Rakit

Alfred Tuname

 

-Untuk Max N.

rakit

Kita bertemu di bibir muara setelah air sungai mengangkut material kata, menenggelamkan raga dan menggelembungkan akal. Baru beberapa waktuyang lalu bajir itu. Kau sudah menamparku dengan balok akal darisisa-sisa kisah genangan banjir. Mungkin benar. Juga baik. Mungkinsaja kau sedang memahat rakit. Kau sedang hendak masuk samudera.Nanti, rakit itu kau pakai. Tak segaja, balok itu mengenaiku.

Rakitku juga urung rampung mengapung. Butuh beberapa balok lagi untukmerapatkan pelepah-pelepah nalar. Pencarian itu membuatku lelah lelapdi atas pasir. Balok yang berlabuh di atas pelipis membuatku terjaga.Kupakai saja balok itu untuk rakitku.

Sekarang, di mana samuderamu, kawan?

 

Djogja, Juli 2013

AlfredTuname

 

2 Comments to "Rakit"

  1. Anastasia Yuliantari  10 August, 2013 at 08:28

    Ooohhhh….Max N, bukan Max A. Hehehe. Udah resah dan gelisah duluan akibat pengantar si DA.

  2. James  10 August, 2013 at 07:05

    SATOE, rakit bambu

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.