Ayo Berlomba Mengaku Luput

Kang Putu

 

SETELAH sebulan penuh berpuasa, menahan lapar dan dahaga, serta mengendalikan segala hasrat duniawi, orang-orang pun bersukacita. Ya, lebaran telah tiba dan mesti dirayakan.

Banyak cara merayakan lebaran, banyak cara mewujudkan kegembiraan. Anak-anak, misalnya, berbaju baru, bercelana baru. Saku berisi uang pemberian sanak-saudara dan tetangga kiri-kanan yang mereka sambangi ketika meminta maaf, berhalalbihalal. Di rumah, ada ketupat dan opor ayam. Lalu, pada malam hari, mereka bisa menyalakan kembang api dan bahkan (jika diizinkan atau sembunyi-sembunyi) menyalakan petasan. Ah, betapa sedap, betapa riang.

Namun rasanya masih ada yang kurang. Ya, kegembiraan pun mesti dirayakan bersama-sama. Maka ada pasar malam, yang biasanya berlangsung sepekan. Segala permainan kanak-kanak tersedia, semua makanan dan minuman dijajakan. Dan, sebagai pemuncak: bada kupat atau syawalan dengan segala varian.

Ada perlombaan perahu di sungai atau di laut. Ada arak-arakan seribu ketupat dan lepet. Ada pula tradisi angon putu, masuk-keluar pasar, bagi keluarga-keluarga tertentu.

Kemeriahan pesta, yang seolah-olah nyaris tak pernah usai itu, makin meluap: ketika sanak-kadang yang merantau ke berbagai penjuru negara ini atau ke luar negeri pun pulang, mudik. Sebisa-bisa masih selalu ada pesta tersisa bagi mereka bukan?

Namun apa sebenarnya yang sedang dipertontonkan? Apakah itu tidak menjadi kegembiraan yang berlebihan? Tak cukupkah saling memaafkan dan makan bersama hidangan seadanya, secukupnya? Karena, bukankah setelah itu, hari-hari akan terus bergulir: kembali ke kesibukan mencari nafkah, kembali bersekolah, kembali berjibaku dengan kesulitan hidup. Atau, justru itu menjadi semacam katarsis atau pelampiasan: sekali dalam setahun, bersama-sama, merayakan kegembiraan?

Dulu, lebaran identik dengan kupat dan lepet. Kupat atau ketupat, nasi yang ditanak dalam bungkus anyaman janur atau daun kelapa, semacam lontong. Lepet adalah kue basah dari ketan diadon dengan kelapa dan garam dalam bungkus janur pula yang diikat merang, batang padi kering. Lalu, ada opor ayam. Semua dinikmati bersama keluarga dan sebagian dijadikan hantaran ke saudara atau tetangga: wujud berbagi sekaligus permohonan maaf.

kirab sewu kupat

Foto Ruli Aditio: kirab sewu kupat pada tradisi syawalan di Desa Colo, Kecamatan Dawe, Kudus

Cukuplah itu. Ya, bukankah kupat adalah ngaku lepat, mengaku salah, luput? Dan (kesalahan itu) perlu lepet, dilep sing rapet, ditenggelamkan dalam-dalam. Lebaran sesungguh benar menjadi momentum untuk berlomba-lomba mengaku luput, ngaku lepat. Dan, kemudian, sebagaimana semestinya semua pun kembali bersih dari dosa pada sesama. Lalu, semangat berbagi pun meluas. Bukan cuma pada sesama manusia, bahkan pada alam, pada pepohonan, pada kera pun kita berbagi makanan, berbagi kegembiraan. Bukankah itu perayaan kegembiraan yang bisa menjadi modal sosial untuk bersama-sama menghadapi kehidupan (keras) seusai lebaran?

 

* Suara Merdeka, Minggu, 11 Agustus 2013, halaman 1.

 

6 Comments to "Ayo Berlomba Mengaku Luput"

  1. Dewi Aichi  15 August, 2013 at 09:29

    Kang Putu, mohon maaf lahir dan batin ya Kang…apalagi saya sering bercanda keterlaluan, barangkali tidak berkenan di hati, maka masih dalam suasana Lebaran ini saya minta maaf. Oya terima kasih sudah diingatkan…

  2. J C  14 August, 2013 at 22:51

    Kang Putu, saya sekeluarga mengucapkan Selamat Idul Fitri, mohon maaf lahir batin ya…

  3. Dj. 813  14 August, 2013 at 18:51

    Kang Putu….
    Minal aidin wal Faidzin….
    Sellamat hari Raya Idul Fitri 1434 H .

    Luput itu kan tidak kena.benar…???
    Jadi mengaku luput = mengaku kalau tidak kena kah…???
    Salam,

  4. Handoko Widagdo  14 August, 2013 at 15:48

    Selamat idul fitri Kang Putu. Semoga karya kita ke depan semakin cemerlang bagi kemaslahatan umat manusia dan buminya.

  5. James  14 August, 2013 at 12:08

    DOEA, luput

  6. Lani  14 August, 2013 at 10:58

    satoe

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.