Pare Cangrukan Buku

Ita Siregar

 

Desa Jambu, Kayen Kidul 5-6 Mei 2012

Jauh-jauh hari Sigit Susanto sudah mewanti-wanti  jadwal safari sastra desa tahun ini. Saya sudah memensil tanggal 5-6 untuk singgah di Kediri, tepatnya kota Pare. Bagi saya ini yang keempat kali setelah Boja, Wonosobo, Ciseel. Masing-masing desa tempat memiliki kenangan dan juga tingkat kesulitan tersendiri mencapai lokasinya.

Tanggal 3 Mei saya sudah di Blitar, tinggal di rumah satu keluarga kawan lawas. Blitar ke Kediri bisa dicapai dua jam kendaraan. Tanggal 5 Mei ketika matahari sudah tinggi, kawan saya mengantar ke terminal Kesamben, arah selatan dari Wlingi. Dari sini ada bus kecil menuju Blitar sekitar 30 menit. Dari terminal Blitar ada bus besar menuju Malang dan bisa berhenti di Pare.

Saya sudah berkirim pesan kepada Iwan Kapit, seorang pemuda guru bahasa Indonesia, tuan rumah kegiatan ini. Dia sudah kasih kode agar saya turun di perempatan Garuda, dan di sana seorang teman akan menjemput saya dengan sepeda motor. Asyik juga berpetualang naik kendaraan umum di daerah yang belum dikenal. Sepanjang jalan rata, tak ada tanjakan atau turunan.

Lima menit kami tiba di Desa Jambu. Saya girang melihat wajah-wajah yang rasanya hanya bertemu di kegiatan sastra seperti ini. Kamerad Sigit Susanto, Daurie, Tommas, Heri, Kang Ubai, Husni. Tak ketinggalan Mbah Jamali yang masih seperti tahun lalu, sehat walafiat dan ceria.

Saya berkenalan dengan Mas Iwan Kapit yang baik. Bertemu Diana Sasa, penulis Penggila Buku dengan Muhidin Dachlan, yang namanya sering saya dengar dan baca. Lalu Yonathan Rahardjo, Si ‘Lanang’ yang juga dokter hewan. Dan tak disangka-sangka ketemu Wahab, seorang aktivis yang bertemu di Kayu Putih, tempat tinggal Cok Sawitri di Jakarta. wah, dunia pembaca dan pecinta buku mah takkan ke mana larinya ya.

Saya datang acara pertama sudah bubaran. Kami mengobrol haha-hihi sambil mampir ke rumah baca anak-anak Desa Jambu yang bersih dan rapi. Beberapa liputan media cetak tentang kegiatan mereka dipajang di dinding. Kami beristirahat di rumah Mas Iwan yang bersama timnya sudah menyiapkan makan siang berupa nasi, lodeh, tahu-tempe, krupuk yang disantap lahap oleh para tamu. Di dapur saya berkenalan dengan Ibu Astuti, putrinya Pram, yang datang dari Jakarta untuk berbagi soal buku Jalan Raya Pos, yang sedang jadi bacaan anak-anak Desa Jambu.

pare-cangrukan-buku

Selepas makan siang kami ke TKP. Iwan Kapit mengajak anak muridnya kelompok membaca buku Pram, dan menjelaskan bagaimana mereka melaksanakan kegiatan membaca secara rutin. Setelah itu diskusi dilanjutkan dengan sharing rumah-rumah baca yang lain, dari Yogya, Surabaya, Boja, Lereng Medini.

Sayangnya saya tak bisa menginap. Maghrib saya segera pamit karena harus kembali ke Blitar. Saya tak sempat mendengarkan diskusi dengan Ibu Astuti. Yonathan Rahardjo membonceng saya sampai terminal Kediri yang sunyi padahal malam belum jatuh benar. Hujan agak deras mengiring bus yang mengantar saya tiba di Blitar. Cuaca dingin segar.

Keesokan harinya Sigit Susanto berbagi cerita membawa anak-anak jalan-jalan sekitar Kediri sebagai bakal tulisan mereka nantinya, lalu pada malam harinya mengajak mereka nonton ketoprak dengan tiket Rp2 ribu. Ternyata seniman desa ini memiliki latar yang bisa dengan cepat mengubah setting panggung yang berbeda, meski dengan peralatan minim, yang kalau hujan sudah pasti bocor dan kalau panas terkena sinar matahari.

Seperti perjalanan sastra sebelumnya, saya menunggu hasil pengamatan anak-anak Desa Jambu lewat tulisan. Pasti unik dan sering mengejutkan.

Salam sastra jalan-jalan.

 

 Itasiregar, Mei 2012

 

8 Comments to "Pare Cangrukan Buku"

  1. Bagong Julianto  19 July, 2013 at 14:49

    Benih sudah ditabur…..
    Saat dituai, benih itu menjelma dan menyemarakkan pertiwi dengan pribadi yang kokoh dan berbudi-pekerti.
    Semoga!

  2. Ita Siregar  18 July, 2013 at 21:53

    Teman-teman,

    Terimakasih sudah membaca ya.

    Sastra desa ini pertama kali dipelopori oleh kawan Sigit Susanto, dia tinggal di Swiss. Setahun sekali dia dan keluarga berlibur di Indonesia. kami kenal dalam satu milis apresiasi sastra namanya.

    Mas Sigit asli Boja dan di sana dia bikin rumah baca, rumah orangtuanya. Buku-buku adalah koleksi pribadi. Salah satu kegiatannya membaca satu buku sastra bersama, lalu berdiskusi. Anggota anak-anak dan dewasa.

    Cara ini dia contoh dari Swiss. Di sana ada diskusi buku Ulysses karya James Joyce, karya sastra yang sulit dipahami itu. Mereka membaca selama dua tahun, seminggu sekali, ada gurunya pula. Satu kelas paling banyak 10 orang.

    Setelah berhasil di Boja, teman2 yang lain mencontoh. Di Wonosobo, Ciseel, Lereng Merapi, Surabaya, dll. Jadi deh sambil mengunjungi desa-desa itu, kami jalan2. seperti liburan. Tiap kali kegiatannya bertambah dan makin variatif. dan sudah banyak diliput media.

    Demikianlah,

    @Mbak Esti: Iya, Mbak. Boka dekat dari semarang.

    salam,
    Ita

  3. EA.Inakawa  18 July, 2013 at 05:15

    Sungguh baiknya , Ita Siregar mempelopori kegiatan ” safari sastra desa ” ini sebuah awal menggiring anak muda untuk mencintai sastra, pemuda yang cinta sastra sejatinya selalu menjadi pemuda yang baik baik……perasa halus. salam sejuk

  4. Esti  17 July, 2013 at 16:24

    Semangat terus untuk memperkenalkan satra kesetiap daerah ya mbak.
    Wah mbak Ita sudah pernah ke Boja juga Kediri ya.
    Boja, desa kelahiran suami dan Kediri adalah desa kelahiran bapak saya tercinta

  5. Dj. 813  17 July, 2013 at 13:11

    Ita Seregar….
    Terimakasih untuk ceritanya…
    Baru tau kalau ada Sastra jalan-jalan…
    Semoga banyak diminati oleh banyak kaum muda yang masih penuh semangat.
    Salam sejahtera dari Mainz.

  6. J C  17 July, 2013 at 12:46

    Menarik sekali kegiatan seperti ini. Semoga ada lebih banyak lagi kegiatan serupa.

  7. Handoko Widagdo  17 July, 2013 at 12:38

    Sungguh menarik Ita Siregar.

  8. Lani  17 July, 2013 at 10:35

    satoe

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.