Amanah

Seroja White

 

“Labbaik Allahuma labbaik, labbaik Allahu sarikala labbaik…”

Kumandang takbir masih terngiang jelas di telinga perempuan paruh baya itu, ini perjalanan haji pertamanya, setelah wukuf di Padang Arafah selesai, hari ini ia dan rombongan akan segera meninggalkan tanah suci, Makkah Al  Mukaromah.

Di sepanjang perjalanan yang memakan waktu belasan jam di dalam pesawat, entah mengapa air matanya tak berhenti berderai, walau perempuan paruh baya itu berusaha menyembunyikan tangisnya dengan  menatap keluar pesawat melalui jendela tak luput pemandangan itu mengundang tanya para teman serombongannya. Perempuan itu hanya menjawab dengan gelengan kepala menandakan kalau keadaannya baik-baik saja. Akhirnya semua maklum, mungkin tangis itu merupakan perwujudan rasa haru dan bahagia karena sebentar lagi sampai di tanah air dengan menyandang predikat Haji.

amanah

Rumah besar itu baru saja sepi, para saudara dan handai taulan yang datang menyambut kepulangan Hajah Hindun baru saja beranjak pulang dengan beberapa oleh-oleh khas dari tanah suci, Makkah. Tak lupa air zam-zam tentunya. Hindun tampak diam terpaku menatap keluar rumah lewat daun pintu yang masih terbuka lebar. Sebuah sentuhan lembut di bahunya menyentaknya dari lamunan. Jarwo, putra sulungnya menatapnya dengan cemas.

“Ada apa bu? Ibu sakit..” Jarwo merasa ada yang aneh pada ibunya.

Sejak kepulangannya dari tanah suci, ibunya itu tampak lebih banyak diam dan murung. Tidak seperti biasanya, ibunya itu seorang yang ceria dan hangat. Sejak kematian Bapak sepuluh tahun yang lalu, ibunya lah yang menjadi tulang punggung keluarga dengan membuka sebuah warung soto yang lumayan laris di depan sebuah perkantoran. Dari sana lah Jarwo dan adik perempuannya Nurul dapat menyelesaikan sekolahnya walau hanya sampai tingkat menengah. Buat Jarwo, ibunya seorang perempuan yang tegar, tak pernah mengeluh dan yang paling membuat mereka, anak-anak Hindun menyayangi dan menghormati ibu mereka itu adalah senyum yang tidak pernah lepas dari wajah teduhnya.  Hindun kembali hanya menjawab pertanyaan anak lelakinya itu dengan senyum dan gelengan kepala,

“Ibu ndak apa-apa nak, jangan khawatir begitu..”

“Tapi ibu kelihatan murung, apa ada yang membuat hati ibu sedih, tersinggung atau…”

“Ealahh..ibu ndak apa-apa, Wo. Mungkin hanya masih capek…” Hindun tak dapat menyembunyikan wajah murungnya, tatapan matanya kosong. Mungkin hanya tubuhnya yang kini berada di depan hadapan Jarwo, tapi tidak dengan dengan jiwanya. Sepertinya jiwanya masih tertinggal di sebuah tempat, entahlah…

***

Perempuan itu mempercepat langkahnya, tampaknya kecemasan mulai meliputinya. Ia tertinggal rombongannya. Seharusnya ia tidak terlena oleh deretan para pedagang yang menawarkan beragam perhiasan yang terbuat dari perak. Ketika asyik memilih beberapa perhiasan yang rencananya akan dijadikan oleh-oleh untuk para kerabat di tanah air nanti. Ibu Atik, teman serombongannya sengaja menarik tangannya menandakan kalau rombongan sudah mulai bergerak kembali menuju Masjidil Haram untuk menunaikan ibadah sholat Ashar karena azan telah bergema. Tapi Hindun mengabaikannya.

Kini perempuan itu harus terjebak di antara kerumunan orang-orang yang berjejalan sepanjang jalan. Aneh, biasanya jam-jam begini jalanan ini tak seramai sekarang, belum lagi para jemaah berkulit hitam yang tampaknya seperti tak mau perduli berjalan seenaknya tanpa menghiraukan orang lain, bahkan perempuan sekali pun, main tabrak saja, keluh perempuan itu. Kecemasannya mulai berubah menjadi kepanikan, ketika perempuan itu mulai sadar kalau kini ia tengah berada di tempat yang tidak  dikenalinya, ia tersesat. Bingung mulai meraja, selama di Makkah ia hanya tahu rute perjalanan dari kepemondokan ke Masjidil Haram dan tempat lainnya itu pun berserta rombongan, kini ia sendirian di tengan lautan manusia, semuanya terlihat putih lalu sebuah titik hitam berputar-putar mengelilingi kepalanya, lalu perempuan itu jatuh tak sadarkan diri.

Ketika siuman perempuan itu tengah mendapati wajah cemas dari orang-orang yang dikenalinya. Ketika pingsan tadi beruntung ada petugas keamanan yang melihatnya lalu dari kartu identitas yang selalu dibawa dalam sebuah tas kecil yang disandangnya petugas tersebut mengantarkannya ke pemondokan dengan terlebih dahulu membawa Hindun ke Medical Center terdekat.

Setelah kejadian itu ada yang ganjil mulai di rasakan Hindun, setiap ia dan rombongan akan menuju Masjid untuk melaksanakan sholat atau ibadah lainnya, Hindun selalu tertinggal waktu sholat atau terpisah dari rombongan. Perempuan itu hanya berdiri saja di depan pintu masjid, linglung seperti tak tahu apa yang akan dikerjakannya. Lalu sholat dan ibadah lainnya lebih banyak dilakukannya di pemondokan, para teman rombongannya sepertinya maklum. Mereka meranggapan Hindun bermasalah dengan kesehatannya sehingga ada beberapa ibadah yang tidak dapat dilakukannya dengan sempurna.

***

Hari mulai beranjak siang ketika Hindun berencana mengunjungi warung sotonya. Setahun ini warungnya itu dikelola si bungu, Nurul. Bersama suami dan kedua anaknya, Nurul membuat sebuah rumah mungil di belakang warung. Hindun telah menyerahkan warung soto itu kepada putrinya itu, setelah sepuluh tahun dari warung soto dan uang pensiunan TNI– suaminya lah ia dan kedua anaknya bertahan hidup.

Biasanya  menjelang makan siang begini warung akan ramai, Nurul pasti bakal kerepotan oleh banyak pembeli, walau telah dibantu oleh dua orang karyawan. Benar saja sesampainya di warung tampak para pembeli sedang menikmati makan siang dengan menu nasi soto yang terkenal lumayan lezat di kawasan tersebut. Selain enak dan harganya yang murah, letak warung yang strategis karena dekat dengan areal perkantoran memudahkan para pembeli yang kebanyakan adalah karyawan perkantoran tersebut sehingga sehabis istirahat makan siang mereka dapat kembali ke tempat pekerjaanya dengan segera. Hindun pun turut membantu Nurul, walau putrinya itu telah melarangnya untuk ikut membantu melayani pembeli.

Usai jam makan siang warung mulai terasa agak longgar, tampak yang tersisa hanya beberapa pembeli yang menikmati hidangan soto sambil mengobrol santai, biasanya warung akan mulai ramai kembali bada’ Magrib ketika perut mulai keroncongan  usai jam kantor atau menjelang waktunya makan malam. Nurul sedang membereskan dagangannya ketika Hindun lebih memilih duduk-duduk santai di deretan bangku ketika pandangannya tanpa sengaja membentur sebuah kotak amal Masjid berwarna hijau yang biasa terletak di meja kasier.

Seketika ia merasakan tubuhnya gemetaran, ada perasaan cemas yang sangat yang kini tengah dirasakannya, bulir-bulir keringat dingin mengucur di dahinya. Perempuan itu menutup telinganya dengan kedua telapak tangannya ketika suara entah dari mana bergema dengan riuh di telinganya, “Labbaik…labbaik….Allahu Sarikala labbaik….!”

Para pengunjung yang melihat Hindun keheranan dan memanggil Nurul. Putrinya itu panik melihat Hindun yang seperti sedang kesurupan menyeracau tak jelas dengan menutup telinganya kuat-kuat dengan wajah merah padam.

“Tolong…tolong ibu saya…” Hindun hanya sekilas menangkap suara Nurul, lalu kembali gulita di rasakannya.

Perempuan itu menunduk lemas dengan wajah pucat, kedua anak dan menantunya duduk mengelilinginya. Mereka tahu ada hal serius yang tengah menimpa ibu mereka. Kini Hindun tahu mengapa ada yang aneh pada dirinya sekembalinya ia dari tanah suci, kejadian-kejadian ganjil seperti tersesat, pintu-pintu masjid yang tidak terlihat olehnya, atau kejadian lainnya yang kini baru disadarinya. Penyebabnya adalah kotak Amal Masjid.

 

7 Comments to "Amanah"

  1. Esti  1 August, 2013 at 12:06

    maksut’e ki opo yah? Bu Hindun nilep kotak amal?

  2. EA.Inakawa  1 August, 2013 at 06:23

    walah…..si ibu Hindun ini merasa berdosa pernah mengambil Kotak Amal Masjid, sesal yang terlambat tetapi sejatinya masih ada pintu untuk bertaubat ibu…..

  3. anoew  31 July, 2013 at 20:02

    Hai Ojaaaaa…, kangennya aku woalaaah…

    Itu kotak amal, mungkin kelupaan diisi ya sepulangnya dari naik haji? Betewe apa kabar Si Jalang Api?

  4. dev  30 July, 2013 at 13:05

    Mungkin kotak amalnya tidak disetor ke Mesjid, tapi dipakai sendiri uangnya

  5. Chandra Sasadara  30 July, 2013 at 12:39

    di mana kotak amal, ada apa dengan kotak amal?

  6. J C  30 July, 2013 at 11:05

    Jujur aku bingung apa hubungan kotak amal masjid dengan kondisi si Hindun…

  7. Lani  30 July, 2013 at 10:28

    Satoe amanah

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.