Predator pada Bambu dan Bagaimana Mengatasinya

Mastok

 

Tentang Kumbang Bubuk 

Bagi anda yang pernah mengalami serangan kumbang bubuk pasti merasa sangat jengkel dan mungkin frustrasi, karena berbagai cara dan upaya untuk menyingkirkan atau meneliminasi serangan seringkali tidak membuahkan hasil yang memuaskan. Untuk beberapa saat mungkin terlihat berhasil, tetapi kemudian kayu atau bambu yang pernah diserang akan kembali dimakan bubuk. Bahkan pada masa tanggap darurat pasca gempa di Yogyakarta, ada lebih dari 200 bangunan sekolah dari bambu yang terserang bubuk dan harus dirubuhkan karena menggangu kesehatan dan kenyamanan siswa dan guru yang mengajar.

Memang, untuk bambu dan kayu, jika sudah terserang kumbang akan sangat sulit bahkan hampir mustahil menghentikannya. Mengapa? Berikut ini kami sajikan informasi seputar serangga pemakan bubuk ini, dengan mengetahui sifat, jenis dan pola hidupnya kita akan lebih memahami mengapa bambu dan kayu kita harus diawetkan terlebih dulu sebelum digunakan.

Kumbang bubuk banyak ditemui pada kayu atau bambu yang kering. Kumbang dapat merusak banyak produk yang terbuat dari kayu, bambu dan rotan seperti lantai, panel, furniture, keranjang dan lain sebagainya. Kadang kita dapat mendengar  suara kumbang yang sedang menyantap kayu pada malam atau siang hari, kemudian muncul kerusakan berupa lobang kecil atau sisa bubuk di sekitar lobang yang ada. Secara umum ada dua jenis serangan kumbang yakni yang bersifat aktif dan tidak-aktif.

penyakit-bambu01

Kata kumbang bubuk sendiri digunakan untuk beberapa spesies serangga pemakan starch kayu/bambu. Ada beberapa spesies kumbang bubuk, yang paling umum dijumpai adalah Lyctids yang bentuknya datar, ramping, berwarna coklat atau hitam kemerahan, dengan panjang 1-3 mm.

Kemudian ada jenis Anobiids yang berpenampilan ramping, bentuk badan membulat dengan warna merah kecoklatan, panjang 2 hingga 3 mm. Jenis ini kebanyakan memiliki kepala yang agak membungkuk. Larvanya berbentuk huruf C dan hidup dalam lorong-lorong yang dibuat di dalam kayu atau bambu.

Ada lagi jenis Bostrichids yang memiliki panjang badan antara 1 mm hingga 3 mm, berbentuk silindris dan berwarna coklat gelap atau hitam, bubuk yang dihasilkan biasanya lebih kasar dan agak lengket.

 

Siklus Hidup Kumbang

Berikut ini adalah siklus tiga jenis utama kumbang bubuk yang paling sering menyerang kayu dan bambu:

Jenis Lyctids biasanya hanya menyerang jenis kayu keras yang memiliki rongga besar seperti mahoni. Mereka menyerang kayu musiman dan kayu yang memiliki getah, terutama pada produk gergajian seperti jendela, pintu, lantai furniture dan kayu bakar. Jenis ini biasanya tidak menyerang kayu lunak seperti pinus. Lyctids jarang menyrang kayu yang berusia lebih tua dari lima tahun. Penularan biasanya berawal dari kayu yang mengandung telor atau larva yang diletakkan dalam rumah, atau kayu yang tidak dikeringkan atau disimpan dengan benar. Jika sudah dewasa, larva akan keluar dari kayu dan menyebabkan kerusakan dengan membuat lobang keluar berukuran 1 hingga 2 mm. Siklus hidup Lyctids hanya 3 bulan.

Anobiids menyerang kayu keras dan lunak dan bisa saja menyerang kayu keras bersamaan dengan Lyctid. Kayu jenis pinus sangat rentan terhadap serangan. Anobiids lebih suka menyerang kayu yang lembab, sehingga kerusakan biasanya dimulai dalam kondisi kelembaban, kurangnya ventilasi seperti di basement, garasi dll. Kondisi yang mendukung dengan tingkat kelembaban dan suhu tertentu akan meningkatkan serangan hingga meluas ke bagian lain dari kayu. Kerusakan bersifat perlahan tapi pasti dalam jangka waktu bertahun-tahun. Siklus hidupj enis ini berkisar antara 1 hingga 3 tahun.

Bostrichids banyak ditemukan di daerah tropis seperti Indonesia. Kumbang bubuk jenis inilah yang paling banyak menyerang bambu, baik pada bambu iratan seperti keranjang maupun bambu bulat seperti pada furniture, bangunan dan material bambu lainnya. Selain pada bambu, jenis Bostrichids juga menyerang kayu keras dan lunak baik yang berjenis musiman maupun tidak, kayu yang banyak memiliki getah dan tidak bergetah juga sering menjadi sasaran serangan. Kerusakan pada bambu dapat disebabkan oleh kumbang dewasa ataupun larvanya. Kumbang dewasa meletakkan telornya pada rongga atau bekas tempat potongan kayu atau bambu yang terbuka dan tidak dilapisi cat atau vernis. Telor kumbang menetas menjadi larva dan membuat trowongan di dalam batang bambu dan kayu. Kumbang dewasa akan muncul dalam waktu satu tahun kemudian, biasanya pada bulan April-Juli, keluar melalui lobang yang dibuat oleh larva. Kumbang dewasa memiliki siklus hidup yang singkat, aktif ketika malam hari dan dapat kembali menyerang kayu yang sama atau berpindah pada kayu lainnya dengan cara menempatkan telor-telornya lalu memulai siklus baru lagi. Kerusakan yang ditimbulkan akan mudah terlihat. Beberapa jenis akan keluar dari bambu dalam waktu beberapa bulan, namun jenis lannya dapat bertahan didalam kayu atau bambu hingga puluhan tahun sebelum muncul ke permukaan.

salah satunya. . . .

penyakit-bambu02

penyakit-bambu03

 

Kumbang Bambu

Dinoderus minutus

  • Tubuh coklat tua, gemuk, hampir silindris, panjang 2–3, 7 mm.
  • Antena melebar di bagian ujung, dengan 3 segmen terakhir sangat besar dan berakhir di ujung antena yang terbentuk dengan baik.
  • Rongga dada bungkuk menyembunyikan kepala serta memiliki lekukan seperti gigi di lengkungan depan. Memiliki dua lesung besar di bagian belakang rongga dada.
  • Elytra (kulit sayap) ditutupi dengan lubang kecil dan rambut tebal.

Daur Hidup

  • Betina menyimpan 27–35 telur di dalam substrat makanan, larva menetas masuk ke dalam tanaman.
  • Larva menjalani hingga 4 tahap perkembangan dan menjadi kepompong di dalam tanaman.
  • Siklus hidup dapat sangat pendek hingga 60 hari dalam kondisi yang baik (35 °C, 75% kelembaban relatif), memicu beberapa generasi tiap tahunnya.

Kebiasaan

  • Larva memakan rotan bambu, tapi kumbang ini juga dikenal berkembang-biak pada akar kasava.
  • Larva membuat lintasan tubular sepanjang serat tanaman dan membuat lubang melingkar yang sempurna.
  • Spesies ini berasal dari Asia Timur, dibawa melalui kargo pada kapal (misal, produk tapioka), kemasan kayu, dan bahkan alat musik.

Apa yang dimaksud dengan pengawetan bambu?

Untuk meningkatkan daya tahan dan performanya bambu dan produk dari bambu perlu diawetkan, baik dengan  bahan pengawet yang bersifat kimiawi atau pun tanpa bahan kimia, dengan cara tradisional ataupun yang lebih  moderen. Adapun tujuan dari pengawetan bambu adalah:

  • Meningkatkan daya tahan dan waktu pemanfaatan bambu.
  • Menahan dan menunda kerusakan
  • Mempertahankan stabilitas struktur bambu dan kekuatannya
  • Menambah ketahanan lain misalnya lebih tahan terhadap api.
  • Meningkatkan mutu bambu secara estetika.

Mengapa bambu harus diawetkan?

Bambu adalah bahan alami yang besifat organic. Tanpa perlakuan tertentu untuk melindunginya, daya tahan bambu akan kurang dari tiga tahun. Tidak seperti kayu keras lainnya misalnya jati atau meranti, struktur batang bambu tidak memiliki unsur toksik atau racun. Ditambah lagi dengan hadirnya unsur zat gula yang banyak terkandung dalam bambu yang mengundang mikroorganisme. Kerusakan biologis bambu dapat mempengaruhi kegunaan, kekuatan dan nilai bambu atau produk bambu. Kerusakan dapat mengakibatkan:

  • Pelapukan
  • Retakan atau pecah
  • Timbulnya noda dan lobang

Dengan demikian pengawetan sangat penting jika bambu dimaksudkan untuk keperluan struktur bangunan dimana keselamatan menjadi pertimbangan yang utama. Selain itu penggantian komponen rusak akibat tidak diawetkan akan membutuhkan waktu dan biaya. Peningkatan usia bambu karena pengawetan akan lebih menguntungkan dalam jangka panjang.

Sedangkan dari sisi cara pengawetan,   pilihan metode pangawetan sendiri sebenarnya sangat tergantung pada beberapa faktor. Cara dan bahan tertentu mungkin kurang cocok atau kurang tepat untuk diterapkan. Namun banyaknya pilihan teknik dan metode pengawetan dapat mengcover hampir semua kebutuhan dan pemanfaatan bambu. Berikut ini adalah berberapa faktor yang perlu dipertimbangkan sebelum menentukan pilihan metoda dan bahan pengawet:

  • Kondisi bambu yang ada (kering atau basah)
  • Bentuk bambu ketika akan diawetkan apakah utuh, bambu belah atau sudah dalam bentuk produk kerajinan.
  • Tujuan penggunaan, apakah untuk struktur atau non struktur.
  • Skala pengawetan atau jumlah kebutuhan bambunya sendiri

 

About Mastok

Penampakannya mengingatkan para sahabatnya akan Panji Tengkorak yang berkelana ke seluruh dunia persilatan. Mastok berkelana dengan menggembol buntelannya yang lusuh...eits...jangan salah, dalam buntelannya tersemat segala gadget canggih terakhir: iPad, laptop mutakhir, koneksi wireless, smartphone model terakhir. Bertelanjang kaki ke mana pun melangkah menunjukkan tekadnya yang membara untuk back to nature, kembali merengkuh Mother Earth.

My Facebook Arsip Artikel

17 Comments to "Predator pada Bambu dan Bagaimana Mengatasinya"

  1. mastok  28 July, 2013 at 13:37

    @ mbak … silahkan banyak artikel tentang Merawat tanaman saya juga belajar dari petani jaman dulu .. sebenarnya efektif tapi kurang dikenal

  2. Lani  27 July, 2013 at 21:27

    MAS TOK : baca artikel ini mengingatkanku, ktk pepohonan yg mengelilingi rumah kami pd mati krn diserang fungus, hrs ditebang ada 5 pohon. Rasanya sedih sekali, krn pepohanan itu merupakan paru2 rumah kami, meredam udara panas pas musim kemarau/panas.
    Setelah pohon2 itu ditebang, kami menggantinya dgn menanam bambu mengitari belakang rumah, krn kami tdk tahu/mengenal jenis2 bambu, kami pasrahkan pd nusery yg ada dikota kami. Mereka memilihkan yg batangnya berwarna kuning, daunnya kecil2.
    Kami disarankan utk memilih yg clumping hingga tdk menyebar kemana-mana akarnya kedepannya akan merusak rumah. Setelah 5 tahun, bambu itu bertumbuh dgn suburnya……..
    Moga2 skrng masih terawat dan dirawat oleh penghuni baru, krn rumah itu sdh kujual 2 tahun yl…….
    Sayangnya saya tdk punya foto utk dipajang disini………..

  3. mastok  27 July, 2013 at 14:23

    ini jenis langka dan mahal… biasanya di klenteng ada …..

  4. mastok  27 July, 2013 at 14:13

    ini termasuk bagus mas cuma harus setia ngarawatnya

  5. Dj. 813  27 July, 2013 at 13:18

    Hanya saja bentuknya lain.
    Jadi seperti hutan ( kelompok ) seperti ini.
    Terimakasih mas Tok.
    Salam Sejahtera dari Mainz.

  6. Dj. 813  27 July, 2013 at 13:17

    Mas Tok…
    Matur Nuwun mas….
    Benar memang, kalau kita tahu satu, jelas kemudian kita ingin lebih lagi.
    Dj. pernah lihat yang jenis ruas yang pendek ( entah apa namanya ).
    Apa mungkin bambu yang di Indonesia, bisa Out door di Eropa…???
    Dj. rasa resikonya terlalu besar, mending yang in door, jelas, sommer bsa diluar dan winter
    masuk kandang.
    Bonsai bamboo yang ruas pendek seperti ini mas.

  7. mastok  27 July, 2013 at 12:34

    Mas DJ kalo Bambu memang menyimpan Miteri semakin saya tahu 1 dari sebatang bambu semakin 1001 yang harus sayapelajari…. kolo mo bonsai bambu kapan di ambil ato saya harus kirim kemana jenis nya moga saya ada stok nya dan rencana di gunakan untuk indor / outdoor……..

    @ Dewi achi Tekmologi pengawetan sederhana bisa di baca di https://www.facebook.com/notes/mastok-setyanto/pengawetan-bambu-bamboo-treatment-preserva%C3%A7%C3%A3o-de-bambu/10151760022171215

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.