Maafkan Aku Bunda (1)

Yang Mulia Enief Adhara

 

Kisah ini sebenarnya sering terjadi, namun aku sangat tertarik untuk menuliskan kisah Arianti karena bagus sebagai bahan renungan, kebetulan saja perjalanan kisah Arianti ini berakhir saat Bulan Ramadhan tiba 3 tahun yang lalu.

Aku sudah menulis tuntas kisah ini saat Ramadhan tahun lalu ketika berada di Surabaya dan saat Mama-ku pertama kali terkena stroke. Setahun tersimpan dan kini aku tayangkan. Semoga dapat diambil hikmahnya ya…

*****

Aku kini berusia 26 tahun, belum menikah dan bekerja dengan posisi yang cukup mapan di perusahaan ekspor impor. Sekian tahun berlalu dan aku terus merasa bersalah, aku merasa bagaikan manusia yang buta walau dapat melihat, tak dapat merasakan walau memiliki hati.

Aku lahir sebagai anak perempuan tunggal, lebih tepat keadaan yang memaksaku menjadi anak tunggal. Ibuku meninggal saat melahirkan aku 26 tahun lalu. Aku tak mengenalnya dan tak pernah merasakan arti hadirnya seorang Ibu.

Dari foto-foto yang ada, aku mengenal sosok Ibu yang bagiku sangat cantik. Ibu menikah muda, di usia 18 tahun sudah menjadi istri dari Ayahku yang usianya juga 18 tahun. Ayah tetap melanjutkan kuliah hingga lulus S1 dan Ibu hanya sebagai Ibu rumah tangga biasa lantaran dua bulan menikah Ibu mulai hamil, dan 9 Bulan kemudian lahirlah aku ke dunia ini, dan di saat yang bersamaan Ibuku harus pergi meninggalkan dunia ini untuk selama-lamanya.

Ibu mengalami perdarahan hebat, dan jiwanya pun tak tertolong. Ayahku yang waktu itu masih ABG begitu limbung, tiap hari hanya meratapi kepergian Ibu yang begitu mendadak sementara aku sudah terlanjur hadir ke dunia ini.

Nenekku dari pihak Almarhum Ibu, Oma Sandra mengambil alih, aku dirawatnya dengan penuh kasih. Bahkan Bude Yanti, kakak ipar dari Ayah yang kebetulan baru 4 bulan sebelumnya melahirkan sempat menjadi ‘Ibu’ susu, pertimbangannya agar aku ikut mendapat kesempatan menikmati ASI. Aku diasuh Oma dan Bude secara bergantian.

*****

Ayahku seorang yang tampan, dan yang paling menonjol adalah Ayahku sangat pandai, berhasil lulus kuliah dengan predikat Magna Cum Laude. Ia juga lulus dari beberapa kursus bahasa membuatnya menguasai 5 bahasa dengan sangat baik. Ibuku berwajah manis, semasa SMU aktif sebagai model remaja walau hanya sekedar ‘numpang’ lewat alias tidak dijadikan profesi.

duda

(klinko.wordpress.com)

Ayah dan Ibu sama-sama bersekolah di sekolah negeri yang sangat bergengsi di Jakarta, Ayah dan Ibu sejak masuk SMU sudah saling dijodohkan dan kebetulan keduanya saling menyukai.

Opa Yos, orang tua dari Ibuku dan Eyang Hudi orang tua dari Ayah adalah sahabat erat sejak mereka muda. Dan sejak Opa Yos terkena serangan jantung, Opa meminta pada sahabatnya agar anak-anak mereka dinikahkan setamat SMU, Opa takut tidak lagi sempat melihat anak bungsu perempuan satu satunya menikah.

Ibuku adalah anak bungsu dari 3 bersaudara, ke dua kakak Ibu kuliah di Boston, Amerika. Yang pertama Pakde sam suami dari Bude Yanti yang hingga kini tinggal dengan Oma Sandra dan dikaruniai 3 anak lelaki, anaknya yang pertama sepantar denganku. Sedang Pakde Ju menikah dengan Bude Liza dikarunia satu anak lelaki dan kini tinggal di Bontang Kalimantan.

Jelas aku adalah satu-satunya cucu perempuan bagi Oma Sandra dan membuat hidupku penuh dengan kasih sayang, aku dijaga bagaikan seorang putri kerajaan.

Ayahku anak pertama dari dua bersaudara, namun adik Ayah, Om Dani sudah meninggal sejak masih SD karena sakit bawaan. Eyang Hudi dan Eyang Dinar begitu setuju saat Opa Yos mengutarakan niatnya, pasangan cantik dan tampan itu dinikahkan secara besar-besaran dua bulan setelah tamat SMU, menurut Oma, tamu tamu yang hadir sangat kagum melihat kedua mempelai yang seolah sempurna tiada cela. Dan kedua orang tuaku memang saling mencintai, mereka bagaikan merpati yang dikirim dari Surga.

*****

Namun tak sampai satu tahun kemudian, Ibuku pun tiada, meninggalkan duka di hati Ayahku dan tiga bulan kemudian Opa Yos menyusul Ibu, mungkin karena begitu tiba-tiba Ibuku meninggal membuat jantung Opa kian tak stabil . Hari-hari penuh airmata kepedihan menjadi ‘sahabat’ Ayahku, dan keluarga besar seolah tiada bosannya mengingatkan bahwa Almarhum Ibu menitipkan bayi perempuan cantik untuk dicintainya, dan akulah bayi itu.

Ayah lalu memutuskan mengambil S2 dan berangkat ke Amerika saat usiaku 3 tahun dan saat usiaku memasuki 5 tahun Ayah kembali ke Jakarta dan bekerja di sebuah Bank asing. Kami sering pergi berdua ke Mall atau tempat hiburan. Banyak wanita yang mencuri pandang bahkan banyak yang tidak menyangka aku adalah putri kandung dari seorang pria muda, yang mana laki-laki sepantarannya masih asyik menikmati indahnya usia muda, namun Ayahku laki-laki yang setia, ia justru bangga menggendongku lalu menyuapiku sekalipun itu berada di muka umum. Baginya diriku adalah harta paling berharga dalam hidupnya.

*****

Ayah memiliki karier yang pesat berkat kecerdasannya, bahkan di usia 30 ia sudah menduduki posisi penting di Bank asing tempat ia bekerja. Keluarga besarku berasal dari golongan menengah atas, soal materi aku sangat merasakan hidup di atas rata-rata anak seusiaku.

Saat memasuki sekolah dasar aku mulai sering bertanya, kenapa Ibu harus pergi, kenapa Allah jahat yang tega memisahkan aku dengan Ibu, mengapa harta paling berharga milik kami justru diambil? Dan setiap aku berbicara seperti itu Ayah selalu mendekapku mesra dan berbicara dengan sabar, “Cintanya Ayah nggak boleh gitu, Allah itu Maha Mulia, Allah mengambil Ibu karena Allah tahu Ibu akan lebih bahagia di sisi-NYA”.

Lama-lama aku paham, Allah melimpahiku materi namun justru sengaja mengambil harta paling berharga milikku yaitu Ibu, dan aku sadar Allah tengah menguji keimanan kami semua, hal itu aku dengar dari Ayah maupun Pak Uztad dan sejak itu aku tidak lagi berbicara aneh-aneh.

Berjalan waktu aku kian tumbuh menjadi gadis remaja yang lebih cepat dewasa dari semestinya. Saat usiaku 11 tahun, Aku berdua Ayah pindah dari rumah Oma, yang jaraknya tidak terlalu jauh, sekitar 10 km, Rumah baru kami tidak terlalu besar namun dibangun Ayah dengan penuh cinta, bahkan aku diberi kehormatan untuk memilih perabotan dan ikut pula memilih disain bagi ruang tidurku yang cukup besar.

Sejak kami pindah Ayah selalu memasak dan mengurus rumah bagaikan seorang Ibu, itu bukan hal mudah bagi Ayah, yang aku ingat setiap berada dalam mobil ada saja keluhan Ayah yang selalu lupa satu atau dua hal, lupa cukur kumis dan brewok-lah, lupa pakai deodorant-lah, hampir selalu ada yang lupa di setiap harinya. Ayahku tidak senang memakai jasa pembantu, baginya dia dapat mengerjakan semua sendiri dan lebih sempurna.

Setiap pagi sebelum berangkat menuju kantor Ayah membawaku ke rumah Oma dan dijemput saat pulang kantor atau saat terburu-buru Ayah pun mengantarku langsung ke sekolah. Kami menjalani ritual itu setiap hari tanpa beban, walau Oma sebenarnya keberatan Ayah pindah rumah, namun Ayah bersikeras, alasannya anak-anak Bude Yanti dan Pakde Sam semakin besar sehingga akan butuh ruangan lebih banyak. Oma tidak mau rumah besarnya nampak sepi, dan Pakde Sam sekeluarganya yang harus mau tinggal bersama Oma.

*****

Hingga suatu Minggu sore Ayah pulang dari Mall dengan aneka belanjaan, mulai cake, minuman, masakan, lilin-lilin aroma terapi yang segera ditata di meja ruang tengah. Lalu aku lihat Ayah memakai jeans ketat dan kaos berkerah yang memamerkan ke-sexy-an tubuh Ayah yang usianya baru 30 tahun. Ayah sangat sibuk sekali mematut diri. Hingga bel berbunyi dan munculah seorang wanita berpenampilan biasa, yang di kemudian hari aku memanggilnya Tante Lida.

Wanita itu baru kali pertama kulihat, namun Ayah sangat aneh tidak seperti biasanya, wajahnya nampak berseri-seri, sering curi-curi berpegangan tangan, menyandarkan kepalanya di bahu Tante Lida dan banyak lagi. Aku sendiri tidak tahu apa arti semua itu, hingga suatu hari Oma bertanya kepadaku, “Arin sayang, Oma mau tanya nih, kamu jawabnya nggak boleh bohong ya sayang”, Ujar Oma sambil menyisir rambutku.

Aku hanya mengangguk lugu sambil bermain boneka, dan Oma mulai bertanya apakah aku mengenal wanita yang bernama Shalida. Aku segera mengangguk dan Oma tiba-tiba begitu heboh memanggil Bude Yanti. “Yaannnnn, sini cepetan, benerkan dugaanku, si Yusuf lagi kasmaran lagi, wah pantesan dia tiba-tiba mau pindah! Pakai alasan mau mandiri segala”, Suara Oma begitu kesal.

Bude Yanti pun tergopoh gopoh datang bergabung di teras belakang, “Wah gawat nih Mi, kalau semua ini bukan gossip, kasihan Arin, kita harus ngomong sama Yusuf”, dan selanjutnya Oma dan Bude sibuk berbincang dengan nada kesal. Hingga Oma kembali berbicara padaku.

“Arin sayang, yang namanya Tante Lida itu pacar Ayahmu dan dia mau bikin Ayah lupa sama Ibumu, wanita itu mau jadi Ibu Tiri kamu nak, Oma nggak rela”, Ujar Oma dengan mata berkaca-kaca. Aku sejujurnya tidak begitu mengerti apa maksud Oma, “Oma apa sih artinya pacaran? Terus Ibu Tiri itu siapa? ” Ujarku lugu, maklum aku hampir tidak pernah bersosialisasi.

Oma mendengus, lalu berbicara pelan-pelan kepadaku, “Pacaran itu kalau ada cowok sama cewek dewasa suka berduaan, mereka biasanya mau menikah, seperti Ayah sama Ibu, Oma sama Opa, Bude sama Pakde. Nah kan Ibu Arin sudah di Surga, trus Ayah mau nikah lagi sama Ibu lain nah itu namanya Ibu Tiri nak ……, Ibu Tiri itu jahat sekali lho dan kejam, Oma nggak mau cucu Oma disiksa wanita jahat seperti itu”.

Aku memandang Oma dengan pandangan kosong, walau aku istilahnya dewasa karbitan tapi sejujurnya ini hal baru bagiku, “Ibu Tiri itu penjahat ya Oma? Bisa ditangkep sama polisi ya? “, aku bertanya tanpa tahu apa makna pertanyaanku.

Oma memandang Bude seperti bingung harus memberi jawaban apa, lalu Bude Yanti berbicara padaku, “Sayang kamu inget kan buku Cinderella yang Bude beliin, nah dia punya Ibu tiri, Ibu Tiri tidak pernah melahirkan kamu, bagi Ibu Tiri, kamu itu harus disiksa karena dia nggak sayang, Ibu Tiri hanya sayang sama Ayah dan duitnya Ayah saja”

Mendengar itu aku menjadi begitu ketakutan, aku tidak mau bernasib seperti Cinderella yang harus tidur di gudang, tidak diberi makan, disuruh bekerja, tidak boleh bermain. Aku pun mulai menangis dengan berisik, “Aku nggak mau Ibu Tiri Omaaaaaa”. Oma memelukku dengan penuh cinta.

Oma bergumam, “Tak akan Oma biarkan perempuan itu menyentuhmu, selagi Oma hidup akan ku hadapi tanpa rasa takut, perempuan genit, kenapa harus pacaran sama duda? Seperti tidak ada lelaki perjaka saja, dasar perempuan murahan, mata duitan”.

Dan pelan-pelan aku tumbuh sebagai gadis remaja yang berfikir sekaligus berbicara jauh melampaui usiaku, Oma dan Bude selalu berbicara banyak hal kepadaku yang seharusnya belum waktunya aku dengar dan mengerti.

*****

Dan sejak Oma dan Bude berbicara buruk tentang Ibu Tiri, aku jadi selalu ketakutan setiap melihat Tante Lida datang, aku segera mengunci diri di kamar. Ayah pun heran, tadinya aku mau dipeluk dan dicium tante Lida. Aku sempat mendengar suara Tante Lida bicara kepada Ayah, “Sudahlah Mas, namanya anak-anak, mood-nya suka berubah, nanti juga baik sendiri kok”.

Dan pernah terjadi kerusuhan, yaitu saat Tante Lida datang dan sedang memasak untuk Ayah, seperti biasa aku mengunci diri di kamar. Tiba-tiba Oma muncul, suara Oma yang berat dan tegas ku dengar dengan jelas, aku pun segera mengintip dari tangga yang menghubungkan lantai satu dan dua, “Suf mana cucuku? ?? Aku mau bawa dia ke rumah! “.

“Ohh Mami? Silahkan duduk dulu Mi, ini kenalkan Shalida, maafkan kami belum sempat mampir ke rumah”, Ayah bicara dengan ramah sambil mencium pipi Oma.. Namun saat Tante Lida ingin mencium tangan Oma kulihat Oma merenggut tangannya dengan kasar. Oma nampak kesal pada Tante Lida.

“Aku nggak mau lama-lama kok, aku cuma mau jemput cucu-ku, Ariiinnnn!!! Sayang! Ini Oma datang mau ajak kamu ke rumah Oma”, Oma berteriak memanggilku, aku buru-buru turun dan menghambur ke pelukan Oma.

Ayah kini wajahnya mulai masam, akhirnya disadari ada yang tidak beres, “Mi ada apa sebenarnya? Lida sudah memasak dan Arin belum makan siang, kenapa Mami tiba-tiba jemput Arin sambil bersikap seperti ini? “.

Tante Shalida nampak salah tingkah, lalu buru-buru pergi ke dapur. Sedang Oma bagai induk ayam yang siap bertempur dengan tikus yang hendak mencuri telurnya, “Suf, aku sudah tahu perempuan tadi itu pacar kamu! Tega ya kamu menggantikan posisi almarhum anakku?? Tipis betul ternyata cintamu? Dan lebih parah lagi, kamu tega yaa kelak anakmu bakal disiksa perempuan tadi!!”

Mulut Ayah menganga karena terkejut, beberapa saat ia seperti kelu tak dapat bicara, hingga akhirnya dia pun terduduk di kursi, “Masyaallah Mami, kata-kata Mami tadi melukai perasaanku, Almarhum Karin selamanya tak akan tergantikan Mam, Mami tahu itu. Tapi aku manusia biasa, aku masih muda, apa salah Mam kalau aku ingin memiliki pendamping lagi? Lagi pula siapa yang rela Arin disiksa? Lalat pun tidak ku biarkan menyentuh putriku, Mami kan belum kenal Shalida, janganlah menilai seburuk itu”.

Oma diam membisu, wanita setengah baya itu nampak kalut, Ibuku adalah segala tumpuan kebanggaannya dan aku mirip sekali Ibu, Oma tidak bermaksud jahat, beliau hanya mengerti satu hal, Ibu Tiri selalu jahat pada Anak Tiri-nya. Dan Oma tak ingin hal itu menimpaku di satu sisi dia takut sikap Ayah kelak menjauh darinya, Oma sangat sayang pada Ayah.

*****

Ayah tidak berdaya waktu Oma mengemasi pakaianku ke dalam koper, beberapa boneka kesayanganku tak lupa dibawa serta. Aku yang sudah terlanjur takut akan sosok Tante Lida justru merasa bersyukur ‘diselamatkan’ oleh Oma yang begitu tegas.

Sebelum pergi Oma bicara kepada Ayah, “Yusuf, kamu kapanpun boleh datang ke rumah, menengok Arin, tapi tidak bersama perempuan tadi ya?! Dan aku tidak ikut campur kamu mau ngapain sama dia, tanggung sendiri ya segala resikonya, selama kamu dengan perempuan tadi, biarlah Arin tinggal bersamaku”, dan Oma tanpa ampun membawaku pergi dari sisi Ayahku.

 

4 Comments to "Maafkan Aku Bunda (1)"

  1. Dewi Aichi  15 August, 2013 at 20:03

    Arin masih terlalu kecil untuk mencerna kata-kata neneknya. Ayah Arin sosok yang sangat ideal, pria dambaan wanita wkwkw….sempurnaaaaaa….

    Lanjutannya cepetan yaaaa….pengen tau tante Lani gimana…apakah sosok ibu tiri yang kejam….eh kok tante Lani, tante Lida maksudnya.

  2. Silvia Utama(SU Bumi)  15 August, 2013 at 19:11

    Mama saya pernah betulan mengalami kejam nya ibu tiri.

    Paman saya menduda karena kakaknya papa meninggal kena sakit kanker payudara. Saat itu sepupu saya yg kecil msh SMP. Sampai hati ini paman saya tetap menduda. Sepupu sy yg bungsu itu sudah menikah dan sudah menyelesaikan S2 nya bbrp thn y.l.

    Ketika di tanya kenapa beliau koq ga mau menikah lagi, jawab paman saya,” Kotioh punya ibu tiri yg galak banget. Kotioh ga mau sepupu2 Vie ngalamin apa yg Kotioh alami. Biar sajalah umur Kotioh sih Kotioh anggap sudah separuh jalan, yg penting spupu2 V ga menderita.”

    Sy seklg kagum bgt sm Kotioh ini.

  3. J C  15 August, 2013 at 11:16

    Kisah klasik “kejamnya ibu tiri”…

    (jangan sampai Kang Anoew tahu nomer telepon si Arianti/Arin )

  4. Lani  15 August, 2013 at 08:15

    1

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.