Terompah Ramadhan

Seroja White

 

Masjid tampak ramai, seusai shalat Tarawih anak-anak  berkumpul di beranda Masjid. Tanpa diperintah mereka mulai

membuka kajiannya masing-masing. Ada yang begitu serius mengikuti Tadarusan tapi banyak pula yang usil dengan asyik  bermain-main. Melihat mataku melotot ke arah mereka, kegiatan bermain mereka berhenti sejenak. Tapi tidak lama,  mereka bermain-main dan bercanda kembali.

Yah namanya juga anak-anak. Ada Mamat  yang super usil, ada Lestari anaknya ibu Dian yang ketua PKK, Sari yang kulitnya hitam manis, lalu Wawan yang mirip pak Ogah karena kepalanya botak, hehehe…dan banyak anak yang lainnya, mereka berjumlah sebelas orang.  Ada seseorang yang kurang di antara mereka, di mana Ramadhan tahun lalu ia ikut meramaikan Masjid ini.

Niluh…Tiba-tiba hatiku teriris perih, tanpa sadar dua tetes air mata terurai jatuh membasahi kitab yang sedang berada dalam pangkuanku…Astaqfirulloh.

***

Sepulang dari Masjid aku terduduk lemas di meja makan, tiba-tiba kepalaku pusing. Lalu emak tampak menghampiri aku dari belakang.

“Ono opo toh Leh, kok kelihatan lemes banget. Kamu sakit yah?” emak mengusap bahuku dari belakang lalu duduk di sampingku.

“Ndak apa-apa kok mak, aku cuma lelah”.

“Yo wes, tidur sana! Biar sahur nanti emak bangunkan.”

Aku melangkah menuju kamar, di depan kamar Niluh aku berhenti. Melongok ke dalam  sebentar, sekilas mataku menatap terompah pink yang tergantung rapi di dinding kamar. Duh..Gusti Alloh, betapa aku sangat merindukan Niluh .

 

Setahun yang lalu….

Ini ketiga kalinya Niluh kehilangan sendalnya. Sekarang ia sedang menangis di pojokan sambil menarik-narik jilbabnya dengan kesal. Aku dan emak hanya dapat memandangnya dengan perasaan iba.

“Yah sudah, nanti emak akan membelikanmu sandal jepit yang baru.”  Emak mencoba membujuknya. Tapi adikku itu tampaknya masih sangat kesal.

“Kok, bisa sendalmu hilang terus yah? diambil orang atau disembunyikan temanmu barangkali?” tanyaku.

“Niluh Ndak tahu mas, setiap pulang dari Masjid pasti sendal Niluh hilang. Kemarin malah sendalnya hilang sebelah, ada yang ngumpeti kali.”

Melihat ekspresi wajahnya yang cemberut begitu aku tertawa dalam hati, lucu.

 

Setiap Ramadhan tiba, pasti ia lah yang paling bersemangat. Rajin sekali Tarawih dan Tadarusan di Masjid, bersama-sama anak tetangga lainnya. Aku saja yang kakaknya  suka malas. Aku jadi malu sama adikku itu.  Semangat Niluh  itu lah yang menyadarkan aku.

“Dik, ikut yuk, ada yang mau mas berikan padamu.”  Kulihat matanya hanya melirikku sekilas.

“Ayolah nduk, ikut masmu. coba dilihat dulu sana!”   Masih dengan wajah cemberut akhirnya langkah kecilnya itu mengikuti aku dari belakang.

terompah

Kemarin aku melihat ada beberapa potong kayu, bekas bapak memperbaiki pagar depan. Lalu aku punya ide, kubuatkan saja Niluh terompah. Lalu kucat berwarna pink . Mudah-mudahan Niluh suka. Kubungkus sepasang terompah itu ke dalam kotak sepatu dengan rapi.

 

Kulihat dengan wajah penuh penasaran, dibukanya kotak itu . Matanya terbelalak lebar !

“Apa nih mas?” tanyanya penasaran.

“Itu terompah adikku sayang.”  Dipandanginya lama terompah itu.

“Ayo dicoba, pas tidak ukurannya?”

Walau agak canggung dicobanya juga teropah itu,  suara terompah  nyaring beradu dengan lantai.

Niluh tersenyum…

“Terima kasih mas, Niluh suka, lucu sih!” sambil memelukku dengan rasa gembira.

 

Keesokan harinya, walau sedikit malu-malu, Niluh berangkat ke Masjid dengan terompah pink-nya itu. Wajahnya kembali ceria dan penuh semangat.  Aku dan Emak kali ini sengaja menungguinya pulang dari Masjid. Ternyata berhasil, terompahnya tidak hilang. Siapa juga yang mau mengambil terompah kayu seperti itu. Akhirnya tak ada lagi wajah cemberut Niluh yang selalu kehilangan sandalnya sepulang dari Masjid.

***

 

Masih kutatap terompah itu, lalu beralih ke seluruh ruangan kamar ini. Melihat buku-buku sekolahnya yang masih tertata rapi, Boneka Pikacu kesayangannya, celengan ayam jagonya, ah…dik, kehadiranmu masih kurasakan di sini. Aku kembali larut dalam kesedihan, hingga tanpa sadar ternyata emak telah berdiri di sampingku. Kulihat mata emak juga ikut berkaca-kaca. Lalu kami menangis berpelukan.

Maafkan mas, Niluh.  Bukannya kami tidak mengikhlaskan kepergianmu. Tapi rasa kehilangan kami masih sangat dalam. Masih segar di ingatan, Ramadhan tahun lalu kau masih mengenakan terompah itu. Aku  ingat ujarmu yang terakhir,

“Mas lihat! Terompahnya Niluh gantung di dinding. Biar Ramadhan tahun depan Bisa Niluh pakai kembali.”

Tapi kenyataanya terompah itu tetap tergantung di dinding dengan rapi, kau tak sempat memakainya kembali di Ramadhan tahun ini . Tiga bulan yang lalu, kau terserang DBD. Kami terlambat membawamu ke rumah sakit, akhirnya Allah memanggilmu adikku. Kami  sayang kepadamu, tapi Allah lebih sayang terhadapmu. Kini hanya untaian doa yang dapat kami berikan padamu, semoga kau tenang di surga.

 

10 Comments to "Terompah Ramadhan"

  1. Dewi Aichi  24 July, 2013 at 08:23

    Aduhhh….sedih…

  2. Handoko Widagdo  24 July, 2013 at 07:40

    Penutup yang menghentak dan mengharu-biru.

  3. Hennie Triana Oberst  24 July, 2013 at 02:51

    Sedih dan mengharukan.

  4. Matahari  23 July, 2013 at 21:53

    so sadddddd

  5. J C  23 July, 2013 at 15:57

    Menyentuh sekali kisah ini…

  6. Dj. 813  23 July, 2013 at 14:45

    Saroja White…
    Terimakasih untuk ceritabya yang mangharukan.
    Salam,

  7. Bagong Julianto  23 July, 2013 at 14:18

    Whah, ikut berkaca-kaca juga ini……
    Sekitar empat puluh tahun berselang, adik kami juga lebih disayang Tuhan….
    Pas sekitar liburan puasa seperti sekarang ini……
    Salam…..

  8. Lani  23 July, 2013 at 12:16

    aku tertarik sama terompahnya yg berwarna warni……..sgt menarik cerah lagi

  9. Nur Mberok  23 July, 2013 at 12:13

    Hai cantikkkkk… apa kabar ???

  10. probo  23 July, 2013 at 11:56

    Niluh….kau tak akan kehilangan apa-apa lagi…..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.