Pada Mulanya adalah Kegelisahan

Ita Siregar

 

Entah dari mana dan kapan kegelisahan ini berakar. Tetapi yang tertangkap tiap berbincang dengan penulis atau tokoh senior, selalu ada rasa menumpuk bila menyoal penulis dan literatur Kristen. Ada kesan, kita sudah jauh tertinggal, mari kita buat sesuatu! Tetapi, apa sesuatu itu? Kita mau bikin apa? Harus mulai dari mana dulu?

Pada diskusi Jumat lalu, dalam serangkaian kegiatan menuju Festival Penulis dan Pembaca Kristiani November 2010 mendatang, rasa itu masih kentara. Kita masih berada di tataran mencari-cari bentuk, hendak ke mana, di mana atau bagaimana kita ini?

 

Nyaman di Kandang Sendiri

Calvin Pindo, rohaniwan yang bermarkas di GKI Pamulang, berpendapat bahwa penulis Kristen sekarang seperti berada di persimpangan jalan. Entah mau ke mana, ke kiri atau ke kanan. Penulis kita cenderung menulis isu-isu yang enteng-enteng saja. Seri Selamat penulis senior Andar Ismail, misalnya. Namun sebagai karya konsisten yang terbit satu tiap tahun, buku-buku yang berisi catatan renungan ini layak diacungi jempol karena telah memberi inspirasi bagi pembacanya.

Menurut Calvin juga, buku semacam ’Surga itu Nyata’ digemari umat dan menjadi best seller di mana-mana. Seandainya ada tulisan berkisah ’cara mudah masuk surga’, mungkin itulah yang akan laku dijual di pasaran dan penerbit berlomba-lomba menerbitkannya. Sementara buku ’Yesus Menurut Orang non-Religius’, yang diterbitkan penerbit non-Kristen, berapa banyak kalangan kita yang tahu? Atau pun kalau tahu, berapa banyak kita mau membaca buku itu untuk mengetahui apa pikiran orang lain tentang Yesus? Memang merujuk pengalamannya, Calvin melihat pendeta amat berperan dalam menyarankan umat untuk membaca satu buku.

Fajar Setiawan Roekminto, Dekan Fakultas Sastra UKI, secara gamblang mengatakan bahwa kekristenan kini seperti balik ke zaman kegelapan. Kita merasa benar, nyaris tak sanggup menertawakan diri sendiri, dan cenderung asyik berada di lingkungan aman dalam kelompok-kelompok yang memandang hidup sebagai ’hitam-putih’, dosa-suci. Penderitaan, kesakitan, kesendirian langsung dihadapkan dengan doa. Bukan berarti hal itu salah, tetapi dalam kenyataan toh pergulatan hidup tidak semudah itu. Diperlukan pendekatan cara lain yang juga mencerahkan dan memberi jalan keluar. Salah satunya adalah memberi ruang menulis dalam rangka mengekspresikan rasa.

Mengomentari Calvin yang berseloroh model anak muda masa kini, yang ’mules’ pun menjadi status facebook, Fajar berpendapat bahwa menulis ’sepele’ pun perlu diapresiasi agar tercipta ruang dan diharapkan terbuka kesempatan menuju militansi dalam menulis. Fajar merasa bahwa jika ruang-ruang itu tidak sengaja didukung oleh lembaga-lembaga maka menulis menjadi sesuatu yang sulit. Seperti yang diakui Mula Harahap, pengurus Yakoma, bahwa mereka telah berkali-kali mengadakan latihan dan kursus untuk kalangan muda terkait kepenulisan dan kegiatan lain, toh berakhir sepi.

 

Penulis Kristen vs Orang Kristen yang Menulis

Mula Harahap kembali meluruskan definisi penulis yang dimaksud di sini, yaitu orang Kristen yang menulis. Nara sumber Gantyo Koespradono, wartawan senior dari salah satu harian nasional, juga mengaku agak keberatan kalau dirinya disebut sebagai penulis Kristen. Label itu seolah memberinya beban dan membatasi kebebasannya dalam menulis. Mengenai hal itu Fajar mengkhawatirkan nantinya muncul pengkotakan penulis kristen-non-kristen yang justru akan melukai keberagaman yang kita miliki sebagai bangsa.

Karena itulah perlu diulang di sini alasan utama Panitia memberi judul Festival Penulis dan Pembaca Kristiani. Istilah itu diambil dengan mempertimbangan kegiatan festival literatur Kristen ini sebagai pengalaman pertama dan juga usaha kita memetakan penulis Kristen dalam sastra nasional.

 

Mengisi Rumah Sendiri

Bang Mula menggambarkan sesuatu yang menarik dalam hal memprovokasi orang Kristen mau menulis. Negara ini ibarat sebuah rumah. Kalau kita membiarkan orang lain terlalu banyak mengisi interior rumah itu dengan seleranya sendiri, dan kita hanya diam menonton, lama-lama kita sendiri yang merasa nggak betah tinggal di sana. Tidak merasa at home. Lalu bagaimana agar kita tidak terkucil di rumah sendiri?

Mudahnya, menulis. Isi rumah dengan warna yang kita punya sebagai bentuk keberagaman itu. Tulis apa yang kita rasa dalam keseharian, tentang ketuhanan yang kita percayai, dan ekspresikan pergumulan apa saja dalam hidup. Medium sudah tersedia. Bahkan di dunia maya, di blog, facebook, kita bisa menuliskan apa saja. Dengan cara tersebut diharapkan orang lain yang hidup bersama kita di rumah itu akan merasakan keberadaan kita yang memberi warna lain dan ikut menyuburkan semangat pluralisme bangsa ini.

Dalam sesi tanya jawab, Ibu Keke, membagikan pengalamannya sebagai guru bahasa Indonesia yang tidak bosan-bosannya mendorong anak murid untuk menulis buku harian, menyarankan ikut lomba cerpen, dan apa saja. Beliau bahkan bermimpi untuk membuat semacam sanggar menulis. Beliau juga menyayangkan Diknas yang telah mencoret pelajaran mengarang dalam mata pelajaran sekolah. Itulah alasan, menurut Mas Fajar, mahasiswa mengalami kesulitan ketika menyusun skripsi karena tidak terampil menulis sejak kecil di sekolah.

Sedangkan salah satu peserta Sigit, mewakili kaum profesional, merasa belum menemukan tulisan inspiratif yang menyentuh kalangannya. Ia pernah dihadiahi buku coaching manajemen ala Tao, dan belajar banyak dari sana, dan mengharap kita bisa menuliskan hal-hal seperti itu. Mengomentari hal tersebut Calvin menilai bahwa ajaran Tao cenderung lebih bisa diterima untuk dibaca dibanding buku itu memakai judul manajemen ala Yesus, misalnya. Padahal di Amerika, menurut Calvin, setiap enam jam lahir satu buku yang berkisah tentang Yesus, baik yang memuji dan yang menghujat.

Kira-kira lima puluh orang hadir malam itu. Mengawali diskusi Handaka meluncurkan kalimat kunci yang tepat seperti judul di atas, yang mengarahkan perbincangan bertema peran penulis Kristen dalam visi kemanusiaan dan kehidupan berbangsa ini menjadi lancar dan segar. Masih jauh panggang dari api memang, mengharap dua jam dapat mengakomodir semua pikiran dan gagasan. Namun dari diskusi ini diharapkan lembaga gereja, kantong-kantong komunitas sastra, klub-klub baca-tulis, penerbit, dan yang terkait literatur Kristen lain, dapat mencipta ruang-ruang tersebut. Jejaring sosial di dunia maya juga dapat dimanfaatkan sebagai ruang belajar yang tak terbatas waktu dan tempat saling berbagi karya dan kritik positif.

 

Itasiregar, 7 September 2010

 

4 Comments to "Pada Mulanya adalah Kegelisahan"

  1. Handoko Widagdo  15 August, 2013 at 17:32

    Penulis memang adalah orang yang selalu gelisah.

  2. James  15 August, 2013 at 14:19

    1A

  3. J C  15 August, 2013 at 11:09

    Tambahan pengetahuan untuk saya…

  4. Lani  15 August, 2013 at 08:17

    1

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.