Gue Bukan Elo (17)

Yang Mulia Enief Adhara

 

Pagi-pagi sekitar jam 10 Pak Alex dan Bu Melody sudah pergi karena ada meeting dengan calon investor. Dan Jen pagi-pagi sudah dibangunkan Bi Enjung yang suaranya mirip kaleng rombeng ditabuh. Semakin Jen bersikap acuh Bi Enjung makin nekad. Jen terlentang Bi Enjung menarik selimut, Jen miring Bi Enjung menarik bantal, Jen tengkurap Bi Enjung duduk di punggungnya. Sungguh Jen tidak bisa bangun siang.

Jen berdandan secantik mungkin, dia akan pergi seharian demi menghindar dari Yati dan Bibi-nya yang ajaib. Jen membuat rambutnya ikal lalu dia menguncir sedikit di bagian atas, tatanan rambut itu bagai artis 60-an. Setelah berjam jam berdandan Jen buru buru ke teras belakang untuk sarapan pagi.

Bi Enjung mondar mandir sambil berbicara sendiri, dia ingin membuat sambal terasi dan tempe goreng. Yati berkali-kali memanggilnya agar Bibi sarapan dengan apa yang ada di meja makan. “Bi! Enih pan buat nyarap, lha ngapain sih bikin sambel same tempe segala? Entu buat makan siang aje Bi!”.

Bibi mendekati Yati sambil bicara, “Eh Neng?! Enih makanan apaan? Bibi keder Neng! Kaga demen beginian”.

Yati menatap Bibi dengan kesal, “Bibi pigimaneh? Enih nyang namanye roti isi, trus onoh sosis, nah nyang entu sup krim. Tadinye Yati juge keder eh pas dicobain taunye enak”.

“Auk ah blebeg! Kaga doyan gue ama nyang gituan, Bibi mau bikin sambel same goreng tempe, sekalian buat mindo dah entar kalo abis beres beres rumah”, Sahut Bi Enjung keras kepala.

Yati hanya pasrah, Bibi menghilang di dapur. Jen muncul dengan wajah yang cemberut. “Eh Mpok eeh Cici … Cakep bener dah kaya boneka”, Sapa Yati mencoba berbasa basi.

Jen melotot, “Mpok muke lo jauh! Lo kagak usah sok baik sama gue! Bikin susah aje luh!”, Sembur Jen sambil membanting pantatnya kesalah satu kursi di meja itu. Yati diam membisu, dia menunduk dan pura-pura sibuk sarapan.

Tiba-tiba Bi Enjung muncul lagi, Yati dalam hati berdoa agar Bibi-nya tidak mencari perkara. Namun Bi Enjung terlalu lugu untuk memahami situasi yang tengah terjadi.

“Ehh Jeniper si muke kecut udeh rapi jali dandannye, mau pegi yak?! Tapi Masyaallah! Anak gadis kok mau pegi kagak nyisir?”, Bi Enjung bicara dengan renyah dan tanpa ampun langsung menarik rambut Jen yang sudah susah payah di blow sekitar sejam, lalu Bibi menyisir rambut Jen agar lurus dan memasang karet untuk membentuk kuncir kuda.

Jen sebenarnya ingin melawan namun nyalinya ciut juga, Bi Enjung baginya adalah wanita liar, namun sungguh berani dia merusak tatanan rambut ikal menjadi lurus licin bagai gadis desa. Jen ingin berteriak, ingin memaki dan kalau perlu mengamuk namun dia tak ingin dirinya yang terlihat bersalah. Dia hanya bangkit dengan kasar dan berjalan dengan langkah kasar keluar rumah.

Bi Enjung hanya melongo, “Noh liat namanye anak gedongan?! Lha rambutnye awut-awutan kita sisirin bukannye terima kasih malah pegi kagak pake basa basi, mane sarapan kagak diabisin!! Elu jangan niru yak Neng?!”, Ujar Bi Enjung agak kesal.

Yati hanya diam sambil memijit pelipisnya. Bi Enjung yang sok tahu lawan Jen yang galak hasilnya Yati yang pusing tujuh keliling.

*****

Bapak dan Ibu Tanudjaja sudah selesai dengan meeting singkat. Investor yang tadi ditemui langsung setuju untuk membeli waralaba restoran milik pasangan Tanudjaja. Tidak tanggung-tanggung, sang investor akan membuka cabang di Singapura dan Kuala Lumpur.

“Papi nggak nyangka deh Mi, ternyata usaha yang kita rintis begitu cepat berkembang ya? Semua ini berkat resep rahasia Mami”, Ujar Papi yang sibuk menyetir mobilnya.

Mami memandang Papi dengan penuh cinta, “Semua bukan karena Mami kok, tapi berkat kemurahan Tuhan dan cinta kita Pi”, Mami bicara sambil mengusap lengan Suaminya.

Papi mengangguk tanda setuju dengan senyum bahagia, lalu Papi teringat pada Jen, “Mi gimana kalau Jen kita ajak berkunjung ke tempat Yatim Piatu? Papi ingin dia memahami artinya berbagi dan juga membuka hatinya, bahwa banyak anak tak seberuntung dia”.

“Wah ide bagus Pi, Mami sangat setuju sekali, kalau bisa secepatnya ya? Hmm usul Mami kita hanya akan mengajak Jen, takutnya kalau Yati ikut serta yang ada dia keburu kesal dan niat kita kian jauh panggang dari api”, Ujar Mami dengan antusias.

*****

Dan malam itu juga Jen dipanggil oleh kedua orang tuanya. Jen berfikir dia bakal kena hukuman lagi gara gara Yati dan Bibinya namun ternyata dugaan dia salah. Papi dan Mami nampak duduk santai disofa diruang keluarga.

“Sayang, Papi ada rencana nih mau ajak kamu ikut ke rumah Yatim Piatu dan rencana Papi sih besok Minggu”, Ujar Papi dengan ramah.

Mami kemudian menimpali, “Iya Nak, kita akan berbagi rezeki dan tentu saja kepedulian pada sesama, kamu mau kan sayang? Cuma kita bertiga lho”, Mami berbicara dengan lembut sambil menekankan kata ‘bertiga’.

Jen yang tadinya cemberut kini agak tersenyum. Lalu dia bicara, “Lho kan kalo nyumbang bisa lewat yayasan atau nyuruh si Ari nganterin amplop aja Mi kaya biasanya?”.

Mami tersenyum manis, “Mami dan Papi baru menyadari sayang, kalau kita bisa mengantar sendiri dan juga terlibat langsung dengan anak-anak malang itu, tentu itu kebahagiaan yang tak terkira. uang saja tidak-lah cukup sayangku, kamu mau kan menjadi bagian yang berbahagia itu?”

Jen mengangguk, ini kali pertama dia pergi hanya bertiga sejak si primitif Yati tinggal bersama mereka. Papi dan Mami saling pandang sambil tersenyum, tak sulit ternyata mengajak Jen pergi bahkan wajah Jen nampak antusias.

*****

Minggu yang cerah itu Jen bersama kedua orang tua-nya sudah berada di sebuah rumah Yatim Piatu. Bangunan itu besar namun lumayan kusam. Terdiri dari sebuah ruang penerima yang diisi beberapa perabot antik dalam bentuk lemari dan kursi ‘Jenky’ atau kursi becak gaya 50-an. Benda-benda itu mewakili bangunan yang memang bekas masa Kolonial. Memasuki pintu kaca dari kayu jati dengan kaca patri di bagian atasnya terlihat sebuah koridor dengan 5 kamar di kiri kanannya. Di ujung koridor ada sebuah ruangan besar yang ternyata ruang belajar dan bermain lalu ada ruang makan tepat di sebelah ‘aula’ dimana anak-anak biasa belajar dan bermain.

rumah-yatim-piatu

Dapur dan kamar mandi serta kamar para pengurus ada di bagian terpisah. Suasana agak suram lantaran cat yang sudah terlihat dekil. Secara umum bangunan itu masih kokoh namun karena kurang terawat maka kesan muram begitu menyeruak di setiap penjuru bangunan itu.

Jen melihat ada sekitar 40 anak kisaran usia 4 tahun hingga 15 tahun. Bocah lucu berusia balita diletakkan di sebuah sudut dengan pembatas mirip seperti box namun berukuran lebih luas berisi 3 anak perempuan dan seorang anak lelaki berusia 4 sampai 5 tahun.. Dan sisanya yang sudah lebih besar membaur mengisi tiap sudut ruang.

Mereka menunggu kedatangan keluarga Tanudjaja yang tentu saja bagi anak-anak itu adalah malaikat. Saat memasuki ruangan, Bu Melody langsung terharu, airmata mengalir begitu saja, bocah-bocah itu rata-rata memakai baju yang cenderung biasa dan terlihat agak kumal. Ibu Melody juga terharu saat anak-anak itu berdiri sambil berjajar dan mengucap salam saat keluarga Tanudjaja masuk ke ruangan itu.

Jen menatap anak-anak itu dengan takjub, apa jadinya hidup bersama dengan banyak anak? Apa jadinya hidup dengan fasilitas yang serba terbatas? Jen mengamati satu persatu anak-anak itu. Ada sekitar 28 wanita dan 12 laki laki.

Seorang anak laki laki berusia 14 tahun menghampiri keluarga Tanudjaja dan memberi seikat bunga yang mereka petik sendiri dari kebun di belakang bangunan utama. Jen memandang anak lelaki yang sebenarnya tampan, namun memakai kaos yang agak sobek di bagian leher dengan celana jeans yang sudah pudar warnanya. Anak lelaki yang mulai tumbuh kumis tipis itu tersenyum ramah dan Jen-pun ikut tersenyum.

Acara dilanjutkan ke ruang yang bersebelahan dengan ruang bermain. Ternyata ruangan itu untuk makan. Barisan meja panjang yang mirip meja warung yang ditata rapih saling berjajar sekitar 2 meja di setiap barisnya. Taplak putih bersih menjadi penutup barisan meja-meja itu.

Bangku panjang seperti bangku warteg mengisi tiap sisi meja. Di atas meja itulah Ibu Melody dibantu oleh para pengasuh menata piring putih sesuai kapasitas tiap meja. Satu deret meja rupanya cukup untuk 10 anak. Jen ikut sibuk menata hidangan yang dibawa dengan mobil catering milik perusahaan orang tua-nya. Aneka hidangan nan lezat tertata di tengah meja dalam wadah pirex berwarna bening. Belum lagi aneka kue lezat yang ditata di sebuah meja terpisah.

Mami memeluk lengan suaminya, keduanya sangat tak mengira Jen mau ikut bersibuk ria menata meja makan. Bahkan Jen menambahkan taburan kelopak mawar di beberapa bagian meja yang kosong yang didapatnya dari sebuah rangkaian mawar di ruang keluarga di rumahnya.

“Tuh lihat, anak kita benar-benar mirip Mami-nya, dalam menata meja selalu diberi sentuhan gaya”, Ujar Papi dengan wajah bahagia. Mami pun tersenyum puas, tak mengira diam-diam Jen memperhatikan Mami dalam menata meja.

*****

Tak lama kemudian anak-anak mulai sibuk menikmati aneka hidangan nan lezat. Beberapa pegawai yang dibawa oleh Bu Melody dengan sigap menarik dan mengganti perangkat makan yang sudah terpakai. Hari ini anak-anak di asrama itu bagai berada di restoran bintang lima.

Wajah-wajah bahagia mengisi seluruh penjuru ruangan. Jen duduk di ujung meja bersama dengan anak-anak usia kisaran 11 sampai 15 tahun. Begitu tenggelam dalam kebahagiaan hingga Jen tak begitu fokus pada semangkuk sup iga yang berada di depannya.

“Makanannya enak banged Kak, kami berterima kasih sekali sama Kakak dan kedua orang tua Kakak. Baru kali ini kita bisa makan mewah seperti ini Kak “, Ujar seorang bocah perempuan yang duduk di dekat Jen.

Jen menatap bocah itu lalu ia pun bicara, “Lho emangnya kamu biasa makan pake apa?”.

Bocah tadi menjawab, “Setiap hari kita makan sayur bening atau sop dan kadang sayur asem. Kalau lauk setiap hari selalu tahu tempe. Tapi dimasak berbeda sih tiap harinya”.

Jem melongo mendengar pernyataan itu, di rumahnya dia kerap mengomel sekalipun yang terhidang masakan berbahan daging. Jen kerap merajuk bila Mami tidak menghidangkan menu yang dia inginkan. Sedang anak-anak di asrama ini tidak mempunyai pilihan, apa yang mereka lihat itulah yang mereka dapat.

Seorang anak lelaki berusia sekitar 13 tahun bicara pada Jen, “Kakak sangat beruntung ya? Punya orang tua dan hidup serba punya, pasti Kakak tiap hari bahagia ya?”.

Pertanyaan lugu itu menikam jantung Jen, siapa bilang dia bahagia? Dia selalu merajuk dan mengeluh. Jen pun tanpa sengaja beradu pandang dengan Papi yang makan satu meja dengan para pengurus, Papi nampak sangat berbahagia, ia tersenyum dan mengedipkan sebelah mata ke arah Jen.

Jen tenggelam dalam lamunan, sangat tak terbayang saat dia tidak memiliki Papi dan Mami. Tak terbayang saat orang tua-nya miskin. Demi tas Dior dia bisa merajuk hebat namun anak-anak yang berada bersamanya ini? Boro-boro membeli tas seharga jutaan, untuk makan saja mereka sangat sangat apa adanya.

Mata Jen berkaca-kaca, dia malu bila mengingat betapa selalu menuntut ini dan itu pada orang tua-nya. “Kak?? Kenapa Kakak menangis? Pasti Kakak bosan ya bersama kami?” Tiba-tiba Jen dikagetkan oleh suara seorang anak perempuan yang berbicara padanya.

Jen buru buru mengusap matanya lalu tersenyum, “Enggak apa apa kok, Kakak cuma bahagia bisa bersama kalian. Kakak nggak bosan di sini, malah nyesel kok nggak dari dulu main ke sini”, Ujar Jen dengan tulus.

*****

Saat akhirnya berpamitan, Jen yang sibuk memberi amplop kepada para pengurus. Bahkan Jen meminta Papi untuk mengecat seluruh bangunan agar terlihat cerah. “Kamar anak perempuan warnanya ungu muda ya Pi dan kamar anak lelaki warna biru muda”, Ujar Jen dengan semangat. “Terus ruang publik-nya warna putih ya Pi!!”.

Papi memeluk Jen dan mengecup kening putri tunggalnya, hatinya sangat bahagia mengetahui ternyata Jen memiliki sisi baik, “Tentu sayang, nanti Papi hubungi kontraktor langganan Papi dan kalau kamu mau Papi akan tunjuk kamu sebagai pengawas proyek, mau?”.

Jen langsung setuju, dalam hati dia membayangkan bakal sibuk mengawasi jalannya proyek restorasi rumah Yatim Piatu sekaligus menjauhi Yati. “Hmm menjauhi Yati? Kenapa gue begitu benci anak dusun itu ya? Kenapa gue selalu memusuhi dia?”, Pikir Jen mencoba membuka kembali masa masa Yati datang ke kehidupannya.

Keluarga Tanudjaja keluar menuju mobil dengan tangan bergandengan, Mami saling berpandangan dengan Papi, keduanya bahagia melihat Jen ternyata berhati lembut.

 

6 Comments to "Gue Bukan Elo (17)"

  1. Dewi Aichi  25 July, 2013 at 19:22

    Apakah akan ada tokoh Margono Waluyo ha ha ha ha…

  2. J C  25 July, 2013 at 09:19

    Antiklimaks dari yang kemarin-kemarin…

  3. Alvina VB  25 July, 2013 at 01:52

    Akhirnya ceritanya ada titik cerahnya ya….
    Apa ini dah mau ending ya ceritanya?

  4. anoew  24 July, 2013 at 20:42

    Wartawan: Bagaimana menurut mbak Jenny tentang anak-anak di panti asuhan ini?

    Jenny: oouh, mereka lucu dan menggemaskan.

    Wartawan: maksudnya?

    Jenny: yaaaa seperti saya ini, kan seksi dan juga bikin gemas..

    Wartawan banting mic.

  5. [email protected]  24 July, 2013 at 13:17

    apa ini… apa ini…. perubahan yang sangat cepat…

  6. James  24 July, 2013 at 11:50

    SATOE, Loe bukan gue, gue bukan loe

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.