Kesaksian Kluprut: Catatan Retrospektif (11)

Kang Putu

 

Requiem Pro Vita, 1989

JAGAT perpolitikan internasional menjelang akhir tahun 1989 menyajikan tontonan menarik yang menakjubkan. Perubahan radikal, sekonyong-konyong dan tak terduga, berlangsung di berbagai belahan dunia. Di kawasan Eropa Timur, terutama, tirai besi yang mengelambu terkoyak oleh paket bola salju yang digelindingkan si botak Gorby: perestroika, glasnost, dan demokratzia.

Tanah Rus memang berubah. Juga Polandia. Dan, Tembok Berlin pun roboh. Lantas Nicolae Ceausescu, yang selama 24 tahun berkuasa di takhta ala Stalin, terguling dan mati. Tetapi, sebelum, selama, dan sesudah kematiannya, hampir 100.000 jiwa rakyat Rumania direnggut Maut! Kematian yang sia-sia? Barangkali. Atau apa (dan bagaimana semestinya kita memberikan) makna atas kematian mereka?

Betapa mahal sesungguhnya jiwa manusia. Namun, agaknya, yang lebih mahal adalah jiwa sang penguasa. 1 biji Ceausescu = 100.000 jiwa rakyat Rumania? Dan Deng di Cina = lebih banyak lagi ketimbang ribuan nyawa yang terbantai di Lapangan Tiananmen, 3-4 Juni (1989) silam? Lantas, Noriega = 1 juta dolar Amerika = berapa jiwa rakyat Panama?

Kematian yang sia-sia? Barangkali. Atau demi dan untuk kebebasan? Dan demokrasi?

***

Ah, Lisa, Lisa Sallusto, pengin kukabarkan kepadamu hangat mentari menyingsing pagi di negeriku, dan bau tanah basah menguar, terinjak-injak kaki telanjang, kaki yang setia meniti hari-hari, menempa kehidupan. Garu dan cangkul diayun, menyetubuhi bumi, menebar benih harapan. Lisa, aku pengin bersama mereka, anak-anak negeri ini, mengucapkan salam kepadamu: Barcia tua mano, Vosia, Barcia tua mano (tanpa harus membungkuk dan mencium tangan).

Namun, Lisa, itu cuma nostalgik sentimental, yang tak urung bakal terbuncang. Lantaran, lihatlah, betapa seringai tajam wajah sangar pembangunan telah melembagakan kekerasan.

(Pagi ini sempat kubaca sebuah tulisan di sebuah mingguan, tanpa nama pengarang. Maukah engkau mendengarkan, kalau kubacakan?)

***

Tahun 1989, jagat perpolitikan di negeri Astina makin hari kian mengunjukkan diktum (dari Cicero atau Pareto?) bahwa sejarah adalah kuburan bagi para aristokrat belaka! Rakyat, komponen utama suatu negara-bangsa, tak beroleh tempat. Rakyat cuma menjadi angka-angka, anasir pemberi suara, bagi upaya pemenangan dan pengabsahan penguasa. Hingga partisipasi politik mereka pun salin esensi menjadi mobilisasi massa semata-mata.

Agaknya sakralisasi ideologi, Jimat Kalimasada (yang dicuri dari Pandawa), telah secara efektif dan efisien mencabutsemrawutkan kekuatan politis rakyat, terutama pada tingkat “akar rumput”. Dan, kekuasaan pun makin melembaga dalam sosok penguasa, sang Suyudana. “Negara adalah saya!” semburnya congkak (mengekor Louis XIV atau XVI?). Apa kata dia adalah hukum tak tertulis yang harus di-inggih-kan siapa saja.

Begitulah, postulat Lord Acton pun lagi-lagi memperlihatkan kebenaran empirisnya. Power tends to corrupt, and absolete power tends to absolutely corrupt.

Namun kini, setelah hampir seperempat abad rezim Suyudana menancapcengkeramkan tangan-tangan gurita kekuasaan, keabsahannya pun mulai goyah. Bukan lantaran masa 13 tahun pembuangan Pandawa, sang oposan, hampir habis. Kegoyahan itu justru muncul dari alam-sadar-terpendam-tak-perlu-dideskripsikan nurani rakyat. Ya, legitimasi kekuasaan yang dipanggul Suyudana dan lingkaran dalamnya (inner circle) – yang diinternalisasi dan diintroduksikan ke dalam benak rakyat lewat pelbagai kiat: penulisan babad, misalnya – telah dipertanyakan oleh otak-otak awam, sepanjang menyangkut kebenaran, keadilan, dan keberpihakannya.

Rakyat, yang senantiasa ditakut-takuti dengan berbagai ancaman “bahaya laten”, makin kritis menakar kebenaran “kenyataan”. Musuh rakyat, yang sebenarnya, adalah Kemiskinan (atau pemiskinan?), Kebodohan (atau pembodohan?), dan Keterbelakangan (pembudayaan atau pembuayaan?), yang celakanya senantiasa lengket bak bayang-

bayang tubuh mereka. Tiga buta itulah yang kemudian bikin gara-gara dan njalma sebagai ketertindasan dan ketidakadilan akibat exploitation de l’homme par l’homme, otoritarianisme, neofeodalisme, dan segala sesuatu yang berbau eksploitasi sesama manusia, eh wayang ding.

Dan rakyat mulai marah. Dan rakyat mulai menggugat. Karena setiap kali mereka mendengar kata “pembangunan”, yang terbayang adalah perampasan, adalah penggusuran, adalah kehilangan kesempatan mencari makan, adalah intimidasi, dan sebagainya.

(Konon, di bumi manusia, kabar serupa kerap terbaca. Penduduk Cimacan, yang bersilang perkara soal kebun sayur mereka yang secara paksa dibangun-ubah menjadi lapangan golf, misalnya, mengartikan uang pangjeuhjeuh sebagai uang penjajah, uang penghina. Benarkah?)

“Pembangunan memang selalu makan korban,” ujar Peter L. Berger. Tapi kalau pembangunan di negeri Astina sejak semula tak berorientasi dan berpihak pada rakyat, siapa pula yang menjadi korban-korbannya?

Pembangunan adalah kue raksasa. Cuma bisa diperebutkan tangan bercengkeraman raksasa pula. Rakyat memperoleh sisa dan remahan belaka. Itu pun setelah mereka saling mengalahkan sesama.

Dan demokrasi? Ah, Astina bukan negeri demokrasi (yang bertumpu pada kedaulatan) rakyat. Demokrasi, tentu plus kebebasannya, cuma milik para penguasa.

Tancep kayon.

***

Freedom

“Sejarah dibuat tanpa geladi resik,” ujar Gorby. Lantaran itukah kemarahan membuncah? Dan tanah bersimbah darah? Barangkali. Demi dan untuk demokrasi? Dan kebebasan?

Wahai, apa, siapa, dan di mana, Engkau: demokrasi dan kebebasan?

 

Januari 1990

 

3 Comments to "Kesaksian Kluprut: Catatan Retrospektif (11)"

  1. J C  27 July, 2013 at 08:35

    Tahun 1990, aku baru mulai masuk Undip (toooos dulu, Kang Putu satu almamater tapi kacek lumayan jauh angkatannya)

  2. Dewi Aichi  26 July, 2013 at 21:51

    Mengikuti cerita Kang Kluprut ini selalu menarik..kesaksian Kluprut…ungkap terus ya Kang…

  3. [email protected]  26 July, 2013 at 10:24

    nomor satu

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.