Berbahasa Indonesia dengan Baik dan Benar: Masih Pentingkah?

Patrisius Djiwandono

 

Sudah sejak lama saya prihatin terhadap kemampuan berbahasa Indonesia orang-orang sebangsa dan setanah air ini. Banyak contoh yang menunjukkan ketidakpedulian terhadap kaidah-kaidah berbahasa. Pemakaian huruf besar dan huruf kecil yang salah, pemakaian awalan ‘di-’ untuk kata kerja pasif, penempatan koma dan titik yang tidak tepat, kekacauan dalam menentukan subjek, sampai pada pengungkapan gagasan yang tidak efektif alias tidak ketahuan ujung pangkalnya, adalah sebagian dari borok-borok yang membuat saya prihatin. Ayo kita perhatikan kalimat-kalimat berikut:

1. Dengan bentuk seperti itu memungkinkan hewan ini mendekati mangsanya.

2. Aparat tidak seharusnya ikut campur dalam urusan internal partai, partai sudah mempunyai mekanisme untuk menyelesaikan masalahnya.

3. Beasiswa ini hanya di berikan kepada para Dosen yang tidak sedang Studi Lanjut.

Mana dari ketiga kalimat itu yang benar  secara kaidah tata bahasa? Kalau Anda menjawab bahwa semuanya benar, berarti Anda berhak untuk mendapat kursus gratis berbahasa Indonesia dari saya. Nah, tahulah Anda sekarang bahwa ketiga kalimat di atas mengandung kesalahan! Kalimat no 1 salah karena subjeknya disertai dengan penunjuk keterangan ‘dengan’. Kalimat kedua salah karena tanda koma itu haram memisahkan dua kalimat yang berbeda. Kalimat ke 3 salah pemakaian huruf besar, dan karena awalan ‘di’ seharusnya dilekatkan dengan kata ‘berikan’.

Dalam dunia akademis, khususnya penulisan artikel ilmiah, masalah ini semakin membuat miris. Okelah saya bisa menerima kalau ada orang Indonesia berbahasa sedikit ndak karuan ketika ngomong dalam situasi gaul. Tapi ketika kekacauan itu juga meruyak pada ranah akademis, saya langsung prihatin. Banyak kolega saya sesama dosen yang mengeluhkan kualitas bahasa Indonesia mahasiswanya di skripsi-skripsi mereka. ‘Bayangkan, Pak, satu paragraf itu dituangkan dalam satu kalimat puanjaaang sehingga sudah ndak ketahuan dia ini mau mengemukakan gagasan apa’. Jangan heran, saya pun sering harus mengedit ulang naskah bahasa Indonesia dari rekan-rekan saya sesama dosen karena kelemahan yang serupa, kendati sedikit kurang parah.

Kenapa tho saya cerewet soal berbahasa Indonesia dengan cermat? Ya karena saya yakin bahwa di balik pemakaian titik koma, huruf besar, awalan dan semua hal yang sekilas remeh itu terpantul karakter suatu bangsa. Saya yakin tidak ada bangsa besar di dunia ini yang tidak menghargai dan merawat bahasanya sendiri. Kalau untuk hal ‘seremeh’ bahasa saja kita cenderung serampangan,  bahkan memandang rendah (‘ah, bahasa tuh ndak bernilai ekonomis, ndak kayak ekonomi atau penelitian’) maka untuk urusan-urusan yang lebih besar pun kita cenderung abai. Mari kita lihat hal-hal yang lebih ‘besar’ daripada sekedar berbahasa Indonesia: kebersihan lingkungan, penghematan energi, kerukunan sosial, nasib anak negeri dalam kekacauan kebijakan pendidikan, inovasi dan kreativitas bangsa,  kemandirian ekonomi, kekompakan, nasionalisme, dan masih banyak lagi. Apakah kita sudah bisa memberikan salut kepada diri kita sendiri untuk hal-hal itu, atau terpaksa menelan ludah karena ternyata hampir  untuk semuanya itu kita masih payah?

Mungkin benar kata-kata seorang tua angkatan 45: “biasalah negeri ini: miliknya sendiri ditelantarkan. Nanti kalau tahu-tahu diklaim bangsa lain, langsung kita gedandapan kayak kambing kebakaran jenggot. Ya nanti kita tunggu aja sampai negeri jiran mengklaim bahwa bahasa Indonesia adalah miliknya. Baru kita akan sadar untuk merawatnya”.

Seorang teman dari Eropa bertanya kenapa Indonesia yang berukuran besar ini tidak kunjung menjadi bangsa yang besar. Jawab saya sederhana saja: ‘jangankan mikiri hal-hal yang besar, lha wong untuk bahasa Indonesia  sendiri pun kami masih cuek bebek, kok’.

 

Saya bersyukur di rangkaian acara Study Skills untuk menyambut maharu Universitas Ma Chung ada peluang untuk mengajarkan berbahasa Indonesia dengan baik dan benar kepada mahasiswa baru. Semoga itu menjadi awal yang baik, setidaknya untuk mahasiswa Universitas Ma Chung.

O ya, saya ini dosen dan guru besar di bidang pendidikan  bahasa Inggris. Saya berbahasa Inggris dengan sangat lancar dan akurat hampir dalam setiap ranah akademik. Nilai TOEFL saya tinggi.  Saya dikenal sebagai dosen yang membuat mahasiswa disiplin dalam menempa kemampuan bahasa Inggrisnya. Lha kenapa saya kok malah pusing soal berbahasa Indonesia? Jawabnya: ya karena saya orang Indonesia.

Sesederhana itu kok.

 

28 Comments to "Berbahasa Indonesia dengan Baik dan Benar: Masih Pentingkah?"

  1. Nur Mberok  26 July, 2013 at 09:20

    Berbahasa menurutku berkomunikasi, bisa formal, bisa juga informal.

    Jadi kalo dalam forum informal seperti di rumah ini, ya sah-sah saja kan menggunakan bahasa tulis yang kacau galau balau…. hahhahaha.

    Kenyamanan berbahasa / berkomunikasi itu penting.

    Lha kalau dalam forum informal mau berbahasa yang baik dan benar sesuai EYD, yang ada bisa blangkemen….. yo ra sih ??? Gak jadi ngomong, soalnya mikir dulu, bahasa nya yg bener gimana ya… hahaha… Kesuwen alias kelamaan… selak sesuk…..

  2. Chandra Sasadara  26 July, 2013 at 08:50

    Stujuuuuuuuu Bangeetttt PAK… harus ada yang mendisiplikan hal seperti ini, setidaknya di kampus..
    bener ga yaa kalimatku di atas?? hehehe

  3. Bagong Julianto  25 July, 2013 at 22:22

    Pernah baca, di negara berbahasa Inggris, English masih jadi mata kuliah dasar umum sampai beberapa Semester untuk seluruh fakultas!
    Di Indonesia, sepertinya Bahasa Indonesia tidak jadi MKDU di bangku kuliah.
    Nggak heran, banyak terjadi kesalahan dalam berbahasa dan bertulis di kalangan mahasiswa kita.

  4. Dewi Aichi  25 July, 2013 at 19:47

    Untuk pemakaian huruf kapital dan huruf miring saja aku masih sering mengabaikan, kadang tau, hanya sering mengabaikan…he he…mungkin karena sekedar di kolom komentar atau karena bukan menulis makalah, tesis, atau artikel serius. Mungkin juga karena tidak untuk di nilai. Itulah kebiasaan buruk yang dipelihara, malas, cuek, tidak mau belajar.

  5. Dewi Aichi  25 July, 2013 at 19:39

    Wah Alfred…ternyata…

    Mas JC, ya…untuk tata bahasa Indonesia, keterangan tempat tidak boleh disatukan dengan awalan, jadi harusnya ditulis begini: di dalam, di pasar, ke rumah dan seterusnya.

  6. J C  25 July, 2013 at 09:31

    DAHSYAT! Kesalahan paling umum sudah ada di dalam tabel yang dilampirkan Kang Anoew. Kesalahan ini yang luar biasa!

    didalam, disana, dilemari, dibelakang, kepintu, ketaman, dimobil, dsb, dsb…

  7. Tammy  25 July, 2013 at 08:45

    PD: pertama kali saya baca artikel yg bhs inggris, saya langsung kagum, krn saya nggak nemu kesalahan grammar dlm artikelnya. Sulit sekali menemukan artikel bhs inggris di baltyra yg enak dibaca. Begitu baca bawahnya, ohhh…. Ternyata dekan bhs inggris toh, ya wajar. Tp saya jd salut kalo bhs indonesianya jg ok.

    Guru bhs indo saya di sma dulu jg sering bikin salah ttg “di” sebagai awalan dan kata sambung. Saya jadinya kurang respect dan pernah membangkang, disuruh ngerjain tugas nggak saya kerjain. Hahaha…. Akhirnya dipanggil ke kantor kepsek, ya saya bilang…. Wong gurunya sendiri ngajar sering salah. Oohhhh jaman mudaku…..

    Btw, ini jgn diprotes kalo nulisnya gak pk kaidah yg benar, banyak salah huruf besar kecil, singkatan dll ya. Ini emang tanda orang malas.

  8. Lani  25 July, 2013 at 05:10

    KANG ANUUU, HENNIE : tambah lagi, aku jg msh sering salah, mmg tiada yg sempurna didunia ini, apapun jg adanya………wlu org itu bertitel 12 sekalipun……tetep saja manusia, msh berbuat kekeliruan……..kesalahan…..benar apa benar?????? jd ndak usah merasa bersalah………..aku jg msh manusia spt kalian berdua……….hehehe……….peace! aku japri……..monggo disimak sambil ber hahaha hihihi………….lanjoooooooot

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.