Sekayu – Betung: Ah Gagal, Tapi Masih Ada Kesempatan

Bagong Julianto – Sekayu-Muba-Sumsel

 

06.36.  Start Dari Pragulo-Sekayu

Berangkat menuju Teluk-Lais. Dengan tidur hanya empat jam dari 01.30 hingga 05.30 tentu tubuh tua saya tidak sebagus sefit yang saya harapkan dapat mendukung pergowesan Sekayu-Betung sejauh 56 km dan baliknya sekalian, kalau memungkinkan. Tapi selalu semangat dan niat keras saya melampaui kemampuan fisik. Ransel air sudah saya isi 2 liter. Juga peples saya isi penuh. Nyaris 3,5 liter air putih saya bawa. Juga tiga batang coklat, permen Vit.C dan segumpal harapan semoga Sekayu-Betung-Sekayu sejauh 112 km dapat digowes sebagai kado ultah yang indah.

gowes01

gowes02

Gbr. 1 & 2. Persiapan To Birthday Trip 05 Juli 2013. Pragulo-Sekayu 06.36

07.20. Rehat Sekejap, Monumen Selamat Datang Sekayu

Jika anda dari Palembang menuju Sekayu-Lubuk Linggau-Bengkulu hanya ada satu jalan raya dan 10 km sebelum sampai di Sekayu ada Monumen Selamat Datang bergaya minimalis futuristik. Di situlah saya berhenti gowes sekejap. Untuk apa? Berkemih! Mestinya ada fasilitas umum/toilet, tapi ini lokasi tampaknya belum dioptimalkan. Beberapa kali terlihat para pejalan berehat bahkan makan minum di seputar tugu itu.

 

08.21. Teluk-Lais: Irfan Telah Menunggu

Setelah gowes 1 jam 45 menit untuk jarak +/- 38 km, akhirnya saya tiba juga di Teluk. Irfan dan saudara-saudaranya sudah menunggu. Irfan, 24 tahun, pemuda lajang, atlet panahan Sumsel, sarjana pendidikan olah raga tamatan Jogya juga guru dan pelatih panahan. (Papanya seusia saya. Sekayu dan Teluk adalah kota kueccill. Siapa beberapa yang dia kenal, saya kenal atau beberapa orang yang saya tahu, dia pasti kenal dan tahu juga). Saya akan selalu mengingatnya: 06 April 2013 adalah hari bersejarah pergowesan saya. Hari Sabtu itu disertai dan disemangati Irfan, untuk pertama kalinya saya menggowes Sekayu-Betung sejauh 56 km dalam waktu kurang lebih 5 jam. Sebenarnya hari itu saya gowes sendirian dan tetapkan target hanya sampai Jembatan Teluk, +/- 37 km dari Sekayu.

Si Agus, junior saya, tetap menunggu di rumah dengan status “on call”, manakala saya ngebell, itu berarti saya harus dujemput. Siang itu, selepas ngopi di Kedai Rindu Alam Bailangu Timur, saya dibuntuti seseorang bersepeda motor. Pikir saya, ah pasti polisi atau PNS yang mau ngilir atau pulang mudik ke Palembang. Setelah beberapa saat, pada lintasan yang lapang, kamipun bertegur sapa. Rupanya penggowes juga. Irfan. Dia tawarkan lokasi yang sudah dirintisnya bersama kakaknya, Andi dan seorang penggowes lainnya (Nindi) di satu perbukitan kebun karet samping markas Polsek Lais. Saya bilang lain kali saja.

Saya masih ragu. Mampukah sepeda tua saya ini untuk dihajar cross road dan downhill. Saat gowes di Tenayan Pekanbaru, saya hanya peserta penggembira bagian yang datar/flat dan sedikit bergelombang saja/undulating. Begitu jumpa bukit/hill dan menantang untuk didownhilli, saya pilih nonton-istirahat serta makan tahu tempe goreng di warung langganan kami di situ bersama yang lain yang nggak berani main downhill!

“Sekarang ke mana, Pak?”, tanya Irfan.

“Ke Jembatan Teluk, atau ke Betung kita kalau sanggup?”, tiba-tiba saja ide itu terlontar.

Akhirnya Irfan setuju. Gowes ke Betung, sejauh 56 km, bagi saya seperti membuka memori lama manakala saat kelas 6 SD dulu, berenam kami pernah bersepeda dari Solo ke Jogya. Total 8 jam untuk jarak +/- 60 km. Itu karena saat di Klaten kami membelok lewat jalan lingkar luar kota, sesuai penunjuk tanda arah panah “Ke Jogya”, jalur bus dan truck, padahal jika lurus lewat tengah kota tentu ada hemat jarak dan waktu. Juga kami sering kali istirahat. Namanya juga bocah!

gowes03

Gbr.3. Bersama Irfan, Perjalanan 050713

 

gowes04

Gbr. 4. Jumpa dan Kenal Irfan, ke Betung, 060413

 

09.15. TOP SPEED: 43 km/jam!

Akhirnya setelah rehat kurang lebih dua puluh menit, kami gowes ke Betung. Andi tidak bisa ikut karena begawe/bekerja. Dua jersey yang saya oleh-olehkan dari Solo ternyata pas dan cocok untuk Andi dan Irfan. Mereka senang. Target hari ini hanya sampai Betung saja. Ini hari Jumat dan kebetulan Mama Irfan lagi sakit. Waktunya mepet. OK.

Lepas dari Teluk, kami mulai hadapi tanjakan sejak depan markas Polsek Lais. Tidak curam tapi relatif panjang dan selepas itu turunan yang panjang juga. Saat turun di situlah saya catatkan top speed untuk kali pertama 43km/jam, terbaca di Cateye speedometer. Pada trip 06 April 2013, saat pakai sepeda lama Astroz tahun 2008 saya berani lepas dua tangan saat meluncur ke bawah dengan speed 3X7! Sekarang dengan sepeda baru seri SPY 6.0 speed 3X10 saya nggak berani lepas dua tangan lagi. Belum kenal betul perangai pasangan baru ini.

 

11.10. PITAM dan LUNGLAI

Topografi  jalan dari Sekayu ke Betung relatif bervariasi dari datar/flat, bergelombang/undulating dan berbukit/hilly. 30 km pertama dari Sekayu relatif datar. Selepas Teluk, topografi dominan bergelombang dan berbukit hanya +/- seperempatnya. Ini sungguh menempa otot dan pernapasan. Kita harus rajin dan sigap mengover gigi. Speed tertinggi 30 speed (3 X 10) dan speed terendah 1 speed (1 x 1) harus benar-benar tepat dan cepat pengoperasiannya. Namun begitu, secanggih apapun sepeda yang dikendarai, tetap yang menentukan keberhasilan trip adalah sang operatornya.

Setelah mengayuh +/- 45 km, saya mulai merasakan letih lelah yang tidak seperti biasanya. Di sisi lain saya juga nggak banyak minum air.  Puncak lelah-lemah-letih-lesu, saya rasakan di seputar km 51. Pandangan pitam dan menghitam. Capek dan lunglai mendera tubuh. Saya pernah pingsan jadul sekali saat SMP. Gejalanya persis! Pitam. Menghitam. Lunglai! Dengan sisa tenaga yang ada, kami menepi. Pas di warung! Kami pesan teh hangat manis. Saya langsung tenggak 2 gelas. Sempat BAB dan tertidur di bangku dalam posisi duduk barang 3 menitan, gelas teh ketiga masuk lagi ke perut saya!

gowes05

Gbr. 5. Berhenti di Ujung Target Karena Lunglai

 

12.55. MARTABAK dan LAGI: 3 GELAS TEH HANGAT PAHIT

Setelah berehat sekitar 20 menit, kami lanjutkan lagi gowes ke Betung. Agus sudah saya bell dan lagi meluncur dari Sekayu. Kami menunggu di sebuah restoran Minang. Martabak mesir jadi menu siang itu. Saya memang lagi nggak makan nasi. Irfan rupanya pilih martabak juga. Lagi, saya tenggak 3 gelas teh hangat pahit!

Perjalanan kali ini gagal, nggak mencapai target! Gagal walau nggak total!

Hikmahnya adalah:

  1. Bersepeda jarak jauh, butuh stamina yang betul-betul prima.
  2. Stamina prima hanya bisa dicapai dengan keteraturan pola hidup.

gowes06

Gbr. 6. Menunggu Jemputan

Sehubungan trip Sekayu-Betung sebagai kado ultah yang mestinya indah tetapi ternyata jengah tersebut, sayapun beresolusi pada umur yang telah melampaui setengah abad (dan lebih satu tahun ini), yaitu:

  1. Harus rutin tidur sebelum jam setengah dua belas malam.
  2. Harus rutin berlatih sepeda lagi, minimal 4 kali seminggu @ 1 jam gowes.

 

Mudah-mudahan bukan resolusi kosong, soalnya target Sekayu-Palembang +/- 124 km harus dicapai dalam tahun ini juga dan oopppssss, satu saat saya ke Jawa bersepeda!

Semoga!

Sampunnnnnn. Suwunnnn. (BgJ, 100713)

Salam Gowes!

gowes07

 

47 Comments to "Sekayu – Betung: Ah Gagal, Tapi Masih Ada Kesempatan"

  1. Lani  29 July, 2013 at 08:45

    KANG ANUUUU : iya ta???? aku percaya krn kalian yg sdh praktek langsung…………ngekel

  2. anoew  29 July, 2013 at 08:42

    lho yu? bener kok tambah kuat bekerja dan berkarya berkat terapi uyuh referensinya Kang Bagong.

  3. Lani  29 July, 2013 at 08:28

    44 KANG ANU : woalaaaaah………jabang bayi ojo kaget, tambah edyaaaaaaaan sampeyan………hahaha

  4. anoew  29 July, 2013 at 08:07

    Sepeda ketoke arep salawase, semono ugo ngeleghk uyuhe.
    Wis entuk manfaate terapi ‘ra? Entuk pandangan hidup ‘kan?! Sekali pandang langsung hidup! Hahaha

    huahahahaha….. sekali pandang memang langsung hidup, Kang! langsung mak greng mak nyus mak jleb berkat terapi uyuh, semakin kuat begadang dan semakin kuat berkarya

  5. Lani  28 July, 2013 at 12:04

    31 BJ : untuk urusan triathlon tdk usah jd tentara duluan………itu para atlit triathlon yg datang dr manca negara dan bertanding mati2-an di KONA setahun sekali………tubuh mrk langsing2, atos tenanan……..krn mmg atlit tingkat dunia……..hampir tdk ada lemak, cm otot dimana-mana……..hehehe……hayo latihan terus sapa tau nanti dikirim utk bertanding triathlon utk tingkatan usia 50+????? Aku cukup jd melu nonton waelah……..

  6. Lani  28 July, 2013 at 11:58

    41 MAS DJ : panasnya mencapai 39C? nah itu sdh menyamai ditempat teman Baltyra Diday Tea………yg tinggal di Qatar………sampai brp hr mencapai suhu setinggi itu????? Bakalan ndak keluar rumah seharian, dan pakai AC?

  7. Dj. 813  28 July, 2013 at 01:33

    Mas Bagong…
    Tadi ada yang lupa, mau kasih tahu, kalau hari ini suhu di Mainz
    mencapai 39°C.
    Panasnya sudah melebihi di Sekayu, benar…???

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.