Miss Know It All (10)

Yang Mulia Enief Adhara

 

Pagi itu Mbak Mur hanya guling-guling di ranjang, semalaman dia terkena alergi. Ceritanya berawal saat dia memesan mie di food court tadi malam. Mbak Mur memesan mie dengan sapi lada hitam, namun ternyata cashier salah mendengar maka jadilah mie dengan udang.

“Lhoo??? Kok udang sih??? Akyu ni mesen sapi lada hitam lho? Akyu ini alergi siput (seafood)”, Ujar Mbak Mur dengan wajah dibuat sesedih mungkin.

Cashier yang melayani pesanan kami seorang gadis berusia 19an, nampak gugup, “Aduh maaf Kak …. Saya tadi salah dengar, biar segera kami ganti”.

Mbak Mur langsung tersanjung saat dipanggil ‘Kak’, dan dia pun bicara bagai Kanjeng Ratu saat meninjau rakyatnya , “Ohh ndak apa-apa sayangku, sudah ini aja deh gak apa-apa kok, kalo salah order kan kamu yang ganti kerugian, kasian kamu ah”.

Dan akibatnya sekujur tubuh Mbak Mur bentol-bentol merah. Semalaman dia merintih-rintih di ranjang. Namun sebenarnya alergi itu juga tidak fatal karena sesaat dia meminum obat alergi tubuhnya tak lagi gatal-gatal, dia hanya mencari belas kasihan kedua orang tuanya.

*****

“Ya udah aku siap-siap deh kalo gitu, kamu langsung jemput aja yaa”, Ujarku pada Mira melalui telepon.

Saat aku menoleh ke belakang, Mbak Mur sudah berdiri di pintu kamarku, “Hmmm bagus?!! Jadi akyu ndak diajak??? Akyu baru alergi aja udah dikucilkan?? Padahal akyu dah sehat bahkan lebih sehat dari biasanya”

Aku membuka lemari sambil sibuk memilih gaun, “Mbak? Kan kamu baru kena alergi? Mosok mau ngikut sih? Aku tuh cuma nemenin Mira dan Vina doank! Mereka mau beli tas”.

Mbak Mur berjalan lunglai ke dalam kamarku lalu duduk di tepi ranjang dengan wajah dibuat pilu sebagian rambutnya menutupi wajah, dia bagaikan seorang putri cantik yang kehilangan pangerannya, “Jadi Murtiarti mulai dilupakan?? Mentang-mentang akyu lebih suka belanja di Mangga Dua, nih akan akyu buktikan akyu bisa juga kok belanja tanpa nawar”, Ujar Mbak Mur sambil mengeluarkan kredit card platinum dari dalam BH-nya.

Aku sempat tercengang, “Hah? Mbak ngapain naruh kartu di BH??? Trus kok jadi mikirnya jelek gitu, karepmu ah kalo mau ikut yang jelas Mira sama Vina udah menuju sini”.

Mbak Mur langsung panik, ” Ya Allah Gustiiiii aku durung mekap (make up) blas!!! Ohhh iya Na, iki kartu baru aja dikasih Papi oq pas aku dari dapur!!! Hadiah biar akyu cepet sembuh!!”, Sahut Mbak Mur dan lari pontang panting ke kamarnya, hingga sendal kamarnya tertinggal di dalam kamarku. Aku hanya menarik nafas melihat ulah Mbak Mur.

*****

Dalam sejarah, inilah riasan tercepat yang pernah Mbak Mur lakukan. Dia jelas tidak sempat mengeroll rambut maka dia hanya membuat sanggul cepol dengan tambahan bunga mawar besar warna merah, norak sekali. Untuk wajah dia memulas wajah dengan bedak putih yang akibatnya membuat wajahnya nampak abu-abu dan tak lupa bulu mata palsu dengan eyeliner tebal di garis mata atas. Tak ketinggalan lipstrik merah cabe dengan lip gloss yang terlihat becek. Asli wajahnya mirip ronggeng.

“Nih aku sekarang gaya 60an, eh Na ini tas Herpes (Hermes) terbaru lho, aku beli di Mangdu bareng Debby dan Ida. Kata mereka aku mirip Putri Kakao lho!”, Mbak Mur bicara dengan bangga. Hidungnya megar bagai burung merak.

Aku menuruni tangga sambil heran, “Kakao apaan sih!? Kakao Talk?? Kok bisa?”, Sahutku sambil lalu.

Mbak Mur nampak kesal tidak menjadi pusat perhatian, “Parah! Itu lho yang ada di Eropa yang Ratunya dulunya artis! Mosok ndak tau sih?”.

“Masyaallah!!! Itu Monaco Mbak! Kowe sing parah!! … Aku yo pernah baca kalo Grace Kelly yang pertama pakai tas yang sekarang disebut tas Kelly, tapi jelas punyamu KW Mbak kaya biasanya”, Aku menjawab sambil membuka pintu hall.

Mbak Mur cemberut, dia selalu yakin semua belanjaannya adalah asli dan lebih murah lantaran pajak lebih kecil di Mangdu plus dia jago nawar.

****

Dan begitu kami menapakkan kaki di Plaza Indonesia Mbak Mur mulai pasang aksi, dia kini akan membuktikan bahwa kartu platinum yang berada di dompetnya adalah bukti pengukuhan bahwa dia anak orang kaya yang tahu akan mode.

Mbak Mur tiba-tiba masuk ke butik Hermes. Vina dan Mira menahan nafas melihat ke-PD-an Mbak Mur yang jujur saja, dandanannya nggak banged, membawa tas palsu dan masuk ke butik resmi dan dengan cueknya nenteng tas Birkin palsu.

“Gila tuh Mbak Mur, tas merek itu bisa 140 jutaan lho! Ya semurahnya di atas 30 juta. Udah kita nonton dari luar aja yuk!”, Bisik Vina kepadaku dan Mira.

Mira ikut berkomentar, “Gila banged Mbak Mur, pasti bakal kacau nih”.

Dan Mbak Mur masuk seorang diri dengan gaya sok anggun. Butik yang didominasi kayu warna jingga itu nampak sepi, otomatis kehadiran Mbak Mur langsung menyita perhatian beberapa Shop Assistant yang bertugas. “Selamat siang …. ada yang bisa saya bantu??”, Sapa seorang wanita muda berbusana setelan hitam.

Mbak Mur mengangguk sok anggun, lalu dia mulai bicara, “Akyu mau beli tas … Akyu kan baru dibuatin Papi kartu platinum”.

Shop Assistant nampak ragu, berkali-kali dia melirik tas yang tergantung di pergelangan tangan Mbak Mur. Dia tahu pasti tas itu palsu. Namun demi kesopanan Shop Assistant mengajak Mbak Mur ke sebuah rak yang penuh koleksi tas serupa dengan yang dipakai Mbak Mur.

Mbak Mur langsung lupa diri, begitu indah aneka tas dengan warna warna berani namun sangat terlihat mewah. “Ihh akyu suka yang pink itu deh, kalo merah akyu udah punya, nih yang akyu pake. Ehh iya di rumah masih ada yang item, biru, kuning sama ijo”, Mbak Mur tak terbendung langsung pamer.

Shop Assistant mulai masam, namun dia tetap mengambil sebuah tas warna pink dan meletakkan di atas meja kaca. Mbak Mur segera mengambil tas itu dan sibuk mematut diri di depan cermin besar.

“Ihhh akyu keliatan cantik dan modern banged! Hmm berapa nih harganya?”, Ujar Mbak Mur sok asik.

Shop Assistant yang kini yakin 100% Mbak Mur memakai Hermes palsu, menjawab dengan dingin, “Yang ini 120 juta Mbak dan ini hanya ada satu saja, tergantung Anda mau yang jenis apa? Kelly: Rp 100 jutaan, Birkin: Rp 100 jutaan, Lindy: Rp 75 juta, Bolide: Rp 79 juta, Victoria: Rp 49 juta, Kanvas: Rp 21 juta dan Tas kulit buaya + diamond: Rp 1 miliar.

hermes

Mbak Mur memicingkan mata, “Maksud looh?? Cuma satu? Gimana sih jualan kok gak niat? Di Mangdu tuh banyak banged dan harganya aja cuma 1,5 juta, temenan wes (beneran deh) toko di sini menang gaya doank! Mana mahalnya gak kira-kira gini?” Sahut Mbak Mur tanpa ragu.

Shop Assistant yang makin gerah kini tak lagi peduli sopan santun, “Mbak! Tas yang anda bawa itu PALSU”, Ujar Shop Assistant sambil menekankan kata ‘palsu’.

Mbak Mur mulai ‘lupa’ dirinya titisan Kanjeng Ratu, dia menjawab dengan sengit, “Heh!! Keluarga akyu tuh kaya banged ya! Ojo ngece kowe ngilokno tas-ku palsu! Tas Herpes di Mangdu tuh asli! Lha wong sama gini kok! Akyu bisa lho beli toko ini se-kamu-nya sekalian, kartu akyu tuh platinum lho?! Dana tanpa batas kata Papi akyu!!”, Mbak Mur menjawab dengan emosi jiwa.

“Ohh ya?? Kami tidak berani bertransaksi dengan anda, bisa saja itu kartu palsu atau curian, kecuali anda bisa membuktikan dengan menelpon Bank penerbit”, Sahut Shop Assistant tidak mau kalah.

Mbak Mur kini benar-benar tersinggung dan bahkan terluka batin, dan belum lagi dia menyahut dengan serta merta dua satpam memegang tangannya dan menariknya menuju pintu, “Maaf Ibu! Sebaiknya anda segera pergi atau kami menghubungi keamanan gedung”, Ujar salah satu Satpam.

*****

Aku, Vina dan Mira segera menghampiri Mbak Mur yang wajah abu-abunya kini agak berwarna keunguan karena emosi. “Mbak! Ada apa? Kok sampe dikeluarin dari toko sih???”

Mbak Mur pun berkisah dengan nafas ngos-ngosan, “Lha jualan kok cuma satu doank! Akyu bilang di Mangdu banyak dan jauh lebih murah ehh akyu malah dikira mau nipu”, Ujar Mbak Mur menutup kisah sedihnya.

Mira berbisik padaku, “Na, padahal maksudnya cuma satu itu ya karena tas itu limited edition, dan harganya memang sangat mahal. Asli Mbak Mur ini ngawur banged”.

Aku mengangguk, aku heran kenapa Mbak Mur tidak berusaha menambah wawasannya? Selalu saja sok tau dan angkuh. Mira mengusap pundakku seolah memintaku bersabar.

Dan akhirnya rencana belanja itu rusak lantaran tragedi Mbak Mur, dia kini bungkam. Kami sebenarnya kasihan namun toh semua itu ulah Mbak Mur sendiri. Mbak Mur hanya diam tanpa berbicara. Apapun yang kami tawarkan disambutnya dengan gelengan.

*****

Di mobil pun Mbak Mur diam seribu bahasa sambil memangku tas ‘Herpes’ merah yang dibawanya. Di sudut mata Mbak Mur terlihat airmata, hatinya sakit diusir seperti itu. Namun dalam hati aku justru berharap semua ini menjadi pelajaran bagi Mbak Mur yang sombong dan sok tahu. Walau aku tahu semua itu hanyalah harapan kosong.

Baru kali ini Mbak Mur yang anak orang kaya diusir dengan kejam dari sebuah butik, “Padakno aku iki penjahat! awas pokoke …. akyu bakal tunjukin akyu iso tuku tak kui 5 pikul (disamain sama penjahat aku nih! awas pokoknya …. aku bakal tunjukan aku bisa beli tas itu 5 pikul)”, Ujar Mbak Mur dengan suara bergetar karena masih emosi.

Aku, Vina dan Mira hanya saling berpandangan, tidak tahu harus berbuat apa. Sifat burk Mbak Mur bagai karat yang sudah mengikis sebuah besi, diapakan saja akan tetap bolong karena karat.

 

6 Comments to "Miss Know It All (10)"

  1. J C  14 August, 2013 at 04:41

    Murlani memang jiaaaannn…Praja ex Mangga Dua kok buangga puol…

  2. Silvia Utama(SU Bumi)  12 August, 2013 at 15:56

    This I know, that I also know…..afterall I am Miss Know It All

  3. tri  12 August, 2013 at 14:46

    hahahaha……Mbak Mur…Mbak Mur…kapan waras ya…

  4. Lani  11 August, 2013 at 13:04

    James udah brp kali ngintil dibelakangku ya? Selamat menikmati akhir pekan…….

  5. James  11 August, 2013 at 10:42

    DOEA, ngintil Lani

  6. Lani  11 August, 2013 at 09:01

    satoe Murdewiati

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.