The Butterfly Code [Lesson 4: You Make My World So Colorful]

Awan Tenggara

 

“Berandal gunung!” katanya,“Aku mau tanya satu hal sama kamu.”

Gaya bicara yang khas. Raut mukanya mengindikasikan kalau ada sesuatu yang memberatkan dirinya pada pertemuannya dengan kami di hari sebelumnya. Raya mendadak sewot pada Linggar yang tengah asyik membaca buku bersamaku di bawah pohon kelengkeng saat jam istirahat pagi itu.

“Oh,” kata Linggar. Bocah aneh ini seperti bisa menebak arah pertanyaan Raya. Ia dengan santainya mengangkat tinggi-tinggi buku yang sedari bel istirahat berbunyi dipelototinya, “Buku ini, ‘kan masalahnya?”

Raya langsung memasang muka kaget. “Dari mana kau tahu?”

“Aku mengira sikapmu yang berubah tiba-tiba di pagi hari ketika kita kemah di bukit kemarin itu, adalah gara-gara setelah kau melihat buku ini. Memangnya apa yang jadi masalah dari buku ini?”

“Memang benar buku itu masalahnya. Aku cuma mau tanya, dari mana kamu mendapatkan buku itu?”

“Mengaji di Surau Angin. Ini buku yang bagus. Seseorang memberikannya padaku.”

“Penulisnya sendiri?”

“Benar. Darimana kau tahu kalau yang memberikan ini padaku adalah penulisnya sendiri?”

“Seperti dugaanku. Sialan satu itu.”

Raya pun berlalu dari kami tanpa banyak bicara.

“Orang aneh,” gumam Linggar. “Hei, Doraemon!” ia kemudian berteriak.

Mendengar itu Raya pun berbalik arah dan kembali menghampiri kami. Wajahnya kelihatan marah.Dan menanggapinya, Linggar hanya tersenyum polos.

“Sekali lagi kau memanggil aku dengan sebutan itu, kuhabisi kau habis pulang sekolah nanti!”

“Mengerikan,”kata Linggar. “Habisnya tubuhmu memang bulat seperti Doraemon sih…”

“Sialan!”Raya sudah siap dengan tinjunya. Aku pun dengan segera memegang tangannya supaya tidak terjadi kontak fisik antara dia dengan Linggar. Dan saudaraku yang aneh satu itu malah ketawa dan memanjat dahan pohon kelengkeng yang memang tidak terlalu tinggi dengan gerakan selincah kera gunung, mengaitkan kedua kakinya ke dahan, lantas membalikkan kepalanya ke bawah seperti seorang pemain sirkus.

“Aku tidak akan melawan. Aku memanggilmu seperti itu karena kau sudah kuanggap sebagai sahabatku,” Linggar nyengir. Aku tidak percaya ia bisa bicara dengan santai dengan posisi tubuh seperti itu. “Ini menarik. Kurasa kau mengenal dekat guru besarku, Ray. Benar begitu ‘kan?”

“Siapa yang kau maksud guru besar?” tanya Raya. Ia melemahkan kepalan tangannya.

“Kak Yoenda,tentu saja.”

“Bagaimana bisa kau nobatkan si brengsek itu sebagai guru besar?”

“Si brengsek? Ha ha ha,” Linggar tertawa meski jelas Raya tidak melucu, “benar dugaanku. Dunia ini memang sempit, ya.”

“Sempit?”

“Woi, bocah-bocah Indigo! Apa kabar?!” seseorang tiba-tiba berteriak ke arah kami dari arah jalan desa. Tangannya terlihat menekan dengan erat gagang rem sepeda gunung yang dinaikinya. Lelaki flamboyan itu, dia ternyata guru besar Linggar—Yoenda Faizik Suhendar.

Kulihat wajah Linggar mendadak menjadi secerah bunga keningkir. Ia langsung loncat ketanah dari posisinya semula seperti seorang ninja. Entah dari mana ia belajar tekhnik itu.

colorful_world_by_bluex_pl-d30maun.png

(deviantart.com)

“Kak Yoenda! Kemariiiiii!!!” Teriak Linggar dengan akhiran ‘i’ yang sangat panjang.Tangannya melambai dengan penuh semangat.

“Tidak mau! Ada Si Doraemon di situ!!” teriak Kak Yoenda. Ia pun melepaskan cengkeraman tangannya dari gagang rem dan dengan sekejap sepedanya meluncur ke bawah melewati jalan desa yang menurun itu.

Linggar hanya tersenyum. Ia menghadap Raya dan tertawa terbahak-bahak. “Ha ha ha ha ha,bukan aku ya yang mengajari dia untuk memanggilmu begitu!”

Raya memasukkan kedua tangannya ke saku celana dan berlalu dari kami begitu saja dengan wajah yang kelihatan sangat murka. “You are monkey!” Gumamnya memakai bahasa Inggris dengan lafal yang lucu.

“Hei,” aku memanggil Linggar, “Kau tahu yang dimaksud kak Yoenda dengan istilah Indigo?”

Ia hanya mengangkat kedua pundaknya dan memasukkan bibir bagian atasnya ke dalam mulut. Tanda bahwa ia juga tidak tahu dengan istilah asing tersebut.

 

**

Usai bel pulang sekolah berbunyi. Murid-murid berhamburan ke luar kelas seperti semut-semut yang dikagetkan dengan suara keras saat sedang mengerubungi sesuatu yang manis. Mereka berjalan acak dan sibuk dengan hal-hal di luar aktifitas sekolah sendiri-sendiri. Ada yang sibuk dengan gambaran Robocop, dengan yoyo, dengan tamiya, juga ada yang tidak melakukan apapun dan hanya berjalan dengan pandangan kosong sambil mainan kancing baju dengan ingus di hidungnya yang molor-modot.

Dan hari itupun menjadi hari pertama kalinya di mana kami pulang ke rumah tidak tepat waktu. Penyebabnya, siapa lagi kalau bukan Linggar.

Si Aneh satu itu celingak-celinguk sendiri mencari Raya. Betapa kencang kemudian larinya saat ia melihat Si Gembul itu sedang berjalan sendirian. Aku yang digandengnya sampai kewalahan mengikuti langkah kakinya. Ia sangat ingin mengetahui hubungan antara Raya dengan guru besarnya, ternyata.

“Gembul!” teriaknya sambil memukul pelan pundak Raya. “Sebenarnya kau punya hubungan apa dengan Kak Yoenda?”

Raya cuek bebek. Ia tetap melanjutkan langkahnya tanpa sedikitpun menoleh ke Linggar.

“Sebenarnya, ada hubungan apa antara kau dengan Kak Yoenda, Doraemon?” Linggar mengulangi pertanyaannya. Kali ini dengan berbisik di dekat telinga Raya dan menyebut sesuatu yang sangat tabu bagi telinganya.

BUAK!

Pukulan telak dari Raya pun mendarat tepat di perut Linggar. Kulihat bocah itu menahan sakit, tapi ia malah meringis gembira. Seperti ada yang lucu, tapi entah apaitu.

“Maafkan aku pendekar, aku tidak akan memanggilmu Doraemon lagi. Tapi, tolong beritahu aku hubungan antara kau dengan Kak Yoenda, dong.”

Raya menghentikan langkahnya. Ia duduk di atas rumput dan mengeluarkan sebuah wafer superman dari tasnya. Membuka bungkusnya dan memakannya.

“Aku takakan membaginya dengan kalian.” Katanya.

Kami punduduk di sebelahnya. Langit terlihat berawan siang itu. Wangi dari hutan-hutan di kubah gunung Ungaran terbawa hingga ke tempat kami duduk oleh angin.

“Kau mau tahu tentang Yoenda?” kata Raya. “Dia kerap datang menginap di rumahku.”

“Apa dia kakakmu?”

“Bukan. Dia bukan kakakku. Dia cuma anak dari istri pertama ayahku.” Kulihat mata Raya penuh amarah.” Itulah sebab kenapa aku sangat membencinya!”

“Jadi,seorang laki-laki itu boleh punya istri lebih dari satu, ya.” Kata Linggar polos. “Memangnya, apa salah Kak Yoenda sehingga kau sangat membencinya?”

“Bukankah tadi sudah kukatakan alasannya?! Tolol!”

“Kalau alasannya cuma itu saja sih menurutku tak masuk akal.” Linggar protes. “Kalau kau mau menyalahkan seseorang, seharusnya yang kau salahkan itu ayahmu.”

Raya hanya diam.

“Posisi Kak Yoenda juga ‘kan sepertimu. Apa ia pernah sekali pun membencimu? Apa salahnya ia menemui ayahnya sendiri?”

Raya tetap diam. Ia berdiri dan kemudian melangkah pergi. Dan kali ini Linggar tidak lagi mengajakku untuk mengikuti Raya.

“Ternyata seperti itu.” Kata Linggar sambil tersenyum. Ia menatap mataku dalam-dalam.“Setiap orang punya cerita hidupnya sendiri-sendiri.”

“Eh?”

Linggar memegang erat tanganku dan menuntunku berdiri. “Ayo, Ga, kita pulang. Kata Ayahku, hari ini kita panen kentang.”

Kami melihat Raya berjalan kian menjauh. Dan bukan Linggar namanya kalau tidak usil. Sebelum kami juga melanjutkan perjalanan untuk pulang, bocah aneh itu berteriak, “Doraemon! Kapan-kapan aku main kerumahmu, ya!!”

Raya yang sudah berjalan jauh pun menengok ke arah kami setelah mungkin mendengar teriakan Linggar. Ia dengan gaya yang lucu mencari-cari sesuatu di rerumputan, kemudian menemukan sepotong ranting kering dan melemparkannya ke arah kami walau jelas ranting itu tak akan bisa mencapai tempat kami berdiri. Linggar tertawa. Ia menarik tanganku dan mengajakku melangkah menuju jalan pulang yang berlawanan dengan jalan ke arah rumah Raya. Ia meloncat-loncat kecil dengan wajah yang begitu tampak gembira.

 

Di tepi-tepi jalan menuju tempat kami bermukim, buah-buah kelengkeng sudah membesar di ranting pohonnya. Mereka bergerombol dan tampak menggantung di sana dengan segar. sesegar wajah Linggar siang itu.

 

The ButterflyCode Lesson #4th [You Makes My World So Colorful] – End

 

Note : ini hanya draft mentah. Komentar dari para sahabat dibutuhkan untuk membantu proses editing agar lebih sempurna. Mungkin akan ada beberapa bagian yang nanti dipotong atau juga dikembangkan.

 

3 Comments to "The Butterfly Code [Lesson 4: You Make My World So Colorful]"

  1. anoew  5 August, 2013 at 22:07

    Baca komennya Kang Josh tentang ‘colorfull’ saya jadi teringat Puika

  2. J C  5 August, 2013 at 21:21

    Baca judulnya jadi ingat lagunya Daniel Sahuleka: you make my world so colorful…

  3. James  5 August, 2013 at 16:14

    SATOE, butterfly cpde

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.