Sirat Mahagasal (8)

Kurnia Effendi

 

(18)

Pada hari mengenang turunnya perintah membaca, pemilik mata indah itu mengucap dua kalimat syahadat. Dipilihnya kesempatan saat qadar dinubuatkan. Ia, seperti juga aku, tak pernah tahu, kapan tangan-Mu di Arsy meletakkan petunjuk hidup di Luh Mahfuz. Pemilik pipi ranum itu bersaksi: tiada pencipta dan penguasa semesta selain Engkau. Ia, seperti juga aku, tak pernah paham mengapa kitab pembeda itu singgah di Baitul Izzah. Langit yang tersentuh galaksi namun tak terlacak bujur-lintangnya.

Hidup ini tersusun dari lembaran takdir, serupa ratusan bidang tambal pada sehelai kain. Entah siapa yang membentang dan melipatnya, selaras usia. Tahun-tahun itu diwakili jumlah wiru.

Pada hari kenabian al-amin, nun empat belas abad silam, kita semua tak sanggup menjangkau kenyataan ketika kitab hikmah itu disampaikan melalui malaikat Jibril. Percakapan sepasang makhluk yang berbeda materi dan ras, membekas dan bertilas hingga akhir zaman. Di salah satu hari penuh rahmat, perempuan ayu itu bersaksi: Muhammad adalah rasul-Mu. Ia, seperti juga aku, tak pernah saling bertatap mata dengan penyayang anak yatim itu. Hidayah memiliki arah serupa anak panah, namun tak terpindai mata angin.

Hidup ini bergulir mengikuti cetak-biru sang pemilik waktu. Menjadi amanah atau khianat, sebagai penyampai kebenaran walau satu ayat atau insan yang tak mengimani hari kiamat?

 

Jakarta, 19 Ramadan 1434 H. – Rumah Anggit

Kurnia Effendi

 

3 Comments to "Sirat Mahagasal (8)"

  1. Dj. 813  1 August, 2013 at 04:10

    Tiga….

  2. J C  31 July, 2013 at 10:21

    Menyimak lagi…

  3. James  31 July, 2013 at 08:58

    SATOE,……..8

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.