Mandi Pakai Shower

Meitasari S

 

Iyem keluar dari kamar mandi sambil termangu-mangu. Sebagai bagian dari generasi yang melek teknologi, ia tak mau ketinggalan mencari-cari info alias browsing internet untuk mengetahui cara menyelamatkan bumi yang makin panas ini. Iyem bertekad ambil bagian untuk menyelamatkan dunia.

Iyem menyadari, walau dirinya termasuk salah satu dari Generasi Me Me Me yang alay geboy, (istilah yang baru saja didengarnya dari Pak Hand dan Aji saat berdiskusi tentang anak muda jaman sekarang) tetapi ia tak mau, bumi ini makin panas dan rusak.  Iyem terusik membaca barisan huruf di internet yang menuliskan bahwa kutub utara sudah meleleh. Ia juga galau mengetahui bahwa salah satu daerah di tanah kelahirannya di Semarang, yaitu  Sayung, Demak sudah mirip pulau baru, saat hujan. Bahkan untuk menengok di suatu makam di daerah tersebut, orang harus naik perahu agar bisa sampai ke sana.

shower

Pikirannya berkelana liar saat mandi.

“Wadhuh, berarti kalau saya mandi pake ciduk (=gayung) termasuk pemborosan air ya?”, begitu gumamnya.

“Wah berarti saya termasuk melakukan black innocent (mengutip istilah di suatu koran untukmenyebut dosa bersama yang tidak disadari),” demikian hati kecil Iyem berperang”

“Hmmm, aku harus bilang sama Pak Hand dan Mas Aji, supaya mengganti bak mandi ini dengan shower saja. Sekalian benerin kloset yang sudah bulek itu,” lanjut Iyem bicara pada dirinya sendiri.

Bruuuukkkkk, tak disadarinya, Aji telah berdiri di depannya.

“Ngopo to kowe Yem?’, tanya Aji yang hampir terpental tertahrak Iyem.

“Eh Mas Aji. He he he…Ndak owk Mas.” Seringai Iyem.

“Mas..Mas.. isa ndak kita bicara serius sebentar?” tanya Iyem serius.

Aji menahan tawa melihat raut wajah Iyem yang serius dan culun itu.

“Opo sih Yem,serius amat. Koyok mikir Negara wae,” sahut Aji.

“Lho, Mas Aji! Ini bukan cuma negara yang dipikir tapi dunia mas, keselamatan generasi penerus lho, mas!” tukas Iyem serius.

Aji tergelak, tak sanggup menahan tawanya.

“Nggaya men to Yem.. Yem…, kamu itu ngomong apa” kata Aji.

Iyem cemberut.

“Ah, Mas Aji tuh ya, diajak ngomong serius malah ngetawain saya,” gerutu Iyem.

Pak Hand yang melintas di dekat Aji dan Iyem, berhenti sejenak. Lalu nimbrung pembicaraan mereka.

“Ada apa to, Yem? Pagi-pagi kok serius men.”

“Ini lho pak, saya minta waktu bicara serius ama Mas Aji, malah diketawain.”

“Ya udah, sini duduk. Ayo kita ngobrol serius,” ajak Pak Hand sabar.

Akhirnya mereka duduk di ruang tengah. Pak Hand menyuruh Iyem bicara.

“Wis, sekarang ngomong serius. Apa masalahnya.”

“ Gini lho, pak. Saya minta pak Hand kalau mau betulin kamar mandi saya, jangan setengah-setengah. Nanti kloset saya yang bulek itu dibelikan seperti yang punya mas Payer ya. Sekalian baknya diganti aja pakai shower. Ini penting pak! Selain penghematan, saya sudah ambil bagian untuk menyelamatkan lingkungan. Saya ndak mau desa saya tenggelam gara-gara bumi yang makin panas,” Iyem memberondong pak Hand dengan penjelasannya yang berapi-api.

Pak Hand melongo mendengar penjelasan Iyem. Dirinya sedang berusaha menghubungkan antara perbaikan kamar mandi pembantunya itu, dengan keinginan Iyem yang mau ambil bagian menyelamatkan lingkungan, sekaligus tentang daerah Sayung yang tenggelam.

Ia berusaha mencerna pernyataan-pernyataan Iyem yang liar dan melompat-lompat persis Kuda yang pernah singgah di dapur salah seorang sahabatnya di Kona.

“ Yem,Yem, memangnya siapa juga yang mau renovasi kamar mandimu?”, tanya pak Hand pelan, tidak ingin menyakiti Iyem yang bicara penuh semangat.

“ Lho, lha kemarin itu, Mas Aji kan nawarin saya, disuruh milih kloset,” jawab    Iyem cepat.

Mendengar jawaban Iyem, Aji ngakak. Tawanya mengagetkan Iyem yang shock mendengar pertanyaan Pak Hand.

“Lah to Yem, aku kan cuma suruh milih aja. Siapa bilang mau betulin kamar mandimu. Itu namanya pemborosan. Mending kamu bersihkan yang bener klosetmu. Jadi biar cling gak bulek kayak sandal jepitnya kang Payeritu. Bersihinnya jangan pake cairan yang gak ramah lingkungan. Itu juga merusak alam,” lanjut Aji.

Iyem makin mbesengut alias cemberut. Matanya berkaca-kaca. Impiannya mandi pakai shower dan menyelamatkan bumi berantakan sudah…

Pak Hand iba melihat raut wajah Iyem yang merah merona menahan tangis.

“ Ya wis, jangan nangis. Doa aja, siapa tahu saya dapat rejeki bisa perbaiki kamar mandimu. Tapi, menurut saya kamar mandimu masih bagus kok, Yem. Beli shower aja ya! Jadi, mimpimu untuk ambil bagian dalam pelestarian lingkungan bisa terwujud.”

Iyem lega mendengar pernyataan pak Hand. Ia tersenyum menyeringai sambil menjulurkan lidahnya, meledek Aji.

Aji kembali terkekeh.

“Wooo, malah ngece. Tak baling dingklik blaiske….,” goda Aji.

Percakapan serius pagi itu berakhir. Iyem menyimpan mimpinya mandi pakai shower dan keinginannya untuk menyelamatkan lingkungan. Ia yakin suatu saat mimpi itu pasti akan terwujud. Tinggal tunggu waktu.

“Kalau bukan diriku sendiri yang mulai dengan tindakan kecil, siapa lagi yang mau menyelamatkan bumi ini,” gumam Iyem.

Bergegas Iyem kembali ke kamarnya. Sambil berkaca, ia berkata :

“Ini aksiku, mana aksimu !”

 

 

Semarang, 31 Juli 2013

Berharap – harap cemas THR hahaha….

 

About Meitasari S

Seorang istri dan ibu pekerja yang karena pilihan kehidupan, menahkodai keluarganya paralel dengan suaminya yang satu di Jakarta dan satu lagi di Semarang. Jiwa sosialnya yang tinggi, membuatnya terlibat juga dalam kepengurusan salah satu sekolah asrama di Jawa Tengah dan juga dalam lembaga sosial Anak-anak Terang yang mendanai anak-anak kurang mampu untuk menempuh pendidikan yang lebih baik.

My Facebook Arsip Artikel

41 Comments to "Mandi Pakai Shower"

  1. Nur Mberok  15 August, 2013 at 12:29

    ISK : Wadhuh berarti aku termasuk jadi nenek gayung ya ????

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.