[The Nanny] Kisah Seorang Asri

Dian Nugraheni

 

Asri namaku, 40 tahun usiaku..Nanny di sebuah keluarga bule, profesiku. Itu, sekarang, saat ini, 6 tahun terakhir ini, ketika aku sudah berada di Amerika…

Kalau ditanya, siapa sih yang mau jadi Pembantu…? Kerja keras dan kasar di rumah orang, belum tentu juga bayarannya layak. Itu yang terjadi padaku, lebih 6 tahun silam lalu, ketika aku adalah Tenaga Kerja Wanita yang mengadu nasib berangkat ke Saudi Arabia.

Ya.., Saudi Arabia..banyak cerita tentang TKW Indonesia di sana, niat hati ngin mencari Real, tapi malah menuai banyak sial. Kalau nggak sial karena pekerjaan yang terlalu banyak, terlalu berat, sial karena nggak dikasih makan selayaknya, belum lagi digalakin Nyonya Rumah, dicabulin dan diperkosa Tuan Rumah atau anak-anak lelakinya yang beranjak dewasa, nggak boleh berhubungan dengan keluarga di Indonesia, dibunuh, dan yang paling sering terjadi..gaji ditahan-tahan alias tidak dibayarkan tiap bulan. Padahal, keluarga di kampung, nggak mau tau, pokoknya minta dikirim uang tiap bulan.

Di Saudi, aku mendapat Tuan yang berkedudukan di negerinya. Seragamnya seperti tentara di Indonesia. Tapi aku nggak tau pasti..apa dia benar tentara, atau seorang satpam..hampir sama sih penampilannya.

Rumahnya gede, tapi lebih luas lagi halaman belakangnya. Ada beberapa pembantu di rumah si Tuan, tapi anak gadisnya minta aku yang melayani segala keperluannya.

Sampai ketika si anak gadis ini kuliah di Amerika, aku dibawanya serta untuk menemani dan melayani gadis belia berhidung lancip itu, Aliya namanya.

Di Amerika, aku menemani non Aliya tinggal di sebuah apartemen two bedroom, apartemen berisi 2 tempat tidur, dengan dapur, kamar mandi dan ruang tamu, (Aliya nggak keberatan aku panggil Non.., sebisanya aku jelaskan, bahwa Non adalah sebutan untuk gadis belia yang cantik.., dan Aliya tertawa-tawa senang).

Awalnya, aku sering menemani Non Aliya belanja kebutuhan sehari-hari di sebuah mini market dekat apartemen, tapi lama-lama, non Aliya sering belanja sendiri, sedangkan aku hanya di dalam rumah, tak boleh keluar tanpa sepengetahuan si Enon. Keluar rumah paling juga di parkiran bawah apartemen, nyuci mobil si Enon, itu pun ketika si Enon ada di rumah. Hidupku terkurung, dan hanya diam seribu kata, kecuali ditanya oleh si Enon, maka aku menjawab.

Dengan begitu, aku merasa semakin kesepian, dan tentu saja pelan-pelan menjadi nggak krasan. Sampai pada suatu pagi, ketika aku mencuci mobil, ada seorang lelaki yang juga sedang mencuci mobil, berbicara dengan seorang perempuan… dan mereka bicara Bahasa Indonesia… Subhanallah.., mak plong hatiku.., ternyata ada orang dari Indonesia di sini. Tiba-tiba kebekuan di hatiku mencair..seneng banget rasanya…

Singkat kisah, aku memperkenalkan diri sambil bisik-bisik, takut ketahuan si Enon.., karena Enon sudah wanti-wanti “don’t talk to stranger..”, nggak boleh ngobrol sama orang yang nggak dikenal..berbahaya, gitu katanya. Intinya, aku bilang, aku nggak krasan. Dan si Mas Indonesia bernama Agus itu, menyarankan aku untuk ngabur aja dari apartemen si Enon..”ntar gampang deh.., saya bisa nyariin penampungan..dan saya nggak minta imbalan..kasian aja sama si Mbak dikurung gitu..” kata Agus..

Aku nggak langsung mengiyakan. Masih bimbang, karena sepeser pun aku nggak pegang uang. Kata si Enon, gaji akan diberikan pada bulan ke enam setelah tiba di Amerika, sekarang, baru bulan ke empat.

Lain waktu, aku ketemu mas Agus lagi..aku mau nyuci mobil, mas Agus mau pergi sama mbak Hana, istrinya. Aku bilang, aku mau ngabur, tapi aku nggak pegang uang sedikit pun. Eh, malah mas Agus bilang..”nggak apa-apa, malah kebetulan, bisa jadi alasan bahwa kamu ngabur karena nggak dibayar..”

Akhirnya, dengan membawa baju seadanya, aku bener-bener ngabur ditolongin mas Agus. Non Aliya..wes mbuh..aku nggak ngerti kisah selanjutnya tentang si Enon. Maafin Asri, ya Non, Asri bener-bener nggak tahan hidup sepi dikurung tiap hari begini..Asri kan juga manusia, pengen bergaul dengan sesama manusia lainnya.., mana gaji juga nggak dibayar-bayar lagi…

Benar juga, aku ditampung di rumah orang Indonesia lainnya, namanya Pak Siregar, dicarikan pekerjaan, dan mulai bulan selanjutnya, aku disuruh bayar ongkos menginap di rumahnya sebesar $300, tigaratus dolar. Halah..akeh men to..$300 dolar itu sebulan gaji yang aku harusnya dapatkan ketika ikut Non Aliya, tapi nggak pernah aku terima sampai hari ini.

Jadilah aku seorang pemomong anak bule umur 2 tahun. Sebutan kerennya, aku adalah Nanny Live in..Nanny yang menginap di rumah Tuannya. Tuan dan Nyonya sepertinya orang pintar dan terpandang. Tiap hari berangkat kerja pakai mobil sendiri-sendiri, dan pakaiannya selalu jas neces rapi dan wangi. Aku diberi makan dengan baik, dan Tuan serta Nyonya juga berperilaku sangat baik. Sopan. Nggak pernah bentak-bentak. Dia banyak bilang “I’m sorry.., thank you..”..gitu-gitu deh.., mak nyus hati ini rasanya.

Gajiku $1400, seribu empat ratus dolar, atau setara dengan Rp. 14 juta kalau satu dolar dihitung Rp. 10.000,- di Indonesia.. Meskipun Live in, tapi hari Sabtu sore hingga Minggu sore, aku diberi libur. Biasanya aku pulang ke rumah pak Siregar, karena aku tetap bayar sewa menginap tiap week end, $150 dolar sebulan. Aku dapat sebuah kamar, kecil, berbagi dengan kawan lain dari Indonesia yang juga ditampung Pak Siregar. Atau, terkadang juga hang out, dan menginap di apartemen Nanny lain (aku sudah mulai punya banyak kawan, sesama orang Indonesia..)

Nahh, sekarang, usia momonganku sudah 8 tahun. Sally, telah menjadi gadis cilik cantik berambut ikal, dan dia lebih lengket padaku daripada dengan Ibunya yang sibuk bekerja hingga malam. Aku baginya, bukan lagi Nanny, tapi kawan sehari-harinya. Menyiapkan bajunya ketika mau ke sekolah, sarapan pagi, menemani belajar, dan kadang-kadang jalan-jalan di sekitar rumah. Gajiku sudah $2000, dua ribu dolar, atau setara dengan Rp.20 juta bila satu dolar dihitung Rp. 10.00,- di Indonesia…

Ini Amerika, Bung..! Time is money, kata orang pintar…ya..ya.., gaji 20 juta, bukan uang yang sedikit, kerjaku cuma momong, diperlakukan dengan baik, malah diajari ngomong bahasa Inggris sama Sally. Pegawai Negeri di Indonesia, apa gajinya ada yang 20 juta, ya..? Hmm.. mana ku tahu..?

Gajiku $2000 juga nggak kalah kok sama gaji, misalnya, mas Danu..mantan Pramugara yang pakai visa Turis ke Amerika, dan akhirnya malah nggak mau pulang ke Indonesia, alias jadi pendatang ilegal.., dia kerja di restoran Malaysia, gajinya cuma $1600.., padahal mas Danu orang kuliahan, dan aku cuma lulusan SMP…

Di sini, aku sudah nggak canggung lagi party-party dengan orang-orang Indonesia lainnya yang ada di Amerika. Ulang Tahun, kawinan, lahiran, pindah apartemen..semua party..semua makanan Indonesia disajikan.., semua orang mejeng.., semua fun…

Kuamati penampilanku di cermin. Wajahku.., hmm, bedak mahal ini bikin mukaku halus berkilat kayak bintang film, lipstikku juga mahal, merek terkenal, anting grombyong berbentuk buntut merak warna biru bergoyang-goyang di kedua telingaku, Blouse satin warna krem berumbai di leher ke arah bawah.., jaket kulit dan celana panjang kulit berwarna coklat tua.., dan sepatu Boot hitam bergesper kotak mengkilat, berhak tinggi…Hmm..show time..!

Aku berlari keluar apartemen, ketika tiba mobil penjemputku memberi kode..”thin..thin..” “I’m comiiiiiing…!”

(Dan setelah party nanti..aku akan langsung up load foto-fotoku di Face Book-ku…keyeeeennnn..keren, maksudnya..Ha..ha2..)

Salam..party..party..party.., party up..! Uh..uh..

North Carlin Spring
Arlington, Virginia,

Dian Nugraheni,
Hari Senin 05 April 2010, jam 6.53 sore…
Spring, hanya sekejap bunga-bunga bertebaran..akankah cepat layu dan berguguran..

 

11 Comments to "[The Nanny] Kisah Seorang Asri"

  1. anoew  5 August, 2013 at 13:30

    mbak Evi, lha gimana lagi.., banting tulang peras keringat di sini mosok gajinya kalah gede dibanding Nanny. yo mending aku nglamar jadi Nanny ajalah…, biar jadi pengasuh si pentulis

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *