Hujan Bulan Juli

Emi Suyanti

 

Hujan telah mempertemukan kita berpelukan dalam kebasahan, kebisuan dan kebisaan membasuh keletihan dengan senyuman paling tiris. Aku masih menggigil dalam dekapanMu paling deras. Kubiarkan Kau yang ‘kan menyudahi saat rinai terhenti, nanti. Ajari aku lebih tabah daripada sebelumnya.

Di bawah tingkap langit yang mulai menutup, kau dan aku menyisir kerinduan. Sepanjang trotoar menuju pulang, kita saling mengeja wajah langit. Perlahan, gigil hujan menjelma kehangatan. Mengaliri celah-celah sepi. Tanpa bicara tiada sapa terlisankan. Hanya bertukar ingatan di ruang hati yang paling tepi.

Masih kupinta, ajari aku memeluk hujan. Meski sudah lebih awal kubiarkan tubuhku kuyup. Semestinya aku lebih tangguh ketika lelah perlahan menghimpit dadaku, seharusnya rapuh tak boleh memaksa bersarang dalam jiwa. Aku kuat meski tak berotot kawat, aku tegar berdiri meski tulangku bukan besi. Sebatas daya berlari meski tersengal dalam deras hujan.

Kini hujan semakin deras memeluk kita, kau dan aku. Mendekap kian lekat, mencipta tarian makin erat. Bayu melingkari pundak lengan kita. Berbisik perlahan mengupas lelah di pinggangku. Aliran darah mendadak hangat di telapak tangan dan lenganmu. Kepedihan perlahan tak lagi mengaliri darahku. Menyalurkan rindu padaNya kian melebamkan, membirukan sukmaku dalam samudra yang tak ‘ku tahu dalamNya. Tetapi selalu ‘ku nantikan cintaNya di segala musim, hujan kali ini atau kemarau nanti agar ‘ku makin dalam menyelami rasa padaMu.

Di sisa rinai hujan,kita, kau dan aku menyatukan langkah. Mengeratkan genggaman, saling berbagi puisi yang mehangatkan mengusir sunyi hati di dada paling kiri. Pikiran merangkum keindahan, atas segala karuniaNya. Kau dan aku melangkah seirama sambil bertukar senyum paling indah, menuju dermagaNya melabuhkan hati. Semayamkan rindu paling biru kepadaNya.

Reda sudah, beranda tak lagi bertampias. Dalam kebasahan tak kubiarkan asaku lemas. Kulihat dedaun saling berbisik menghaturkan terima kasih pada Ilahi. Tariannya melambai-lambai memanggil-panggil. Aku tak lagi mendengar kegaduhan. Aroma tanah basah menghampiri hidungku. Kini seruan telah datang. Saatnya bertemu Tuhan berbincang semesra-Nya.

Pada setiap gerimis yang tak tiris-tiris slalu saja tersampaikan tangis diam yang tak habis-habis, memperdengarkan gema-Nya jauh di sana entah punya siapa. Atau sesungguhnya ada di sini, di dada yang sudah pecah dan terbelah ini?

Dan pada malam ke tiga hujan masih saja membasuh Juli. Wanginya bulan ini semerbak harum, terbukanya pintu ampunan. Berlomba kita berenang di telaga ramadhan, menggapai rahmatNya di pertigaan malam. Memecahkan sunyi dengan sujud paling tulus.

 

Kolaborasi :

Emi Suyanti (Jakarta)

Didik Supardi MS (penyiar RRI Semarang)

Auroyo Ahmad (Depok)

11 Juli 2013

 

6 Comments to "Hujan Bulan Juli"

  1. elnino  28 July, 2013 at 23:03

    Bagus sekali eh, duakali malah

  2. J C  28 July, 2013 at 19:51

    Salah satu bentuk sastra yang aku bisa memahaminya adalah tulisan Emi Suyanti…

  3. Fidelis R. Situmorang  28 July, 2013 at 14:44

    Keren, Mbak Emi…

  4. Dj. 813  28 July, 2013 at 14:29

    Terimakasih mbka Emi…
    Kemarin di Mainz, suhu mencapai 39°C.
    Jjadi hari paling panas untuk tahun ini.
    Tapi semalam hujan, jadi saat ini agak sejuk.
    Salam manis dari Mainz dan cium sayang untuk Valensia dan Vanessa.

  5. Lani  28 July, 2013 at 11:49

    JAMES : klu itu mah udah rahasia umum………tiap kali hujan pasti arahnya kesana banjiiiiiiiiiiir………..

  6. James  28 July, 2013 at 09:56

    SATOE, Hujan Bulan Juli Membuat Jakarta Banjir Kembali

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.