Dipertemukan Facebook Setelah 16 Tahun Berpisah

EA. Inakawa – Leopold Ville, Africa

 

Setepak Sirih :

Drama kehidupan anak manusia dari Bumi Asia Afika kembali terjadi sangat mengharukan di jejaring sosial dunia maya Facebooker.Tidak bisa kita pungkiri di balik maraknya penyalahgunaan Facebook masih tetap ada sisi positifnya yang lebih besar.

Ora Et Labora “Berdoa Sambil Bekerja“ kiasan kata ini demikian bermaknanya bagi ibu Dwi Aichita Nyembo, seorang ibu Congolaise dari suku Lingala, sebuah suku yang mendominasi komunitas dari 250 suku yang ada di RD. Congo. 16 tahun dalam masa pencariannya ia kehilangan jejak ketika meninggalkan anak kandungnya di Jakarta, sepanjang malam ia menangis dan terus berdoa agar satu hari kelak dipertemukan kembali dengan anak gadisnya Candy Tsikunku.

mother-child

Jodoh dan pertemuan adalah rahasia TUHAN, kita tidak tau bagaimana TUHAN bersama teamnya bekerja sehingga ibu Dwi Aichita Nyembo dan anaknya saling tergerak dengan naluri sedarah yang tidak terputus walau dicincang sekalipun sama-sama berusaha mencari dan menyambung tali kasih ikatan bathin mereka.

 

ALKISAH:

Pada tahun 1992 ibu Dwi Aichita Nyembo menikah dengan seorang warga Perancis yang bekerja sebagai seorang Tehnik Industry di Kinshasa, ketika mereka dikaruniai seorang putri dan ber umur 3 tahun pihak company meminta suaminya untuk bertugas ke Jakarta, tawaran itu mereka terima. Seiring waktu . . . . . tahun 1995 merekapun telah hijrah ke  Jakarta.

2 tahun setelah menetap di Jakarta (akhir tahun 1996) ibu Dwi Aichita Nyembo kembali ke Kinshasa untuk menjenguk ibunya yang sakit keras dan ia kembali seorang diri.

3 bulan setelah berada di Kinshasa ia mendapat kabar suaminya sakit dan hanya berselang 1 bulan kemudian sang suami berpulang, berita sedih ini membuat hatinya hancur dan bingung, sang kekasih telah berpulang di negeri dimana ia tidak punya sanak family meninggalkan putri semata wayang mereka sendiri di Jakarta yang saat itu telah ber-usia 5 tahun.

Itulah awal dimana ia di kemudian hari kehilangan jejak atas putrinya Candy. . .

Keterbatasaannya sebagai perempuan Congolaise menjadi kendala ketika ia mencoba berkomunikasi dengan pihak company tempat suaminya bekerja selalu mendapat jawaban yang tidak pasti dan jelas tentang keberadaan anaknya, ingin mencoba menghubungi pemilik rumah dimana ia tinggal sama sekali tidak punya no telephone nya, ingin kembali ke Jakarta bahkan ia tidak punya ongkos sama sekali.

Semua hak atas pesangon suaminya diberikan kepada ahli waris almarhum suaminya di Perancis dimana ada istri pertama dan anaknya yang lebih berhak menerimanya.

Akhirnya ibu Dwi Aichita Nyembo sadar kalau hidup masih harus berlanjut, bagaimanapun ia lebih memilih hidup adalah sebuah pilihannya, Tuhan dengan sengaja memberikannya jodoh seorang pria Congolaise dari suku yang sama Lingala yang menjadi setawar sedingin baginya.

Meski ibu Dwi Aichita Nyembo 3 tahun kemudian setelah kematian suaminya menikah dengan pria Congolaise dan punya anak, bagaimanapun ia tidak bisa melupakan Candy gadis kecil belahan jiwanya.

 

16 tahun waktupun terus berjalan. . .

Di tengah keputusasaan, anak dari perkawinan keduanya semakin beranjak dewasa dan mulai mengenal dunia Facebook. Anak dan para kerabat menganjurkan agar berusaha mencoba mencari anaknya Candy melalui Facebook sebagaimana keberuntungan yang pernah mereka dengar banyak orang-orang yang terpisah akhirnya dipertemukan oleh jejaring Facebook.

Pencarian jejak pun dimulai, di senggang waktu mereka selalu bermain internet di Warnet dekat rumah mereka, tidak ada satu nama yang memakai nama anaknya di sana dalam pemikirannya tentulah anaknya telah berganti nama dari orang tua yang mengadopsinya.

Dalam perhitungan hari kelahiran, dimana ia selalu tidak lupa berdoa di setiap hari ulang tahun anaknya Candy, ibu Dwi Aichita Nyembo membayangkan anak gadisnya saat ini telah berusia 21 tahun, pastilah kecantikannya mewarisi ibunya dan wajah Perancis ayahnya.

Tanpa sengaja dan sebab. . . . . kami bertemu di sebuah pasar Bokasa dan kemudian berkenalan, melihat wajah saya ibu Dwi Aichita Nyembo demikian yakinnya kalau saya orang Indonesia, dengan bahasa Indonesia yang masih ia ingat dan terbata-bata, ia menjelaskan kalau dia pernah menetap di Jakarta, di kawasan Pancoran dekat Kalibata.

Dan ceriterapun mengalir. . . . . . . . . . ia menjelaskan semuanya kepada saya…

Sebagaimana yang saya katakan, lagi-lagi tangan Tuhan yang berkuasa membuka jalan . . . . . . saya meminta ia datang ke rumah saya, kepada ibu Nyembo saya memperkenalkan diri sebagai: President Communauté Indonésienne d’amitié Congolaise (sebuah wadah Persahabatan komunitas Indonesian dan Congolaise di RDC).

Di pertemuan kami, saya minta ia memberikan nama suami dan familynya sesuai paspor, lagi-lagi ia tidak punya sama sekali, yang ia ingat hanya sepotong nama suaminya Patrice.

Saya coba beri solusi agar ia mencari tau ke Embassy Perancis di Kinshasa berikut nama suami, kantor dimana bekerja dan photo suaminya, seingat dia suaminya pernah mengajaknya untuk perpanjangan paspor di sana, berbekal saran saya perjuangan pun berlanjut terus menyusuri sepanjangan ingatan.

Usaha itu tidak sia-sia, 1 bulan kemudian pihak Embassy Perancis Kinshasa memberikan identitas suaminya lengkap dengan data lapor diri dari Embassy Perancis di Jakarta.

 

Perjuangan ini masih belum berhenti, berbekal nama keluarga suaminya

Patrice Jean Fredrick  kami mencoba menelusuri, tidak mudah. . . . satu demi satu semua nama yang membawa nama Fredrick di belakangnya saya sapa, akhirnya saya menemukannya!

Dia adalah Lani Liem Fredrick. . . . . seorang gadis remaja yang saat ini sedang kuliah di Shanghai China, memandangnya di Facebook tidak ada kesan kalau dia anak methys campuran Perancis dan Congolaise, statusnya adalah WNI gadis manis berkulit putih.

Nama tersebut saya berikan ke ibu Dwi Aichita Nyembo lengkap dengan alamat telephone nya.

Merekapun berkomunikasi melepaskan rindu yang terpendam selama 16 tahun. baik melalui telephone maupun berlanjut dengan YM, mereka sudah bisa saling melihat wajah satu sama lainnya.

Lani adalah nama pemberian orang tua angkatnya yang dengan sengaja menempatkan nama ayah angkat dan kandungnya Fredrick di belakang namanya, dia sendiri sejak lama ketika tamat SMA sudah diberitahu kalau bukan anak kandung mereka.

Dan Lani juga merasakan kalau ia memiliki samar-samar kenangan khusus ketika masih berkumpul bersama ayah dan ibu kandungnya ketika masih ber-usia 5 tahun.

Tetapi sesungguhnya bagi keluarga Lim, Lani adalah anak kandung mereka, tidak ada perbedaan kasih sayang dari 2 anak lelaki kandung mereka lainnya.

Mereka sangat sayang karena tidak dikaruniai anak perempuan.

 

3 bulan waktupun berlalu. . . . . .

Di suatu pagi dihari minggu, ibu Dwi Aichita Nyembo kembali berkunjung ke rumah saya. Ia ceriterakan tentang sebuah rencana untuk berkunjung ke Jakarta dan memohon bantuan saya bagaimana caranya sehingga ia bisa bertemu dengan Lani.Saya memberikan saran agar keluarga Lani di Jakarta memberikan surat undangan kepada ibu Nyembo dan menjamin keberadaan ibunya selama di jakarta.

Di hari yang sama saya menelpon Lani dan memberikan beberapa opsi untuk ditindak lanjuti.

1 minggu kemudian saya mendapat jawaban kalau ayah angkat Lani tidak setuju dan marah besar kepada Lani, dia tidak bersedia menyiapkan Visa undangan buat ibu Nyembo

Lani menyampaikan hal ini sambil menangis, saya berpesan agar ia membujuk ayahnya melalui ibunya secara persuasif, jangan melakukan perlawanan kepada orang tua angkat kamu yang telah bersusah payah membesarkan dan memberikan hidup yang sangat layak dan terhormat kepada  kamu selama 16 tahun.

Di satu sisi saya mengerti bagaimana perasaan orang tua angkat Lani ketika mendengar permintaan untuk bertemu dengan ibu kandungnya yang akan berkunjung ke Jakarta, tidak mudah kala mereka sadar hati anak angkat mereka akan terbelah, anak yang mereka asuh sejak usia 5 tahun yang mereka pungut dari kondisi terlantar dan mereka besarkan dengan bersusah payah harus berbagi kasih sayangnya.

Ibu Nyembo dan Lani meminta bantuan saya memediasi kepada orang tuanya di Jakarta, tetapi dengan  halus saya menolak, saya katakan itu bukan kapasitas saya, adalah tugas Lani untuk membujuk hati Ayah dan Ibunya di Jakarta, saya yakinkan kamu pasti bisa, perlahan saja. . . . . jangan mendesak mereka, hal terpenting kamu sudah tau jejak ibu kandung kamu di Kinshasa masih hidup.

 

Secercah harapan masih selalu ada. . . . . . . . .

Jalan terakhir saya katakan, jika keluarga Lani di Jakarta tetap bersikukuh tidak memberikan jaminan mereka masih bisa bertemu di Shanghai China dimana Lani saat ini sedang kuliah di Shanghai Normal University, buat ibu Dwi Aichita Nyembo jauh lebih mudah untuk mendapatkan Visa ke China karena Embassy China ada di Kinshasa dan tidak sesulit mendapatkan Visa ke Jakarta yang membutuhkan jaminan karena RDC termasuk negara High Risk level III.

Saat ini Lani sedang libur di Jakarta dan pada September nanti baru kembali kuliah di Shanghai.

Sampai detik dimana saya menutup kisah ini. . . . . . Lani masih belum menemukan jawaban setuju dari kedua orang tua angkatnya untuk memberikan Visa Undangan buat ibu Dwi Aichita Nyembo ke  Jakarta.

Semoga Tuhan memberikan solusi terbaik buat mempertemukan mereka, aamiin.

 

Leopold Ville – 25 Juli 2013 – Salam Setepak Sirih Sejuta Pesan : EA Inakawa

 

Note : kisah ini nyata hanya nama yang fiktif untuk menjaga hati mereka mereka yang ada di Jakarta. . . . . mohon maaf jika ada kemiripan nama yang sama hanyalah kebetulan saja. . . . . peace…

 

Yth : Para Sohib Senior dan rekan lainnya, izinkan saya mengucapkan:

“Selamat Hari  Raya Idul Fitrie 1434 H“mohon maaf lahir bathin. . . . . . . . . . atas semua khilaf yang terbuat di dinding komunitas rumah kita Baltyra…

 

36 Comments to "Dipertemukan Facebook Setelah 16 Tahun Berpisah"

  1. EA.Inakawa  6 August, 2013 at 01:31

    @ Yuci : Thx yaa sudah mampir dengan apresiasinya, kalau masih mudeng baca lagi tapi jangan melompat lompat ehehehe ini kisah nyata…..salam sejuk

  2. yuci  6 August, 2013 at 00:39

    aq ora mudeng cerita iki kisah nyata ato rekaan to jane. opo aq sing lemotz yo jadi ora mudeng.

    dwi aichita nyembo ki jenenge perempuan kongo kuwi ato yg mempertemukan ibu dan anak tersebut. lha nek dwi aichita nyembo ki adalah sing dimaksud adalah si ibu koq namanya bukan nama kongo.

  3. Dewi Aichi  5 August, 2013 at 16:56

    Pak EA , aduhhh….malah sebaliknya, ternyata Pak EA selalu ingat kami( aku dan Lani), kami ini saling mencintai dan saling melengkapi, aku waras, Lani edan ha ha ha….begitulah kami.

  4. EA.Inakawa  5 August, 2013 at 16:41

    @ Mbak DA & Ci Lani : Terima kasih TIDAK marah eheheheh , bravooooooo, salam sejuk

  5. Lani  5 August, 2013 at 10:33

    31 DA : ngaku aja, kamu moco artikel ini sampai njumbul krn namamu dipakai/kepakai……….hahaha………kita berdua didapuk jd bintang sinetron DA

  6. Dewi Aichi  5 August, 2013 at 08:51

    Waduhhh sampai njumbul aku membaca kisah ini, sungguh mengharukan, pak EA membaca beberapa komentar di sini malah senyum-senyum sendiri….hi hi hi…..terima kasih…

    Sekali lagi terima kasih ya pak EA, jadi pengen pakai nama itu …

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.