Generasi Me Me Me

Janoary M Wibowo

 

Artikel Joel Stein tentang generasi ME ME ME di Time beberapa waktu lalu menuai banyak tanggapan, dan kebanyakan dari tanggapan itu adalah protes. Menurut Joel Stein, generasi ME ME ME adalah generasi sekarang, yang mengupdate status setiap hari, yang memotret makanan lalu diupload di social media, yang men-tweet kegiatannya setiap saat.

generation-me

Generasi ME ME ME cenderung mementingkan diri sendiri dan narsistik. Sebab, sebagai generasi yang dianggap keturunan pertama pasangan yang terjangkit styrofoam effect (memiliki kecenderungan untuk memilih bercerai daripada mempertahankan pernikahan ketika rumah tangga didera persoalan), generasi ini bertumbuh di lingkungan sosial yang tidak memberi jaminan rasa aman; lingkungan yang rentan konflik dan penuh persoalan-persoalan (yang terkesan) tanpa solusi. Sikap mementingkan diri sendiri dan narsistik hanyalah tentang cara mereka bertahan hidup dan berbahagia di total tilt era, era kemandegan total.

gmpicture

Di sisi lain, generasi ME ME ME dimanjakan oleh teknologi; televisi, social media dan akses informasi supercepat. Kemudahan-kemudahan yang mereka dapatkan membuat mereka menjadi merasa paling benar dan sekaligus malas. Kehidupan sosial, di mata mereka, bukanlah lagi tentang bertemu orang lain dan berjabat tangan, melainkan ruang pribadi berjaringan wi-fi tempat mereka merasa aman dan nyaman sekaligus masih memberi peluang untuk berekspresi. Kemalasan generasi ME ME ME tidak hanya terbaca dari cara hidup mereka, namun juga cara berpikir mereka. Generasi ME ME ME cenderung gegabah dalam berpikir; logika mereka melompat-lompat dan penuh fallacies. Dan, karena mereka mereka merasa paling benar, mereka menjadi mudah tersinggung, insecure, dan–memakai kata yang lahir di era generasi ME ME ME–galau ketika dikritik.

Protes-protes yang diarahkan ke artikel Joel kebanyakan mengenai pengakuan bahwa mereka adalah generasi ME ME ME dan mereka tidak separah yang dituliskan di sana. Dasar mereka protes, sepertinya, adalah ketersinggungan terhadap fakta-fakta dan pandangan yang diungkap Joel di artikelnya. Sikap semacam ini malah menegaskan bahwa mereka yang protes–tidak hanya yang berumur 15 sampai 25 tahun seperti diungkap Joel–adalah generasi ME ME ME. Mereka mudah tersinggung, mementingkan kenyamanan diri sendiri, dan gegabah dalam berpikir.

Generasi ME ME ME adalah bagian dari peradaban, sebelumnya ada Baby Boomers, X, Y, dan Me. Membincang peradaban, tentu saja, membincang budaya. Dan, dalam kajian budaya, setiap orang adalah korban sekaligus pelaku, tidak bisa (bahkan sekaligus bisa) serta merta disalahkan atau dibenarkan. Era generasi ME ME ME adalah era kebebasan berpendapat yang gegabah. Tujuan hidup mereka sederhana–tentu saja diputuskan dengan pikiran-pikiran yang melompat dan fallacy–hanyalah bertahan hidup dalam total tilt. Generasi ME ME ME mengejar atau bisa dikatakan terobsesi pada kebahagian. Barangkali, dengan cara berpikir mereka, kebahagian adalah satu-satunya cara bertahan hidup di dalam total tilt.

Persoalan-persoalan yang datang berikutnya hanyalah tentang kekeliruan generasi sebelumnya dalam membaca dan memahami generasi ME ME ME dan reaksi dari generasi ME ME ME kepada apa-apa yang ditujukan kepada mereka, reaksi yang mereka putuskan dengan gegabah. Sebuah persoalan tentang generation gap.

Tentang kata ganti ‘mereka’ yang saya pakai untuk menyebut generasi ME ME ME bukan berarti saya meletakkan diri di luar generasi ME ME ME, melainkan karena saya adalah bagian dari generasi ME ME ME. Saya gegabah dalam berpikir sebelum menulis dan kemudian menyadari kegegabahan saya (tetapi saya malas untuk mengganti satu persatu). Jadi, harap dimaklumi seluruh kesalahan pengggunaan kata ganti di atas. Dan, tolong jangan dikritik terlalu pedas, nanti saya tersinggung dan galau. Saya kan bagian dari generasi ME ME ME.

Satu lagi, setiap generasi dilahirkan, selain dengan insting bertahan hidup, juga dengan kemampuan belajar dan beradaptasi. Generasi selalu berubah sebab peradaban terus berubah. Persoalan-persoalan akan terus muncul, dan satu-satunya yang bisa dilakukan manusia adalah beradaptasi. (Pikiran ini baru muncul setelah menulis panjang lebar di atas, harap maklum juga, saya adalah bagian dari generasi ME ME ME yang berpikir melompat-lompat. Dan, jika terkesan sok tahu, generasi ME ME ME merasa paling benar kan?)

generation_me

Dan lagi, jika beberapa kalimat di dalam kurung di atas terkesan sebagai self-defense mechanism yang terlalu dini, kami sudah beradaptasi terhadap kritikan. Kami kerap mengaku di awal agar tidak mendapat kritikan di akhir. Dan tidak perlu kaget jika suatu hari nanti tidak akan ditemui lagi dialog seperti, 

X : kenapa kamu berubah?

Y : ciyus? miapah?

tetapi dialog yang sudah berubah menjadi,

X : kenapa kamu berubah?

Y : karena kamu tetap dan aku beradaptasi.

 

Bagaimana pun juga, selain dilahirkan sebagai generasi ME ME ME, kami juga dilahirkan sebagai manusia, mempunyai kemampuan belajar dan beradaptasi. 

 

ditulis oleh 4n4K 4l4y 64riS K3raS yang menolak disebut namanya*.

 

*) padahal sudah jelas oleh siapa, tetapi saya ingin menyembunyikan diri. Satu lagi ciri generasi ME ME ME, kami cenderung denial. 

 

About Janoary M. Wibowo

Tumbuh berkembang dan mencintai sepak bola dengan mengidolakan AC Parma, membiasakan diri beratribut Manchester United; posisi murni wingback kiri dengan gaya bermain cutting inside, menyisir kiri luar dan menikung ke dalam kotak penalti; menyukai puisi dan pisang goreng.

Arsip Artikel

31 Comments to "Generasi Me Me Me"

  1. Evi Irons  5 August, 2013 at 07:15

    Dunia Internet dibawa fun aja

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.