Tentang Keyakinan

Wesiati Setyaningsih

 

Waktu mengubah segalanya termasuk orang. Saya dulu berpikir sempit tentang dosa dan pahala, lantas pasti berhubungan dengan surga neraka. Entah bagaimana, jalan hidup membawa saya untuk lebih terbuka hingga batas-batas yang dulu saya yakini mulai nisbi.

Tidak cuma saya yang berubah, teman-teman saya juga pasti berubah. Maka benar bahwa menjalin kembali persahabatan dengan teman lama justru lebih sulit daripada menjalin persahabatan dengan teman baru yang memang sudah jelas seirama. Namun kalau teman lama yang bertemu itu sama-sama berubah ke arah yang sama, maka persahabatan bisa tetap erat seperti sebelumnya.

Waktu sekolah dulu saya punya sahabat yang sangat terbuka dan merdeka. Saya sampai iri pada betapa mudahnya dia memutuskan sesuatu tanpa berpikir “nanti bagaimana?” seperti kebiasaan saya. Lama kami tidak bertemu karena memang sudah terpisah jarak yang demikian luas. Saya masih di sini saja, dia sudah ke negara manca. Komunikasi terjalin lewat internet, itupun jarang terjadi. Ada saatnya dia muncul, di saat lain dia sama sekali tidak menampakkan diri. Akhirnya masing-masing dari kami jadi sangat jarang berbagi cerita.

Suatu ketika, tiba-tiba (seperti biasa) dia muncul di kotak chat list email. Saya menyapa dan dia menjawab. Setelah ngobrol sana sini, mengabarkan berita terakhir kami masing-masing, dia mengatakan,

“Aku sekarang atheis.”

Tidak ada sedikitpun hal itu mempengaruhi saya selain menjadi informasi baru. Saya sendiri sudah berubah pola pikir dan bisa menerima semua paham.

“Lantas kenapa?” tanya saya.

“Kok kamu nggak marah, sih?”

Giliran saya yang heran. Jadi dia memperkirakan respon saya bakal marah? Buat apa? Itu pilihan dia. Kalau dalam agama saya atheis akan menjadi penghuni kerak neraka, dia kan tidak meyakini itu? Jadi buat apa saya marah?

“Enggak lah,” jawab saya.

Percakapan kami mengalir kembali dengan baik. Tidak ada yang berubah selain dulu kami bisa saling dorong saat bercanda, sekarang hanya diwakili tulisan-tulisan di layar monitor.

Namun ternyata perubahan dia menjadi atheis membuat saya harus lebih memahami atheis itu seperti apa. Karena nyatanya saya hanya tahu secara teori, tapi belum pernah berteman dengan atheis.

Suatu ketika saya mengatakan padanya,

“Doakan aku, ya?”

Dia bilang,

“Lha aku kan atheis. Gimana berdoanya?”

Saya terbahak. Iya juga. Kan dia tidak percaya bahwa Tuhan itu ada. Jadi dia harus berdoa pada siapa?

“Wah, orang atheis hebat ya? Nggak bisa berdoa sama siapa-siapa,” pikir saya, “Semua ditanggung sendiri.”

“Yo wis, gini aja,” katanya. “Aku harap apa yang kamu inginkan terlaksana. Gitu aja.”

Saya tertawa. Fair enough.

Cerita tentang liku-liku yang harus dia hadapi karena pilihan hidupnya itu menjadi unik. Dalam kehidupan nyata berhubungan dengan orang Indonesia yang kolot, apalagi itu keluarganya, lebih lagi itu ibunya, jelas dia tidak berani terbuka. Harus ada strategi tersendiri untuk menghadapinya.

Saya ngakak ketika di kemudian hari dia bercerita bahwa dia menemani ibunya naik haji.

“Lha wong kamu atheis kok naik haji. Buat apa?” tanya saya.

Bagaimana lagi? Ibunya ingin naik haji. Dia yang membayari semuanya karena memang dia mampu secara finansial. Melihat dia juga mampu secara fisik, ibunya mengajak dia sekalian. Alhasil berangkatlah dia naik haji.

Masalah lain ketika suatu hari dia kembali ke Indonesia, ibunya terus mengingatkan dia untuk sholat. Juga mengajari anak lelakinya untuk sholat dan mengaji. Dia jalankan saja perintah ibunya dan membiarkan anaknya diajari sholat dan mengaji oleh ibunya. Dia bilang,

“Ini masalah ke-ibu-an.”

Maksudnya demi kebahagiaan ibu, masalah keyakinan tidak harus ditunjuk-tunjukkan dengan terbuka lantas meminta dengan paksa agar orang lain memahaminya kalau itu malah menimbulkan masalah. Toh yang penting apa yang di dalam hati tetap dipegang.

faith-and-reason

Saya jadi ingat tulisan Ajahn Brahm yang mengatakan dia mengikuti saja ritual yang diminta oleh sekelompok orang yang mengundang dia untuk datang meski dia sebenarnya tidak menjalani ritual tersebut dalam kesehariannya. Tapi demi menyenangkan pihak pengundang, dia ikuti saja. Tak ada salahnya, karena keyakinan itu bertahan di dalam. Sesuatu yang ada di dalam dan tak tampak sebenarnya tak terusik oleh apapun.

 

About Wesiati Setyaningsih

Seorang guru yang tinggal di Semarang. Awalnya tidak ada niat untuk menjadi guru, tapi kemudian "kesasar" menjadi guru. Mencoba mendobrak "pakem baku" proses pengajaran, juga mendobrak ketidaklogisan pencekokan agama membabibuta di sekolah dan keseharian murid-muridnya. Sering dianggap "off-track" bahkan tidak jarang mendapat cap sesat karena sikapnya yang tidak seperti kebanyakan mainstream.

My Facebook Arsip Artikel

44 Comments to "Tentang Keyakinan"

  1. elnino  6 August, 2013 at 19:51

    Yang percaya Tuhan, tujuan hakikinya ya bisa ketemu Tuhan, bukan karena pengen masuk surga…

    Pak Anwari, semoga bu Anwari diberi kekuatan ya sehingga bisa pulih kembali seperti sedia kala.

  2. wesiati  6 August, 2013 at 13:27

    selogiri : melati itu apa?

    mbak Lani : wis, cah kuwi rak usah dibahas. percumah.

  3. Lani  6 August, 2013 at 12:33

    WESIATI, DA : warakadah………2 subo wis mencungul…..opo kang Juwandi ora semakin kami gilan…….gringinggen…..sampai mengkirik, ndredeg adem fanassssssss………rupa2nya mmg klu ngajarin hal beginian sama kang Juwan angel dong-e buat dia………subonya udah kemringet (krn kepanasen) kang Juwan msh adem ayem wae………pie iki???????

  4. selogiri  6 August, 2013 at 12:10

    artikel yang menarik tentang komunikasi tingkat dewa untuk pemahaman tentang keyakinan…yang kebanyakan para IQ Melati (meminjam istilah sudjwotejo) tidak mau dan mampu untuk memahami..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.