4. Patrisius  19 July, 2013 at 17:19

    Ahaai, Pak Bagong sudah melakukan pendekatan aktual akademis / ilmiah terhadap manajemen penis

    Setuju dengan kalimat terakhir, Pak.

  5. Bagong Julianto  19 July, 2013 at 14:42

    Manage.
    Management. Manajemen.
    Fungsi manajemen: Planning, Organizing, Actuating, Controlling.
    Manajemen Penis. Aha….Merencanakan (darah sudah menggelegak, P sudah thengil-keras);
    Mengorganisir (minum telor ayam kampung setengah masak, telor bebek mentah, P makin keras); Melaksanakan (celana sudah sesak, langsung diplorotkan);
    Mengendalikan…..ah nggak tahan lagi, langsung ambrol……

    Tapi jangan sampai mismanajemen. Serang tembak nggak tahu aturan sesuka-sukanya sendiri.
    Gara-gara kepala kecil yang tak berotak, kepala besar yang berotak bisa masuk penjara….

  6. Lani  19 July, 2013 at 04:29

    EA : lo baru tau ta klu penjaga Kona itu genitttttttt? mmg genit gawan bayi kok……..ndak usah kaget yeeeeeeeeee

  7. EA.Inakawa  19 July, 2013 at 03:51

    @ Ci Lani genit ehehehe konotasinya kok jadi ke ONDERDIL emangnya onderdil nya made in KW 1 atau KW 2 ahahahaha

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.