Ketika Dendam Terbuncang (2): Ke Hong Kong, Mereka Pergi

Gunawan Budi Susanto

 

SEMULA Rini tak mempunyai prasangka buruk apa pun setiap kali Murdani pamit bepergian. Dia memercayai sepenuh hati bahwa kepergian sang suami untuk berbuat sesuatu, apa pun wujudnya, demi kemajuan desa, demi perbaikan nasib masyarakat. Dan, memang itulah yang selalu menjadi alasan Murdani ketika berpamitan kepada istri dan anak semata wayang mereka.

Apalagi memang terbukti: desa mereka acap memperoleh dana dan bantuan program atas upaya Murdani. Perbaikan jalan, renovasi prasarana dan sarana pendidikan, dana hibah program pemeliharaan sapi dan kambing, dan macam-macam pelatihan untuk pemberdayaan masyarakat desa tepian hutan. Kini, pada masa awal periode kedua kepemimpinan Murdani, desa di tepian hutan jati itu mulai memperlihatkan perubahan dan gereget pembangunan.

Namun, diam-diam, kehidupan pribadi rumah tangga mereka tak berbanding lurus dengan kemajuan masyarakat desa. Bengkok tanah tak seberapa luas di tanah tadah hujan tak bisa diandalkan untuk mencukupi kebutuhan hidup berumah tangga. Dan, pohon-pohon jati yang ditanam Murdani di setumpak tanah warisan orang pun belum bisa diharapkan hasilnya. “Itu tabungan masa tua kita, Rin. Tak bisa kita unduh setahun-dua tahun. Makin tua usia pohon-pohon jati itu, kelak kian mahal harganya,” ujar Murdani.

Rini menyetujui cara berpikir sang suami. Apalagi Murdani menyatakan semua tabungan itu toh untuk masa depan anak mereka, Tinuk, yang digadang-gadang bisa menempuh pendidikan tinggi. Tidak seperti kedua orang tuanya yang cuma tamatan sekolah menengah, tanpa keterampilan apa pun untuk bekal bekerja.

Karena itulah, dengan pertimbangan masak-masak, akhirnya Rini meminta izin sang suami untuk bekerja di Hong Kong. Murdani setuju. Dan, dia pun berangkat bersama Mita. Kawan sekolah semasa SMA yang memperlihatkan keberhasilan ketika pulang dari negeri seberang itulah yang bakal menanggung dia pasti memperoleh pekerjaan di sana.

Dan benar, dia bisa bekerja sebagai pekerja rumah tangga. Dia melakukan semua pekerjaan kerumahtanggaan sebagaimana selama di desa: memasak, mencuci, membersihkan rumah, mengasuh anak.

Tak ada yang berat. Apalagi semua itu dia lakukan untuk memperbaiki tingkat kesejahteraan keluarga. Dia abaikan gengsi: di desa dia memang istri kepala desa, tetapi di sini, dia bekerja. Apa pun jenis pekerjaan itu, asal halal dan memberikan berkah.

Setiap bulan dia bisa mengirimkan uang kepada Tinuk. Anak gadis yang duduk di kelas II SMP ketika dia tinggalkan itu, kini mampu menjadi pengganti dia: mengelola rumah tangga di desa. Mengelola penghasilan yang dia kirimkan setiap bulan. Rini pun makin bersemangat dan giat bekerja. Dan, terutama, makin berhemat dan mengelola penghasilan secara ketat sehingga mampu menghidupi diri sendiri dan keluarga di kampung halaman.

Dia menekan kerinduan setiap kali ingatan kepada desa, kepada sang suami, kepada anak semata wayang, melintas-lintas dalam benak. Setiap akhir pekan, ketika liburan, dia mengisi waktu mempermahir kemampuan bahasa Inggris serta keterampilan apa pun yang bisa dia pelajari dari kawan-kawan sesama pekerja. Cara itu cukup efektif bagi dia agar tidak terlarut dalam rasa ngungun lantaran kerinduan tak bertepi kepada sang anak dan suami.

Tanpa terasa tiga tahun sudah dia jauh dari keluarga, jauh dari kehangatan kasih suami dan anak serta handai tolan. Rasa kangen yang dia peram diam-diam, kini membuncah. Malam-malam, ketika dia mengistirahatkan tubuh, rasa kangen itu meluap. Dia jadi acap menangis, tanpa isak.

“Tinuk kini sudah dewasa. Sudah kelas II SMA,” batin Rini. “Dan aku tak bisa menemani dan membantu dia beranjak menjadi perempuan dewasa.”

 

Bersambung

 

6 Comments to "Ketika Dendam Terbuncang (2): Ke Hong Kong, Mereka Pergi"

  1. [email protected]  19 July, 2013 at 09:49

    oh…. pantesan mirip…baru baca part 1

  2. Handoko Widagdo  19 July, 2013 at 08:07

    Aku menunggu bukunya saja

  3. J C  19 July, 2013 at 07:07

    Serial Kang Putu ini dekat sekali dengan kehidupan nyata para buruh migran…

  4. [email protected]  18 July, 2013 at 14:01

    ini…..
    pernah baca di mana gituh ya….

    hmm….
    kok lupa…

  5. Lani  18 July, 2013 at 13:56

    no 2 ngintil dibelakang mas DJ

  6. Dj. 813  18 July, 2013 at 12:38

    Nomor hiji

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *