Uniknya Bahasa Indonesia (1): Islam Berbahasa Sansekerta, Kristen Berbahasa Arab

Handoko Widagdo – Solo

 

Islam menggunakan kata-kata dari Bahasa Arab adalah lazim. Kristen menggunakan kata-kata dari Bahasa Latin atau Bahasa Inggris itu jamak. Namun dalam Bahasa Indonesia, Kristen justru banyak menggunakan kata-kata Arab dan Islam banyak memakai kata-kata Bahasa Sansekerta. Aneh? Begitulah kenyataannya.

Marilah kita lihat kata-kata berikut ini yang lazim dipakai kalangan Islam di Indonesia. Kata agung yang dipakai dalam gabungan kata Masjid Agung adalah berasal dari Bahasa Sansekerta. Tidak pernah kita mendengar istilah gereja agung. Padahal dalam Bahasa Arab ada padanan untuk kata agung, yaitu akbar. Tapi istilah masjid akbar rasanya asing di telinga.

Guru mengaji. Guru jelas berasal dari Bahasa Sansekerta yang telah lama mengakar di Jawa khususnya dalam budaya Hindu-Budha. Demikian pula kata mengaji juga merupakan kata Sansekerta yang telah meresap dalam budaya Jawa. Meski mengaji mempunyai arti membaca untuk memahami, namun kata mengaji sudah melekat dengan membaca Alquran. Tidak pernah orang yang membaca Kitab Injil, Veda maupun Tripitaka dibilang mengaji. Sedangkan membaca untuk memahami ilmu pengetahuan dibuatkan kata baru kaji (mengkaji). Kata guru, khususnya di Lombok juga dikenakan pada tokoh agama Islam (Tuan Guru) yang ketokohannya dianggap luar biasa. Istilah Tuan Ustad tidak umum dipakai.

Kyai. Kata kyai di Jawa digunakan untuk menghormati orang/binatang/benda yang dianggap mempunyai kekuatan/ilmu yang lebih dari orang/binatang/benda lain. Kata kyai sering juga disingkat menjadi Ki. Kita mengenal Ki Ageng Pemanahan, Ki Ageng Pengging (manusia), Kyai Slamet (kerbau), Kyai Brongot Setankober, Kyai Jalak Piturun (keris/benda). Kata kyai sekarang justru melekat kepada tokoh agama Islam laki-laki yang dianggap mempunyai kekuatan/ilmu/pengaruh yang lebih daripada orang kebanyakan.

Santri. Santri adalah kata dalam Bahasa Sansekerta yang menunjukkan orang yang mempelajari keindahan (shastra). Kata santri (cantrik dalam Bahasa Jawa) dulunya dipakai untuk menunjukkan orang-orang muda yang mengabdi kepada seorang kyai untuk belajar. Namun lambat laun kata santri hanya berkonotasi kepada anak-anak yang belajar di sekolah Islam berasrama (Pondak Pesantren). Meski ada sekolah untuk calon pemuka Agama Budha dan Hindu serta Kristen/Katholik yang juga berasrama, namun mereka tidak pernah lagi disebut sebagai santri Budha, santri Hindu dan santri Kristen/Katholik.

Sembahyang (Jumat). Meski sekarang istilah shalat Jumat sudah lebih lazim, namun istilah sembahyang Jumat belum lagi hilang. Sembahyang berasal dari Bahasa Sansekerta sembah –Hyang. Artinya menyembah yang Agung.

Surga dan neraka. Istilah surga diambil dari svarga-loka dan neraka dari naraka. Keduanya adalah berasal dari Bahasa Sansekerta. Sebenarnya dalam Bahasa Arab, ada kata yang dipakai untuk surga dan neraka. Surga dalam Bahasa Arab adalah jannatun dan neraka adalah jahiimun.  Namun kedua kata dalam Bahasa Arab ini hampir tidak pernah digunakan di kalangan Islam di Indonesia.

Puasa. Kata puasa berasal dari Bahasa Sansekerta upawasa yang artinya melakukan sesuatu untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Dalam Agama Hindu, upawasa merupakan bagian brata, dan brata bagian dari brata-yoga-tapa-samadi, yang menjadi satu kesatuan dalam konsep Nyama Brata. Artinya upawasa bukan sekedar tidak makan dan minum. Namun kata puasa dalam khasanah Bahasa Indonesia melekat erat artinya dengan tradisi Islam pada Bulan Ramadan. Padahal dalam Bahasa Arab ada kata yang digunakan untuk menerangkan puasa, yaitu shaum.

Keranda. Entah mengapa kata keranda hanya berkonotasi dengan alat pengusung jenazah kaum Muslim. Padahal kata keranda berasal dari Bahasa Sansekerta ‘karanda’ yang artinya adalah kotak/tempat.

Banyaknya kata dari Bahasa Sansekerta dalah khasanah Islam di Indonesia menunjukkan bahwa proses penerimaan Islam berjalan seiring dengan budaya setempat. Mustahil kiranya Islam mau menerima kata-kata yang sudah lebih dulu digunakan oleh agama lain di Nusantara apabila Islam bukan agama yang membawa damai dan menghargai kebudayaan setempat.

languages

Sekarang mari kita periksa penggunaan kata-kata dari Bahasa Arab dalam lingkungan Kristen/Katholik di Indonesia. Alkitab. Jika kita bilang Alkitab kita langsung tahu bahwa yang dimaksud adalah kitab suci milik orang Kristen/Katholik.  Padahal Al-kitab berasal dari Bahasa Arab. Dalam Bahasa Latin alkitab disebut Biblia dan dalam Bahasa Inggris disebut Bible. Namun orang Kristen/Katholik di Indonesia lebih nyaman menggunakan Alkitab.

Allah. Kata Allah jelas-jelas diambil dari Bahasa Arab. Dalam Bahasa Latin untuk menyebut Allah digunakan kata Deo dan dalam Bahasa Inggris digunakan kata God. Namun kata Deo dan God malah jarang digunakan oleh kalangan Kristen/Katholik di Indonesia. Karena Allah cenderung berkonotasi Tuhannya orang Kristen, beberapa orang Islam menulis Allah menjadi Allow.

Salib (salibun), berkat (barokah), anggur (angur: Parsi), doa (du’a), kudus (quds), maut (maut), nabi (nabi), setan(syaiton), abdi (abd), ajaib (aja’ib) adalah sederetan kata dari Bahasa Arab yang bertebaran dalam Alkitab.

Di Indonesia perayaan Hari Natal selalu berhubungan dengan salju. Kata salju juga berasal dari Bahasa Arab ‘thalji’. Jika kita berasumsi bahwa kekristenan masuk ke Nusantara bersama dengan Portugis atau Belanda, maka kita bisa menduga bahwa kata salju yang dipakai seharusnya adalah sneeuw:bld atau neve:portugis. Namun ternyata kata salju telah terpilih untuk menggambarkan es empuk yang bisa melayang yang menghiasi pohon natal.

Wahyu. Kitab terakhir dalam Alkitab bernama Kitab Wahyu. Kata wahyu adalah kata dari Bahasa Arab. Dalam Bahasa Latin disebut Kitab Apocalypse dan dalam Bahasa Inggris disebut Kitab Revelation. Namun orang Kristen/Katholik di Indonesia sudah terlanjur mencintai nama Kitab Wahyu untuk kitab terakhir dalam Alkitab.

Mengapa banyak istilah Arab dipakai dalam khasanah kekristenan di Indonesia? Ternyata terjemahan Alkitab ke Bahasa Melayu saat itu dicocokkan dengan Alkitab dalam Bahasa Arab. Sebab Bahasa Melayu saat itu banyak menggunakan kata-kata Arab. Terjemahan Alkitab ke dalam Bahasa Melayu telah dimulai sejak tahun 1691. Pada tahun 1731 terjemahan Alkitab yang dilakukan oleh Pendeta Melchoir Leijdecker selesai. Bahkan Alkitab dalam Bahasa Melayu pernah diterbitkan dengan menggunakan huruf Arab pada tahun 1758. Sebab para penutur Bahasa Melayu pada saat itu lebih banyak yang menggunakan huruf Arab daripada huruf Latin. Masuk akal? Tentu saja.

 

About Handoko Widagdo

Berasal dari Purwodadi, melanglang buana ke berpuluh negara. Dengan passion di bidang pendidikan, sekarang berkarya di lembaga yang sangat memerhatikan pendidikan Indonesia. Berkeluarga dan tinggal di Solo, kebahagiaannya beserta istri bertambah lengkap dengan 3 anak yang semuanya sudah menjelang dewasa.

My Facebook Arsip Artikel

64 Comments to "Uniknya Bahasa Indonesia (1): Islam Berbahasa Sansekerta, Kristen Berbahasa Arab"

  1. Rei  3 November, 2019 at 07:34

    Sejak kapan islam menulis Allah dengan Allow?

  2. Wawan  22 September, 2013 at 08:52

    Artikel yang menarik..membuat refleksi..mana lebih dulu : agama atau bahasa ? Bahasa tidak punya agama..bahasa adalah ekspresi manusiawi..

  3. Handoko Widagdo  13 August, 2013 at 12:50

    Angel, senang mengetahui bahwa tulisan ini memberikan hal baru bagimu.

  4. Angela Januarti  13 August, 2013 at 12:22

    Tulisan ini membuatku belajar hal baru tentang bahasa. Makasih Pak Han.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.