Miss Know It All (8)

Yang Mulia Enief Adhara

 

Katanya kalau bulan Ramadhan setan dikurung, tapi kenapa Mbak Mur bisa bebas gentayangan? Sungguh tingkah polahnya kerap membuatku kesal. Mulai cara berpakaiannya, lalu pura-pura puasa saat di depan orangtua-nya, belom lagi sikapnya yang sok tahu.

Siang itu Mbak Mur muncul dengan rambut yang agak dikeriting di bagian bawah namun kali ini tidak diwarnai yang aneh-aneh. Yang aneh adalah Mbak Mur membuat garis bibir melewati bibir aslinya dan memakai lipstik warna merah gelap. Bukan itu saja, alisnya kini menjadi lebih kecil dan melengkung dan tentu saja pulasan eye shadow yang begitu tebal membuatnya lebih mirip zombie.

“Masyaallah Mbak?!! Kamu ini kok menor banged? Itu bibir kenapa kok jadi makin lebar? Trus alis-mu kok jadi kecil melengkung?”, Aku bicara saat berpapasan dengan Mbak Mur di depan garasi.

“Heh?! Kamu ini katrok banged ya Na? Mules aku suwe-suwe! Ini gaya terbaru aku lho? Aku tuh mirip Ka-Be (KB) kan???”, Mbak Mur bicara sambil mengintip wajahnya yang aneka warna melalui kaca bedak.

Aku mendengus, “KB sopo maneh?? Aku ndak paham ah!”, Aku menyahut sambil sibuk SMS-an dengan Mira.

Mbak Mur memandangku sambil sok mengerutkan dahi, “Parah banged ya kamu? Itu lho mantan bojone si Anang?!! Mosok ndak tau sih? Dia itu dipa lho?!”.

Aku langsung tertawa terbahak bahak, “Mbak! Itu Ka-De (KD) alias Krisdayanti lha kalo Ka-Be (KB) itu Kris Biantoro!”, Aku tertawa terus, Mbak Mur hanya diam dengan wajah acuh lalu pergi tanpa pesan menuju ke dalam rumah.

*****

Mbak Mur ternyata benar-benar niat membeli baju muslim walau hanya beberapa potong, dan artinya sekali lagi aku harus bersabar menghadapi Mbak Mur yang sok tahu.

Kami terdampar di Tanah Abang jam satu siang, asli leherku kering sekali. Cuaca terik memang menyiksa di saat puasa, namun Mbak Mur tetap segar bugar, lha wong ora poso oq!

“Ihhh panas banged, Na buruan donk jalannya! Entar aku item lho kena matahari siang-siang”, Seru Mbak Mur dengan suara lantang. Beberapa orang di trotoar langsung tertawa lantaran Mbak Mur takut hitam dan faktanya Mbak Mur itu sudah hitam.

Aku hanya bisa ngedumel dalam hati, dan tanpa ampun Mbak Mur berhenti di depan tukang minuman. Aku buru-buru mencolek, “Mbak! Kok minum di sini sih? Ini di pinggir jalan lho?”.

Mbak Mur segera melirikku dengan pandangan aneh, “Heh lha gundulmu! Kalo aku minum di tengah jalan bisa ketabrak yo?!”, Sahut Mbak Mur. Namun niat minum teh dingin gagal total lantaran si penjual memanggil Mbak Mur dengan kata ‘IBU’.

“Mau minum apa Bu? Ayoo dipilih yang seger-seger”, Ujar penjual yang asyik menawarkan dagangannya.

Mbak Mur langsung kembang kempis hidungnya, “Ibu??? Goblok banged ya!! Lha aku ini masih 24 taun lho, wes ah aku ora sido tuku neng kene! Asem tenan akyu dipanggil Ibu, bikin rusak pasaran akyu aja!”, Mbak Mur pergi dengan langkah seperti kuda liar dan untung dia tidak memakai sendal Luis Piton yang rasanya bagai tak memakai sendal, Mbak Mur lagi senang sendal Crocs.

Sendal Crocs kali ini dipilih warna hijau muda. Dipadukan leggings selutut warna kuning terang lalu atasan model kemeja warna tosca dengan lengan model terompet yang dipasangi gesper besar warna merah terang tak ketinggalan tas Luis Piton warna biru tua.

Aku hanya pasrah melihat Mbak Mur pergi melangkah menuju warung berikut. Dan tanpa dapat dicegah dia menenggak 2 botol teh dingin. Sumpah aku jadi membayangkan segarnya teh dingin itu.

Tiba-tiba Mbak Mur berlari sambil berseru agar aku juga menyelamatkan diri. Aku terkejut dan tersentak dari bayangan segarnya es teh. Mbak Mur berlari bagaikan babi hutan, dia sruduk sana sruduk sini. Aku sih diam tidak ikut berlari.

Saat aku melihat ke belakang karena penasaran, aku hanya melihat sekitar ada 7 orang anak SMU yang sedang berjalan di trotoar memakai baju koko dan peci, sepertinya mereka panitia buka bersama di sekolahnya.

Mbak Mur nampak jongkok di antara tumpukan dus. Wajahnya mengkilap oleh minyak dan keringat. Aku pun menegor dengan heran, “Mbak! Ada apa sih? Kok tau tau kalang kabut?? Bikin kaget aja!”.

Mbak Mur berdiri dengan lunglai, dia merapihkan pakaiannya, lalu dia pun celingukan, “Eh rombongan yang pake baju koko mana?”. Wajah Mbak Mur nampak tegang.

“Hah? Yang anak SMU tadi? Emang ada apa sih?”, Aku menyahut dengan kesal, bayangkan saja siang bolong aku ada di jalanan dan kini harus ikut sibuk oleh ulah Mbak Mur yang nggak jelas.

“Ya ampun! Jantungku mak deg lho pas akyu tadi lihat mereka. Anggota FPI tho? Aku wedi diacak-acak trus digebyur banyu (disiram air)”, Sahut Mbak Mur dengan nafas masih ngos-ngosan.

Aku sebenarnya siap tertawa ngakak namun tenggorokanku yang terasa kering memaksaku tersenyum saja. “Ah Mbak! Salahmu sendiri, udah tau bulan puasa malah minum di pinggir jalan, takut kok sama FPI, takut tuh sama Tuhan! Lagian tadi itu anak SMU “.

****

Mbak Mur akhirnya berbelanja baju. Rencana awal membeli baju Muslim tapi saat selesai belanja yang tadi aku lihat Mbak Mur justru membeli tank top 6 potong dengan warna warna meriah, aneka kosmetik KW dan baju Muslim hanya sebuah gamis pendek berikut kerudung bahan chiffon satu lembar.

“Ih akyu ndak sabar deh mau nyoba baju-baju ini. Pasti aku makin cantik dan cowok-cowok makin suka godain akyu”, Ujar Mbak Mur sambil asyik menggigit bakwan.

Aku cuma diam di samping Mbak Mur yang sibuk menyetir dengan ugal-ugalan, tenggorokanku kering dan di saat seperti ini diam adalah emas.

 

10 Comments to "Miss Know It All (8)"

  1. Lani  27 July, 2013 at 08:35

    9 AKI BUTO : lo, kok nyasarnya ke aku lagi????????? Payah lurah baltyra secara tiba2 gagap baca hehehe…………

  2. J C  27 July, 2013 at 08:34

    Aku juga ngakaaaaakk seperti pak Djoko pas baca ini:

    “Heh lha gundulmu! Kalo aku minum di tengah jalan bisa ketabrak yo?!”

    jiiiiaaaannn MURLANI memang wis…

  3. Lani  27 July, 2013 at 00:26

    6 KANG ANUUU: wakakakakak………nggilani men…….

  4. Dewi Aichi  26 July, 2013 at 23:42

    hahahahahahhahaa….ya ampun Anung…itu bukannya foto cewekmu dulu?

  5. anoew  26 July, 2013 at 23:13

    mbak Mur sana cepat pulang, nanti kalau ketemu Dewi Artati eh, Tumpuk Aichi halaaah, Dewi Murni bisa-bisa kembang di kupingmu bisa direbut dia lho….

  6. Dewi Aichi  26 July, 2013 at 21:52

    Wakakakaka..mba Mur takut sama anggota FPI rupanya ha ha…jangan-jangan nanti malah dilamar sama salah satu anggota FPI…

  7. Lani  26 July, 2013 at 16:44

    Dasar Mur semakin gemblung!

  8. Dj. 813  26 July, 2013 at 13:39

    *** “Heh lha gundulmu! Kalo aku minum di tengah jalan bisa ketabrak yo?!”, ***

    Jawaban mbak MUR yang sangat tepat dan benar.
    Ditengah jalan, ya ditabrak oleh mobil…. hahahahahahaha….!!!
    Terimakasih mas Enief…
    Salam sejahtera dari Mainz.

  9. [email protected]  26 July, 2013 at 10:27

    absen dulu deh

  10. Chandra Sasadara  26 July, 2013 at 09:25

    benar aja kampung berasa sepi.. rupanya si Mbak Mur minggat ke jakarta.. semoga dia bisa berkawan dengan FPI=Fron Perempuan Indonesia..hehehe

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.