Uniknya Bahasa Indonesia (2): Singkatan Menjadi Kata

Handoko Widagdo

 

Orang Indonesia adalah orang yang keranjingan singkatan, demikian teman-teman kerja asing saya selalu bilang. Dalam setiap laporan selalu ada daftar singkatan yang memakan lebih dari dua halaman. Penilaian teman-teman asing saya ini ada benarnya. Setelah saya memeriksa kata-kata dalam Bahasa Indonesia, saya menemukan banyak kata yang dulunya, aslinya, adalah singkatan. Bahkan beberapa penutur Bahasa Indonesia tidak tahu lagi bahwa kata-kata tersebut dulunya adalah singkatan.

bahasa-slang

Presiden Sukarno adalah sosok yang menurut saya paling banyak menciptakan singkatan yang kemudian menjadi kata. Kata berdikari, Irian, bemo adalah contoh singkatan yang beliau ciptakan yang kemudian menjadi kata.

Berikut adalah beberapa contoh kata tersebut:

Berdikari adalah sebuah singkatan dari ‘berdiri di atas kaki sendiri’. Istilah ini diperkenalkan Sukarno untuk membakar rakyat Indonesia supaya tidak tergantung pada bantuan asing. Istilah berdikari dipakai oleh Bung Karno dalam pidato kenegaraan tanggal 17 Agustus 1965. Sebelum pidato tersebut, berdikari sudah sering dipakai untuk mengobarkan semangat rakyat Indonesia yang baru merdeka supaya siap membangun dengan kekuatan sendiri.

Irian. Ikut Republik Indonesia Anti Nederland, demikianlah pada tahun 1962 Sukarno mengajak masyarakat Papua untuk bergabung dengan Indonesia. Istilah Irian diperkenalkan oleh Sukarno sebagai persiapan referendum yang akan dilaksanakan untuk menentukan nasib Papua Barat.

Bemo adalah singkatan dari becak mobil. Istilah bemo dikenalkan oleh Bung Karno pada saat beliau meresmikan mobil roda tiga buatan India sebagai ganti becak di Jakarta pada tahun 1962. Pada tahun 90-an istilah yang mirip muncul di Sumatra Utara. Istilah tersebut adalah bentor, becak motor.

Selain singkatan-singkatan yang akhirnya menjadi kata buatan Sukarno, Bahasa Indonesia juga mempunyai beberapa kata yang dulunya merupakan singkatan. Kata-kata tersebut diantaranya:

Pemilu. Istilah pemilu dulunya adalah sebuah singkatan dari Pemilihan Umum. Istilah pemilu mulai populer pada tahun 1955 saat Indonesia pertama kali menyelenggarakan pemilihan umum.

Beha dan bokep. Kata beha sudah lazim dipakai dalam Bahasa Belanda, sebelum akhirnya diambil oleh Bahasa Indonesia. Beha dalam Bahasa Belanda adalah singkatan dari borst houder. Kata bokep mempunyai sejarah yang mirip dengan beha. Kata ini diambil dari kata bahasa asing (Inggris) yang asalnya dari sebuah singkatan. Dalam Bahasa Inggris kata BF sering diucapkan untuk menyingkat blue film. Lidah Betawi (Glodok?) mengucapkannya dengan suara bokep.

Angkot dan mudik. Saya yakin kata angkot dan mudik lahir di Jakarta. Angkot dulunya adalah singkatan dari angkutan kota. Sedangkan kata mudik muncul di awal tahun 1970-an. Pada saat itu sarana transportasi sudah lebih lancar. Pembenahan sarana transportasi ini memungkinkan para pembantu di Jakarta untuk pulang ke kampung setahun sekali. Biasanya mereka memilih pulang pada saat menjelang hari raya Idul Fitri. Para nyonya yang memekerjakan mereka selalu bertanya: “Kapan mau ke udik?” Seringnya kalimat ini diucapkan lama-lama mau ke udik disingkat menjadi mudik.

Jagung. Menurut Denys Lombard, kata jagung berasal dari singkatan jawi agung. Jawi agung berarti juwawut besar. Juwawut adalah jenis biji-bijian seperti padi yang saat itu umum ditanam di Jawa.  Jagung sendiri adalah tanaman dari Amerika Latin yang diperkirakan baru masuk Nusantara bersama dengan tentara Portugis. Karena gunanya mirip dengan juwawut tetapi bijinya besar-besar, maka orang Jawa menyebutnya jawi agung dan disingkat menjadi jagung.

Tivi dan hape. Tivi dan hape adalah dua singkatan yang menjadi kata. Tivi adalah singkatan dari televisi dan hape adalah singkatan dari hand phone. Awalnya kata televisi lebih lazim dipakai. Khususnya sejak tahun 1962, ketika TVRI resmi mengudara. Namun lambat-laun masyarakat lebih suka memakai kata tivi daripada televisi. Demikian juga dengan hape. Awalnya orang memakai istilah hand phone saat alat ini diperkenalkan di Indonesia pada awal 1990-an. Namun lama-lama istilah hape lebih lazim digunakan.

singkatan

Selain dari kata-kata yang berasal dari singkatan tersebut di atas, singkatan-singkatan kemiliteran dan kepolisian juga lazim dipakai/diperlakukan sebagai kata. Singkatan-singkatan kemiliteran yang dipergunakan sebagai kata diantaranya adalah: ABRI, Polri, Polda, Kopasus, Brigjen, Mayjen, Kombes dan sebagainya.

Masih ada lagi singkatan-singkatan yang digunakan di antara pengguna dunia maya; yang siapa tahu suatu saat yang akan datang menjelma menjadi kata. Singkatan-singkatan seperti daring (dalam jaringan), luring (luar jaringan), dan ol (online) adalah diantara sitilah yang sudah sering digunakan.

Ada juga alay (anak layangan) dan jaim (jaga image) yang sudah sering dipakai para penutur Bahasa Indonesia yang mungkin suatu saat akan masuk sebagai lema di Kamus Besar Bahasa Indonesia. Siapa tahu?

 

About Handoko Widagdo

Berasal dari Purwodadi, melanglang buana ke berpuluh negara. Dengan passion di bidang pendidikan, sekarang berkarya di lembaga yang sangat memerhatikan pendidikan Indonesia. Berkeluarga dan tinggal di Solo, kebahagiaannya beserta istri bertambah lengkap dengan 3 anak yang semuanya sudah menjelang dewasa.

My Facebook Arsip Artikel

54 Comments to "Uniknya Bahasa Indonesia (2): Singkatan Menjadi Kata"

  1. Handoko Widagdo  24 August, 2013 at 07:28

    Mbak Probo, mulih dhisik itu versinya Metro TV. Tapi coba pikirkan ulang bahwa saat itu kebanyakan pembantu di Jakarta bukan dari Jawa tapi dari sekitar Jakarta, seperti Indramayu, Sukabumi, dan sekitarnya, yang bukan orang-orang yang berbahasa Jawa.

  2. probo  23 August, 2013 at 23:41

    bagi saya mudik adalah MUlih DHIsiK

  3. nu2k  20 August, 2013 at 10:43

    Dimas Budi, sekarang sudah jelas dengan siapa saya bersapa ria di dunia maya. Ha, ha, haaa saya memang sudah sangat tua bila dibandingkan dengan usia dimas.. Apalagi kalau dilihat dari warna rambutnya, waaahhhh bukan ubanan lagi.. Warnanya keperakan. Kalau mau “pethanan” yang dicabuti justru yang warnanya hitam… ha, ha, haaa.. Werk ze en dag dag, nu2k

  4. gunawan budi susanto  20 August, 2013 at 07:09

    Mbak Nu2k, saya Gunawan Budi Susanto. Benar kata Bung Handoko Widagdo, saya kelahiran 1961, jadi masih sangat muda: baru berusia 52 tahun. Saya masuk Sastra Undip 1982 dan keluar 1995. Saya Sastra Indonesia. Beberapa kakak kelas (dari Sastra Inggris) yang saya kenal antara lain Mas Rosa Widyawan (LIPI) dan Mas Nurdien Haka (kini profesor di FIB Undip).
    Sayang, saya tidak kenal Thamrin Noor, yang sampean sapa om. Salam!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.