Harga Turis dan Harga Lokal

Ary Hana

 

Beberapa waktu lalu saya mengantar kawan dari Jepang, Nao, dan putrinya, Pema, makan di sebuah warung mie (ayam dan baso) di Munduk. Di sana sudah nongkrong 5 turis asing, menyantap sajian lengkap mie ayam plus baso. Di samping saya, seorang guru SD 2 Gobleg, memesan menu yang sama dan dibungkus. Dia pesan tiga bungkus, dan membayar Rp. 30.000. Nao, karena hanya makan mie tanpa ayam atau baso, harus membayar Rp. 5.000 seporsi. Sama seperti yang saya bayar. Malam sebelumnya, kami nongkrong di warung berbeda, memesan mie telor. Saat itu saya harus membayar Rp. 5.000 semangkok. Nao kena Rp. 10.000. Harga lokal dan harga turis berbeda, begitu kata si ibu penjual.

Ketika berkunjung ke Thailand tahun lalu, tak saya temukan harga lokal dan harga turis dalam memesan makanan. Tapi, untuk memasuki beberapa obyek wisata di Thailand, seperti Istana di Bangkok atau mengunjungi, beberapa temple, dikenakan tarif tertentu buat turis asing dan ‘free’ buat orang lokal. Beruntung saya punya wajah pasaran ala Thailand, sehingga ke mana pun menuju, asal tak menjinjing ransel atau bersuara, saya tak pernah dikenai tiket masuk. Bahkan, di Pattani, petugas lokel stasiun kereta api memberi saya tiket gratis ketika menuju Sungai Golok.

Di Malaysia saya belum pernah mengenal harga lokal dan turis ketika makan, memasuki kawasan obyek wisata, pesan penginapan, atau naik angkutan umum. Di Kamboja, kadang ada pedagang makanan yang suka memanfaatkan kesempatan, menaikkan harga begitu tahu saya orang asing. Mirip yang terjadi di Indonesia, walau tidak semua. Di Jawa mungkin tak ada harga lokal atau turis buat transportasi umum yang pasti tarifnya seperti kereta api atau bus antar kota. Tapi, hal ini tak berlaku jika Anda naik colt di Bali, atau menunggu colt dari Lembar menuju Mataram. Turis asing kerap dijadikan sapi perah, membayar berkali lipat. Bahkan, walau Anda orang lokal, tapi bukan dari daerah setempat, tetap kena tarif 2-3 kali lipat. Ini mungkin salah satu hambatan mengapa pariwisata di Indonesia berkembang lambat, karena sebagian penduduknya yang masih bermental aji mumpung, oportunis, menjadikan turis atau bukan orang daerah tersebut sebagai sapi perah.

volunteering di munduk

Untuk mengatasi kondisi ini, saya kerap bertindak ekstrim. Ketika menuju Munduk, saya pilih berjalan kaki 15 km ketimbang menyenangkan tukang ojek yang menarik bea Rp. 50.000, 2,5x lipat harga sebenarnya. Atau saat menuju Ijen saya numpang ranger berwajah sangar ketimbang dipermainkan sopir dan kernet colt yang seenaknya memainkan harga. Saya bukan backpacker walau menggendong ransel. Tapi lebih mirip pejalan minimalis, membawa barang yang betul-betul saya butuhkan. Misalnya saya hanya membawa baju ganti 1-2 stel untuk perjalanan berbulan-bulan. Dengan begitu badan saya tak terbebani jika harus berjalan kaki lama. Saya juga tak segan berjalan kaki belasan kilometer sehari, menginap di jalan daripada dijadikan obyek para makelar dan oportunis. Saya tak sedang dikejar waktu, tak mau mengalah pada keadaan atau keinginan para oportunis. Prinsip saya melakukan perjalanan itu mirip meditasi, bukan sekedar menyegarkan pikiran dari sumpeknya kota besar. Dan melakukan perjalanan harus memberi manfaat bagi diri sendiri maupun orang sekitar, bukan hanya kepuasan searah saja.

Dalam satu dua hal, harga turis dan lokal mengandung sisi positif. Misalnya, dengan menentukan tarif tiket masuk kawasan cagar wisata bagi turis asing, maka akan ada dana pemeliharaan yang cukup. Namun tarif ini harus masuk akal. Jelas harga tarifnya, ditetapkan oleh lembaga resmi. Kalau tujuannya sekedar menjadikan wisatawan sapi perah, ya saya pilih buka tenda di tengah jalan, membawa mini trangia dan memasak mie instan atau bubur ayam sendiri. Melakukan perjalanan, mengunjungi berbagai tempat di belahan dunia itu hak setiap orang, jadi jangan mempersulit mereka, tapi seleksi mereka sesuai kaidah lingkungan dan etika lokal yang berlaku.

Seorang kawan, pelaku usaha wisata sekaligus pakar ‘green’, hendak menjadikan tujuan wisata potensial seperti Munduk dengan menetapkan tarif lebih tinggi buat hotel, restoran, guest house dan sebagainya. Tujuannya, untuk menyeleksi wisatawan dan tak hendak menjadikan Munduk ala Kuta atau Ubud, apalagi Jogja. Membanjirnya wisatawan kerap memberi dampak buruk seperti hilangnya kenyamanan, pudarnya budaya lokal, dan unsur komersialisme yang meninggi. Belum lagi tempat wisata jadi kotor dan berkesan kumuh. Saya pun tak suka hal tersebut. Namun ‘memahalkan’ tempat wisata tak selalu mengatasi masalah, alih-alih malah melebarkan kesenjangan sosial.

Ada beberapa alternatif  untuk menjadikan tempat wisata tetap nyaman, terpelihara budayanya, dan memiliki daya tarik tinggi. Misalnya:

1.Menaikkan tarif penginapan, makanan, dan tiket masuk kawasan wisata.Tujuannya jelas, tarif yang tinggi akan membantu menaikkan pendapatan masyarakat lokal. Namun perlu diingat, selama ini yang diuntungkan oleh dibukanya kawasan wisata adalah pengusaha wisata skala menengah ke atas, para pemilik modal yang kerap bukan berasal dari kawasan wisata itu. Dan acap terjadi mereka tak mengikutsertakan peran masyarakat sekitar.

2.Membatasi jumlah wisatawan yang mengunjungi kawasan wisata tersebut. Pemerintah Bhutan melakukan cara ini dengan tujuan menjaga keasrian lingkungan Bhutan. Mereka juga mewajibkan wisatawan menginap di agen wisata yang ditunjuk pemerintah, bukannya di rumah warga lokal. Setidaknya wisatawan harus membelanjakan 200 dolar sehari jika mengunjungi Bhutan. Dan mereka  harus mendaftar minimal setahun sebelumnya. Mahal dan berat memang, tapi animo wisatawan ke Bhutan amat tinggi.

3.Wisatawan dituntut berkontribusi terhadap masyarakat lokal. Bentuknya tak selalu memberi sumbangan sejumlah uang, tapi tenaga dan kemampuan. Cara ini kerap diwujudkan dalam bentuk volunteering, misalnya volunteering dengan bekerja di tanah pertanian, memberi pengobatan gratis, mengajar bahasa asing, mengajar ketrampilan khusus, dan sebagainya. Cara volunteering ini banyak diterapkan di berbagai negara. Di Chiang Mai, Thailand, misalnya, ada volunteering di tanah pertanian buat turis asing. Para turis disediakan pemondokan gratis, tapi harus membayar 150 bath untuk bea makan 3x sehari. Mereka wajib bekerja 4-5 jam sehari. Di Afrika banyak ditawarkan volunteering di bidang kesehatan dengan upah pemondokan plus makan. Tentu saja yang disajikan makanan lokal, bukannya menu ala restoran. Begitu juga volunteering di Malaysia, Amerika latin dan sebagainya.

Volunteering buat turis asing mulai tumbuh di Indonesia, khususnya di Bali. Namun kerap kali si turis dimintai sumbangan yang tidak sedikit, beberapa ratus hingga ribu dolar. Mirip yang terjadi di Kamboja atau Laos. Penyelenggaranya, orang lokal dan orang asing pula. Di tanah Batak juga ada volunteering, namun si volunteer tak dikenai bea apapun. Toh mereka sudah bekerja, membantu masyarakat sekitar. Memang volunteering banyak warna dan bentuknya.

Saya hendak membuka volunteering di tanah pertanian di Manggarai, Flores. Pendaftarnya sudah masuk beberapa orang, umumnya turis negara skandinavia dan Eropa Timur. Ada juga satu dua pemuda Indonesia yang berminat. Program dimulai antara September-Oktober mendatang. Tujuannya, selain mengisi kekosongan tenaga pertanian di Manggarai, juga ada transfer pengetahuan sekaligus pembelajaran budaya lokal. Semoga, dengan adanya program ini dapat menghapus harga turis dan harga lokal yang tidak perlu.

 

Salam Meta

 

56 Comments to "Harga Turis dan Harga Lokal"

  1. Evi Irons  19 August, 2013 at 00:46

    coba deh berkunjung ke Kupang dan daerah sekitar West Timor, harga Turis dan lokal sama.

  2. anoew  18 August, 2013 at 21:59

    Ryk, yang bener? emang di timor leste ada mesum sex? sebelah mana?

  3. Swan Liong Be  18 August, 2013 at 16:14

    saya sependapat dengan posting Matahari. Kalo hanya ada satu harga ticket seperti untuk rakyat lokal saja, ya tempat wisata tsb. bisa tutup. Ongkos perawatan tidak cukup. Saya nggak keberatan kalo ada dua macam tarif untuk lokal dan turis; ini juga diterapkan diThailand, baik diBangkok maupun diChiang Mai yang saya kunjungi.. Selain itu,mana ada turis indonesia yang tekun membaca tourist guide. Yang penting pernah kesana sambil mejeng didepan lensa!
    Liat aja kalo mau wisata , banyak turis indonesia ikut tour karena mereka terlalu malas (gemakzuchtig) untuk mengurus atau membuat persiapan sendiri, maunya tau beres aja!
    Dijerman tidak ada dua harga karena tingkat pendapatan orang disini sudah tinggi dan terjangkau oleh rakyat biasa. Turis mancanegara yang berkunjung kejerman penghasilan rata²nya juga tidak lebih tinggi daripada penghasilan penduduk lokal.

  4. Hennie Triana Oberst  18 August, 2013 at 15:41

    Ary, sukses ya dengan proyeknya.
    Kadang heran juga dengan harga yang berbeda untuk lokal dan orang asing.

  5. Lani  17 August, 2013 at 06:52

    AH : lah nek jagung bakar yo ayoooooooo wae………njur ingat ktk msh di SEMARANG………diajak teman hampir tiap sore, menikmati jagung bakar dgn aneka rasa………aaaaaaaah ngileeeeeeeer aku……….hikkkkkkkks

  6. AH  17 August, 2013 at 05:51

    49. yu lani : ceker yen dicampur sop enak juga.. yen dibakar enak juga (jaman mahasiswa, ngangkring di jogja cuma untuk menikmati ceker bakar) hhehehe..

    saiki aku ga mengonsumsi 2 makanan itu, ganti jagung bakar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.