Sakit Jiwa

Wesiati Setyaningsih

 

Banyak orang yang sebenarnya sakit jiwa tapi tidak pernah menyadarinya. Mereka menganggap orang yang sakit jiwa itu hanya mereka yang gila: bicara sendiri sambil tertawa-tawa atau marah-marah dan berjalan sepanjang jalan dengan baju acak-acakan. Padahal yang namanya sakit tidak harus seperti itu. Bisa saja kita-kita yang sepertinya sehat-sehat saja, sebenarnya secara kejiwaan sedang sakit. Itulah yang saya alami.

Suatu ketika seorang teman FB, Koh Han, meminta saya untuk menulis buku. Dia memuji tulisan saya bagus dan pengalaman saya mengajar itu unik. Andai semua itu saya tuangkan menjadi sebuah buku, pasti akan bermanfaat untuk para guru, katanya.

Tapi saya malah mengelak dengan alasan saya tidak pantas menggurui para guru dengan tulisan saya, juga berbagai alasan lain untuk menghindar. Mungkin sebenarnya alam bawah sadar saya memang ingin menuliskannya. Saya hanya mencari-cari alasan yang tepat untuk memulai. Akhirnya, ada suatu peristiwa yang menyadarkan saya bahwa buku itu memang harus saya susun. Maka mulailah saya mencoba untuk menulis.

Masalah tidak selesai di situ. Saat sedang mulai artikel satu per satu yang sekiranya nanti bisa dikumpulkan jadi satu di buku, tiba-tiba muncul perasaan,

“Ini semua untuk apa? Belum tentu hasilnya akan bagus. Belum lagi nanti pasti banyak komentar  yang mengkritik tulisanmu. Sudahlah. Enggak usah. Cari perkara saja. Wong kamu nggak ngapa-ngapain aja orang ngomentarin kamu kok. Apalagi nulis segala. Pasti nanti tulisanmu dikomentarin sama mereka.”

Kalimat-kalimat itu meracuni pikiran saya bercampur dengan semua tekanan bahwa saya tidak mungkin sehebat itu sehingga tulisan saya akan berharga buat orang lain. Dalam situasi seperti ini, saya curhat dengan Koh Han. Beruntung Koh Han tahu benar memperlakukan orang seperti saya. Awalnya dia mengelus dengan bujukan, lalu menyadarkan dengan tamparan saat dia mengatakan, “Kamu itu memandang rendah dirimu sendiri”, terakhir dengan tendangan : “Kamu sakit. Aku nggak bisa bantu kamu untuk mengatasinya. Cuma kamu sendiri yang bisa.”

Saya tercenung dengan kalimat, “Kamu sakit.”

Saya sakit? Benarkah? Ah, dia yang gila. Tapi masak dia yang gila? Dia sudah menyuruh saya menulis buku. Dia tahu saya mampu. Dia bilang buku ini akan bermanfaat buat orang banyak. Saya yang terus menerus menghambat diri saya sendiri untuk tidak usah menyelesaikannya. Jadi siapa yang gila sekarang?

Dengan agak panik karena tersadar bahwa saya memang sedang sakit, saya mulai membongkar lagi tumpukan buku dan mencari buku kiriman Mbak Fety, teman FB juga, berjudul “Stop Self Sabotage”. Urusan menulis buku saya hentikan dulu. Ada hal dalam diri saya yang harus saya benahi dulu. Buku itu tidak akan selesai kalau saya tidak menyembuhkan diri saya sendiri yang memang sedang sakit.

Perlahan buku itu saya baca lagi dan mencari tahu bagaimana menghentikan sabotase diri yang terus menerus saya lakukan selama ini. Saya ngomel dalam hati bahwa dengan perjalanan hidup saya hingga saat itu yang saya kira saya sudah berubah menjadi orang yang lain yang lebih percaya diri, ternyata penyakit lama yaitu menyabot diri sendiri masih saja bercokol. Tidak ada jalan lain, saya harus mencari tahu kenapa saya melakukan itu.

Buku itu tidak terbaca sampai selesai, semangat saya menulis mulai membara lagi. Maka saya mulai menulis lagi. Akhirnya draft buku tersebut selesai hampir tanpa hambatan psikologis lagi. Besar terima kasih saya pada Koh Han yang bukan hanya membantu saya menulis buku dengan ikut membantu menata konsep buku tersebut, tapi juga membuat saya menyadari bahwa masih ada bekas sakit jiwa yang tersembunyi di dalam diri saya.

Selesainya buku itu, meski sampai sekarang belum tahu akan terbit kapan, tapi semua prosesnya memberi saya sebuah perjalanan jiwa yang luar biasa. Saya bangga karena saya bisa menyelesaikan satu buku. Itu menjadi awal dari penyelesaikan buku-buku berikutnya. There’s always the first thing for everything, right?

Selain saya lebih percaya diri untuk menulis buku berikutnya, saya juga mampu mengatasi rasa kuatir saya akan komentar orang kalau suatu saat buku itu nanti terbit. Dan yang paling penting, saya mampu segera mendeteksi diri saya sendiri ketika penyakit itu akan muncul lagi.

Dari pengalaman tersebut, saya jadi bisa mendeteksi mereka yang sebenarnya juga sedang sakit. Ketika seseorang tidak ingin melihat kelebihan dalam dirinya sendiri dan orang lain, serta sulit membuat dirinya sendiri dan orang lain bahagia, sepertinya itu tanda-tanda paling tampak bahwa  orang itu sedang sakit.

Maka ketika ada teman FB menyapa dan bertanya, “Bu, menurut ibu saya cantik tidak?”

Saya mulai melihat lampu sign menyala karena saya melihat foto di profilnya bahwa dia cantik dan cukup untuk membuat perempuan lain iri. Saya katakan dia cantik dan saya puji seperlunya. Tapi ketika dia terus menerus mengelak dan mengatakan dia tidak cantik padahal saya sudah terus menerus berusaha meyakinkan dia bahwa dia cantik, maka saya katakan padanya,

“Kayanya Mbak sedang sakit, deh.”

sakit jiwa

(Beruntung teman tersebut tidak meremove saya dan persahabatan kami masih seerat sebelumnya. Hehe..)

 

About Wesiati Setyaningsih

Seorang guru yang tinggal di Semarang. Awalnya tidak ada niat untuk menjadi guru, tapi kemudian "kesasar" menjadi guru. Mencoba mendobrak "pakem baku" proses pengajaran, juga mendobrak ketidaklogisan pencekokan agama membabibuta di sekolah dan keseharian murid-muridnya. Sering dianggap "off-track" bahkan tidak jarang mendapat cap sesat karena sikapnya yang tidak seperti kebanyakan mainstream.

My Facebook Arsip Artikel

Share This Post

Google1DeliciousDiggGoogleStumbleuponRedditTechnoratiYahooBloggerRSS

41 Comments to "Sakit Jiwa"

  1. Nur Mberok  16 August, 2013 at 11:32

    Gpp lah dianggap gila, sing penting ra nggilani…. hahahahaha……

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *