CSI dan Sinetron Religi

Wesiati Setyaningsih

 

Seonggok mayat perempuan terbujur kaku. Seorang polisi perempuan sedang meneliti bukti apa yang kira-kira bisa diambil dari tubuh mayat itu. Seorang polisi lain masuk dan menemukan bahwa jeratan pada leher perempuan yang menjadi sebab terbunuhnya perempuan itu terbukti adalah rosario.

Polisi perempuan menggumam,”Kadang aku pikir akulah yang menciptakan Tuhan, agar ada yang bisa disalah-salahkan kalau segala sesuatu tidak berjalan seperti keinginanku.”

CSI

Saya tersenyum getir. Bisa jadi memang seperti itu. Nyatanya saya tidak pernah berpikir saya mampu menjadi atheis yang benar-benar bertumpu pada kekuatan diri sendiri atas apa yang terjadi dalam kehidupannya. Saya butuh Tuhan untuk saya tangisi kalau saya ada masalah. Saya butuh Tuhan untuk saya mintai pertolongan. Saya butuh Tuhan untuk saya ajak bicara, baik buruk hal dalam hidup saya, ketika saya tidak mungkin meminta sahabat-sahabat saya datang atau membalas sms saya tiap saat. Saya butuh Tuhan untuk menjadi teman baik saya.

 

***

Sebuah kota dihebohkan oleh sekelompok anak berandalan yang memukuli orang yang lewat di dekat perumahan tempat mereka tinggal hingga sekarat. Tidak ada alasan apapun hingga mereka memukuli orang tanpa dosa dan meninggalkannya begitu saja selain hanya demi bersenang-senang saja.

Polisi di kota itu akhirnya dapat menangkap ketua geng dan memasukkannya ke penjara sementara mereka menunggu pengadilan. Sebagian besar dari mereka adalah anak-anak di bawah umur yang akan sulit untuk dijerat penjara nantinya.

Dengan tuntasnya satu kasus ini para polisi cukup lega. Dalam suatu situasi di mana mereka membicarakan anak-anak nakal ini, seorang polisi berkata,

“Siapa sebenarnya orang tua dari anak-anak ini yang membiarkan anak-anak mereka menjadi seperti itu?”

“Kamu cenderung menyalahkan orang tua anak-anak ini. Padahal anak-anak ini yang melakukan kesalahan.” Temannya menukas.

“Iya. Karena orang tua sekarang sudah mulai jarang menggunakan 20 menit saja dari 24 jam waktu mereka untuk membuat quality time dengan anak-anak mereka. Jadilah anak-anak ini seperti ini. Harusnya orang tua mau memberikan waktu luang mereka untuk anak-anaknya. Agar mereka tidak kehilangan arah hingga tidak tahu lagi membedakan mana yang baik dan mana yang tidak. Anak-anak tetap butuh orang tuanya untuk membimbing mereka.”

Saya tertampar. Berapa banyak waktu yang benar-benar saya gunakan untuk bercanda dengan anak saya sehari? Apakah sampai 20 menit?

Gara-gara film itu saya mulai berpikir untuk menambah waktu berkualitas untuk anak-anak. Bagaimanapun anak-anak butuh orang tua yang menjadi tempat curahan hati mereka dan juga orang tua bisa mengontrol anak-anak dari curhatan tersebut.

***

Dua kisah di atas adalah cuplikan dari film serial yang biasa ditonton anak-anak, CSI. Film yang agak mengerikan karena kasus-kasus kriminal ditampilkan dengan cukup terbuka. Tak jarang tubuh manusia yang sudah menjadi mayat diubek-ubek dengan begitu detilnya.

Namun dengan cerdik film ini tidak hanya menampilkan kekerasan tetapi juga memberikan banyak perenungan yang seringkali membuat saya tertampar. Hal yang tidak bisa saya temukan dalam sinetron-sinetron Indonesia, bahkan yang telah dilabeli sinetron religi sekalipun.

Di bulan Ramadhan yang membuat televisi dengan latah dan tanpa ampun memenuhi slot acaranya dengan sinetron religi, malah membuat saya bertanya-tanya, sinetron religi itu  sebenarnya maksudnya apa? Sinetron “Hanya Tuhan Yang Tahu” saja benar-benar tidak ada juntrungnya. Sinetron yang hanya tayang di bulan Ramadhan dan cukup menghibur hanya “Para Pencari Tuhan”. Lainnya sama sekali tidak berkualitas.

sinetron-religi

Saya tidak sedang menjelek-jelekkan karya saudara sebangsa. Hanya saya heran, apakah tidak mungkin televisi kita memiliki sinetron yang mampu merangsang daya analisa penonton dengan lebih baik. Tidak cuma dijejali dialog-dialog dangkal yang tak jarang dibumbui dengan setting dan jalan cerita yang tidak masuk akal.

Sampai kapan kita bertahan seperti ini tanpa niat untuk melangkah ke arah yang lebih maju?

 

About Wesiati Setyaningsih

Seorang guru yang tinggal di Semarang. Awalnya tidak ada niat untuk menjadi guru, tapi kemudian "kesasar" menjadi guru. Mencoba mendobrak "pakem baku" proses pengajaran, juga mendobrak ketidaklogisan pencekokan agama membabibuta di sekolah dan keseharian murid-muridnya. Sering dianggap "off-track" bahkan tidak jarang mendapat cap sesat karena sikapnya yang tidak seperti kebanyakan mainstream.

My Facebook Arsip Artikel

22 Comments to "CSI dan Sinetron Religi"

  1. Chandra Sasadara  26 July, 2013 at 08:34

    Ramadhan itu artinya kita bisa mengkomersialisasi semua yg “berwaran” agama dan dilebeli agama. yg penting sebut aja sesuatu yg “berbau” syariah dan arab pasti laku. sebab hal itu paling mudah dihubungan surga dan pahala.

  2. Bagong Julianto  25 July, 2013 at 21:40

    Sudah lama kami bebas virus sinetron.
    Pernah nyandu jaman Sinetron Tahta Matias Muchus sekitar tahun 1997 dan itupun hanya sekitar setengah tahun. Kemudian Mama Agus, entah sinetron apa, sekitar tahun 2000 yang berseri sampai berapa…
    Sekarang sudah total goodbye sinteron….
    Sorry….

  3. Dj. 813  25 July, 2013 at 21:33

    Mungkin mereka memiliki backing yang kuat…
    Who knows…???
    Sebenarnya memang agama ya jangan main di poliitik, karena agama
    adalah kepercayaan masing-masing orang.
    Sudah begitu, masih memaksa orang lain untuk menghormati.
    Penghormatan akan diterima, bila kelakuan seseorang itu baik dan bersih.
    Kasih idak di minta, tapi di berikan dengan senang hati.
    Kami 10 bersaudara, 5 islam dan 5 kkristen, tapi tidak pernah ada masalah.
    Mei ( Nur mberok ) pernah ketemu dengan saudara-saudara Dj. di Ciputra Hotel di Simpang Lima tahun
    lalu. Semua pakai Jilbab, juga anak cucu mereka.
    Juga yang di Surabaya, ada yang islam dan ada yang kristen, semua rukun.

  4. wesiati  25 July, 2013 at 20:23

    om DJ saya aja yang Islam muak sama mereka. Cuma herannya, kok kita sebagai mayoritas nggak bisa menghentikan mereka. bingung saya.

  5. Dj. 813  25 July, 2013 at 20:18

    wesiati Says:
    July 25th, 2013 at 19:01

    om DJ : saya kan bukan FPI. huwaaa….

    ——————————————————–

    O… bukan ya…..
    Hahahahahahaha……!!!
    Tiap hari baca Kompas ol, malah jadi tambah bingung, melihat Indonesia masa kini….
    Banyak yang ngaco…. hahahahaha….!!!
    Itu kejadian bentrok antara Warga dan FPI kan didekat
    Semarang, malah ada yang meninggal….
    Lha islam agama mayoritas di Indonesia, kok di bela….
    Kalau yang dibela yang minoritas, itu baru masuk akal ya….
    Salam manis dari Mainz….

  6. Dewi Aichi  25 July, 2013 at 19:20

    Pembuat sinetron, atau film di Indonesia memang masih harus belajar dari banyak hal soal kualitas, terutama kualitas pemainnya. Sedikit sekali pemain film atau sinetron yang benar benar bisa berakting. Yang sudah berpengalaman di bidang akting justru akan tersingkir oleh pendatang pendatang muda yang bermodalkan wajah dan body.

    Tetapi semua itu kembali lagi ke selera masyarakatnya sendiri. Seperti halnya pemilihan caleg atau Presiden.

  7. wesiati  25 July, 2013 at 19:01

    om DJ : saya kan bukan FPI. huwaaa….

    mbak nur : mange aku penjaga WC umum po piye? asem tenan…

  8. Hennie Triana Oberst  25 July, 2013 at 18:44

    Sinetron sering jalan ceritanya terlalu indah dari kehidupan nyata. Di Jerman juga aku males nonton sinetron, sama aja walaupun nggak berlebihan seperti di Indonesia. Tapi sinetron ‘religi’ yang seperti di Indonesia nggak ada.

  9. Handoko Widagdo  25 July, 2013 at 17:20

    FPI Film Produksi Indonesia

  10. Nur Mberok  25 July, 2013 at 14:19

    Iyemmmmmmmmmmm !!! Aja nonton sinetron terus !!!

    Kae kamar mandi ne diresik i ndisik….. wkwkwkwk

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.