Minuman dan Makanan khas Bogota

Nunuk Pulandari

 

Teman-teman di Baltyra, sejujurnya berkunjung ke salah satu Negeri Amerika Latin sampai akhir tahun lalu, bukanlah prioritas utama dalam acara liburan kami.. Kecuali dulu, dulu sekali, saya memang pernah berangan-angan untuk bisa berlibur ke Brazil terutama untuk melihat Carnaval yang begitu mendunia di Rio de Janeiro. Juga karena begitu semarak dan memikatnya goyang “Salsa” dari para peserta Carnavalnya. Ter informatie: Wij (met ons drieën) houden heel veel van dansen en wij doen het ook heel graag. Kami bertiga sangat mencintai dansa yang mempunyai karakter “aktief dan gembira”. Juga kami sering melakukannya dengan senang hati. Rencana liburan besar baru berubah setelah tahu bahwa adik mulai ditempatkan di Bogota akhir tahun lalu. Dan sedikit oleh-oleh tentang Bogota bisa  saya bagikan untuk pembaca Baltyra semua. “Prettig lezen”: Kata orang Belanda.

Kembali ke cerita tentang Bogota. Seperti yang teman-teman ketahui Bogota adalah ibukota Colombia yang sejak dua  masa Kepemimpinan Presiden terakhir semakin banyak dikunjungi para tourist dari seluruh dunia.  Berpenduduk sebanyak plus minus 36 juta. Sedang kotanya berada di ketinggian 2600m di atas permukaan laut. 90% Dari penduduknya menganut agama Katholik yang dalam hal ini bisa terlihat dari banyaknya gereja Katholik yang ada di kota Bogota. Hampir 90% dari penduduknya menghuni daerah Bogota sebelah Barat. Sedang di bagian Timur terletak daerah Amazone yang terkenal dengan rimba belantara dan kehidupan alamnya.

Bogota adalah sebuah kota yang memang bisa dilihat dari banyak sisinya. Bogota adalah sebuah kota yang memiliki banyak bangunan modern  dan gereja-gereja peninggalan jaman penjajahan. Ibukota yang memiliki wilayah yang dipenuhi dengan peninggalan arkeologis; memiliki puncak-puncak gunung yang diselimuti putihnya sang salju di Pegunungan Andes; sedang di wilayah timur terdapat rimba belantara Amazonenya yang dipenuhi dengan berbagai kehidupan biologis yang sangat menawan; pantai-pantainya yang memutih membentang terlihat bagaikan membentuk “bulatan”  butiran mutiara yang mengelilingi pulau-pulau di sekitar wilayah Colombia . Keindahan pantainya akan sukar untuk dapat dilupakan kalau kita sudah pernah mengunjunginya. Dalam hal keindahan pantainya Colombia adalah satu-satunya negeri di Amerika Latin yang bentangan pantainya berada di sepanjang Grote Oceaan dan di lautan Caribia.

Dalam wisata di salah satu pulau yang bernama Cartagena dengan  beberapa pulau kecil lainnya saya sempat menyaksikan kebersihan  pantainya yang memutih dan cerahnya matahari yang dapat menghangatkan tubuh… Dan satu hal yang tidak boleh terlupakan oleh kita semua adalah bahwa Colombia  juga memiliki kebanggaan yang merupakan hasil utama  produk perkebunannya.  Kopi dan gula pasir.

Khusus mengenai perkopian di Bogota. Sebagai orang Belanda, konco ngajeng saya sangat terikat sekali dengan jam-jam waktu untuk minum, baik teh maupun kopinya. Juga ketika kami berada di Bogota.  Pada awal keberadaan di Bogota setiap kali kami berada di Pusat Kota secara diam-diam kami mencoba untuk menemukan gerai kopi Starbucks atau yang sejenisnya. Pada hari pertama kami tidak melihat dan tidak menemukannya. Agak sedikit kecewa karena seharian tidak minum kopi seperti yang kami harapkan. Lalu sepintas kami menanyakannya  pada mas Dion dan supir yang mengantar mengapa di Bogota tidak terlihat adanya gerai kopi Starbucks. Jawaban mereka sangat mencengangkan telinga kami: ”Starbucks dan sejenisnya dilarang masuk dan membuka cabangnya di Colombia, Budhe……” . Reaksi pertama saya hanya terucap lewat seruan kata: ”Wouuuuw. Kenapa?”.

Rupanya dalam hal ini Pemerintah Colombia sudah menerapkan larangan keras bagi masuknya gerai kopi  dari Luar Negeri seperti Starbucks dan sejenisnya. Larangan ini diperlakukan  tidak hanya di ibu kota Bogota tetapi juga di seluruh wilayah Colombia. Suatu larangan yang dilaksanakan dengan tegas dan bertujuan untuk melindungi hasil perkebunan dan produk kopinya yang ternyata memang sangat istimewa rasanya. Yang sangat patut untuk dipuji adalah selain menerapkan larangan masuknya gerai kopi asing dengan berbagai hasil produknya, Pemerintah juga berusaha untuk mengembangkan dan mengolah hasil kopi mereka sehingga bisa mencapai taraf yang bisa disamakan dengan produk-produk kopi dari luar Columbia. Dan bahkan selalu dicari oleh para toeristen yang mengunjungi Colombia. Tentang hal rasanya menurut saya memang bisa disamakan atau mungkin sedikit lebih enak dari kopi produk Starbucks.

Lucunya dalam perjalanan pulang beberapa hari lalu, di salah satu bandara transit di Amerika, saya mencoba membeli secangkir Cappuccino di gerai Starbucks yang ada.. Daaannn sambil menunggu pesanan dan membunuh rasa iseng,  saya membaca dan melihati produk-produk kopi yang dijual di sana… Ternyata hasil Produk kopi Columbia dan Indonesia memang menjadi salah satu andalannya. Terpikirkan: ”Kok saya baru baca sekarang siiihh. Sedangkan kunjungan  ke Starbucks kan sering sekali saya lakukan???”

Dalam usaha untuk memenuhi kebutuhan minum kopi yang enak dan setaraf dengan rasa kopi yang kita kenal di dunia internasional,  Colombia mempunyai dua warung Kopi yang cukup enak dan bisa bersaing dengan Starbucks. Keduanya bernama:  Juan Valdez Café  dan  OMA Café. Kedua gerai kopi ini bisa kita temukan hampir di semua pusat perbelanjaan dan keramaian  kota lainnya.

Mencicipi rasa kedua produk perkopian tersebut di atas, kami lebih memilih produk dari Juan Valdez Café. Untuk saya dan konco ngajeng  produk Oma Café  terasa terlalu manis. Bukan apa-apa, karena kami minum Cappuccino selalu tanpa gula atau pemanis lainnya.

bogota2 (1)

Foto 1. Salah satu produk minuman Kopi produk Juan Valdez

Melihat cara penyajian dan proses pembuatan serta rasa produk-produk kopi di gerai Juan Valdes, boleh kita acungkan jempol tinggi-tinggi. Tidak kalah dari Starbucks yang mendunia.

 

bogota2 (2)

Foto 2. Dua jenis produk kopi Juan Valdez

Teman-teman, setelah kami berkenalan dengan rasa kopi Columbia dengan merk Juan Valdez hari berikutnya kami dibawa berwisata ke Zoutkathedraal (Kathedral yang berada di gua garam, saya akan ceritakan lain kali)

bogota2 (3)

Foto 3. Lorong pertama untuk masuk ke Katedral di Gua Garam***

Sedikit tentang Katedral di Gua Garam  yang pada awalnya merupakan “pertambangan garam” yang terletak tidak jauh dari Bogota.  Gua ini terletak di desa Zipaquira, kira-kira satu jam naik mobil dari Wisma Dubes di Bogota. Di dalam gua  ini dibangun sebuah Kathedral di “lantai” paling dalam dari lorong-lorong terowongan di “bekas pertambangan garam”. Suatu pemandangan yang sangat menakjubkan dan indah bila teman-teman bisa menyaksikannya. Bisa dibayangkan ketika kita menyusuri terowongan atau gang-gang yang ada,  kita bisa menjumpai Kapel-kapel, tanda-tanda Salib dan patung-patung yang berhubungan dengan sejarah agama Katholik. Untuk mencapai Kathedral yang berada di ujung gua garam ini,  kita harus melewati 14 kapel yang merupakan gambaran route perjalanan Jesus. Kathedral ini cukup besar dan dinding-dinding serta lantai dan atapnya terbuat dari garam. Untuk mengujinya apakah memang demikian, kita bisa mengusap dinding atau lantainya untuk mencicipi rasa garamnya.

Yang juga cukup mengagetkan adalah digunakannya permainan efek warna warni lampu di gua-gua yang kita temui di akhir terowongan yang ada. Permainan lampu ini  bisa memberikan semacam efek Sci-Fi. Ini bisa kita samakan dengan permainan lampu yang ada di dalam film Star Wars. Daaan yang sangat istimewa adalah suatu fakta bahwa semua ini disponsori oleh Perusahaan Lampu dari Eindhoven.

Setelah selesai mengunjungi  Kathedral di dalam Gua Garam, kami mampir di salah satu restaurant yang ada di perterasan di samping kiri luar Musium Kathedral Garam. Mbak Mie memesan makanan yang bernama: Pechuga ala Plancha. Dan pak supir memesan makanan lain yang bernama Bandega Tipica Colombia. Kedua namanya saya dapatkan lewat whatsapp dari Bogota langsung.

bogota2 (4)

Foto 4. Pesanan mbak Mie

Setelah berkeliling teras mencari makanan yang berkenan akhirnya  mbak Mie yang  duduk di sebelah saya mencoba menawarkan pilihannya untuk ikutan mencicipi pesanannya. Daging ayam bakar pakai bumbu merica hitam (kurang sedap rasanya) dengan tomaten sauce. Jadi semacam ayam bakar asam manis. Dan ada pisang setengah goreng. Menggorengnya hanya  setengah matang dan agak keras serta ada sedikit pataatjes.

bogota2 (5)

Foto 5. Pesanan pak supir

“Wouuuuwww”: Itu terseru dari mulut saya ketika melihat pesanan pak Supir yang tersaji di atas meja. Sesungguhnya saya agak merasa “eneg” begitu melihat kombinasi dan membayangkan rasa  makanannya. Teman-teman bisa lihat sendiri dari Foto di atas. Suatu menu makan siang lengkap yang terdiri dari semacam Soep Kacang Merah, dengan goreng Kulit Lemak Babi dan Telur Mata Sapi dan semacam Tiwul serta Pisang Goreng. Pak supir hanya mengatakan: ”Rasanya pedas dan agak asam”. Dan tidak ada keterangan lanjutan ketika saya menanyakan bagaimana rasa pisang gorengnya?

Waktu melihat kedua pesanan tersaji di atas meja, ada beberapa hal yang membuat saya berpikir. Suguhan Pisang Goreng yang disertakan di setiap menu yang ada hampir sama dengan sajian Pisang Goreng yang dilengkapi dengan Sambal Pecel dalam acara makan di budaya Jawa-Suriname. Suguhan pelengkap makan malam yang pernah saya cicipi ketika berkunjung ke rumah salah seorang teman Suriname. Tentang rasanya, terus terang lidah saya harus membiasakannya lebih dulu… Pisang goreng dicampur dengan bumbu gado-gado….

Tentang santapan siang hari yang dipilih pak Supir. Melihat cara Pak supir menyantap nasi dengan sayur Kacang Merah dan Tiwul sepertinya ya enak saja rasanya. Hanya mungkin pisangnya yang masih terlalu mentah ketika digoreng membuat pak Supir hanya memakannya sepotong kecil saja.

Itu perkenalan pertama saya dengan makanan asli dari Bogota. Untuk mengenal macam makanan asli Bogota yang lainnya , mbak Mie dan Mas Dion mengajak kami untuk mencicipinya dengan menyantap menu lain yang menurut mereka jauh lebih enak dari masakan yang saya ceritakan di atas.

bogota2 (6)

Foto 6. El Tambor, lokasi restaurant tempat mencicipi masakan asli Bogota

Untuk itu, saya dan konco ngajeng diajak pergi ke sebuah desa  yang bernama El Tambor. Sebuah lokasi yang untuk mencapainya harus melewati beberapa desa yang berada di perbukitan dengan jalan-jalan yang tidak terlalu lebar,  yang menanjak dan cukup ramai. Di desa ini ada sebuah restaurant yang cukup terkenal untuk penduduk Bogota dan sekitarnya. Terutama di akhir minggu, bangku-bangku dan tenda-tenda yang ada di sekeliling kompleks restaurant akan terisi semua. Hanya siang itu banyak bangku yang terlihat kosong karena kami datang di hari kerja biasa.

Teman-teman, kalau kita memasuki halaman parkir restaurant dan melihat dapur yang ada di sisi kanan dari arah masuk, rasanya mata tidak akan mempercayai bahwa dari dapur yang begitu sederhana akan dapat melayani sekian banyak tamu yang akan memesan makanannya.

bogota2 (7)

Foto 7. Dapur restaurant yang sangat sederhana

Apalagi kalau kita sudah membaca daftar makanan yang terpampang jelas di papan. Waahhhh rasanya  untuk kita-kita yang tidak berbahasa Spanyol akan menjadi semakin tidak jelas apa jenis dan rasa nama makanan yang ada di daftar menu di depan dapur. Tetapi kalau kita membacanya dengan sedikit tenang pasti akan ada beberapa kata yang bisa kita tangkap dan cernakan artinya. Silahkan mencoba membacanya dan melihat  ada berapa kata yang bisa ditangkap oleh otak di computer belakang kepala teman-teman (yang tidak berbahasa Spanyol sama sekali ya!!!).

bogota2 (8)

Foto 8. Daftar nama makanan dengan harga satuannya (porsinya)

Karena ketidak jelasan jenis dan rasa masakan yang terkandung dalam daftar makanan yang ada, pada akhirnya saya hanya mengatakan pada mas Dion: ”Silahkan pesan saja, asal masakan asli Bogota. Nanti kami akan ikut icip-icip”.  Lalu kami  minta dipesankan minuman dingin dan segera mencari tempat duduk di salah satu ruang yang terlihat agak nyaman untuk duduk dan mengobrol.

bogota2 (9)

Foto 9. Sepasang kekasih dari Canada yang akhirnya menetap di Bogota dengan pesanan makan siangnya

Ketika sedang menuju ke tempat duduk, saya sempat mengobrol dengan sepasang kekasih yang baru menetap di Bogota setelah bertahun-tahun tinggal di Canada. Dengan mereka saya sempat berbincang tentang keadaan di Bogota sehari-hari.

bogota2 (10)

Foto 10. Berbagai jenis makanan disajikan dalam schaal rotan

Sambil mengobrol dengan pasangan tersebut di atas,  saya perhatikan jenis makanan yang ada di dalam schaal mereka. Terlihat di dalam schaal beberapa jenis makanan yang atau direbus atau digoreng, seperti: Kentang yang direbus (kentangnya sedikit lebih besar dari kentang teki); beberapa potong jagung bakar; irisan sosis goreng; sparerib yang dibakar dan dipotong kecil-kecil; pannenkoek yang berisi cingcang daging ayam atau daging sapi dan dua jenis sauce (sauce tomaat dan sauce alpukat).

Mereka makan santapan siang itu dengan tangan. Semua makanan yang tersaji dalam schaal  dimakan dengan salah satu sauce yang ada. Dengan cara mencocolkannya ke dalam salah satu sauce, begitu setiap kali akan menyantapnya.

Melihati jenis makanan yang dipesan pasangan Canada itu, saya jadi bertanya-tanya: ”Waaahhh, makanan yang dipesan mas Dion tidak seperti yang tersaji di meja mereka. Terus rasanya seperti apa ya?”.

bogota2 (11)

Foto 11. Makanan yang kami pesan

Setelah menunggu agak lama datang seorang pelayan restaurant membawa makanan pesanan kami dan menyajikannya  di meja kami. Segera setelah makanan ada di atas meja, saya masih bertanya-tanya dalam hati: ” Wouuuwww, ini tentunya hanya makanan cemilannya saja, sementara  menunggu makanan utamanya selesai dimasak”. Lalu setelah Mas Dion menawari kami untuk mencicipinya, pak Supir dan mbak Mie mulai menyantap sajian tersebut di atas. Setelah beberapa saat kemudian kami mulai mengikutinya. Sambil  icip-icp saya kemudian bertanya: ”Mas Dion, pesan makanan utamanya apa?”. Lalu tiba-tiba terdengar tawa  Mas Dion dan pak Supir hampir secara bersamaan. Saya hanya sedikit terkejut dan tetap menunggu jawabannya.  Tidak lama kemudian mas Dion menjelaskan: ”Budhé, ya begini ini kalau ingin mencicipi makanan khas Bogota. Ya inilah yang disebut makanan utama khas Bogota”.  Dari mulut saya hanya terdengar suara: ”OOOO. Jadi bukan seperti daging bakar atau masakan lain  seperti yang di Indonesia atau di Korean restaurant. Atau ada Ca kangkung pakai udang besar dll”. Lalu terdengar tawa bersama sekali lagi….

Teman-teman makanan yang dipesan adalah Picada  (dibaca sebagai Pical) untuk 4 orang yang terdiri dari:

– Arepa, parutan jagung dan keju yang dibuat seperti pannenkoeken
– Carne, daging sapi  yang dibakar
-Mazorca, jagung bakar
-Papa criolla, kentang kecil yang direbus
-Maduro, pisang  goreng
-Yuca frita special, ketela rebus yang kemudian digoreng seperti di Jawa, hanya direbusnya tidak pakai  santan dan garam saja.

bogota2 (12)

Foto 12. Terlihat pannenkoeken dengan keju di dalamnya

Semua yang tersaji dalam schaal rotan dimakan dengan salah satu sauce. Sauce tomaat atau sauce Alpukat (guacamole).

Teman-teman, dalam hal makanan tersebut di atas, rasa keju yang ada jauh berbeda dengan apa yang biasa saya santap di rumah. Memang perkejuan Belanda sukar untuk disaingi, apalagi di Colombia yang jaraknya mencapai ribuan km dari pusat perkejuan Eropa.

bogota2 (13)

Foto 13. Spare Rib yang terlihat hmmm untuk disantap

Untuk pilihan dagingnya kita bisa memilih antara Daging Sapi / Daging Babi atau Daging Ayam.

bogota2 (14)

Foto 14. Sauce Alpukat untuk menemani masakan lainnya

 

Meninggalkan El Tambor, setelah selesai menyantap Yuca Frita, dalam perjalanan pulang kami sempat berhenti sebentar di salah satu sisi tebing untuk mengabadikan betapa indah dan padatnya kota Bogota. Saya mencoba membuat Foto nya mulai dari ujung tebing sebelah kiri sampai ke ujung sebelah kanan. Sejauh mata saya bisa menangkap pemandangan yang ada.

bogota2 (15)

Foto 15. Jalan menuju kota dengan menuruni jalan raya di sisi tebing yang ada

 

bogota2 (16)

Foto 16. Pemandangan kota bogota nun jauh di sana

 

bogota2 (17)

Foto 17. Kepadatan kota Bogota

 

bogota2 (18)

Foto 18. Berbagai bangunan memenuhi ruang yang ada

 

bogota2 (19)

Foto 19. Serasa tak tersisakan sejengkalpun ruang yang kosong

 

bogota2 (20)

Foto 20. Dari ujung ke ujung Bogota tampak kepadatan bangunannya

Teman-teman, selama berada di Bogota kami memang melihat kepadatan kota dan penduduknya. Tetapi meskipun demikian kami tidak menjumpai seorangpun yang bertempat tinggal di bawah jembatan atau di pinggir jalan. Kecuali satu atau dua orang yang tertidur di trotoir di Centro karena mereka terlalu banyak menenggak minuman keras dan belum di tertibkan oleh yang bertugas.

***Tentang Kathedral di Gua Garam akan saya tuliskan di kemudian hari***

 

Tot weer schrijven en werk ze, Nu2k

 

48 Comments to "Minuman dan Makanan khas Bogota"

  1. Lani  18 August, 2013 at 12:52

    MBAK NUK : mmg bener adanya mbak………..negara2 di Eropa sgt mudah utk ditelusuri………..krn semua bertetangga………beda dgn Amerika, opo meneh soko Hawaii………edyaaaaaaaaan semuanya berjauhan……….aku sdh pernah nglyur ke Belgia mbak………saking kepingin liat patung bocah jik nguyuh…………..biyuh2 jebule patunge cilik menthik………..ketiwasan le marani adoooooooh-e ora jamak……….iki jik jam 7:51 malam……..jd tinggal diwalik dgn tempat tinggal mbak

  2. nu2k  18 August, 2013 at 12:04

    Ha, ha, haaa, jeng Laniiiii.Ini baru terbangun. Ya sudah, diteruskan dengan sarapan baca-baca semua yang bisa dan harus dibaca.. Ha, ha, ha…
    Jeng, nanti akan ada waktunya dimana njenengan bisa kluyuran seperti saya.. Soalnya Brussel kan dekat dengan Belanda. Plus minus 2 jam sudah sampai ke rumah anak gadisku.. Jadi sekali tepuk beberapa tujuan tercapai..
    Jangan lupa jeng, panjenengan sedhelok meneh wis tekan Eropa kene. Jadi juga bisa dinikmati dengan semaksimal mungkin… Salam en selamat ngopo yo? Istirahat atau masih nglembur juga…Kus, Nu2k

  3. Lani  18 August, 2013 at 08:15

    44 MBAK NUK : wadoh enak-e……..makan2, panggung gembira……..wis ngluyurrrrrrrrrr trs…………aku malah kerja trs……sampai bongkok iki mbak kkkkkkkk

  4. nu2k  18 August, 2013 at 02:37

    Beste, mbak Elnino, baru dengar, apalagi membeli atau mencicipi… Sama sekali belum pernah. Jadi yang disebut Domba Afrika itu panggangan daging yang dimakan bersama dengan Pisang Goreng…Perlu juga dicicpi ya… Suatu hari nanti.. Selamat beristirahat en slaap lekker, Nu2k

  5. nu2k  18 August, 2013 at 02:28

    Jeng Lani, baru baca lagi.. Aq baru kembali dari 17-an di KBRI Brussel. Bazaar makanan dan ada panggung gembira. Jadi sekarang tinggal istirahat dan ke Pulau Kapuk.. Dag, dag.. Gr. Nu2k

  6. elnino  17 August, 2013 at 23:13

    Domba Afrika itu domba bakar bu Nunuk, bukan sejenis sup… Setelah dagingnya dibakar, dipotong2 lalu dimasukkan ke panci utk dikocok2/dicampur dg bumbu2 n bawang bombay. Domba bakar ini dimakan bareng pisang tanduk goreng sbg sumber karbonya. Tempat jualannya mula2 ada di dekat Museum Tekstil Tanahabang, kemudian ada yg buka di jalan Casablanca, ada juga di Kelapa Gading n Bintaro/Serpong gitu..

  7. Lani  17 August, 2013 at 07:23

    36 & 37 aku balas via japri mbak……….monggo diwaos ya….selamat ngorok

  8. nu2k  16 August, 2013 at 12:41

    Mbak Mawar yang cantik (lihat gambarnya juga cantik), saya baru pertama kali ke negeri Amerika Latin. Jadi baru tahu kalau ada masakan yang dicampur pisang. Memang sayuran tampaknya masih jarang dikonsumsi. Waktu kepasar saya juga hanya melihat beberapa jenis sayuran. Dan bentuknya kadang aneh-aneh…. Sampai nggak berani beliii… Ha ha, ha..Untung mbak Mie pintar masak dan selalu menyediakan sayur segar.
    Selamat berkarya dan juga groetjes van heel heel ver.. Een kus erbij. Nu2k

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.