Sirat Mahagasal (5)

Kurnia Effendi

 

(13)
Di ruang sejuk ini, kami seperti malaikat
Mencatat perjalanan selama enam bulan
Menagih janji mereka dengan pertanyaan
Bagaimana mencapa iuntung berlipat-lipat

Aku tak tahu apa nama pengembaraan ini ketika yang kucari adalah pundi-pundi, seperti kumpeni. Mengapa seluruh geraham yang mirip wadasan dalam mulutku menggemari makanan aneka ragam? Kuhabiskan waktu untuk memuja wajah rupawan dan mencandui segala yang kupikir lucu. Umur terhambur, cepat atau lambat, menuju liang kubur.

Pelajaran yang turun dari-Mu dimulai dengan cinta
Mendahulukan berkat dan rahmat sebelum murka
Memberi tak kunjung henti tak perlu balas kembali
Sungguh aku yang beroleh nikmat ini tak tahu budi

Namun aku perlu menutup muka setiap kali menyaksikan perilaku golonganku yang ingin kasat mata belaka. Entah apa yang mereka bela ketika jiwa hewan itu sembunyi di balik sorban. Mungkin malu ketika keteladanan datang justru dari pihak yang dianggap lawan. Aku jadi ingin tahu: apa ajaran yang mereka sampaikan di atas mimbar?

Bogor, 13 Ramadan 1434 H. – Aston Hotel & Resort

 

(14)
Air. Mani yang mengawali kejadianku
Ketuban yang melindungi tubuhku di rahim Ibu
Menggenapi air mata, keringat, dan darahku
Membasuh wajah, rambut, telinga, kaki, dan siku

Air. Mengalir dari celah bukit ke bantaran hilir
Di gelap hutan, tepi dusun, jantung kota; ia mampir
Menghanyutkan hikayat ke muara, mengambang
Renyai hujan menggenangi sumur dan empang

Air. Basah halimun dan embun, ciuman di ubun-ubun
Mencuci luka, mengakhiri haus, melintasi selang infus
Trusmi, terus mili, terus semi, sepanjang tahun
Memandikanku setelah ajal, sebelum dibungkus

Air. Membilas kain sidamukti kemudian dianginkan
Dengan atau tanpa upacara, jasad ini dililit kafan
Dituang dari kendi gerabah, bersama kelopak mawar merah
Di ujung nisan, seiring langkah pulang para peziarah

Bogor, 14 Ramadan 1434 H. – Aston Hotel & Resort

 

(15)
Teringat Ibu. Penghabisan kupeluk di dasar ceruk
Azan dari mulutku, pipih seperti sembilu, mengiris
hati sendiri. Kaca-kaca air bertahan di mata
Menyamarkan semua yang hadir. Sebelum tanah
ditumpahkan, untuk merahasiakan Ibu dari semua
yang ingin tahu: alamat kedamaian itu

Tak ada lagi cahaya semu. Sepasang malaikat yang
menunggu, memiliki mata gemerlap yang membuat
seluruh catatan perjalanan Ibu tersingkap.
Mungkin Ibu terperanjat, karena aku anaknya,
lebih kerap membuat jarak yang tak tertakar rindu.
Maafku terlambat seperti tertinggal terbang pesawat

Apakah Ibu teringat aku, dari sebuah tempat yang
tak memerlukan wudu? Apakah Ibu bertemu Ayah
yang berangkat lebih dulu untuk membangun rumah teduh?
“Di sini kita menanti dengan sabar kedatangan anak-anak:
Didi, Yuyul, Elly, Nunung.” Entah kata Ayah atau Ibu.
Masih kugenggam gringsing sogan sebagai warisan.

Jakarta, 15 Ramadan 1434 H. – Pondok Bambu Asri
Kurnia Effendi

 

3 Comments to "Sirat Mahagasal (5)"

  1. J C  27 July, 2013 at 08:32

    Tetep nyimak…

  2. Dewi Aichi  26 July, 2013 at 21:54

    Menyejukkan…terima kasih mas Kef…sudah separuh waktu kita lalui bulan Ramadhan ini…salam hangat.

  3. [email protected]  26 July, 2013 at 10:25

    di absen dulu….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.