Tarawih Patas

Wesiati Setyaningsih

 

Tiap Ramadhan pasti memberi warna sendiri. Kali ini Ramadhan di rumah yang baru kami tinggali, menjadi Ramadhan pertama di lingkungan baru. Di rumah sebelumnya, rumah orang tua saya yang saya tinggal sejak kecil, kami bisa tarawih di masjid yang kini sudah dibangun dengan megah dua lantai. Saya dan Izza biasa berangkat sebelum adzan Isya agar bisa mencari tempat yang nyaman, di lantai atas barisan paling depan. Dari situ kami bisa memandang lantai bawah dan tidak terganggu anak-anak kecil yang bukannya sholat malah main-main dan bikin berisik. Tarawih dilaksanakan sebelas rakaat, delapan rakaat tarawih dan tiga rakaat witir. Dua-dua dan terakhir satu rakaat.

Di tempat baru ini kami tidak tahu akan seperti apa. Tapi demi Izza yang katanya mendapat tugas menulis catatan Ramadhan dari sekolah, dia memaksa untuk tarawih. Saya turuti rengekannya pada malam kedua. Saya sendiri meski awalnya malas, jadi penasaran juga seperti apa tarawih di perumahan berbentuk cluster begini karena mushola yang ada tidak terlalu besar.

Malam itu saya berangkat awal ke mushola yang ada di perumahan naik motor bersama Izza karena letaknya agak jauh dari rumah. Sampai di sana sepi, sama sekali tidak ada orang.

“Walah, enggak ada tarawih apa ya?” Saya celingukan. “Gimana ini? Pulang aja, ya?” saya menatap Izza.

Dengan masygul Izza mengiyakan. Motor saya putar untuk pulang. Baru saja saya meninggalkan mushola, seorang anak kecil dengan perempuan dewasa memakai rukuh berjalan keluar dari sebuah gang ke arah mushola.

Wah, jangan-jangan mereka mau tarawih, pikir saya.

Jadi motor saya putar lagi sekalian mendekati mereka. Saya bertanya pada si mbak apakah ada tarawih di mushola. Dia mengiyakan. Jadi saya dan Izza kembali ke mushola.

Mengikuti mbak dan anak kecil itu, saya masuk ke mushola yang tampak sangat kecil dibandingkan mesjid di dekat rumah ibu yang besar dan berlantai dua.

“Di sini berapa rakaat?” tanya saya sambil menggelar sajadah.

Ini penting. Paling tidak kalau di mushola ini rakaatnya sampai 21, saya bisa siap mental duluan.

“Sebelas biasanya, bu.”

Saya lega mendengarnya. Sebelas itu cukup manusiawi. Lebih dari itu butuh stamina dan keikhlasan ekstra.

Di halaman mushola ada tenda yang dipasang di atas pavingan, di sekitarnya dibiarkan tersisa berupa rerumputan.

“Bu, ini kita di sini, tapi nanti kalo bapak-bapak sudah datang, biasanya kita di belakang situ,” kata si mbak memberi tahu.

Saya hanya melongo. Payah, pikir saya. Kita yang sudah datang duluan tetap saja memberi tempat buat bapak-bapak yang datang terlambat karena memang aturannya lelaki harus ada di depan.

“Lha kita di mana, dong?”

“Biasanya di situ, bu.”

Si mbak menunjuk tempat pavingan dengan atap tenda. Wah, untung hujan sudah reda. Kalau tidak bisa-bisa jamaah perempuan tidak bisa sholat dengan nyaman karena pasti kena air hujan. Tenda didirikan dengan empat tiang dan tidak ada penutup kain atau apa. Paving yang basah tampak lembab tanpa alas apa-apa.

Melihat wajah saya yang heran si mbak menjelaskan lagi, “Biasanya di situ sudah digelar plastik. Entah kenapa malam ini belum dipasang.”

Benar saja, tak lama setelah itu ada yang memasang plastik lebar di tempat paving itu. Dan ketika jamaah laki-laki sudah mulai datang, mbak itu mengajak saya untuk pindah tempat ke bawah tenda yang sudah dialasi plastik tersebut.

Beruntung saya sengaja datang awal untuk pengenalan medan lebih dulu. Kalau saya telat, bisa-bisa sudah tidak ada tempat karena begitu kami pindah ke situ, tempat untuk para wanita itu sudah langsung penuh.

Tarawih diawali dengan sholat Isya seperti biasa. Saya pikir akan seperti di mesjid tempat kami biasa tarawih, akan ada semacam sambutan atau pembukaan yang memberitahukan siapa imam memimpin sholat malam itu dan siapa ustad yang akan memberikan khotbah. Juga diumumkan jumlah sodakoh dan infaq yang didapat malam sebelumnya. Setelah itu disambung dengan pertanda memulai sholat tarawih dua rakaat pertama. Dan tanda itu diteriakkan tiap kali akan memulai dia rakaat berikutnya.

Tapi malam itu tahu-tahu para lelaki yang ada di dalam mushola sudah berdiri.

Saya memandang ke jamaah di sebelah saya, “Ini langsung tarawih?”

Dia mengangguk tersenyum memahami kebingungan saya. Surat yang dibaca pendek-pendek. Saya senang. Ternyata tarawih dilakukan empat rakaat dua kali untuk tarawih dan tiga rakaat langsung untuk witir. Tidak saja surat yang dibaca adalah surat-surat pendek dari juz amma, tapi juga tidak menyediakan waktu yang cukup untuk membaca bacaan di antara takbir. Begitu takbir sujud, belum sampai dahi saya menempel lantai, imam sudah takbir lagi.

Wah, keren nih, pikir saya. Benar-benar kaya senam jadinya.

Selesai empat rakaat pertama, segera disambung empat rakaat berikutnya. Dengan demikian tarawih selesai. Biasanya selesai tarawih ini ada khotbah dan itulah saatnya anak-anak yang dibekali buku Ramadhan dari sekolah akan mencatat isi khotbah.

“Buku kamu dibawa?” tanya saya pada Izza.

Seingat saya dia tidak membawa buku apa-apa. Dan benar, dia menggeleng. Walah, gimana sih ni anak? Dari kemarin ngeyel ingin tarawih katanya mau mencatat khotbah, malah tidak bawa bukunya.

Tapi tiba-tiba para jamaah lelaki sudah berdiri lagi. Saya bingung lagi dan menoleh ke sebelah saya.

“Loh, ini langsung witir? Kok nggak ada khotbahnya?”

“Kemarin ada, kok. Nggak tau, bu, kali ini PATAS.” Dia tersenyum…

Saya ikut tersenyum. Saya senang saja. berarti bisa pulang cepat. Bisa menjalankan rencana untuk setrika dan membuatkan pancake buat suami seperti yang diminta sebelum berbuka.

Malam itu kami pulang setengah delapan. Tarawih paling cepat dalam hidup saya. Sambil menghidupkan motor, saya bilang ke Izza, “Asik, ya. Jam segini sudah pulang.”

Izza menukas cepat, “Enggak ah. Enggak enak. Enakan di tempat Uti (eyang putri/nenek).”

Saya terkekeh. Ternyata kami beda selera.

Herannya malam berikutnya ketika saya tidak bisa menemani Izza tarawih dan Izza tidak mau tarawih tanpa saya, terdengar sayup-sayup dari rumah khotbah tarawih dari mushola. Walah.

 

About Wesiati Setyaningsih

Seorang guru yang tinggal di Semarang. Awalnya tidak ada niat untuk menjadi guru, tapi kemudian "kesasar" menjadi guru. Mencoba mendobrak "pakem baku" proses pengajaran, juga mendobrak ketidaklogisan pencekokan agama membabibuta di sekolah dan keseharian murid-muridnya. Sering dianggap "off-track" bahkan tidak jarang mendapat cap sesat karena sikapnya yang tidak seperti kebanyakan mainstream.

My Facebook Arsip Artikel

8 Comments to "Tarawih Patas"

  1. anoew  18 August, 2013 at 22:11

    walaah PATAS , kok kayak BUS AKAP

  2. J C  14 August, 2013 at 05:02

    Wesiati, tahun depan kowe mempelopori TARAWIH MBLANDANG saja…

  3. Dj. 813  14 August, 2013 at 01:04

    Mbakk Weeees….
    Kasihan juga ya, kaum wanita selalu dijadikan nr.2
    Tidak boleh duduk didepan, selalu dibelakang.
    Apakah peraaturan ini, dari TUHAN, atau peraturan manusia…???
    Salam,

  4. Handoko Widagdo  13 August, 2013 at 19:50

    Ya nanti dilanjutkan dengan yang kelas bumel atau senja utama.

  5. [email protected]  13 August, 2013 at 15:45

    Kenapa pria harus didepan…. datang telat ya di belakang….
    masih mengecilkan perempuan suruh di belakang….

  6. Hennie Triana Oberst  13 August, 2013 at 10:39

    Tarawih patas Lucu juga pengalamannya, Wesiati.
    Aku dulu waktu tinggal di Medan juga milih tarawih di Meunasah yang rakaatnya 11, ketimbang di mesjid yang rakaatnya sampai 21 hehehe….

  7. Lani  13 August, 2013 at 09:19

    WESIATI : wadoh aku ora mudenk, opo to kuwi sholat tarawih PATAS? spt bus saja……….apakah ini bs disamakan sholat kilat ngono????? heheheeh

  8. nu2k  13 August, 2013 at 07:54

    Selamat pagi buta, mbak Wesiati. Ada toch sholat tarawih PATAS ..Ha, ha, haa…Groeten en dag dag , Nu2k

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *