Bali dan Lombok

Kurnia Effendi

 

sengiggi-beachfront

BALI NIKMAT

Chinese tea meruapkan napasmu. Di bawah tudung
berahi, api berkobar membakar jarak antardebar
Semburat isyarat dari seluruh matamu yang tumbuh
di sekujur tubuh, mengalirkan kesumat. Kucermati
sengat hangat pada pembuluh jangat, bagai mengantarku
berangkat ke tebing hasrat

Jauh di lembah, gairah tumpah, menobatkanku sebagai
arkeolog yang terserang demam. Dengan kunang-kunang
merubung pandang kusibak rimbun semak: menulis sajak
di relung gua. Kuterka jumlah stalaktit dari lirih jerit

Ah, siapa tenggelam di sana? Menyeru ratap harap
dalam gelap, serupa pejam yang dikekalkan kertap sayap
malaikat. Teluh biru yang  terbenam setelah sungsang
bermalam-malam. Aku melayari lautan dendam. Karam!
2011

 

 

PURNAMI

Bulan legit di ambang serambi. Kucicip lingkar kuningnya
hingga mrengangah rongga mulutku. Erang panjangku
menggapai anjungan nirwana. Membangun pura cemburu
para dewa. Tak sampai detik beralih, aku jadi remah arang
diobong-gosong luka. Terlempar jauh ke Jembrana
2011

 

 

NUSA DUA

Serasa perempuanku yang baru, aroma purba itu terlahir
merah dadu. Gundah yang membuncah, mengubah tetirah
jadi desir likat darah. Atas nama tanah bertuah, kutumpahkan
air perasan sejarah. Terpandang tilas langkah sang pembawa
berkah, tersimpan sebagai zarah

Aku tak mau punah. Sumpah!
2011

 

 

JIMBARAN

Semriwing angin terembus dari Darwin: rindu terpilin
Meniru rambutmu jalin-menjalin. Angin dari induk yang sama:
meniup padam api lilin

Debur cinta dari palung membentuk cekung beliung. Memangkas
lebat jarak yang merintangi arah kedatanganmu. Kutangkap
seratus pilu pada basah mata itu

Cahaya terperam malam, menyusun bilangan pertemuan.
Sandi rahasia yang disiarkan ranjang bungalow. Tempat kita
acap tidur, tak terusik garang matahari

Akan kutagih ciumanmu yang mirip serangan hiu. Di ulu
leherku kausisipkan sihir untukmembekukan setiap kenangan.
Aku tak mau bangun lagi!
2011

 

 

DENPASAR-MATARAM, TERBANG MALAM

(1)
Kutinggalkan Denpasar serupa melepas pelukan pacar
Denyar sensasi samar menuntunku pergi ke seberang cadar
Lelampu berserak saling mengedipkan pesan: di udara,
maut tak lebih dekat. Kesendirian di antara yang asing
menyerahkan sunyi ke dasar hati

(2)
Teringat lukisan Srihadi: horison cahaya membelah malam
Memisahkan langit hitam dan laut legam—lanskap yang kerap
kucuri dari matamu, selagi tubuh kita menyatu

(3)
Dua puluh menit semata menjauh darimu. Pada lengkung
tipis itu aku melompati jarak yang takmenghapus harum lehermu
Kupastikan di Mataram terhampar ranjang luas dengan seprai
setenang teluk. Di atasnya, aku meringkuk setengah mabuk
2011

 

 

SENGGIGI

Ini sarapanmu:
Pekat udara pagi dioleskan pada selapis permukaan air pantai Senggigi
Lalu turun hujan dinihari

Mari kita kenang mimpi semalam
Terbang dengan sayap terluka, di atas selat terbuka
Pada sebaris bulu matamu kukibarkan cinta

Ombak yang kekal mirip perilaku anak bengal
Ia hidup dalam ciumanmu, rajin membikin aku tersengal
Dalam gaduh perasaanku: kudengar suara kapal

Ini mantelmu:
Langit yang mengatasi gerimis, hangat berlapis-lapis
Jangan sekali-kali meniru baju laut yang basah
2011

 

2 Comments to "Bali dan Lombok"

  1. Lani  11 August, 2013 at 13:06

    Setuju dgn James

  2. James  11 August, 2013 at 10:45

    SATOE, lebih Indah/asri Lombok karena Bali sudah menjadi Paradise of Hotels

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.