Hanya untuk Mengenang

Yuli Duryat

 

Gara-gara deadline puisi dan belum juga ada ide, aku nemu ini di dokumen, lucu aja saat baca kok bisa sih aku nulis puisi melow kayak gini. Entah,  mungkin satu tahun yang lalu aku post di mana, lupa.

mengenang

 

Diskusi

Desau angin meliukkan sulur padi menguning

Ijinkan jemariku menyentuh runduk bulir-bulir

Say, ingatkah kau akan keharuman romantis yang alam suguhkan

Kala bersamanya terbisik kesetiaan

Untukku, hanya untukku seorang

Say, sungguh tajam duri padi matang menggores jemari

Ini, di sini

 

Elok

Engkau teramat tampan Sayang

Laku juga ucapan

O, aku jatuh cinta pada keduanya

Kasih kejujuran adalah damai terciptakan

 

Sarat

Senja merona, bukanlah hamparan pipiku yang tersipu

Ah, malu saat kau pandang lekat kesibukanku mengunyah

Ramen

Asik dan nikmatnya makan bersamamu

Teduh di bawah pohon waru

 

Asah

Anganku membumbung

Saat kau semat bunga padi di sela telingaku

Andai ayah tak mengawasiku dari belakang

Hatiku pastilah telah terbang melayang

 

Asih

Atas nama cinta aku rela melakukan apaun

Selagi pelangi masih melengkung indah

Ijinkan aku berjanji di Desa Rangkot ini

Hanya kita berdua disaksikan langit jingga

 

Asuh

Ambil Sayang, padi kita telah siap dipanen

Sebagai perwujudan kebersamaan kita menjaganya

Utuh tanpa terserang hama

Hanya kita yang boleh memanen, ya, hanya kita

 

Dalam

Dari sana kita memperoleh keberlangsungan

Antara hidup dan cinta

Lenguhan hati sepasang kekasih

Alam jadi saksi keibuan tanpa pamrih

Menggilas kasta pemisah kita

 

Merangkai

Malang melintang aral

Ego perbedaan memaksakan

Rasa kita berdua tak bisa tersatukan

Awan menggumpal

Napas tersengal

Gagalkah cinta kita Sayang

Kelamkah dunia kita karenanya

Ah tahukah cinta jaya dalam hati kita berdua

Indah menyepuh dengan warna merah muda

 

Kata

Kasih, kita tak dapat mengikatnya satu

Atas nama adat dan orang tua

Tetaplah aku gadis yang pantang durhaka

Aku ucapkan selamat tinggal, Sayang… Maafkan… sungguh maafkan…

 

Maka di sinilah aku sendiri sekarang menatap cakrawala, dan menitipkan sebuah doa yang penuh harapan untuk hari esok…. 

Yuli Duryat

 

Di sini, yogi, here, lito, celi, kene, untuk mengenangmu kembali, ah entah mengapa aku jadi jatuh cinta sama kata, di sini.

 

3 Comments to "Hanya untuk Mengenang"

  1. Bagong Julianto  23 July, 2013 at 16:32

    Hanya dan bisa mengenang, itu sudah satu keharuan……

  2. Dewi Aichi  23 July, 2013 at 05:42

    Yuli……………..kok jatuh cinta sama kata sih….mbok jatuh cinta sama itu tuh..ehem….

    hanya untuk mengenang, duh….mewakili perasaanku.

  3. Dj. 813  21 July, 2013 at 13:06

    nr. 1. bacanya nanti kalau ada waktu.
    Danke Yuli.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.