Akar Hidup

Sanie B. Kuncoro

 

*** Cerpen ini dimuat di FEMINA no.34, 28 Agustus 2010

 

akar hidup“Ayah akan membawamu menuju pulang,” kata ayahmu pada suatu hari.

Itu adalah sebuah hari di awal musim gugur. Penandanya adalah beralihnya warna daun-daun maple yang pohonnya berderet di sepanjang bulevard menuju taman kota. Tak lagi hijau daun itu, melainkan menjadi kuning, untuk kemudian merah saga yang pekat. Kelompok yang kuning itu, saat tertimpa cahaya matahari yang muncul sesekali,- sisa-sisa akhir musim semi-, akan berkilau nyaris serupa gemerlap emas. Indahnya. Peralihan warna antara masing-masing helai daun yang tak bersamaan, melainkan seolah membentuk kelompok tertentu, justru mengkreasikan gradasi warna pada barisan daun-daun itu. Gradasi alamiah itu, memberikan dispersi leburan warna yang tak terbilang indahnya.

Bisa jadi bahkan Sang Pencipta pun takjub, tak menyangka gerak alami sebuah warna saat pergantian musim akan memberikan pesona yang tak terduga.

“Pulang?” tanyamu heran, “Kita sudah di rumah, Ayah.”

“Bukan ini rumahmu yang sebenarnya,” kau dengar kalimat yang terucap dengan nada berat itu. Kau lihat mata ayahmu menerawang sedemikian jauh. Sungguh terbaca olehmu tenunan rindu dengan serat-serat yang saling menjalin sedemikian rapat dalam terawang tatapan itu.

“Melainkan di sana, sebuah rumah yang tanah pekarangannya menanam ari-arimu dan Ibumu.”

“Sekian lama aku membawamu, membuatmu terserahkan pada sebuah kehidupan baru yang ribuan kilometer jauhnya dari tanah kelahiranmu, sehingga kau nyaris tercerabut dari akar tanah tumpah darahmu. Maka kita akan pulang, untuk kau temukan kembali akar dirimu.”

Terdiamlah dirimu. Sejatinya kau tak sepenuhnya setuju dengan alasan itu. Kau merasa tak kehilangan sesuatu. Tak tersimpan kenangan apapun tentang tanah lahir itu. Tak kau rasa bahwa akar dirimu tertinggal di sana.

Kau tahu sejauh apa tanah itu.

Adalah hari pertama di sekolah saat guru barumu menyalami dan bertanya siapa pengantarmu. Dengan sigap kau tunjuk ayahmu, yang berada di balik dinding kaca, berjajar bersama para orangtua murid yang antusias mengantarkan anak-anaknya bersekolah di hari pertamanya.

“Darimana asalmu, nak?” lagi gurumu bertanya.

“Indonesia,” jawabmu segera, seperti yang selalu ayahmu ajarkan. Itu bukan sebuah pertanyaan yang asing. Kau mendapatinya berulang-ulang dan telah terlatih untuk menjawabnya.

Ibu guru takjub oleh jawabanmu. Segera dibentangkannya sebuah peta besar. Bergambar benua-benua dan berbagai pulau dalam aneka warna. Ditempelkannya bendera pada sebuah warna, penanda negara di mana kalian sedang berada, lalu ditempatkannya bendera dua warna merah putih pada sebuah gugusan pulau-pulau yang tampak sedemikian kecil dan jauh dari bendera pertama. Seketika teman-teman barumu berseru takjub. Seolah melihat keajaiban bahwa kau berasal dari negeri yang sedemikian jauh. Melintas berbagai samudra demi bisa belajar bersama mereka.

Itulah pemahamanmu yang pertama, tentang seberapa jauh keberadaanmu dari negeri yang senantiasa terbawa dalam kisah-kisah ayahmu yang kau simak nyaris setiap hari. Negeri yang kau kenal dalam bayangan semata, sementara tak kau rasa bahwa ada keping sejarahmu tertinggal di sana.

“Baiklah kita pulang,” katamu kemudian, lebih demi mengantar Ayahmu menuju kepada kerinduannya yang pekat itu.

*

Maka di sinilah kau berada sekarang. Sebuah negeri yang memberimu cahaya matahari berlimpah. Yang langitnya biru bening, menganugerahimu kecerahan. Saat anak tangga terakhir terlewati dan kaki menjejak tanah, Ayahmu berlutut seketika, merebahkan dahinya menyentuh tanah. Merembeskan air mata yang telah dibendungnya entah sejak kapan, kini teralirkan sudah pada tanah kelahirannya. Tercekat hatimu seketika.

Terawang kerinduan yang tak selalu kau pahami itu, kini perlahan membawamu pada sebuah pengertian. Bahwa demikianlah sebuah akar menghidupi seseorang. Sejauh apapun perjalanan, akan senantiasa akar itu mengikutinya dalam ingatan demi membawanya kembali pada suatu ketika. Demikianlah seorang perantau menuju pulang pada akarnya, justru di ujung pencariannya.

Apakah hal yang sama akan terjadi padamu? Sungguh kau tak tahu, sekaligus ragu.

Ayah membawamu pada sebuah rumah besar berpekarangan luas. Berandanya yang terbuka berisi seperangkat meja kursi rotan berbatang kokoh. Ada banyak angin yang menari-nari dan berlarian di beranda itu. Kau duga anak-anak angin itu pastilah berasal dari dua pohon besar, yang dahannya menjulur panjang melebar serupa kanopi.

roots-of-life

“Pohon Ketapang dan Talok,” kata ayah seolah tahu pertanyaan yang menghampirimu saat mengamati pohon-pohon itu.

“Dulu ayah suka mengumpulkan buah-buah talok yang berjatuhan setiap pagi. Tiap hari ada saja buah yang matang dan jatuh, tak pernah habis buah itu sepanjang musim.”

Ayahmu memungut sebutir dari tanah, mengusapnya sekilas lalu mengunyahnya.

“Apa rasanya?”

“Manis bercampur asam. Aku dan Ibumu dulu menikmatinya seolah buah cherry.” Ayah mengulurkan sebutir talok untukmu. “Cobalah.”

Kau tertawa saat lidahmu menyelesaikan perkenalannya dengan buah kecil merah itu. Sungguh sama sekali tak mirip dengan cherry yang biasa kau nikmati di kebun.

Kemudian seseorang muncul di ambang beranda. Rambut kelabunya bersanggul kecil di ujung tengkuk. Kedua belah lengannya terbuka seolah ingin menggapaimu dengan segera. Tatap matanya menelusurimu tak lepas-lepas. Kau tersenyum dan datang padanya. Saat itulah kau temukan garis wajahmu pada raut wajah senja usia itu. Seolah kau mendapat gambar dirimu pada berpuluh tahun yang akan datang.

“Nenek,” sapamu memanggil.

Lalu perempuan itu memelukmu erat, membasahimu dengan air mata. Saat yang sama kau melihat mata ayahmu berkilau oleh genangan yang memenuhi kelopaknya.

“Akhirnya kau kembali,” demikian seru nenekmu berulang, dengan suara dan pelukan yang bergetar. Seolah tak hendak selesai ditelusurinya seluruh wajah dan dirimu, dengan cium dan pelukan. Semua itu menghangatkan hatimu. Menumbuhkan perasaan nyaman saat menyadari bahwa ada seseorang yang merindumu dan mengharapkanmu sedemikian rupa. Detik itu kau tahu, bahwa kau ingin tinggal lama di dalam rumah itu. Lebih lama dari yang mula-mula kau perkirakan.

Mereka berdua kemudian menunjukkan padamu rumah pohon itu. Ah, sebetulnya itu bukanlah sebuah rumah yang berada di atas pohon seperti yang kau pahami dan lihat sebelum ini. Melainkan sebuah kamar di lantai dua, yang balkonnya menjorok di antara dahan-dahan besar yang menjulur dari pohon induknya. Sedemikian rupa julur dahan-dahan itu sehingga seolah menopang balkon itu sekaligus merindangkan daun-daunnya.

“Rumah pohon Ibumu,” Ayahmu berbisik. Getar suaranya menyiratkan dengan jelas banyak hal tersimpan yang tak terungkapkan di dalam dirinya. Kerinduan yang tersirat pada mata ayahmu, yang selalu kau temukan saat beliau berkisah tentang Ibumu, kini kian pekat. Seolah bergumpal-gumpal sedemikian rupa.

“Setiap kali berada di sana, dia seolah berada di dalam dunia yang sempurna,” lagi ayahmu berbisik. Dengan rindu yang tak juga mereda.

“Naiklah,” sambung Nenek menunjukkan tangga yang terbuat dari balok-balok kayu yang diikat tali dadung.

“Itu tangga kesayangannya. Kalau tidak sangat terpaksa, tak akan dia menggunakan tangga permanen di dalam rumah. Selalu dipilihnya melalui tangga balok itu.”

Tanpa perlu waktu lama untuk berpikir, kau setuju dengan pilihan ibumu. Tangga itu cantik betul. Lebih tepatnya unik. Sangat natural sekaligus berkarakter.

Langkahmu bergegas menghampiri tangga itu. Kau sentuh kulit kayunya yang menua. Bergetar hatimu, menyadari bahwa balok-balok kayu itu menyimpan jejak langkah Ibumu, yang bahkan kau sendiri tidak menyimpan dan memilikinya.

“Pada hari terakhir, dia memelukmu di sudut itu.”

Gemetar ujung jari nenek menunjukkan sudut rindang itu. Sebuah tempat yang teduh terpayungi helai lebar daun-daun ketapang.

“Tak terpatahkan keputusannya oleh permohonanku, untuk mengijinkanku memilikimu. Seharusnya kau tumbuh bersamaku di rumah ini. Sama seperti dia tumbuh selama ini. Tapi seolah tak dinginkannya kau menjalani sejarah yang sama.”

Saat itu kau melihat mata Ayahmu berpaling, seolah menghindarkan diri dari sesuatu. Saat yang sama, satu pertanyaan mendatangimu. Mengapa Ibumu tak menghendaki kau tumbuh disini? Diam-diam kau simpan pertanyaan tunggal itu.

“Aku ingin sendirian di sini, mengenang Ibu,” katamu kemudian. Nada permohonanmu nyaris samar, kalimatmu lebih sebagai keputusan yang menyiratkan sejelasnya keinginanmu yang tak terbantah.

Niatmu dimaklumi dengan segera. Kau melihat nenek menyimpan rindunya dan pasrah dalam bimbingan ayah untuk memberimu ruang kesendirian.

Kenangan apa yang akan kau gali? Kau duduk di sudut teduh itu, menatap berkeliling sekitarmu, seakan mencari jejak masa lalu untuk melangkah menuju kepada Ibumu. Akankah kau temukan jalan itu?

Kau ingat bagaimana ayah senantiasa berkisah tentang ibumu. Tersimpan semua kisah Ibu di benakmu pada ruangan yang sama, seperti kau menyimpan kisah putri salju yang didongengkan ibu gurumu.

Kau ingat betapa dulu kau ingin menyerukan panggilan “mommy” kepada seseorang, sama seperti saat teman-teman kecilmu berseru memanggil ibunya. Suatu hari tak tertahan keinginan itu dan kau berseru memanggil seraya mengulurkan tanganmu pada seorang perempuan. Tapi temanmu segera menepis tanganmu.

“Dia adalah ibuku, bukan ibumu,” katanya menghadang langkahmu.

“Pergilah kepada ayahmu.”

Sejak itu terhapus keinginan itu dari anganmu. Kau simpan bayangan ibu, tanpa pernah memanggilnya. Sama persis seperti putri-putri dongeng tersimpan dalam angan setiap anak. Bayang-bayang belaka tanpa perwujudan.

Gerak angin menyentuhmu, bersamaan dengan gemerisik daun-daun. Alangkah melodius suara itu, sekaligus merawankan hati.

“Ibu,” bisikmu memanggil. Samar seruanmu, menjauh kemudian. Mendadak setetes air jatuh pada lenganmu. Air matamu

Lalu seolah kau temukan jalan itu, langkah menuju hari-hari awalmu, yang adalah hari-hari terakhir Ibumu.

Dalam dekapannya kau berada, terhembus padamu hangat nafasnya. Kadang kau berada di pangkuannya, tersimpan wajah itu dalam kerdipan matamu. Kau melihat bagaimana sinar matahari yang berhasil menelusup di antara rimbun daun-daun, membasuh kau dan ibumu dalam cahaya. Telunjuk jari ibu berada dalam genggaman kecilmu. Kau dengar senandungnya. Entah lagu, entah puisi. Barangkali pula dongeng tak bernama………

*

Entah berapa lama kemudian kau temukan dirimu terbangun dari tidur yang lelap. Pengaruh perjalanan panjang dan perbedaan waktu dari tempatmu berangkat, agaknya membuatmu tertidur di luar waktu tidur yang biasa.

Belum malam. Matahari masih memberimu cahaya. Itu adalah matahari sore yang lembut, yang kemilau kuningnya memantul dari helai-helai daun. Matamu masih berat, menahan sisa kantuk yang melelapkan, tapi saat yang sama kau tak ingin melewatkan bias sore yang tak pernah kau temukan sebelumnya. Saat mengangkat kepala, tampak olehmu buku itu, yang rupanya kau ambil sembarangan dari rak buku di ruang ibu, sebagai alas sandaran kepalamu.

Buku lama yang warna kertasnya telah menguning. Kau temukan tulisan tangan yang berbaris rapi. Kecil-kecil hurufnya, namun terbaca dengan mudah. Tulisan tangan Ibukah?

Diam-diam kau menduga sembari mengusap lembut barisan huruf itu. Seolah kau menelusuri jemari Ibu, menggenggamnya erat sama seperti genggaman jari kecilmu dahulu.

Tak hendak kau lepaskan jemari itu, ingin terus menyimpannya pada genggammu. Maka kau terus menelusuri barisan huruf itu, membacanya pelan-pelan, seolah mengusap lembut jemari ibu.

Kau menemukan cerita tentang dirimu. Awal masa tumbuhmu. Gerak-gerak awal di dalam rongga tubuh ibu. Tendanganmu yang bertubi pada dinding rahim Ibu. Juga tangisanmu yang bagi ibu serupa senandung air hujan. Sedang aroma tubuhmu seolah bunga paling wangi. Lembut kulitmu sehalus kelopak bunga muda. Kau temukan bahwa kaulah matahari, bulan, bintang juga udara bagi ibumu. Juga air dan tanah serta cahaya. Kaulah musim semi. Tapi di sisi lain ibumu terdatangi musim gugur yang tak mampu dielakkannya.

Pada halaman terakhir, kau dapati musim gugur merenggut ibumu dalam kesedihan panjang.

Bahkan aku tak bisa menyelamatkan diriku sendiri dari padanya, lalu bagaimana anak ini akan sanggup? Juga Ibu, tak akan sanggup melawan hak seorang yang datang demi mengambil tuaian atas benih yang ditaburkan. Maka aku harus memilih jalan Musa, yang dihanyutkan ke sungai Nil demi menyelamatkannya dari pembantaian massal bayi laki-laki.

Maka demikianlah aku akan memberikan jalan penyelamatan, demi anak mata wayangku. Bersamanya dia akan tumbuh dan tak terjangkau dari cinta musim gugur yang membelokkan arahku dari pilihan semua. Dia telah kehilangan aku tapi dia akan mendapatkan milikku yang utama. Bersamanya anakku akan tumbuh dalam dunia musim semi dan akan menemukan jalan untuk kembali kepada kenanganku pada suatu ketika.

Berdesir hatimu menyelesaikan baris terakhir itu. Redup matahari memberimu cahaya penerang sekaligus pertanyaan. Gemerisik daun seolah memantulkan dugaan-dugaan di labirin ruang benakmu. Mengalir pertanyaan itu, memicu dingin menusuk yang senyap pada dinding hatimu.

Kosong seketika dirimu. Hening yang pekat memerangkapmu. Akankah kau mencari jawabannya?

Jalan air untuk Musa. Jalan pilihan Ibu demi menyelamatkanmu.

*

Baru saja kau beranjak hendak turun, saat yang sama ayahmu muncul di ujung tangga.

“Sudah bangun? Kulihat tidurmu pulas sekali, tak tega membangunkanmu,” seru ayah menunggumu.

Kau tersipu. “Anginnya lembut, sangat menidurkan.”

“Turunlah. Nenek membuat sesuatu yang lezat untukmu.”

“Baiklah. Tapi ayah harus menggendongku.”

“Apa?” seru ayah meragukan permintaanmu.

Kau balas dengan senyuman dan tatapan mata memohon, yang kau tahu ayahmu tak akan sanggup menolaknya.

Perkiraan yang tepat. Menit berikutnya ayahmu berbalik badan dan menyediakan punggungnya untukmu. Kau lingkarkan lengan memeluk tubuh ayahmu.

“Astaga, tak kuduga kau seberat ini sekarang,” keluh Ayah, terengah sembari melangkah membawa beban dirimu di punggungnya. Kau tertawa bahagia. Dan rasa tentram merambatimu saat kau rebahkan diri di punggung itu. Kau eratkan pelukanmu. Ayah membawamu pulang menuju tanah air, demi supaya kau temukan akar darimana kau bermula, yang kau temukan kini bukan hanya akar asalmu, melainkan juga akar kehidupan yang menumbuhkanmu. Bersamanyalah kau tumbuh, membekalimu nafas kehidupan dengan nilai-nilai yang berakar di setiap langkahmu.

Dialah ayah terbaik bagimu selama ini, tak akan tergantikan oleh siapapun atau apapun. Terpastikan olehmu detik itu juga, bahwa tak hendak kau mencari sebuah jawaban. Tak pula menjadikan pertanyaan itu menjadi hantu bersayap di dalam pikiranmu.

Ayahmu, adalah akarmu.

 

Share This Post

Google1DeliciousDiggGoogleStumbleuponRedditTechnoratiYahooBloggerRSS

5 Comments to "Akar Hidup"

  1. Sanie B Kuncoro  9 August, 2013 at 00:46

    Benar ini cerpen lama yang dimuat Femina 2 tahun yg lalu sebagai cerpen lebaran, karena bercerita tentang “pulang” pada akar hidup seseorang.
    Terimakasih telah menyempatkan membacanya. Kiranya akan membawa kita pada akar kehidupan kita masing-masing

  2. J C  7 August, 2013 at 22:33

    Ciri khas warna tulisan Sanie B. Kuncoro…

  3. James  6 August, 2013 at 16:34

    masa akar mati sih ??

  4. Handoko Widagdo  6 August, 2013 at 08:52

    Sepertinya saya sudah pernah membaca saat terbit di Femina dulu. Tapi memang banyak detail yang terlupa. Terima kasih sudah mengunggah kembali cerpen ini.

  5. Lani  6 August, 2013 at 07:29

    satoe Sanie

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *