Sepasang Mata Bunda

Leo Sastrawijaya

 

=Cerpen ini memiliki mata rantai dengan cerpen yang pernah terbit di Baltyra, “Ornamen Bunga Pada Dinding Hotel” dan “Satu Bab yang Hampir Selesai (1) dan “Satu Bab yang Hampir Selesai (2)”=

 

Sepasang mata bunda bagiku, adalah cerita tentang bening air kehidupan, tiada  nestapa yang mampu memperkeruhnya, tiada pula  derita yang mampu mengeringkannya. Darinya aku menikmati damai sekaligus menemukan penguatan keberanian untuk menapak pada bumi labil ini. Kalian tentu paham betapa tindakan-tindakanku  selama ini seringkali berlawanan dengan adat, dengan norma-norma umum dan bahkan kini dengan  norma susila dan norma agama sekaligus.

eyes

Kekecewaan beliau kepadaku pasti ada, namun ternyata itu tidak cukup untuk mengubah sepasang mata beliau menjadi sumber badai amarah. Bahkan aku masih menemukan pengharapan, menemukan kepercayaan, menemukan kasih, juga menemukan sebuah ruang khusus bagiku untuk kembali. Barangkali bila badai amarah muncul dari sepasang mata itu, maka dalam kondisiku seperti sekarang ini aku sudah benar-benar terhempas dan remuk di dasar jurang kehidupan. Tercerai berai tanpa bentuk.

Karena usia, sebagian rambut bunda kini telah terlihat memutih di beberapa bagian, gurat-gurat ketuaan mulai mengikis sisa kecantikan yang pernah beliau miliki. Tapi pada mata beliau, aku tidak menemukan perubahan apapun. Sinar mata  beliau adalah sinar mata seperti sebagaimana kutemukan saat aku masih bayi, keyakinan, harga diri, cinta, keikhlasan dan kekuatan masih terpancar abadi dari sana, membeluncah sebagai bening air kehidupan. Bunda, di hadapannya selalu saja aku merasa memiliki ruang lebih lapang untuk  bergerak, bernapas dan berekspresi.

Hujan belum lagi berhenti, titik-titik airnya bahkan riuh memukuli genting dan apa saja dalam gelap malam. Waktu kecil dahulu aku sering menganggap bahwa hujan adalah amarah kecil dari langit, tangan-tangan kecil yang berjumlah jutaan itu memukuli apa saja di permukaan bumi ini sebagai pelampiasan amarah. Malam ini, titik-titik hujan itu terasa benar sebagai amarah alam kepadaku, serta hentakan-hentakan amarahnya terasa menusuk-nusuk jiwaku. Aku sungguh adalah si tersalah bagi mereka, orang-orang yang seharusnya kuberkahi dengan segenap bhakti.

Di ruang tengah rumah keluarga aku teronggok sebagai pesakitan. Berat rasanya untuk kembali berada di ruang suci ini, ruang tempat kami dahulu berinteraksi, merajut mimpi, saling menguatkan dan menonton fragmen cinta kasih orang tuaku. Mimpi-mimpi itu kini tiada, kekuatankupun runtuh sudah, hidupku kini benar-benar kotor berlumuran debu.  Tidak pernah  aku merasa demikian kotor dan tidak berharga seperti yang kurasakan saat ini.

Ayah menepuk-nepuk pundakku, aku masih menunduk. Saat ini aku merasa bahwa untuk mengangkat wajahpun tidak cukup layak. Pada ayah aku merasa juga tidak ada yang berubah.  Penerimaan beliau kepadaku masih sama seperti dulu, ayah adalah juga pria teguh nan penuh cinta kasih. Kekerasan hati beliau adalah kekerasan hati seorang lelaki, dengan prinsip-prinsip yang diyakininya. Ayah tidaklah bisa seekpresif ibu saat mengungkapkan cinta kepada kami anak-anaknya. Tapi pada bahu beliau yang kekar, mata beliau yang tegas, dan raut muka beliau yang jujur dan tulus, kami dapat merenda makna kasih serta perlindungan darinya.

‘Erwin, ibu memang sedikit kecewa dengan semua tindakanmu menyikapi  cobaan yang harus kamu terima. Tetapi sungguh ibu akan sangat marah dan kecewa bila salah satu anak lelaki bunda menjadi pengecut seperti ini. Ayah bundamu tidak pernah mengajarimu menjadi pengecut bukan? ’

Aku menunduk semakin dalam. Pengecutkah aku kini? Ya aku mungkin jahanam pengecut.

‘Bangga ibu memiliki seorang anak yang bisa sangat tulus dan mendalam mencintai seseorang, tetapi tidak seharusnya kamu melampiaskan kekecewaanmu dengan cara seperti ini…….Kamu menghancurkan diri sendiri. Dari alam sana jika kekasihmu bisa melihatmu, tentu dia akan sangat sedih demi melihat orang yang dicintainya menjadi hancur karena dia. Ira pergi membawa bahagia, kebahagian yang paling hakiki mungkin. Harapannya tentu saja kamupun bisa mengambil manfaat dari cinta kasih yang seharusnya menguatkan kamu dalam keadaan seperti apapun. Menurut ibu tindakanmu sangat keliru selama ini, nak. Tidak itu saja, kamu sudah menghianati karunia itu, menghianati kasih dan pengorbanan Ira……..’

Kalimat terakhir bunda sungguh menyengatku. Benarkah begitu bunda? Bernarkah aku telah menghianati cinta kasih Ira? Sementara rinduku tidak pernah pupus dari hari ke hari, hasratku untuk terus bersamanya sepanjang hidup terus menggebu, bayangan senyumnya terus ada di ujung terdalam ingatanku. Aku sangat kehilangan, sangat  kesepian.

‘Begitu banyak orang yang menyayangimu dan ingin mendukungmu. Sisi selalu menanyakan kabarmu, dia begitu merasa bersalah saat menyadari betapa emosi sesaatnya telah menghancurkan kebahagiaan kalian. Dua orang yang paling disayanginya. Sisi belum menikah sampai saat ini. Dia ingin membayar kesalahannya dengan cara itu. Adikmu Erlin, dia hampir saja membatalkan pernikahannya karena tidak bisa menemukan kakak tercintanya di hari paling penting dalam hidupnya. Sepanjang resepsi dia terus menangis. Kakak-kakakmu bahkan agak menyalahkan bapak dan ibu, sahabat-sahabatmu selalu menyempatkan untuk menanyakan kabarmu. Mereka semua khawatir, mereka semua menyayangimu. Ibu tahu arti penting Ira bagi hidupmu, tetapi ibu yakin, bukan dengan cara seperti itu kamu menunjukkan rasa cintamu. Buatlah Ira bangga, tunjukan kepadanya bahwa kamu pria tegar dan menjadi kian tegar karena kehadirannya.’

Aku merunduk kian dalam, semua menjadi terlalu perih bagiku. Belum cukupkah takdir mencabikku? Kepergian Ira dan anak kami yang masih dalam kandungan adalah kehilangan tiada tara bagiku. Mengkoyak, mencabik, memeras semua sisa air mata dalam kelopak mataku bahkan kemudian melumpuhkan segenap jiwa. Lalu mengapa aku harus mengambil langkah yang ternyata mengecewakan orang-orang yang menyayangiku? Kemana lagi kini aku harus menyeret kaki menyembunyikan diri dari matahari?  Sementara bermil-mil jalan penuh kelokan dan tanjakan rasanya masih harus aku lewati, dengan dahaga jiwa yang kian tidak tertanggungkan. Tuhan bukankah Anda tahu aku merindukannya dalam siang maupun malam, pada setiap detik yang harus kulalui?

Tidak peduli berapa juta orang yang menyayangiku kehadirannya sungguh tiada tergantikan. Lalu mengapa dia Anda  sembunyikan dariku?  Aku merindukan senyumannya, aku merindukan renyah suaranya, aku merindukan kemanjaannya dan lebih dari semua itu aku merindukan rasa damai tenteram saat aku dekat dengannya. Kini di rumah masa kecilku, kenangan tentang Ira kian menguat, jiwanya seperti hadir di sampingku sementara aku tahu aku tidak akan pernah bisa menembus tirai tak kasat mata yang menghalangi kami.       Saat aku terpekur dalam sedih ayah datang membawa hand phone-nya, ‘Dari adikmu Erlin…..” Aku menggeleng, aku belum siap mengatakan apapun kepada adik bungsuku. Bunda mendekati ayah, membisikkan sesuatu, namun aku tidak terlalu hirau. Air mataku mulai runtuh satu-satu, kali ini sepasang mata bunda terlihat berkaca-kaca. Sedihkah bunda karenaku? Ma’afkan anakmu bunda…..

kehidupan

‘Tidakkah kamu belajar untuk memahami betapa semua kepahitan ini bisa jadi hanyalah cara Tuhan untuk memberi sesuatu yang lebih baik bagimu? Kamu perlu ujian untuk menerimanya……Tuhan ingin kamu menjadi siap saat karunia itu datang.’

Aku menggeleng, ‘Aku merasa hidup ini tidak cukup adil buatku bunda. Tidak berhakkah aku untuk menikmati cinta, memiliki kekasih sejati, memiliki rumah spiritual kami? Mengapa dia didatangkan hanya untuk membuatku merasa sangat lemah? Sebagian dari diriku telah terkuburkan bersama-nya. Ma’af bunda, ma’afkan aku. Tidak akan ada orang yang mampu mengukur berapa dalamnya rasa kehilanganku, bahkan bunda sendiri. Ini adalah perasaan yang hanya aku sendiri yang tahu.’

‘Ya anakku, bunda tahu. Semuanya milikmu. Tetapi matamu yang kuyu, sudah cukup menyatakan betapa dalamnya luka itu…..? Bunda sangaaaaaat tahu, sangat mengerti. Bunda yang mengandungmu sembilan bulan, menyusuimu setahun. Sebagian dari rasa sakitmu, bunda rasakan juga……….Bunda hanya ingin bertanya kepadamu, haruskah kamu menjalani sisa hidup dengan cara menghancurkan dirimu sendiri? Jika Ira bisa kamu ajak bicara dan tahu keadaanmu akan bahagiakan dia? Lalu pernahkah kamu mencoba mengerti perasaan ayah bundamu saat kamu menghilang dengan luka?

Sepanjang hampir tujuh tahun ini, ayahmu selalu menyempatkan sholat malam, mengirim doa untukmu, menitipkan dirimu kepada Tuhan. Ayahmu juga bukan lelaki yang tidak paham makna cinta, dia tahu benar dalam keadaan seperti apa kamu pergi meninggalkan kami. Kami tahu benar. Kami tidak mungkin bisa membantu sepenuhnya kesulitanmu, karena memang persoalan ini adalah persoalan tentang inti terdalam hidupmu….Namun cobalah ulurkan tanganmu, kamu tidak sendirian anakku……Jangan biarkan kami menjadi tidak memiliki kebanggaan apapun, selama ini sungguh kami merasa sangat tidak berarti demi melihatmu sedang tenggelam tetapi kami tidak tahu harus berbuat apa untuk menolongmu.’

Ayah duduk disampingku, tangannya merangkul pundakku ; ‘Bapak jauh lebih beruntung darimu Erwin, tidak harus kehilangan ibumu wanita yang sangat bapak sayangi di usia semuda kamu, di ujung awal cinta kasih yang sedang merekah. Erwin mulailah sedikit bersyukur, tidak semua orang mengalami pengalaman seperti itu, jatuh cinta dan dicintai, lalu membina hubungan betapapun pendeknya. Kalian tidak berpisah karena cinta yang terkhianati. Kalian harus berpisah dalam cinta. Seandainya bapak harus mengalami itu, bapakpun pasti akan limbung, akan sangat bersedih. Namun satu hal anakku, dapat kupastikan bahwa bapak tidak akan membiarkan rasa sedih itu melukaiku hingga lumpuh. Bapak akan berusaha untuk tegar, akan kulanjutkan hidupku sebaik mungkin sebagai tanda syukur dan cinta.’

Kami terdiam. Gemericik hujan terdengar berirama. Sesekali kilatan petir menghiasi malam tanpa suara. Lidah-lidah listrik itu menembusi setiap celah, seperti perhatian dan kata-kata ayah bunda, melewati setiap celah menyentuh semua sisi jiwaku. Ada bagian mati yang kurasa hidup lagi, ada nyanyian lirih yang mampu kudengar lagi. Ujung-ujung jiwaku tergetar. Benarkah sayang bila rasa syukur atas kasih karunia itu harus kuwujudkan dalam ketegaran? Sementara aku tahu benar suara jiwaku memanggilimu, mencari-carimu di setiap sudut kehidupan. Aku butuh kehadiranmu untuk bisa tegar. Jika kumampu, akan kupanggil namamu menembus batas-batas tata surya, karena aku didera rindu tiada ujung……

‘Menangislah bila harus menangis, meraunglah bila perlu, tetapi berusahalah untuk menjadi lebih tegar selepas itu. Jangan berpikir bahwa bapakmu tidak pernah menangis. Beberapa kesulitan hidup membuat bapak menangis, bapak menangis sebagai tangisan lelaki, bukan kecengengan.’

Kalimat-kalimat bapak laksana air bah, menggelontor habis semua tanggul pertahananku. Aku menangis………aku ingin lepas dari rajaman sepi ini, dari semua nestapa yang erat membebatku. Ibu dan ayahku meninggalkanku sendiri ;

‘Kamarmu masih sama seperti saat kamu tinggalkan, cinta kamipun masih sama seperti dahulu. Kalau mau beristirahat beristirahatlah.’ Kata bunda lembut. Aku mengangguk sambil menguncapkan terima kasih.

Kamarku memang masih persis sama seperti saat kutinggalkan pindah dahulu, semua masih ada, masih di tempatnya dan bersih terjaga. Di sini kami menghabiskan malam pertama kami nan syahdu sebagaimana yang pernah kuceritakan kepada kalian. Kami meluruh sempurna malam itu, menjadi satu. Aku mendekati almari pakaian dan membukanya. Masih ada beberapa potong gaunnya tertinggal di situ, kuambil satu dan kucium lembut, aku membaui aroma tubuh Ira……..Ooooooh, Ir, betapa dekatnya kita dahulu, sementara kini? Engkau entah di mana. Ooh apa ini? Sebuah buku kecil terselip di antara tumpukan bajunya, hatiku bergetar manakala kuketahui bahwa buku ini milik Ira, aku memang tidak pernah membuka almari ini semenjak kami menikah. Ira telah mengurus segalanya.

 

20 Juli 20001,

Sejak malam ini aku telah menjadi miliknya  secara jiwa dan raga, secara hukum maupun syariah. Ya Allah, betapa rasa syukurku tiada terhingga untuk-Mu. Engkau memberiku kesempatan yang paling kuimpikan menjadi seorang istri untuk pria yang aku cintai. Aku akan menyertainya kemanapun dia pergi, bagaimanapun keadaannya.

 

21 Juli 2001,

Irawati Setyawan, Nyonya Erwin Setyawan, nama baru yang matching juga. Mengapa semuanya seperti telah diatur? Sayang, tahukah kamu bahkan dalam tidurmupun aku masih ingin mencumbumu. Gila, aku memang tergila-gila padamu, tapi apa dayaku?

Aku tersenyum membaca kalimatnya ; kamu kini pasti sudah yakin bahwa akupun tergila-gila kepadamu, apa pula dayaku Ir? Kamu menempati penuh semua ruang kosong dalam hatiku. Dan masih tetap begitu hingga kini, setelah berbilang tahun kita berpisah.

 

10 Agustus 2001,

Mengapa Sisi tidak juga mau memaafkan kami? Mengapa pula ibu harus menganggapku sebagai anak haram perusak kebahagiaan adik kandungnya sendiri. Aku menyayangi kalian semua, tetapi tahukah kalian aku juga menyayangi suamiku Erwin lebih, sama seperti dia menyayangiku. Dan semuanya sungguh-sungguh diluar kehendakku. Ya Allah ampunilah hambamu.

 

20 Agustus 2001,

Masya Allah,  baru sadar sudah lebih dari duapuluh lima hari aku telat. Jadi…?

 

22 Agustus 2001,

Bagaimana ya? Caraku memberikan kejutan untuk Erwin-ku sayang, bahwa sebentar lagi dia akan menjadi seorang ayah… Sungguh ajaib. Bila laki-laki apakah kelak dia senakal bapaknya? Bila perempuan……? Ah aku juga nakal sekali dahulu………Mungkin kami harus bersiap-siap untuk menerima semua kejutan kenakalan anak kami……he,he

 

Anak itu sayang, buah dari cinta kita, buah dari peluruhan jiwa raga kita. Adakan kini dia bersamamu di surga sana? Seperti apa gerangan parasnya? Sepertimukah? Seperti akukah atau….. seperti kita berdua. Aku telah jatuh cinta kepada anak kita bahkan sejak kamu yakin bahwa dalam rahimmu telah terbentuk kehidupan…….sungguh sayang. Darah yang mengalir padanya adalah darah kita berdua, raga yang menahan jiwanya terbentuk dari percampuran raga kita. Meski aku juga tahu betapa jiwa yang bermukim didalamnya adalah jiwa merdeka dan berasal dari suatu tempat di firdaus sana.

 

7 September 2001,

Entahlah, di malam sunyi, ketika aku terbangun dari tidur, seringkali aku menatapmu dalam-dalam. Setiap kali aku menatapmu, setiap kali aku merasa semakin yakin bahwa kamu adalah pria yang dilahirkan untukku. Ada rasa takut, bahwa pada akhirnya entah karena apa, kita harus berpisah………Bisakah aku hidup tanpamu? Bisakah kamu hidup tanpaku? Kamu telah mengorbankan segalanya untukku, karenanya aku tidak meragukan sedikitpun arus kasih yang membawaku kedalam pelukan kasihmu. Ketakutan ini mungkin karena aku terlampau menyayangimu………Atau mungkin karena trauma masa kecilku, ayahku berbagi kasih dengan anak-anaknya dari istri ayah yang lain sehingga aku merasa selalu mendapatkan hanya sebagaian dari kebutuhanku………Kupikir adikku Sisi dan Ibuku juga merasakan hal demikian. Meskipun aku yakin kamu adalah kekasih dan suami yang setia, maafkan aku sayang bila aku sering kali tidak bisa menguasai rasa takut kehilangan kamu………

 

Bisakah kini kamu mendengar kata hatiku? Dengarkan dia……… kamu akan mendengar bahwa bahkan saat wujudmu telah pergi dari dunia ini, aku masih milikmu sepenuhnya. Jangan mintakan ma’af apapun kepadaku sayang…….. Kita tidak akan pernah saling menyakiti bukan? Ya, seandainya saja aku memiliki waktu lebih panjang bersamamu……

Akan kucoba sekuat tenaga menyembuhkan luka masa kecilmu itu. Akan kuyakinkan bahwa kamu tidak perlu merasa takut kehilangan aku, karena aku adalah bagian darimu dan kamu adalah bagian dariku. Kita akan bersama-sama mengabdi kepada anak-anak kita tidak terbatas waktu. Kita mengabdi saat mereka bayi, menjadi anak-anak dan bahkan kita masih akan tetap mengabdi walau kita telah menyadari bulu-bulu pada kedua sayap anak-anak kita telah tumbuh sempurna dan mereka bersiap mengangkasa. Kita masih akan terus mengabdi dengan doa, dengan pengharapan, dengan rumah spiritual yang kita bangun bersama dengan pintu yang selalu terbuka buat mereka saat mereka mungkin memerlukan tempat istirahat dan menyembuhkan luka dalam setiap pengembaraan yang mereka lakukan …

 

Gerak tubuh dan bahasa jiwa Ira adalah tarian angsa bagiku, aku tidak tahu apakah ada lagi yang pria di dunia ini yang seberuntung aku pernah menemukan seseorang yang dalam diampun telah mampu membangkitkan badai asmara seperti aku telah menemukan Ira. Ira adalah sebuah titik, sebuah point, dimana limapuluh persen atau bahkan lebih dari seluruh kebutuhan hidupku telah terpenuhi karena kehadirannya dalam hidupku. Bersamanya aku hanya perlu berjuang untuk limapuluh persen sisanya agar aku merasa penuh dalam menjalani kehidupan.

Tentu saja, ketika itu terenggutkan semua hari terasa menjadi malam beku bagiku, begitu sakit, begitu mengguncangkan. Apalagi kepergianya terjadi pada saat kami berjuang untuk menunjukkan bahwa kami tidak menginginkan untuk menyakiti siapapun karena rajutan asmara yang terbangun di antara kami. Dan Ira pergi membawa serta anak kami, monumen cinta kasih yang kami banggakan…. Tidak usah kalian bayangkan seperti apa gelap dan kosongnya dunia bagiku sejak saat itu …

Tetapi Ira, benarkah wajahmu yang belakangan ini selalu hadir dalam mimpiku dengan wajah sendu itu juga kabar kesedihanmu melihat hancurnya hidupku seperti yang bunda katakan?

Sepasang mata bunda itu yang teduh namun menyimpan duka, kutemukan juga dalam sepasang matamu yang datang dalam mimpi-mimpiku. Benarkah cinta suci itu harus mengancurkanku dan meminta lebih banyak korban lain?

Begitu panjang, gelap, sakit dan penuh onak duri jalan yang harus kutempuh sejak kematian memisahkan kita. Aku seratus persen tidak tahu harus berbuat apa, harus bagaimana? Semua bagian jiwaku seperti sekarat dan mati. Tetapi itu mungkin keliru. Mungkin benar seperti yang bunda katakan; aku tidak pernah kehilangan kamu, aku hanya kehilangan sosok lahiriahmu, aku masih memiliki cintamu, memiliki jiwamu. Aku harus mengabdikan semua itu untuk  hidup dan kehidupan.

Aku bersumpah untuk tidak lagi membuat badai pada sepasang matamu, juga sepasang mata bunda.

Oh, ma’afkan aku sayang. Seperti kukatakan dahulu, kamu memang telah jatuh cinta kepada orang paling tolol sejagat ini….

 

Bersambung

 

13 Comments to "Sepasang Mata Bunda"

  1. Wied  1 August, 2013 at 15:10

    Tanpa garam masakan terasa hambar, tanpa persolan hiduppun pasti membosankan (nambaih) … hehehe

  2. Wied  1 August, 2013 at 15:08

    Kesulitan hidup, kekecewaan-kekecewaan yang harus dialami, seharusnya adalah menjadi semacam “garam” bagi kehidupan … begitu pesan yang saya tangkap dari cerpen panjang ini.

  3. Dewi Aichi  30 July, 2013 at 10:10

    yang pertama, yang berjudul “ornamen bunga pada dinding hotel” itu bikin gimanaaaaa gitu wah….ikutan terhanyut dengan perbincangan hangat mereka….

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.