Berlibur ke Bogota-Columbia 2013

Nunuk Pulandari

 

Teman-teman pembaca Baltyra, waktu tulisan ini saya reka, sudah hampir tiga minggu kami ada di Bogota.. Hmmm..Suatu perubahan jadwal liburan terjadi karena antara lain  sukarnya mencari keselarasan waktu untuk liburan bersama konco ngajeng di bulan Agustus-September mendatang. Untuk menghemat waktu liburan yang masih tersisa akhirnya kami mengubah/ menukar rencana jadwal liburan besar di tahun 2013. Penukaran jadwal perjalanan liburan ke Moskow dan Bogota telah kami lakukan. Meski semua terasa terburu-buru akhirnya kami sampai di Bogota tanggal 7 Juli yang lalu dan untuk liburan ke Moskow kami harus merencanakannya kembali.

Suatu perjalanan yang cukup menyenangkan tetapi boleh dikatakan cukup menguras tenaga. Coba kita bayangkan bersama, kami berangkat lewat lapangan udara Zaventem di Brussel jam 07.30 pagi. Pesawat lepas landas ketika jarum jam menunjukkan ke arah angka 10.45 pagi dengan arah tujuan New York (JFK bandara) dan tiba di New York 13. 05 (waktu US).  Waktu transit yang  plus minus 2 ½ jam di JFK  kami gunakan untuk mengurus imigrasi /douane dan koper. Juga kami berlari-lari kecil mengejar waktu  boarding kembali menuju Bogota, ibukota Columbia. Plus minus jam 17.55 ternyata pesawat baru bisa lepas landas (sore hari waktu US).

Cukup lama menunggu signal untuk bisa tinggal landas karena begitu banyaknya pesawat yang mengantri untuk mengepakkan sayapnya menuju ke negara pilihannya. Hampir 6 ½  jam kami terbang menembus keheningan dan gelapnya awan yang ada. Setidaknya satu jam lewat tengah malam kami baru mendarat di Bogota dengan perasaan yang sangat gembira meskipun sesungguhnya kami juga dalam kelelahan yang berat. Salah satu perjalanan liburan yang memakan waktu cukup lama. Totalnya  plus minus 18 / 19  jam perjalanan.

Berjalan menyusuri koridor bandara menuju ke loket-loket Imigrasi  dan Douane, setidaknya saya  berdoa dan berharap akan menjumpai wajah sumringah yang akan bisa menolong kami membereskan semua urusan di bandara tanpa ada masalah…..Daaaannn, begitu kami melewati loket douane, tampak seburat wajah ceria yang menyambut kedatangan kami di Bandara. Bersama Bpk A, kami menuju ruang pengambilan koper dan barang bawaan kami lainnya.

Beberapa langkah meninggalkan ruang pengambilan koper, kami segera bertemu dengan adik dan keponakan serta beberapa wajah baru lainnya. Setelah berbincang sebentar, adik berbisik:” Bude *, sorry ya, tapi Nien tengah malam ini  harus terbang  berangkat menuju ke salah satu negara sahabat Antigua Bermuda di kepulauan Karibia sana. Ada tugas mendadak”. Wouuuuwwww.. Segera terbayang perjalanan yang pastinya melelahkan karena harus terbang malam hari dan  transit di Miami dll, dll…Tetapi itu semua termasuk dalam paket “menjalankan tugas Negara”.

Satu yang jelas,  tengah malam itu,  kami sampai di rumah kediaman adik menjelang jam dua dini hari. Kecuali mengobrol sebentar dengan ponakan tercinta “Bebe” tidak banyak yang kami lakukan selain membersihkan diri dan langsung menuju ke Pulau kecintaan kami, Pulau Kapuk.

Pagi hari berikutnya, sekitar jam 10 pagi kami terbangun dengan perasaan yang aneh. Terasa dalam dada sedikit berat dan agak sukar untuk bernafas. Mencoba tetap tenang lalu menanyakan pada konco ngajeng apakah dia juga merasakan hal yang sama. Ternyata kami dalam keadaan yang idem dito. Dari informasi yang ada hal ini  kemungkinan besar terjadi karena letak kediaman yang tinggi, di salah satu bukit yang mengitari kota Bogota. Untuk membiasakannya tentunya diperlukan waktu beberapa hari lamanya.

bogota (1)

Foto 1: Wisma Dubes RI di Bogota dilihat dari depan

Segera kami melupakannya pengalaman ini dan menikmati  sarapan yang telah tersedia di meja makan.  Setelah itu kami mencoba mengenali daerah di sekitar kediaman rumah adik. Nampak dari depan, seolah kediaman adik  terlihat kecil mungil, walaupun sesungguhnya cukup banyak ruang di dalamnya. Saya akan mencoba mengajak teman-teman untuk turut melihat betapa indahnya alam dan pemandangan di sekitarnya.

Berdiri di depan rumah dengan membelakangi kediaman ini, di sebelah  kanan nampak salah satu sisi dari pemandangan kota Bogota  yang menyemburat dari balik pepohonan yang cukup menawan untuk memandanginya. (lihat foto 2)

bogota (2)

Foto 2. Sebagian kecil kota Bogota yang padat

Menikmati pemandangan kota Bogota dari depan kediaman rumah adik mengingatkan saya pada masa-masa kecil di kota Bandung, puluhan tahun yang lalu. Masih ingat betapa indahnya pemandangan kota Bandung dari “Teras restaurant dimana kami sering  minum teh di sore hari bersama orang tua dan adik-adik, di  bukit Dago”  Het Thee-huis. Banyak kesamaan antara kota Bogota dengan kota Bandung. Setidaknya bila dilihat dari segi letak dan kepadatannya.

Bogota terletak di sebuah lembah yang dikelilingi oleh banyak bukit di sekelilingnya.  Di lembah ini tampak kepadatan kota Bogota. Di sekelilingnya tampak bukit-bukit yang terlihat menghijau dan masih alami dari manapun kita akan melihatinya. Terlihat hutan-hutan yang masih belum terjamah oleh tangan-tangan yang gemar mengusili atau menebangi  pepohonan yang tumbuh di hutan rimbanya.  Seolah kehijauan yang ada ingin memperlihatkan betapa besarnya kesadaran para penduduk  kota Bogota akan  pentingnya fungsi hutan rimba bagi kehidupan sehari-hari mereka. Suatu sikap yang menunjukkan sikap kedisiplinan dari para penghuninya dan berfungsinya peratuiran yang ada.  Meskipun kalau kita amati terlihat jelas bahwa masih banyak di antara penduduk itu  yang hidup di bawah garis kemiskinan.

Maksud saya,  kalau kita berkendaraan di kota Bogota, akan nampak betapa masih banyaknya  perbedaan bentuk dan jenis rumah yang ada.  Perbedaan yang juga menunjukkan bahwa di antara penduduknya masih terdapat strata tingkatan sosial dan ekonomi  yang cukup menyolok.  Di Bogota  sendiri pembagian Strata perbedaan ini secara resmi dan nyata dibagi di  antara strata 2 sampai strata 6.

Dalam foto-foto di lain cerita (lanjutan cerita Bogota) teman-teman akan bisa melihatnya.

Teman-teman, dengan sedikit mengubah posisi berdiri  ke arah kiri, nampak sebagian lain sisi dari kota Bogota (lihat foto 3)

bogota (3)

Foto 3. Kepadatan kota Bogota telihat dari semua sudut

Kepadatan kota Bogota tampak sangat menyolok mata. Sementara, terus terang obyek wisata seperti Musium, gedung-gedung peninggalan jaman Spanyol dulu, tidak banyak. Gereja-gereja yang cukup indah hanya ada beberapa saja di Pusat Kota. Satu hal yang menyolok di Bogota adalah keindahan dan kehijauan alamnya yang dipertahankan dan dirawat dengan baik.

bogota (4)

Foto 4. Memandang sisi depan sebelah kiri rumah,  tersembul Sang Saka di  di depan bukit

Dimanapun kita berada di Bogota, dari semua sisinya terlihat betapa hijaunya alam dan perbukitan yang ada di sekelilingnya. Suatu keseimbangan  antara hijaunya warna alam yang bersih lagi rapih dan padatnya daerah hunian merupakan salah satu contoh usaha Pemerintah yang berhasil. Pembukaan suatu daerah entah itu untuk tempat hunian ataupun tempat wisata, selalu diatur dan dikoordinir oleh pemerintah yang berwenang. Dan ini ditaati oleh penduduknya, misalnya tampak dari pemakaian  warna dan jenis bebatuan yang digunakan oleh rumah-rumah yang ada, meskipun itu rumah pribadi.  Maksud saya  pembukaan suatu daerah baru juga selalu disertai dengan peruntukkannya yang jelas, apakah hal itu diperuntukkan bagi strata 2 atau 3 atau strata yang lebih tinggi lagi. Pembagian strata penduduk di Bogota terbagi mulai dari strata 2 (kurang mampu) sampai strata 6 (mampu).  Di daerah dimana strata rendah bertempat tinggal memang tampak rumah-rumah penduduk bertumpukan dan dibuat dari bahan bangunan yang sangat sederhana. (lihat foto  6/ 7/ 8)

bogota (5)

Foto 5.  di hadapan Wisma, tampak kehijauan di bukit nan cukup tinggi

 

bogota (6)

Foto 6. Rumah hunian strata rendah yang pada di salah satu wilayah kota Bogota

 

bogota (7)

Foto 7. Daerah hunian strata rendah

Daerah hunian strata rendah selain terletak di wilayah tertentu,  sering kali terletak agak di luar kota dan berada di daerah ketinggian tertentu. Tidak jarang  daerah hunian itu terletak agak dekat dengan jalan raya. Dalam hal ini biasanya  di bagian depan komplek rumah-rumah hunian itu ditutupi dengan tembok yang cukup tinggi. Sehingga rumah-rumah itu hanya nampak dari kejauhan.

bogota (8)

Foto 8. Hunian strata rendah tampak dari dekat di salah satu wilayah kota Bogota

Kembali kita mengamati keadaan di sekeliling kediaman adik.

Dengan sedikit mengubah posisi berdiri  dan melihat  lebih ke arah kiri, nampak sebagian lain sisi dari kota Bogota . Dalam foto 9,  di luar pagar pemisah rumah nampak satu-satunya bangunan  yang terdekat dengan kediaman adik yang terdiri dari beberapa appartementen. Untuk ke appartement ini, orang harus menggunakan jalan masuk lain yang melingkar melalui bagian bukit lainnya. Dan di belakang appartement ini ada tebing yang terlihat berwarna coklat kekuningan. Entah  jenis  kandungan bahan apa yang terdapat di dalam batuannya.

bogota (9)

Foto 9. Di sisi kiri atas rumah kediaman tampak tebing dan satu rumah

Berbincang dengan beberapa security yang berjaga di pintu masuk 1 dan pintu masuk 2, kami mendengar bahwa di rumah tersebut di atas beberapa waktu yang lalu telah terjadi  perampokan. Para pelaku  telah mengelabuhi para anggota security  di pintu 1 dengan berlaku bagaikan anggota polisi yang sedang berpatroli.

Sejak saat itu penjagaan keamanan di sekitar kediaman rumah adik menjadi semakin diperketat. Jumlah anggota Polisi dan Hansip yang berjaga di Pintu 2 dan di sekitar rumah menjadi bertambah. Juga alat-alat pengamanan elektronik semakin diaktifkan.

Teman-teman, masih di halaman kediaman adik yang kalau dilihat dari foto 10, tepatnya di sebelah  kiri atas,  agak di belakang para “model”  ini, terdapat satu lapangan tennis yang cukup terawat. Satu fasilitas pemugaran yang dibutuhkan oleh para penghuninya mengingat letak kediamannya yang  cukup jauh dari kota.

bogota (10)

Foto 10. pak Polisi, pak supir dan mas Dion serta konco ngajeng berfoto bersama di halaman samping kiri belakang Wisma

 

bogota (11)

Foto 11. di antara semak-semak, di belakang Wisma, nun jauh disana tampak kepadatan kota Bogota

Di samping pemandangan kehijauan alamnya dan kepadatan rumah penduduknya, di sekitar Wisma juga terdapat beberapa miniatur dari Candi Prambanan, Candi Borobudur dan Patung Gajah Mada . Beberapa penghuni ekstra seperti : Bruno, Packo, Caddy dan Gizzy turut   dan “kadang” meramaikan  atau menghibur yang melihatnya… (Foto menyusul).

Dari  rumah kediaman ini kami hampir setiap hari mencoba berkenalan dengan banyak hal  yang berhubungan dengan kota dan penduduk Bogota.

Lain kali akan saya coba lanjutkan dengan cerita tentang makanan asli Bogota (Columbia).

Tot weer schrijven en doe doei..

 

*Adik terbiasa menyapa saya dengan Bude sejak dulu, untuk mengajari para ponakan bagaimana harus menyapa saya ketika mereka masih kecil. Duluuuuuuuuu!!

 

58 Comments to "Berlibur ke Bogota-Columbia 2013"

  1. nu2k  31 August, 2013 at 13:51

    Mbak/mas Radina, kalau biaya jalan-jalan ke Bogota sangat bergantung pada : 1. Penerbangan mana yang akan dipakai; 2. Lewat Bandara mana anda akan terbang; 3. Dimana anda akan menginap; 4. Obyek wisata mana yang akan anda kunjungi: 5. Berapa lama anda akan berada di Bogota. dll, dll

    Saya kira untuk menyesuaikan dengan kebutuhan dan kesiapan isi dompet, beberapa data yang ada di internet (bureau perjalanan dll) bisa dijadikan sebagai bahan pertimbangan anda.

    Selamat mensurvey untuk penerbangan dan vakantie ke Bogota. Fijn weekend, Nu2k

  2. radina  31 August, 2013 at 09:58

    selamat siang ibu ) saya mau tanya, kira2 berapa total biaya untuk ke bogota?

  3. nu2k  16 August, 2013 at 22:36

    Mbak Nur, dalam cerita minggu ini saya menuliskan tentang makanan khas Bogota. Sampun dhipun waos toch..Yang lainnya menyusul. Sampai lain kali en gr. nu2k

  4. nu2k  16 August, 2013 at 22:18

    Mbak Nur, sudah ada lanjutannya lhooo… Kalau tidak ada halangan tulisan saya akan bisa tayang lagi… Mumpung ada waktu kosong dan banyak yang aneh-aneh, terutama untuk saya…Matur nuwun sudah membaca cerita saya. Tot weer schrijven en fijn weekend, nu2k

  5. Nur Mberok  16 August, 2013 at 11:43

    Halo halo halo…. Bu Nuk….. lama gak nongol, sekali nongol ngajak jalan-jalan asik asik…..

    Besok lagi ya… maturnuwun……

  6. nu2k  15 August, 2013 at 03:33

    Kangmas SM, matur nuwun kiriman lewat wh-appnya. Monggo kalau mau berkomentar lewat dunia maya ini. Welterusten en tot weer schrijven, Nu2k

  7. nu2k  12 August, 2013 at 10:51

    Goedemorgen dimas ISK. Pasti ngajak guyon khan. Lhooo, bukannya jeng Dewi dari negeri Khayangan yang turun ke bumi karena mau menengok dimas ISK…Ha, ha, ha.. Mau baca artikel barunya, mumpung ada waktu sedikit.. Kus, kus, kus, Nu2k..

  8. IWAN SATYANEGARA KAMAH  12 August, 2013 at 08:46

    Yaaaa….hanya 2-3 jam bisa langsung ke Suriname. Bisa menyembuhkan kangen omongan Jawa setelah beberapa hari telingan terdengar bahasa Spanyol.

    Ayo, mBakyu… ke Suriname, ke kampungnya Dewi Murni.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.