Seragam Lusuh dan Celana Bolong

Ida Cholisa

 

Pagi ini aku berangkat sekolah dengan mengenakan seragam lusuh. Seragam bekas milik kakak yang lama terlipat di lemari tua di pojok kamar belakang. Seragam yang tak pernah dipakai sejak sejak kakak memiliki seragam baru satu tahun lalu.

“Daripada nggak pakai seragam, kamu pakai saja seragam bekas kakakmu. Besok ibu jahitkan lagi seragam yang baru.”

Aku tak menjawab perkataan ibu. Meski setengah terpaksa, kukenakan juga seragam lusuh penuh lipatan tak beraturan itu.

“Berangkat dulu ya, Bu?” kataku sambil mencium tangan ibu.

“Hati-hati ya, belajar yang benar.”

Ibu mencium dan berpesan sembari meniupkan doa di telingaku.

“Semoga kesuksesan menyertaimu, Nak.”

Dan aku pun melambaikan tangan pada ibuku.

Aku murung di sekolah. Entah mengapa ada galau di hatiku. Kegalauan yang tiba-tiba muncul tanpa pernah kumengerti apa sebabnya. Bukan karena seragam lusuh yang kukenakan, tapi lebih pada perasaanku belaka. Pagi tadi kawan-kawan “genk-ku” mengolok-olokku. Bercanda sambil mengeluarkan kata yang aku sedikit tak menyukainya. Kawanku-kawanku itu, Sani, Irul, Wanti, Ikma dan Ulis silih berganti membuat merah telingaku. Aku yakin mereka tak bermaksud menyakitiku. Tapi keroyokan sentilan kalimatnya membuat angkara murkaku bangkit seketika.

“Awas ya, kalau kalian lewat depan rumahku, aku akan mengadukan kalian pada ibuku. Biar kalian dimarahi.”

Tentu saja pasukan kawanku itu tak berkutik saat aku bilang bahwa aku akan mengadukan mereka pada ibuku. Entah karena ancaman itu, beberapa hari sesudahnya aku tak melihat pasukan “genk” itu berjalan melewati rumahku. Mungkin mereka berjalan memutar melewati jalan yang agak jauh dari jalan sebelumnya. Tiba-tiba saja, ada kerinduan di hatiku untuk berjalan bersama lagi dengan kawan-kawan sekolah itu.

“Hai Lies, masih marah sama kami, ya? Maafkan kami, ya?”

Sani, kawan berambut pirang berkulit putih mengajakku bicara pagi ini. Kami baru saja tiba di sekolah setelah melewati jalan yang berbeda. Mereka datang duluan, aku datang belakangan.

“Nggak enak juga ah diam-diaman kayak gini. Aku juga yang rugi, nggak bisa nyontek ulangan lagi, hehehee….”

Sani yang memiliki nama lengkap Hesti Triarsani mengajakku bersalaman hingga cairlah keterdiaman dan perasaan kesal yang selama beberapa hari ini aku simpan.

“Nah gitu dong… akur, kan?” Sani memelukku.

Kami berjalan beriringan menuju ruang kelas. Kawan-kawan lain seperti Iyul dan kawan-kawan memandang kami secara bergantian. Mereka berbisik-bisik kemudian. Hm, mungkin mereka bertanya-tanya, Lies dan Sani telah berdamai, ya?

***

Lonceng tanda istirahat telah berbunyi. Besi yang digantung di depan ruang kelas lima tampak bergoyang saat disentuh besi kecil sepanjang lima belas centi. Bunyinya teng-teng-teng….! Dan saat lonceng itu terdengar, kami segera berlari keluar kelas. Tujuan kami satu; berada di luar kelas untuk sekadar beristirahat. Kami biasa berlari berkejar-kejaran, jajan di warung samping sekolah atau hanya duduk-duduk nglemprak atau ngglosor di atas lantai depan ruang kelas.

Aku berjalan menghampiri kerumunan kawan. Ada banyak kawan lelaki dan perempuan di situ. Mereka tengah asyik bermain gundu. Kuperhatikan, semburat rasa gembira memenuhi raut wajah mereka. Tiap kali jari-jemari mereka menjentikkan gundu hingga menabrak gundu yang diincarnya, mereka akan bersorak gembira. Ada beberapa gundu di atas tanah kering itu. Salah satunya milik Herdi, ketua kelasku. Gundu miliknya lucu, cantik dan manis warnanya. Warna biru tegas dengan siluet putih di sekitarnya membuat gundu miliknya paling indah dibanding gundu lainnya.

“Cantik sekali nekeran milikmu, Herdi.”

Ia menoleh dan memandangku sesaat untuk kemudian meneruskan kembali permainannya. Pada babak akhir permainan aku bersorak gembira karena ternyata kelereng Herdi yang menjadi pemenangnya. Aku bersorak, berjingkrak-jingkrak hingga mata beberapa teman menatapku heran dan ternganga. Saat aku berhenti berjingkrak, tiba-tiba seorang kawan pria berjalan mendekat, dan ….

Ia menyingkap rok bajuku! Rok bawah warna merah lipit-lipit itu pun berkibar, mendentumkan bom tertawa yang memekakkan telinga. Beberapa jenak aku tak mengerti apa-apa. Ada tawa membahana, ada apakah gerangan?

“Hahahaaa… lihat…. celana Lies bolong… celana Lies boloooong…!”

Mukaku pucat pasi seketika, saat berpuluh pasang mata menatap dengan mulut ternganga, tertawa berderai-derai membuat usus maluku kian terburai. Di antara kekacauan perasaan, aku meraba celanaku melalui bagian luar rokku; celanaku memang bolong, lebar hingga jari tangan bisa merasakannya meski dari luar…

Aku beringsut meninggalkan kerumunan kawan-kawan. Rasa malu begitu menderaku. Aku baru sadar bahwa tadi pagi aku tergesa-gesa berangkat ke sekolah, hingga sebuah celana dalam bolong pun aku kenakan tanpa aku menyadarinya. Hm, bagai ketiban durian runtuh rasanya, tapi durian busuk yang tak enak di rasa.

Sepulang sekolah aku mengadu pada ibu. Aku memprotes ibu mengapa celana dalamku sama dengan celana dalam adik-adik lelakiku. Saat itu, saat di mana jaman masih susah, ibu tak memisahkan celana dalam untuk anak perempuan dan anak lelakinya. Semua dianggap sama. Celana dalam dengan bentuk celana street yang tidak terlalu menampakan paha. Coraknya norse, norak sekali. Ada warna merah dengan gambar bunga, kotak-kotak hingga warna abstrak. Bayangkan saja, masa iya sih adik lelaki pakai celana dalam street gambar bunga? Masa juga sih, anak perempuan sepertiku tak memiliki celana dalam model cancut seperti kawan lainnya? Ah….

Kadang aku kesal karena harus berebut celana dalam dengan kakak dan adik-adikku. Pernah pula suatu ketika aku ketiban sial. Semua celana dalam hilang tak berbekas. Setelah kucari ternyata ia ada di gantungan baju. Saat aku akan memakainya, alamak… celana itu masih basah semua! Sementara jam berangkat sekolah kian menjerat, tak satu pun celana kering kutemukan. Apakah aku harus berangkat sekolah tanpa mengenakan celana dalam? Apa kata dunia? Aku bingung tak terkira. Jika kupakai celana dalam kemarin, baunya pasti minta ampun. Tapi kalau kupakai celana dalam basah ini, hah… bagaimana rasanya, ya?

Matahari makin meninggi, membuat hatiku panik tak terperi. Tanpa banyak membuang waktu aku pun menyambar celana dalam basah itu. My God, cessss… celana basah yang membungkus anu-ku terasa dingin. Berrrr… aku sedikit menggigil. Tapi apa mau dikata, demi menjemput ilmu kukorbankan segala rasa. Pun rasa dingin di bagian bawah perut yang sungguh teramat menyiksa…

Aku sampai di sekolah dengan nafas terengah-engah. Pelajaran pertama adalah pelajaran matematika. Guruku, Pak Kasnari, seorang guru kelas berwajah manis berbadan tinggi ceking dan berambut ikal telah berdiri di depan kelas. Aku mengucap salam, mengangguk hormat dan menyalami beliau. Ia menyuruhku untuk duduk di bangku seperti biasa. Sepuluh soal matematika telah terpajang di depan mata.

“Kalian kerjakan sepuluh soal ini, ya? Yang bisa mengerjakan mendapat tambahan nilai. Kalau nggak ada yang mau maju, akan Bapak panggil satu persatu.”

Ucapan Pak Kasnari melecut rasa optimisku bahwa aku akan mampu mengerjakan soal-soal itu. Dengan penuh semangat aku pun mengerjakannya hingga tuntas semuanya. Sementara kawan-kawanku terlihat mengernyitkan dahi, berusaha menyelesaikan soal hitungan penambahan dan pengurangan yang bagiku terasa mudah dan tak terlalu membuat pusing kepala.

Pak Kasnari berulangkali meminta kami untuk mengerjakan soal itu di papan tulis. Tapi tak satu pun di antara kami yang berani mencoba menyelesaikan soal itu. Kami hanya diam dan duduk membisu. Sebetulnya aku ingin maju ke depan, tapi…

“Lies, coba selesaikan soal hitungan itu. Kerjakan nomor satu, ya?” tiba-tiba Pak Kasnari menyuruhku untuk maju ke depan.

Blingsatan aku. Bagaimana ini? Aku gugup tak terkira. Bukannya aku tak bisa menjawab soal itu, tapi… tapi karena celana dalamku…

“Ayo Lies, jangan buang waktu! Kerjakan soal nomor satu!” kali ini suara Pak Kasnari semakin meninggi.

Apa boleh buat. Dunia rasanya kiamat saat aku harus bangkit dari kursi dan berjalan menuju papan tulis di depan kelas. Keringat dinginku terasa jatuh satu per satu saat suara teman berdengung seperti sekawanan lebah…

“Lies ngompol, ya? Tuh roknya basah…,” bisikan seorang kawan mendarat di kedua telinga.

“Pak Guru… Lies ngompol… Lies ngompol, Pak Guru…!” teriak mereka.

Aku membalikkan badan usai mengerjakan satu soal di papan tulis. Tak kuperhatikan raut muka dan komentar kawan-kawanku. Keinginanku hanya satu; kembali ke bangku!

“Ssssttt… ngggak boleh menuduh kawan, ya? Coba soal nomor dua, ada yang bisa mengerjakan?”

Pak Kasnari berusaha mengalihkan pembicaraan kawan–kawan . Dalam sekejap kelas pun hening kembali. Sungguh, ada rasa malu tertahan di hatiku terhadap komentar teman-temanku. Gara-gara celana dalam basah aku jadi begini. Tiba-tiba aku ingin menangis. Tapi awan mendung yang menggelayut di langit hatiku seketika sirna saat kudengar Pak Kasnari berbicara.

“Kalian mestinya mencontoh Lies, kawan kalian yang tak banyak bicara tapi encer otaknya. Lihat, ia selalu mampu mengerjakan semua soal dengan baik, nyaris sempurna. Bisakah kalian menirunya? Jika kalian mau, sebenarnya kalian bisa belajar banyak kepadanya. Ia berbicara menggunakan otak, bukan dengan mulutnya.”

seragam-lusuh

Aku hanya menundukkan kepala dalam-dalam saat mata semua teman memandangku sembari mereka bertepuk tangan. Bagiku mata tajam mereka seolah mata jahat yang ingin menelanjangi diriku karena celana basahku…***

 

Cibelok, 1984

 

6 Comments to "Seragam Lusuh dan Celana Bolong"

  1. Dewi Aichi  21 August, 2013 at 17:21

    BU Ida…mengharukan, sedih dan gimana yaaaa….seperti kembali saat jaman SD, keadaan seperti ini pada jaman ku adalah sangat biasa dan normal. Tak peduli warna, corak, motif, dan yang penting bisa berpakaian. Mungkin anak anak yang lebih baik dan mampu, bisa saja spontan mengolok olok, mentertawai anak lain yang bajunya jelek, sobek, atau kaos kakinya lain warna, bahkan banyak anak yang sepatunya sudah robek robek, pun masih dipakai. Dengan keadaan seperti itu, semangat belajarnya sangat tinggi, tidak menyerah pada keadaan. Tidak sedikit dari anak yang demikian, sekarang hidupnya sangat mapan. Saya bertemu dengan beberapa teman yang dulu benar benar jadi idola, semua penampilan serba bagus, tapi sekarang mereka hidupnya tidak lebih mapan daripada anak anak yang ketika itu terhina, atau ortunya sangat miskin.

  2. Dj. 813  21 August, 2013 at 01:40

    Jaman Dj.di SR dulu tidak ada seragam.
    Masih pakai pakaian apa saja.
    Jangankan seragam, sandal saja tidak punya.
    Malah masih nyeker…. hahahahaha….!!!
    tapi tidak mengurangi kwalitas.
    Salam,

  3. J C  20 August, 2013 at 21:07

    Mak ceeeessss…membuat hati mencelos dan nggregel (terharu) membaca kisah seperti ini…

  4. Titin rahayu  20 August, 2013 at 20:46

    Masih banyakkah orang Indonesia yg masih berfikir banyak anak banyak rejeki ??, yg di korbankan di sini adalah kesejahteraan si anak …Seperti baru kemaren saya sekolah di SD belakang rumah dengan teman2 yg hidup dalam keprihatinan..

  5. Handoko Widagdo  20 August, 2013 at 18:33

    Dinamika anak SD yang selalu mengharukan.

  6. Lani  20 August, 2013 at 09:47

    Satoe

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.