Antalani di Kintamani

Alfred Tuname

 

Percakapan biasa itu terdengar parau. Tidak bulat seperti orang-orang biasa bertemu.  Lepas dan bebas tanpa beban. Tawa dan senyum terasa lebih emosional. Marah dan kesal tampak sensual lalu berhenti pada peleraian. Tetapi suara itu sedang parau.

Kepergian Antalani membawa serta suaranya yang manis. Hanya ada tersisa lambaian tangan di awal kepergian. Hanya terlihat wajah di balik kaca. Tanpa ada suara. Tanpa ada kata. Kegonjangan jiwa bertambah seiring getaran raga kendaran yang siapmembawanya. Tubuh Antalani pun berlalu disambut siluet kota menyambut dingin malam. Rupa air mata meranggas kering dilibas angin perjalanan pulang.

Lembar kenangan muncul kembali bagai berlembar-lembar cerita War and Peace  Tolstoy. Cerita aliran kemesraan dan api bertubi-tubi tumbuh di ingatan. Ingatan ini menyiksa raga. Raga mestinya diam saja tetapi malah ia mencampakkan diri pada sudut kerinduan akut. Mungkin raga pun sedang diamuk histeria. Histeria akan ketakbersentuhan. Raga ingin menguliti kembali sisa-sisa kenangan kemarin seperti tokoh Fanton Drummond yang terus membuntuti Olenka dalam novel Olenka Budi Darma. Itutidak terjadi. Ingatan masih menghujam kepala di lapis bawah bantal.

Malam ini hujan tak ada. Angin sudah memindahkan mendung hingga menyisahkan dingin. Dingin inilah yang menyimbah diri. Lalu, degup jantung terus berpacu sembari membiarkan jemari memberi tanda di atas kertas. Antalani sudah berangkat hari ini. Ia  pergi bersama saudarinya yang baik hati. Jika sudah sampai, semoga tak lupa kembali. 

Masuklah diri pada rentang panjang antara kepergian dan kepulangan. Diri seperti bocah kecil yang berusaha melipat temaram bayangan cermin dalam situasi liminasi itu. Cermin hanya mengembalikan keaslian Antalani dalam spasi yang ketat. Tak legit disentuh.

Chairil Anwar datang menyentuh. “Cintaku jauh dipulau/ Gadis manis, sekarang iseng sendiri…” Lirik manis ini dengan lirih membuntuti ingatan pada Antalani. Bukan dia yang sedang iseng sendiri tetapi kesendirianyang sedang iseng meraih kebersamaan dengannya  di sini. Semakin iseng, semakin pula diriterlempar dalam kawah kerinduan yang membara.

Jika waktu yang paling konsisten, maka biarlah bara kerinduan itu terus memerah bersamanya. Semantara itu, detail-detail kenangan sudah menjadi hikayat nostalgis seperti lubang pada kalung indah yang melingkari leher angsa Antalani. Itu pertanda, kota ini akan tetap menjadi liontin pertemuan untuk kembali merangkai rantai kisah yang merekah.

Di kota ini, kerinduan terus membujuk Antalani kembali. Meski itu harus menunggu. Sebab cinta, rindu tak bisa berpaling darinya. Hingga suatu pagi, ia datang membangunkan raga yang tengah lelah menunggu.

kintamani

Antalani di Kintamani. Ia sedang menghalau duri-duri pendakian. Suaranya terdengar parau,meleleh bersama pecahan kembang api malam. Suaranya tersaring gabus-gabus awan dan lelehan embun. Mungkin karena cinta meronta-ronta seperti geletar hati John Rochester yang melompat dari bukit ke bukit, menerobos kegelapan malam, dan menghantam pepohonan di hutan-hutan kepada Jane dalam novel Jane Eyre Charlotte Bronte.  Setiaknya masih ada suara di tepi kesunyian yang mendamba. Ah, Antalani. Antalani. Antalani.

 

Djogja, Agustus 2013

Alfred Tuname    

 

7 Comments to "Antalani di Kintamani"

  1. Lani  20 August, 2013 at 03:50

    DA : klu pentulise mau ngajarin aku gawe surat cinta, aku ora nolak……….krn sipentulis lbh ahli dlm hal ini hehehe……..

  2. Matahari  20 August, 2013 at 01:20

    Foto diatas….Pura Ulun Danu ( 1633 ) …di Danau Bratan…Bedugul Bali

  3. Dewi Aichi  19 August, 2013 at 08:15

    Ya biar yang jawab yang nulis kok..ato Lani minta dikirimi surat cinta he he he…

  4. Lani  19 August, 2013 at 07:54

    2 DA : apakah termasuk klu lagi nulis surat cintakah??????? Hayoooooooo jawab…………boleh jg pentulisnya kasih jawaban kkkkk………..

  5. J C  19 August, 2013 at 06:55

    Kintamani memang selalu indah dan magis…

  6. Dewi Aichi  19 August, 2013 at 05:59

    Bahasanya indah sekali kalau Alfred yang nulis, pernah ada yang kirim email ke aku, Alfred kalau nulis surat wuih…bener-bener bagus sekali, dari segi bahasa, formatnya dan isinya…

  7. James  18 August, 2013 at 14:05

    SATOE. Kintamani Bali

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.