Sastra Multatuli Tak Ingkar Janji

Ita Siregar

 

Catatan Perjalanan Ciseel-Badui Dalam, Serang Banten

 

multatuli

Jumat, 13 Mei

Membaca Sastra Multatuli yang dirancang Kang Ubai, saya ngiler. Ada acara kunjungan ke suku Badui Dalam, tambah lagi. Catatan reguler Kang Ubai soal kegiatan kelompok Baca Multatuli, sudah lama bikin penasaran. Jadilah saya bersiap ke Ciseel.

Kang Sigit jauh-jauh hari sudah memberitahu, akan menggiring lima orang dalam rombongannya. Saya akan bergabung dengan mereka karena saya tidak ada kawan. Kamis malam, Kang Sigit meng-update posisi sejak keberangkatan dari Semarang. Mereka tiba di stasiun Senen subuh, saya masih santai.

Pukul tujuh kurang seperempat, saya baru terburu-buru. Begitulah senang mepet, saya lari cari ojeg langganan di belokan jalan, Bang Ade. Menyerahkan masalah saya kepadanya, yaitu harus tiba di stasiun Tanah Abang jam 7. Saya duduk di belakangnya melihat-lihat jalan. Bang Ade meliuk-liuk di aspal Jakarta yang padat di hari Jumat.

Nyaris terlambat, tetapi kereta belum berangkat. Saya berkenalan dengan rombongan, termasuk Husni K Effendi dari Bandung. Tommas sudah kenal sebelumnya sewaktu sastra Wonosobo, duduk di sisi kiri saya. Di seberang saya Mbah Jamali. Esther dan Leni di samping kanan, Kang Sigit di belakang mereka, lalu Husni. Saya lupa apa pembicaraan kami di kereta waktu itu, tetapi yang jelas tertawa-tawa, dan Mbah Jamali jadi pusat cerita. Pukul delapan kereta ke Rangkas bergerak.

Rangkas menarik kenangan lama saya. Ayah saya almarhum beberapa kali mengajak saya ke satu pantainya, entah di sebelah mana tepatnya. Pagi selepas sarapan saya duduk sendirian di pasir memandang ombak bergelung, sementara ayah saya melakukan survei dengan Pak Nasution, kawannya. Sebentar saja istri Pak Nasution nyusul sembari membawa kelapa hijau yang airnya luar biasa manis segar. Jangan jalan di dekat laut ya, pesannya.

Siang sedikit dia kembali menjemput untuk makan siang dari ikan hasil melaut. Hidangan udang segar direbus berwarna oranye. Sungguh berselera. Sore-sore kami makan lemang, sajian ketan yang dimasak di dalam bambu dan dibakar di dalam tungku. Rasanya gurih, daun kelapa yang membalutnya tampak berkilat menggiurkan. Nanti pulang, kami dioleh-olehi beberapa gandul gula merah mirip bola rugby, dan berjenis kerupuk manis dan asin terbuat dari tepung ketan (saya lupa namanya). Dalam perjalanan ini nanti saya melihat semua jenis makanan yang sebut tadi.

Kembali ke kisah perjalanan. Jendela kereta dibiarkan terbuka. Rombongan Semarang terkantuk-kantuk dielus-elus angin. Mata saya segar. Saya melamun-lamun sendiri. Melihat orang berlalu-lalang. Beberapa kali kereta berhenti. Setelah ada orang memberitahu Rangkas sudah dekat di ujung, Kang Sigit menggeser kopernya ke dekat pintu, Husni ngikut. Padahal kereta masih meluncur, meluncur. Dia takut terbawa kereta balik ke Jakarta, kata Tommas santai.

Stasiun Rangkasbitung seperti stasiun lama buatan Belanda pada umumnya. Kecil dan ringkas. Melewati peron sedikit, sudah jalan. Kami menyerbu masuk satu angkot kecil, langsung sesak. Seorang ibu melihat penampilan kami dengan gembolan masing-masing, bertanya, ”Mau ke mana iyeu? ”Ciminyak,” koor rombongan. Hanya beberapa menit, sampai. Saya mau membayar dengan rupiah, Kang Sigit mengeluarkan euro. Si sopir tentu lebih memilih mata uang asing.

Wajah terminal Curug, wajah terminal kecil khas tanah air kita. Tidak ada kepastian jalan kecuali ada uang yang menggerakkan roda. Mereka berembug, sepakat membawa kami bertujuh dalam sekali jalan. Sopir dan calo bagi-bagi untung. Oh bangsaku. Seharian hanya menunggu tak menentu demi pecahan rupiah yang tak cukup membeli susu.

Di jalan dua penumpang toh diangkut juga. Husni protes tapi kru colt besar itu tak menggubris. Pura-pura tak tahu masalah. Kang Sigit mulai mengeluarkan perbekalan. Saya duduk bersebelahan Mbah Jamali. Ada pohon-pohon berdaun merah di sisi jalan. Saya penasaran, tetapi tak satu pun tahu nama pohon yang malang itu. Melewati banyak kincir di tiang seperti antena, dua gadis berkerudung itu pun tak tahu, menjawab sembarangan, bukan apa-apa, mainan saja. Amboi mainan kalian serius sekali, Nak!

Sambil mengunyah kudapan, Kang Sigit cerita tentang novel Lembata karangan F Rahardi yang mendapatkan hadiah dalam bidang prosa Anugerah Sastra Khatulistiwa Award 2009. Kisah pergulatan seorang pastor di satu biara di Flores yang ingin membawa perubahan di tempat itu tetapi tidak berhasil. Kedengarannya menarik. Semoga saya ketemu buku itu satu kali.

Di pasar Ciminyak kami turun. Sebenarnya bukan pasar betulan. Hanya perempatan dan semacam tempat motor-motor ojeg mangkal. Rupanya Kang Ubai sudah mengabari kedatangan kami kepada para ojeg ini. Di sinilah petualangan kami berawal. Seandainya tahu medan yang akan ditempuh, saya pastinya akan jalan terus juga.

Saya naik ojeg yang ke sekian. Husni di belakang saya. Saya ingat waktu acara sastra ke Wonosobo tahun 2008, untuk sampai ke Istana Rumbia Mbak Maria Bo Niok dan Mas Stevie, juga dengan ojeg. Melewati batu-batu kali hitam basah sehabis hujan, ojeg naik turun, kadang-kadang melewati jalan tanah hitam yang becek. Udara Wonosobo yang sejuk dan tanaman salak di kiri kanan jalan, sebagai penghibur.

Tapi jalan ini lebih dramatis. Naik-turun hampir 70 derajat. Bisa tanah becek, bisa bebatuan tajam. Di sisi kanan dinding tanah yang tinggi. Di sisi kiri, kadang-kadang sungai, jurang, sawah, kerumunan tumbuhan pendek atau pohon tinggi. Jalan untuk motor kurang dari satu meter. Betul-betul hanya untuk tubuh motor. Tidak boleh kelebihan tenaga, tidak boleh kurang perhitungan. Melihat pemandangan tak masuk akal itu, saya pegang bagian belakang motor kuat-kuat.

”Pegangan saya, Mbak,” kata si bang ojeg. Sekarang saya berpegangan si bang ojeg yang sungguh tak ragu mengambil langkah.

Gila betul! Saya mempercayakan nyawa saya kepada Tuhan dan si bang ojeg. Saya sempat berpikir, apa maksud undangan Kang Ubai? Apa benar dia melewati jalan ini tiap kali membaca Max Havelaar? Oh Tuhanku yang Agung! Kau telah tumbuhkan semangat baja di hati hambaMu untuk cinta Multatuli. Saya belum sempat berpikir, saya harus turun dari motor. Jalan terlalu menanjak. Jemari saya keram karena memegang bagian belakang motor terlalu keras. Saya tidak menjawab sapaan Kang Sigit yang bertanya, “Tidak apa-apa?” Menjawab apa pun, takkan membantu rasa tegang ini lebih ringan. Jadi, mari kita selesaikan perjalanan ini. Ever onward, no retreat!

Melihat wajah Kang Ubai yang menyambut kami dengan ceria, pura-pura tidak mengkhawatirkan perjalanan kami yang berbahaya, adalah tindakan bijaksana. Kami jadi enggan membuat lebay cerita perjalanan tadi. Kami hanya tertawa-tawa saja selamat sampai di tempat tak kurang suatu pun. Kami rombongan pertama yang datang.

Taman Baca Multatuli berjejak pada daratan tak rata. Di depannya jalanan batu yang miring. Di sudut kelok jalan, panggung sederhana untuk acara sudah berdiri, menunggu dipakai.

Masuk ke Taman Baca Multatuli sudah tersedia penganan kecil, pisang mas mungil berkulit kuning cerah gendut, teko besar alumunium berisi teh dingin, kopi dan gula dan termos air panas dan gelas-gelas belimbing yang masih bersih. Linda Nurlinda, istri Kang Ubai, menyambut dan kami mengobrol santai. Kang Ubai mengeluarkan kopi Max Havelar yang dibawa oleh Kang Sigit. Saya memotretnya. Kang Ubai bercerita menarik tentang pengalamannya ketika survei di suku Badai Dalam. Wah, saya jadi tambah semangat.

Di rumah ada kamar kecil untuk kami perempuan berempat. Esther dan Leni tidur di dipan, saya dan Linda di lantai bergelar tikar. Ransel-ransel dan segala peralatan apa saja, kami pepetkan ke kolong dipan atau dinding. Jaket-jaket bergantungan di belakang pintu.

Di ruang belakang, ibu-ibu sibuk memotong sayuran, memasak dengan kayu pada tungku tradisional. Kamar mandi di ujung sana, dengan pintu kayu setengah badan. Airnya jernih, tak pernah habis. Hebat sekali tanah air ini. Segala dari alam berlimpah ruah.

Kang Ubai bilang di kampung Ciseel belum ada listrik. Tetapi pada setiap dua rumah, pemerintah daerah memberikan logam penangkap energi panas matahari, yang menyerap panas di siang hari, untuk penerangan di malam hari. Kekuatannya sekitar 20 watt.

“Kalau panas terik, lampu bisa dipakai mulai sore sampai pagi hari. Tapi kalau hari-hari mendung, nggak sampai tengah malam, lampu sudah mati,” kata Kang Ubai. Wahai romantis!

Kemudian Kang Sigit sibuk dengan tas kotak sulapnya. Beberapa permainan sudah pernah ditampilkan. Tapi bagi anak-anak Ciseel, semua aksi pastilah barang baru. Saya memeriksa wajah anak-anak dari arah panggung. Baju mereka berwarna-warni. Mata mereka terus tertuju ke depan. Beberapa kata yang diucapkan Kang Sigit, mungkin tak mengerti.

Uniknya, setiap kali satu pertunjukan usai, anak-anak itu tidak bergerak. Kalau diserukan, ”Tepuk tangan!” Baru deh mereka tepuk tangan. Saya pikir mungkin mereka masih malu. Tapi, sepanjang pertunjukan, itu yang terus terjadi. Mereka perlu digugah, ”tepuk tangan” atau ”hore”. Apa mereka tidak pernah nonton sulap? Atau belum mengerti mengekspresikan rasa senang atau kagum?

Selepas sulap, kami bersiap ke lapangan tanah merah dekat sekolah madrasah. Kursi-kursi kayu dikeluarkan dari kelas berjejer di depan lapangan tetapi tidak satu pun duduk di kursi itu. Semua penonton berdiri. Drama pendek Saijah dan Adinda sebentar akan dipentaskan. Sapi hidup sudah menunggu action sejak tadi. Ibu-ibu berdatangan. Saya bertanya ke satu ibu, dia mengaku anaknya ikut main dalam drama. Menurut si ibu, latihan drama tidak lama. Hanya sebulan. Dan lagi-lagi saya kagum, baju ibu-ibu yang datang melihat drama, sungguh berwarna-warni, seperti anak-anak tadi di depan panggung Kang Sigit. Tampaknya ini bukan dalam rangka menyambut acara Sastra Multatuli, tetapi sebuah keseharian. Waktu menonton, wajah-wajah warga bergembira. Mereka menyebut nama-nama pemain yang mereka kenal. Tukang dagang keliling mendadak berjualan. Ibu-ibu harus ekstra mengeluarkan uang jajan.

Anak-anak terus keluar dari balik panggung (baca: kelas) atas seruan Kang Ubai yang menjadi sutradara drama. Di tangannya membawa toa kecil dan ia mengenakan topi Belanda. Kostum anak-anak disesuaikan dengan peran masing-masing. Kalau orang Belanda, memakai setelan. Saijah dan Adinda mengenakan kebaya dan pakaian khas Banten. Ada adegan lucu. Waktu anak yang mengenakan kostum topeng harimau mulai beraksi masuk lapangan dalam rangka menakut-nakuti si sapi, keduanya sama-sama terkejut. Sapi kaget melihat wajah topeng yang berwarna terang. Harimau takut melihat tubuh besar sapi, meloncat sedikit ke belakang.

Anak-anak mengucapkan dialog dalam bahasa Sunda. Saya merinding mendengarnya karena saya dibesarkan di tanah yang berbahasa daerah Sunda. Daurie merekam drama dengan videonya. Katanya, ini pertama dalam sejarah, kisah Saijah Adinda dalam bahasa Sunda dijadikan drama. Benar juga. Ini harus diabadikan. Saya setuju ketika dia berjanji akan memasang rekaman di facebook agar seluruh dunia tahu kegiatan penting anak-anak sore ini.

Di akhir drama, Kang Ubai membacakan sajak berbahasa Sunda yang diambil dari episode Saijah dan Adinda di buku Max Havelar dalam edisi bahasa Sunda. Betapa indah dan sunyi.

Kami kembali ke Rumah Baca Multatuli. Makanan sudah siap digelar. Kami bersemangat makan karena memang sudah lapar. Wahai, ada hidangan jengkol dipotong kecil-kecil, dimasak dengan kecap dan cabai, tanpa kuah. Lalu ikan asin dan sayuran. Ervin, wartawan dari dari VHR.com (Voice for Human Rights), muncul.

Malam hari, panggung kembali ramai. Di jalanan berbatu orang duduk berjongkok siap menonton. Beberapa warga yang rumahnya di sekitar panggung, menonton dari jendela-jendela rumah yang terbuka. Ketika saya melihat kesatuan ini, sebuah pemandangan yang hebat. Lampu-lampu seperti sinar sorot. Masyarakat ke luar rumah, berkumpul untuk terlibat dengan apa yang sedang terjadi. Apa yang saya tonton malam itu seperti sebuah film tersendiri. Saya senang dengan situasi malam itu.

Ibu-ibu setempat memperlihatkan pertunjukan membunyikan lesung. Lagi-lagi kebaya mereka pun warna-warni. Kali ini lebih rapi. Mereka tidak tampak kagok bergerak di atas sana. Warga memberi celetukan-celetukan yang lucu dalam bahasa Sunda. Saya tertawa-tawa sendiri tetapi sulit menjelaskan artinya kepada kawan.

”Acara panggung seperti ini sudah sering ya, Bu?” tanya saya kepada satu Ibu.

“Nggak juga. Tapi sering juga sih,” jawab si ibu.

Ibu yang saya ajak ngobrol mengaku usianya mungkin 40 tahun. Dia sudah punya cucu. Dia dan suami bertani. Padinya cukup untuk dikonsumsi setahun, sebagian dijual. Saya ngobrol dengan ibu yang lain. Dari wajahnya tampak masih muda. Dia menonton dengan suami dan dua anaknya yang masih kecil. Dia bekerja membuat gula merah, dan suaminya yang menjual ke pasar. Saya tidak berani tanya, apa cukup untuk kebutuhan sehari-hari, Bu?

Tiba-tiba dua remaja putri mendekati saya. Mereka duduk bersisian di kiri saya, di sebuah batang kayu di atas batu-batu. Wajah mereka manis dan harum bedaknya segar.

”Bu, memangnya mencapai cita-cita itu susah ya?” tanya salah satu.

Wah, saya tidak sangka pertanyaan seperti ini.

”Iya, bisa susah, bisa gampang juga,” jawab saya bingung.

”Oh gitu. Kalau Ibu cita-citanya apa?”

”Hm, saya cita-citanya jadi penulis. Sekarang saya sudah jadi penulis,” jawab saya.

“Memangnya Ibu nulis apa?”

“Nulis apa aja. Laporan, cerita pendek.”

”Oh gitu.”

”Memang kamu cita-citanya apa?” tanya saya.

”Jadi guru.”

”Oh, bagus dong. Pengennya jadi guru apa?”

“Guru bahasa Inggris.”

Lalu saya bertanya beberapa pertanyaan dengan bahasa Inggris, dia menjawab dengan berani. Temannya senyum-senyum saja.

“Wah, bahasa Inggris kamu bagus. Kamu pasti bisa jadi guru yang baik,” kata saya.

Wajahnya sumringah. “Tapi, Bu. Saya nggak tahu juga. Orang tua saya apa bisa menyekolahkan saya ke sekolah guru,” katanya sendu.

”Kamu sekolah aja dulu dengan rajin. Nanti kalau lulus dengan nilai bagus, pasti ada jalan.”

Dia tersenyum-senyum sambil manggut-manggut. Lalu saya tanya apakah akan pergi ke Serang besok. Mereka menjawab iya dengan semangat.

 

Sabtu, 14 Mei

Pagi tiba. Yoga di dekat sungai, di bawah tebing. Kang Sigit memperlihatkan yoga gaya lilin. Anak-anak menonton, setelah itu mencoba sambil tertawa-tawa. Daurie seperti biasa, merekam acara. Saya dan Linda yoga sendiri di batu-batu besar di atas kali, sambil saling memoto dengan kamera masing-masing. Simbiosis mutualisme.

Lalu acara mandi. Dengan Esther dan Leni, saya mandi di MCK, sekitar 30 meter dari rumah. Tidak begitu bersih, tetapi menyenangkan karena air berbual-bual. Ada dua kamar mandi. Pintunya sudah tidak sempurna dan bolong-bolong. Lumayan, bolongannya bisa untuk disempal sekaligus menaruh baju. Ibu-ibu mencuci di ruang cuci dengan bak cuci sebesar bagong. Anak perempuan kecil ikut membantu dengan bermain-main sabun.

Kang Ubai mengumumkan bahwa acara ke Serang akan dilakukan dengan naik truk. Katanya, truk akan menjemput kami ke titik yang tidak begitu jauh. Saya lega mendengarnya karena tidak perlu jalan terlalu lama.

Anak-anak sudah menunggu di depan Rumah Baca sejak kami sarapan. Semalam sebelum menutup acara di panggung, Kang Ubai sudah mengingatkan mereka membawa bekal makan dan minum untuk tur ke Serang. Setelah ada aba-aba dari Kang Ubai berangkat, mereka cepat pergi. Mungkin tidak sabar melihat kami yang tampaknya banyak urusan.

Kami berjalan ke arah kemarin kami datang dengan ojeg. Matahari hangat bersahabat. Kami berjalan penuh semangat. Saya berjalan sejajar dengan Linda, Husni, Ervin. Saya tanya Ervin, bagaimana tiba di Taman Baca Multatuli. Ternyata rute yang dipakai Ervin sama dengan kami.

”Si tukang ojeg minta ongkos 50 ribu, tapi saya kasih 100 ribu,” kata Ervin.

”Oya? Alasannya?” tanya saya.

”Dia nggak bikin aku takut. Kalau dipikirin, kemarin itu bahaya banget. Tapi sambil ngojek, dia santai aja cerita anak istri dan lain-lain.”

Kami melewati sungai besar di bawah sana. Bagus dan deras. Kami berempat saling berfoto dan memoto. Begitulah seleribtas ibukota kalau nggak jadi. Tetapi tampaknya perjalanan ini seperti tak berujung. Sampai di satu poin, terdengar rumor bahwa truk yang sedianya akan menjemput di titik terdekat, tidak bisa masuk karena jalan ditutup. Artinya, kami harus berjalan setengah perjalanan lagi dari sekarang.

Kang Ubai menjelaskan berita buruk itu dengan ceria. Ya, baiklah. Baju saya sudah basah dengan keringat. Husni berbaik hati memanggul ransel saya. Tetapi dia menitipkan jaketnya juga di sana.

”Sebentar lagi, kok, sebentar,” kata Kang Ubai terus menerus.

Saya tertawa melihat Linda, sang istri cemberut mendengan komentar suami tercintanya.

“Ah si Ayah mah, sedikit lagi sedikit lagi dari tadi. Nggak nyampe-nyampe.”

Selesai jalanan batu, kami istirahat sebentar, berfoto dengan latar belakang sawah hijau. Di depan kami jalanan tanah yang menanjak. Kata Kang Ubai itu untuk jalan potong, lebih dekat ke truk yang sedang mangkal menunggu kami.

Kali ini pun tak sampai-sampai. Mana jalan menarik terus. Otot-otot paha mulai kacau koordinasinya. Saya betul-betul capek tidak bisa melangkah. Leni sudah agak jauh di depan. Dia pun tampak mulai kepayahan. Saya dan Linda sejajar. Husni di belakang sesekali duduk merenungkan perjalanan.

Tiba-tiba datang satu motor, “Naik, Mbak.” Wah, ini pasti kiriman Kang Ubai. Saya ajak Linda untuk ikut naik. Wajahnya langsung cerah. Kami bertiga naik motor. Ternyata untuk sampai ke truk, masih jauh. Astagfirullah!

Sampai di lokasi, Kang Ubai senyum-senyum. Sudah ada Endah yang tampil manis dengan topi turisnya. Lalu cium pipi kiri-kanan dengan Mas Kef. Tak tahu dia bahwa saya baru saja berkeringat. Mereka berdua tiba dari Jakarta. Saya tak sempat mengeluh capek karena sulit juga menceritakan dalam situasi itu. Kami bertiga, Endah, Linda, saya, mendapat keistimewaan duduk di samping pak sopir truk. Teman-teman lain dan anak-anak berdiri di belakang. Di satu tempat, ada tambahan mobil colt bak terbuka. Beberapa pindah ke situ supaya tidak terlalu sesak.

Jauh juga untuk sampai di Serang. Di jalan sempat dihadang polisi yang bilang, truk berisi penumpang itu berbahaya. Untung semua teratasi dengan baik, meski pembicaraan teman-teman dan polisi tampak alot.

Truk sampai di Pemda Serang. Di sana ada gadung Aula Multatuli. Waktu sudah hampir pukul 2 siang. Di depan Aula ada satu pendopo yang luas dan terbuka. Kami beristirahat di sana. Linda dengan sigap membuka perbekalan. Kang Ubai tiba-tiba sudah membeli telur balado, gorengan, dan rempeyek. Kang Sigit memberitahu anak-anak untuk beristirahat dan membuka bekal masing-masing.

Nasi-nasi yang dibungkus daun pisang digelar panjang. Linda menaruh lauk-lauk di masing-masing tumpukan besar nasi. Kami ngariung dan makan dengan cepat. Lupa segala rupa karena lapar. Mungkin ada juga yang lupa cuci tangan. Mas Kef suka jengkol. Beberapa kali tangannya nyebrang ke daun pisang tetangga, menarik jengkol. Lalu nasi beserta lauk pauknya lenyap. Entah siapa yang menghabiskan kecuali kami semua.

Pak Nasir dan anaknya Vito ikut bergabung. Katanya tahu acara ini dari milis Apresiasi Sastra. Vito dengan segera bergabung dengan anak-anak lain. Kang Ragil juga sudah sudah kelihatan.

Setelah sebentar beristirahat, Kang Sigit sibuk dengan toa memberi tahu tip-tip untuk menulis nanti, apa yang mesti dicatat. Anak-anak akan mulai tur Multatuli yang dipandu Kang Ubai. Tampak Kang Ubai siap benar. Anak-anak sibuk mencatat. Ada yang sambil terbungkuk-bungkuk, entah mencatat apa di bukunya.

Lalu kami ke luar area pemda. Saya dan Endah menyusul kemudian. Pergi ke toko obat Multatuli, masuk ke satu rumah sakit yang menghubungkan dengan rumah Multatuli yang hanya tinggal kerangka dinding. Satu dokter berseragam putih memperhatikan kami berfoto-foto di depan dinding. Dia bertanya, ada apa? Lalu Husni menceritakan kegiatan sastra kami dan tentang Multatuli. Dokter itu tampak tertarik, tidak menyangka ada sejarah penting di dekat rumah sakit tempat dia bekerja.

Anak-anak terus ke perpustakaan Multatuli, SD Multatuli, sementara saya dan Endah sudah kecapekan. Kami kembali ke Balai Kota. Sebelumnya foto-foto di satu nama Jalan Multatuli. Kembali ke pendopo, Mas Kef dan Pak Nasir sedang tidur berbaring. Saya mengikuti berbaring. Juga Endah. Sempat tidur sebentar. Lalu bangun.

“Enak ngopi kali, ya?” tanya Mas Kef.

”Yuk!” sambut Endah langsung.

”Iya tapi di mana ya?”

Kami berbaring lagi. Saya dan Endah bercerita dengan suara pelan. Sunyi terasa. Awan di atas sudah kelabu. Tampaknya sebentar lagi akan hujan. Seharusnya anak-anak cepat kembali. Perjalanan pulang masih jauh.

Akhirnya rombongan muncul ketika hujan sudah rintik-rintik. Tidak bisa tidak. Kami harus cepat pulang. Endah, Linda, saya, masih duduk di sisi supir. Teman-teman dan anak-anak di belakang, kehujanan. Untung ada terpal sudah disediakan kru truk. Tapi itu masih membuat basah.

Sampai di Pasar Ciminyak, kami bertemu Pak F Rahardi dan dua kawannya. Sekarang bergabung dengan kami di atas truk. Pak Sopir mengantar kami ke satu titik, yang katanya paling dekat ke Ciseel. Saya berdebar membayangkan medan yang sulit. Sampai di tempat truk menurunkan kami, hari sudah nyaris magrib. Hujan berhenti. Saya benar-benar berdebar dengan perjalanan pulang karena kaki saya sudah pegal bukan main.

“Jalan cepat. Sebentar lagi hujan,” kata pak sopir. Menurut kabar, meskipun ini jalan terdekat, tapi kami akan melewati sungai. Aduh, hati saya ciut mendengarnya.

Rombongan berjalan. Tiba-tiba saya sudah berjalan dengan Kang Sigit, bercerita-cerita sedikit. Kemudian hujan turun deras, dan deras sekali. Saya membuka payung merah saya, lumayan membantu menahan hujan langsung ke topi di atas kepala. Saya makin berdebar. Semoga saya tidak menyusahkan siapa-siapa. Otot-otot kaki saya terasa keras, dan sekarang kami berjalan turun, di jalan berbatu-batu, dan ini rasanya lebih sulit. Air dari belakang kami, mengalir deras berwarna cokelat. Beberapa teman yang mengenakan sandal mencopotnya dan berjalan menyeker. Dalam kesadaran saya bisa merasakan kami berjalan cepat, meluncur turun. Kang Sigit memegang tangan saya. Saya mulai mengkhawatirkan ketahanan diri sendiri dalam hujan. Lalu memikirkan Endah dan Mas Kef dengan ransel mereka, dan Endah yang membawa laptop.

Untunglah saya terus berjalan dengan Kang Sigit dengan dua atau tiga anak. Rombongan lain entah di mana. Hujan turun masih deras sementara gelap sudah menyergap. Tiba di satu rumah yang tampak kosong, Kang Sigit mengajak ngaso. Kami melihat tidak ada orang lewat. Kemana rombongan lain? Karena hujan tampak takkan berhenti, Kang Sigit memutuskan terus. Saya mendengar anak-anak itu saling berbicara dalam bahasa Sunda.

“Kudu ayeuna, buburu. Nngke kaburu caah,” kata satu anak.

”Mas, kita harus cepat. Nanti air sungai tambah pasang,” kata saya menerjemahkan kepada Kang Sigit.

Kami jalan lagi. Sepertinya saya melihat Husni berjalan sendirian di depan sana. Kaos hitamnya bergerak tapi kemudian dia sudah tak tampak lagi. Lalu kami melewati seperti pagar. Kata anak-anak itu, kami akan melewati jalan pintas. Melihat jalan yang sempit dan menuju pematang sawah, Kang Sigit bertanya kepada anak-anak itu, ”Kamu yakin ini jalannya, De?” Mereka mengangguk.

Di jalan yang rata, kaki saya sepertinya keram, tak bisa bergerak. Saya kepengen menangis, dan tidak bicara lagi.

”Tunggu dulu. Kakiku sepertinya keram,” kataku.

”Jangan dipaksakan. Kalau tidak kuat, kita menginap saja di rumah penduduk sini,” kata Kang Sigit. Lalu dia memberi energi dengan kedua tangan di bagian yang keram. Saya tidak tahu itu gejala apa, tapi kaki sulit diajak melangkah.

Anak-anak menunggu.

“Tasnya saya bawa, Bu?” tawar satu anak. Mungkin dia mencoba menghibur. Lalu saya setuju. Saya serahkan ransel saya kepadanya. Dan sekarang saya tanpa beban.

Kami berjalan lagi, di pematang sawah. Ala mak jang perjalanan ini! Untung bulan terang, kami bila melihat langkah di bawah. Mata saya tidak ke mana-mana kecuali ke arah kaki saya melangkah. Kang Sigit memegang saya. Anak-anak itu gesit sekali berjalan.

Lalu, tibalah kami di sungai yang dimaksud. Lebar. Tiba-tiba anak-anak itu sudah menghilang, ada seorang dewasa di seberang sana, membawa senter. Katanya itu orangtua dari salah satu anak. Tapi, memandangnya dari seberang sungai di sini, bapak itu di seberang sana, berdiri tegak, memberi sensasi berbeda kepada saya yang penakut. Kalau tidak ada Kang Sigit, mungkin saya sedang bermimpi saya tersesat.

Kami masuk ke dalam sungai. Airnya sampai ke paha, di tengah sungai, hampir ke perut. Ketika berada di tengah air, saya tidak mau berpikir apa-apa. Benar-benar tidak ada pilihan. Anak-anak benar-benar menghilang. Mungkin mereka tidak sabar dengan leletnya saya berjalan. Dan satu bapak yang sekarang menjadi pemandu kami, sama sekali tidak berbicara. Waktu saya tanya, ”Masih jauh, Pak?” Dia tidak menjawab. Saya putus asa.

”Tampaknya dia tidak bisa bahasa Indonesia,” kata Kang Sigit dalam bahasa Inggris.

Kemudian saya tidak bertanya lagi. Dari sungai tadi, sekarang kami menanjak, terus naik. Kaki saya seperti tidak bisa lagi merasa. Ada beberapa langkah bahkan dengkul saya seperti hendak sampai ke dahi saya saking tingginya. Saya tidak melihat ke arah lain kecuali kaki tempat saya melangkah. Pada satu titik, saya mendengar suara sungai yang deras sekali di telinga saya, di sisi kanan. Berarti kami berada di satu ketinggian yang kalau salah jalan, akan kecebur ke sana.

Si bapak itu terus memandu tanpa suara, kecuali dengan sinar senternya. Lalu sepertinya terdengar suara motor atau suara orang-orang. Kita sudah dekat, kata Kang Sigit. Lampu-lampu yang tadinya saya pikir motor, ternyata kunang-kunang yang berlarian terbang. Kami terus naik dan saya sempat menyangka kami salah jalan. Tidak mungkin sejauh ini. Apalagi kata si anak, kami melewati jalan pintas.

Lalu sampai juga kami ke mulut jalan berbatu, yang sepertinya dekat dengan MCK tempat saya mandi tadi pagi. Beberapa anak yang ikut dengan kami, sudah mandi dan berbedak. Saya mengerutkan kening, bagaimana bisa? Saya benar-benar jengkel. Apalagi ada pertanyaan, “Baru sampai, Bu?”

Sampai di Rumah Baca. Orang-orang sudah duduk bergelar. Endah dan Mas Kef juga. Mbah Jamali sudah duduk di tikar dengan senyumnya. Oh, saya benar-benar tidak percaya apa yang baru terjadi ini. Syukurlah saya dan Kang Sigit telah melewati satu ujian berat. Tampaknya hanya saya yang kepayahan. Kang Sigit terus saja bergerak, seperti Kang Ubai.

Saya mandi dan membalur tubuh dengan kayu putih. Oh kaki yang berat! Kaum ibu sudah menyiapkan makan malam. Saya gembira ada sup sayuran. Saya minum teh panas berkali-kali. Wah, hangatnya terasa. Tidak sempat banyak mengeluh, berkenalan dengan beberapa teman yang baru datang. Ada Ninduparas Elang dan istrinya datang dari Serang. Saya membaca beberapa cerpennya di Milis Apresiasi Sastra.

Malam ini Kang Ragil dan Pak F Rahardi akan berbicara tentang Multatuli dan Petani dan Pramoedya. Panggung sudah memanggil-manggil. Warga yang mengisi acara sudah terdengar tampil sejak tadi. Kang Ubai dan Kang Sigit sudah di sana. Selesai makan, saya dan Endah keluar, menonton di panggung. Tapi baru sebentar saja di sana, kaki benar-benar tidak bisa diajak komproni. Saya berusaha duduk, sakit, berdiri apalagi. Akhirnya saya pamit kepada Endah untuk beristirahat lebih dulu. Saya bahkan tidak sempat melihat Kang Ragil dan Pak F Rahardi naik panggung.

Di kamar, saya langsung tertidur. Rupanya Esther dan Leni juga. Kami tak sempat berbagi cerita penderitaan ketika di jalan tadi. Sekarang di lantai kami bertiga. Endah, Linda, saya. Tengah malam saya seperti mendengarkan orang-orang masih berdiskusi di luar kamar. Tapi mata saya tidak bisa terbuka lagi. Nyenyak sampai pagi.

 

Minggu, 16 Mei

Pagi Endah dan saya bercakap. Linda mendengarkan. Dia dan Mas Kef sore nanti selesai dari perjalanan ke Badui Dalam akan langsung pulang.

”Kau mau ikut kami pulang nanti sore atau besok Senin?” tanya Endah.

Saya dan Linda saling berpandangan. Antara masih ingin tinggal tetapi memikirkan medan perjalanan, bukan lagi ide yang menarik. Saya memilih ikut pulang ke Jakarta. Linda bilang, dia pun hari Senin harus mengajar. Dia berdiskusi dengan suaminya, Kang Ubai setuju. Jadilah kami harus bebenah, langsung bawa perlengkapan karena kami tak kembali ke Ciseel. Saya katakan hal ini kepada Esther dan Leni, mereka hanya mengiyakan.

Anak-anak semangat. Mereka sudah menunggu di depan Rumah Baca untuk tur ke Badui Dalam. Kebanyakan dari mereka memang belum pernah juga ke sana. Tampaknya kali ini rombongan lebih besar. Beberapa anak muda akan berkonvoi dengan motor mereka.

Kami akan melewati rute semalam, lengkap dengan sungainya tentu saja. Tetapi tidak jalur yang saya dan Kang Sigit lewati semalam. Pak RW yang masih muda itu pun ikut dalam rombongan. Melewati sungai, kali ini airnya lebih pendek dan ternyata indah dan pemandangannya luas. Kami foto-fotoan.

Hari ini sungguh gembira. Kami berjalan perlahan menanjak sambil bersahut-sahutan. Kang Sigit melemparkan cerita-cerita lucu. Sepatu yang masih basah semalam saya pakai lagi. Sepertinya kulit jemari kaki saya lecet-lecet sehingga dipakai berjalan agak sakit. Belum sampai setengah perjalanan sudah capek betul rasanya. Akhirnya lagi-lagi saya naik ojeg, diantar ojeg pak RT, yang rumahnya kami tinggali. Mbah Jamali tidak banyak omong, tapi berhasil sampai ke tujuan tanpa pertolongan ojeg. Benar-benar hebat di usianya yang senja masih kuat seperti itu. Pak F Rahardi juga menolak naik ojek, bertahan berjalan sampai di tempat truk sedang menunggu.

Anak-anak yang semangat. Mereka selalu sudah sampai lebih dulu. Di titik truk menunggu, kami berfoto-foto gembira. Tak terasa pegal-pegal. Hilang pedih perih. Tertawa-tawa. Menertawakan medan.

Sekarang kami siap berangkat. Masih dengan satu truk besar satu pick-up kecil. Saya, Endah dan Linda masih di samping sopir. Kami menuju Cijambu, baru dari sana berjalan menuju kampung orang Badui Dalam. Perjalanan makan waktu tiga jam. Di satu jalan Endah turun di belakang bersama anak-anak. Sopir kami sangat lincah dan tahu jalan. Dia memandu di depan, kadang-kadang pick up terbuka di depan.

Di Cijambu kami mampir di rumah yang panggung yang cukup besar. Dua minggu lalu rombongan Jerman menginap di sini, kata si ibu pemilik rumah. Endah menyarankan saya untuk pakai sandal saja. Si ibu pemilik rumah menjual sandal. Saya beli harganya Rp10.000.

Kang Ubai membersihkan terpal lalu membentangkan di atas tanah halaman rumah. Dengan segera kami duduk di sana. Makanan bekal yang dibawa dari Rumah Baca, digelar. Anak-anak membuka bekal masing-masing. Semua harus cepat karena waktu terus berjalan. Pak Rahardi makan terpisah di atas daun pisang, di atas sana.

”Baru kali ini saya makan seperti orang kaya. Habis makan piringnya langsung dibuang,” katanya.

Setelah itu kami bersiap diri melakukan perjalanan, yang kata Kang Ubai dekat. Kang Ubai kembali melakukan briefing dengan anak-anak. Mas Kef memberi tip-tip menulis, juga Pak Rahardi. Kang Ubai bilang nanti setelah sampai di Badui Dalam, jangan terlalu ribut dan jangan memotret kecuali diperbolehkan. Anak-anak lalu bergerak. Seperti biasa saya berjalan dekat-dekat Linda, kali ini dengan Endah, Mas Kef, dan Pak Natsir.

Kami melewati tempat yang luas, kadang-kadang naik seperti bukit. Banyak pohon pisang di kiri kanan jalan. Kadang-kadang kami berpapasan warga Badui dari arah bertentangan sedang menenteng dedaunan di pundak mereka. Kaki mereka tidak pakai alas. Mereka pun tidak terlalu memperhatikan kami, terus berjalan.

Kaki yang belum sembuh pegal, kini masih naik turun jalan lagi. Di jalan kami bertemu dengan anak muda Badui Dalam. Namanya Sarman. Raut wajahnya seperti Cina. Bajunya putih yang sudah meredup. Rambutnya hitam tebal sebahu. Matanya hitam. Dia terus tersenyum, menjawab pertanyaan-pertanyaan Pak Natsir. Ketika ditanya umur, dia menjawab 40 tahun. Kami tertawa mendengarnya. Pak Natsir memberi dia beberapa permen. Sarman mengantongi beberapa dan terus mengunyah permen. Ia mengaku tidak pernah sekolah dan ingin pergi ke Jakarta.

Sepertinya kami tertinggal jauh di belakang.

Kami tiba di kampung Cikeusik suku Badui Dalam. Rumah-rumah mereka panggung. Sunyi. Tak ada suara-suara. Hanya ada warna atap yang hitam, lalu dinding rumah bambu kelabu, dan tanah yang sudah mengeras. Tidak ada warna lain. Saya melihat ada seorang gadis remaja sedang menampi beras. Begitu melihat kami, dia segera masuk.

Lalu ada dua anak kecil di lapangan, memandangi kami tak bersuara. Juga tak ada ekspresi. Ketika saya memotret gambar mereka, saya didatangi seorang Badui dan berkata, jangan mengambil gambar. Saya meminta maaf. Lalu bapak itu kembali duduk dengan mengobrol yang sepertinya tamu dan seorang perempuan muda berwajah bule. Ketika saya melihat ke belakang, saya kesal karena si bapak yang menegur saya tadi sudah berpotret dengan Pak Natsir.

Lalu saya mendengar seorang laki-laki berkata, “Kalau bilang jangan memotret, harus ke semua orang, termasuk orang televisi. Jangan ke yang satu bilang iya, ke yang lain bilang tak boleh.”

Bapak orang Badui itu diam saja tak menjawab.

Esther, Leni, dan saya sempat berfoto dengan latar kain Badui yang sedang dijemur. Tak lama Kang Ubai menginstruksikan untuk kembali karena hari sudah sore. Waduh, rasanya baru lima menit di sana. Kami kembali dan melewati lagi satu jembatan gantung.

Di jalan, kami berpapasan dengan gadis Badui yang cantik, seperti bintang film saja. Kulitnya putih pucat, memakai pakaian hitam, dan memanggul kayu bakar. Kakinya tak beralas.

“Foto, Mas Kef,” bisikku.

“Ih, cantik banget,” kata Mas Kef.

Mas Kef bersiap dengan kameranya, si gadis cantik tersenyum manis. Gigi depannya tampak rata, seperti perempuan Bali. Matanya hitam.

“Jangan foto, jangan foto,” katanya sambil tersenyum. Akhirnya tak satu pun dari kami mengambil fotonya.

Di jalan, hujan turun lagi. Beberapa teman memotong daun pisang dan menjadikan payung. Tanah merah sangat lengket saat basah. Ketika akan melangkah terasa berat. Endah bilang, buka sandalmu. Saya lihat teman-teman lain juga begitu. Jadi saya lepas sandal. Tanah sangat licin dan kadang-kadang jalan jadi seperti meluncur. Seru juga. Biarkan saja hujan dengan semangat mengguyur kami. Saya menitipkan kamera kepada Leni yang tas selempangnya di dalam sudah diselimuti plastik sehingga pasti aman.

Kang Ubai dan anak-anak sudah berteduh di satu pondok di tengah ladang. Mereka sedang berdiskusi akankah meneruskan ke suku Badui Dalam di daerah Cibeo. Katanya tidak terlalu jauh. Tapi saya sudah curiga dengan istilah dekat versi Kang Ubai. Semoga anak-anak tidak memilih pergi. Ternyata anak-anak tertantang ke sana. Setelah anak-anak siap, eh Kang Ubai malah membatalkan. Alasannya sudah sore. Anak-anak bersorak. Kami semua ikut bersorak. Syukurlah Kang Ubai akhirnya sadar bahwa kami (baca saya) sudah capek betul.

Akhirnya kami kembali ke pondok tempat truk berhenti. Sempat minum kopi dengan Endah dan Mas Kef dan seorang teman lain. Vito dan Sarman tampaknya sudah menjadi kawan. Mereka sempat berenang di sungai.

Kami bersiap pulang. Sampai di pasar Ciminyak, kami berhenti sebentar. Saya, Endah, Linda, bersiap dengan barang masing-masing, akan ke Jakarta nunut Mas Kef. Kami ganti baju kering di toko Alfa di sana, setelah membeli beberapa makanan.

Tibalah saat perpisahan. Berat juga. Pak Rahardi dan rombongan juga tidak kembali ke Ciseel. Kami yang akan ke Jakarta menyalami semua. Selamat nonton film Max Havelaar yang diimpor dari Belanda ya. (Tapi sebelumnya, selamat berjuang untuk kembali ke medan yang berat sampai kembali ke Rumah Baca).

Di mobil Mas Kef, kami mengulang cerita-cerita. Kaki seperti sudah tidak bisa bergerak. Tapi pakaian kering membuat saya merasa bersih dan nyaman. Mas Kef yang baik. Dia masih harus menyetir sepanjang tiga jam perjalanan bahkan lebih. Pak Natsir menawarkan diri menjadi sopir pengganti. Kami mencari tempat makan berkuah-kuah hangat. Kami tiba di satu tempat bakso. Kami turun makan. Lumayan perut hangat. Terimakasih karena Pak Natsir yang mentraktir.

Di jalan hampir perempatan Yasmin, Bogor, dekat kawasan Dramaga, Linda Nurlinda turun. Kami semua berpesan untuk berhati-hati, karena waktu itu sudah hampir pukul 2100. Dia yakin dia akan mendapat kendaraan yang aman sampai rumahnya.

Mas Kef terus bertahan menyetir sementara saya sudah tidur satu babak. Ketika sampai di depan rumah, kaki tambah enggan bergerak. Terimakasih, Mas Kef. Dia dan Endah kemudian meluncur pergi. Di rumah saya tampaknya langsung tidur dan tidak bergerak.

Seperti jadwal acara Kang Ubai, Sastra Multatuli tak ingkar janji memberi pengalaman mengesankan. Salut untuk keteguhan Guru Ubai membina anak-anak dan warga mengenal sastra dan Multatuli. Terimakasih warga Ciseel. Teruslah membaca. Salam Sastra Multatuli untuk kita semua yang sudah melakukan perjalanan ini. Sampai jumpa tahun depan.

 

Itasiregar, 28 Juli 2011 dini hari

 

3 Comments to "Sastra Multatuli Tak Ingkar Janji"

  1. J C  2 August, 2013 at 06:33

    Tidak terbayangkan di tempat seperti ini hidup sastra Indonesia dengan kuat…

  2. Dj. 813  2 August, 2013 at 03:44

    Doea.
    Satra Mutatuli.
    Salam,

  3. Handoko Widagdo  1 August, 2013 at 07:55

    Melihat kondisi, memang layak Multatuli lahir di tempat ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.