Bendera Nusantara (3 – Penutup)

djas Merahputih

 

Memperingati Hari Kemerdekaan Indonesia ke-68 tahun 2013 ini ada baiknya kita meresapi kembali suasana kebathinan para pemimpin bangsa pada detik-detik memasuki gerbang kemerdekaan. Saat-saat menjelang tanggal 17 Agustus 1945 sebuah lembaga bentukan Jepang BPUPKI telah merumuskan ideologi negara, lambang negara, UUD serta bentuk dan bendera negara.

Perlu difahami bahwa walaupun konsep kenegaraan kita telah berusaha dirumuskan sebaik mungkin namun dalam kondisi yang serba darurat dan mepet tentu akan membuka kemungkinan adanya beberapa hal yang luput dari pemikiran dan pengamatan para konseptor tersebut. Adu gagasan dan argumen mewarnai perdebatan dalam merumuskan konsep-konsep kenegaraan bangsa Indonesia yang dalam waktu dekat akan segera diproklamasikan. Termasuk pembahasan mengenai ideologi negara kita Pancasila.

Salah satu hal yang menarik dan mungkin dianggap sepele adalah dengan konsep negara kesatuan yang berasal dari beragam suku bangsa dan riwayat kerajaan-kerajaanya di seluruh Nusantara, bendera Indonesia justru didesain dengan sangat simpel dan sederhana. Sama sekali belum  mencerminkan keragaman kultur dan kekayaan budaya serta sejarah agung peradaban Nusantara di masa lalu. Dwiwarna tentu bukanlah simbol utuh bagi hal yang dimaksud. Sehingga tidak mengherankan dalam sejarahnya gerakan-gerakan seperti DI/TII, Permesta, RMS, GAM dan Papua Merdeka silih berganti menggerogoti kesatuan dan persatuan bangsa Indonesia.

bendera

Dengan mengamati simbol-simbol yang tersirat dalam bendera gerakan-gerakan separatis tersebut dapat kita lihat bahwa simbol berupa bintang lima, bulan (sabit), warna hijau, biru, kuning serta komposisi warna stripes merupakan elemen “asing yang belum terakomodasi dalam desain Sang-saka Merah Putih kita. Dalam dunia simbol perlawanan kaum-kaum separatis tersebut merupakan pesan tersirat akan perlunya sebuah pemikiran ulang mengenai konsep panji kenegaraan kita.

Perlu kita simak bagaimana bendera singapura yang dalam sejarahnya adalah bagian dari kerajaan Nusantara di masa lalu justru menjadikan dwiwarna kita sebagai latar belakang bendera mereka. Bendera Inggris Raya (Great Britain) adalah akomodasi dari perpaduan simbol-simbol dari Inggris, Irlandia dan Scotlandia sehingga melahirkan desain bendera yang akomodatif dengan sebutan Union Jack. Amerika mengakomodasi jumlah negara bagian serta koloni-koloni perintis kemerdekaan mereka ke dalam simbol-simbol bendera mereka. Dalam alam simbolik keputusan untuk mengakomodasi unsur-unsur dari pembentuk sebuah bangsa yang sepakat untuk bersatu merupakan awal penentu dari perjalanan bangsa tersebut ke depan.

Dari proses pendalaman suasana kebathinan para konseptor negara tersebut dan seandainya jarum sejarah dapat diputar ke belakang maka kemungkinan konsep ideal bendera Indonesia yang muncul pada saat itu akan memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

  1. Mengakomodasi keragaman kultur dan suku-suku bangsa dalam wilayah Nusantara
  2. Mengakomodasi sila-sila dalam Pancasila
  3. Mengakomodasi tiga falsafah dalam Trisakti
  4. Mengakomodasi prinsip bebas dan aktif dalam pergaulan antar bangsa
  5. Mengakomodasi cita-cita bangsa sebagai cahaya dan mercusuar dunia

Dengan mengakomodasi bagian serta prinsip-prinsip kebangsaan Nusantara di atas diharapkan munculnya sebuah panji negara yang lengkap dan akomodatif. Memang akan sulit untuk mengakomodasi semua hal sebab sebuah bendera juga harus tampil ringkas dan sederhana sehingga mudah untuk diingat dan dapat ditafsirkan dengan gamblang serta universal. Dan dalam suasana persiapan kemerdekaan yang serba darurat saat itu dapat dimaklumi jika akhirnya para pendiri negeri memutuskan dengan “tergesa-gesa” bentuk dan desain bendera negara kita.

Jika saja kondisi pada saat persiapan proklamasi kemerdekaan Indonesia saat itu lebih kondusif dan terkontrol maka dengan sedikit pengetahuan dan pemahaman tentang alam simbolik Nusantara kemungkinan bentuk dan draft  bendera Indonesia saat itu akan memunculkan komposisi elemen-elemen dan warna seperti gambar pada link ini.

Nuansa komposisi dan proporsi yang akan muncul mungkin bisa lebih banyak lagi dan akan terasa janggal dalam benak kita. Namun jika kita masuk dan menyelami suasana terdalam saat itu (masih dalam tekanan psikhis penguasaan Jepang) akan dapat dengan mudah terasa bahwa warna merah dan putih “dianggap” sudah cukup untuk menggambarkan keutuhan maupun keragaman Nusantara. Perlu diingat bendera Jepang juga berkonsep dwiwarna walaupun dengan bentuk geometri yang berbeda.

Dalam perjalanan sejarah Indonesia hal tersebut segera mendapatkan ujian dengan tumbuhnya ideologi dan faham-faham separatis di Nusantara. Secara perlahan namun pasti benih-benih perpecahan bangsa bermunculan di mana-mana. Bagi masyarakat umum dan dalam dunia realita yang sangat mengandalkan logika tentu hal tersebut dianggap tak ada hubungannya dengan simbol-simbol dalam bendera kita. Namun perlu kita sadari juga bahwa masyarakat Nusantara tumbuh dalam mitos dan simbol-simbol keagaman serta kepercayaan di daerah mereka masing-masing. Dan secara tidak sadar hal tersebut dapat mereka temukan dalam panji-panji yang digunakan oleh gerakan-gerakan separatis di Nusantara.

Tiga bagian tulisan ini bukan bermaksud untuk menggugat sejarah negeri kita. Hanya sekedar mengurai kebekuan yang mugkin ada dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia. Desain bendera bukanlah hal yang sakral dan harus dipertahankan mati-matian. Sangat berbeda halnya dengan ideologi Pancasila yang merupakan jiwa bangsa dan falsafah hidup bernegara kita.

Sejarah mencatat bentuk negara kita telah berproses mulai dari sistem kerajaan di jaman lampau, republik, federal dan kembali ke negara kesatuan berbentuk republik. Pancasila sebagai ideologi juga telah melalui tahap tarik ulur dalam penetapan teks terakhirnya. UUD negara kita pernah mengalami pergantian sebelum akhirnya kembali lagi ke UUD 45 dan telah mengalami amandemen beberapa kali. Namun dari uraian di atas dan dua tulisan sebelumnya terlihat bahwa dalam rentang waktu sejak proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945 hingga saat ini (68 tahun) setidaknya hanya ada dua hal yang belum berubah di negeri ini, yaitu cita-cita bangsa yang tetap belum tercapai serta Bendera itu sendiri. Apakah kedua hal tersebut ada kaitannya? Kembali kita hanya bisa menduga-duga dan kemudian berujar, “Mungkin saja…..!!”

 

Salam Nusantara, //djasMerahputih

 

About djas Merahputih

Dari nama dan profile picture'nya, sudah jelas terlihat semangat ke-Indonesia-annya. Ditambah dengan artikel-artikelnya yang mengingatkan kita semua bahwa nasionalisme itu masih ada, harapan itu masih ada untuk Indonesia tercinta. Tinggal di Sulawesi, menebar semangat Merah Putih ke dunia melalui BALTYRA.

My Facebook Arsip Artikel

14 Comments to "Bendera Nusantara (3 – Penutup)"

  1. djas Mpu  21 August, 2013 at 05:30

    9: Dari hubungan bendera dan kebesaran sebuah bangsa seperti Amerika dan Inggris mungkin juga bangsa kita telah menetapkan ukuran bangsanya sebagai sebuah bangsa yang “sederhana” saja. Dalam usia 68 tahun ini banyak hal memang menunjukkan bahwa bangsa kita adalah bangsa yg sangat sederhana. Mungkin contoh kecil bisa dilihat dari alutsista angkatan bersenjata kita.

  2. djas Mpu  21 August, 2013 at 05:07

    4: Kita semua sangat cinta dengan bangsa yg CANTIK ini. Tulisan ini hanya berusaha mencari sebuah titik kecil yang mungkin terlupa atau terlewatkan dalam perjalanan sejarah bangsa kita. Mengapa sebuah bangsa dengan sumber daya yg besar dan sudah melalui masa yg cukup lama namun tetap saja belum makmur. Jepang cukup dengan 30 tahun untuk bangkit dari negara kalah perang menjadi sebuah negara besar.

    Kita mungkin menyepelekan hal-hal kecil seperti desain sebuah bendera. Tapi bukankah dalam kehidupan sehari-haripun kita kadang-kadang dipusingkan dengan hal-hal maupun benda kecil semisal “kunci”? Entah itu kunci rumah, kunci mobil, kunci brankas atau sekedar password email kita.

  3. djas Mpu  21 August, 2013 at 04:56

    3: Kajian di atas adalah kajian obyektif dengan perbandingan setara dalam proses penetapan desain bendera masing-masing dari negara berbeda di dunia. Terutama negara besar seperti Amerika dan Inggris. Kata kunci yg membedakan bendera kita dengan bendera kedua negara tersebut yaitu “akomodatif”. Kalo soal selera itu adalah hak individu dan dihargai di manapun. Masalahnya kita bukanlah bangsa yg homogen. Bung Karno yg berusaha menyatukan 3 faham saja di negeri kita sudah tenggelam dalam ego ketiga faham yang sama dicintai oleh beliau.

  4. djas Mpu  21 August, 2013 at 04:49

    5: Memang benar Bendera adalah benda yang sangat sakral di negara kita. Maksud tulisan di atas bukan fisik benderanya melainkan desain benderanya. Jika melihat proses penetapan desain bendera di negara lain dengan proses desain bendera Indonesia maka terlihat beberapa hal yg menunjukkan kalau bendera kita belum melalui proses yg akomodatif.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.