Rumah Impian

Bunda Riga Magistra

 

Pagi yang masih temaram. Matahari belum menampakkan diri sepenuhnya. Sudah menjadi kebiasaan hampir setiap pagi kami jalan-jalan menghirup udara segar di sekitar perumahan mewah di daerah Dago. Sedangkan kami sendiri masih mengontrak sebuah rumah sederhana di belakang perumahan ini.

Jalan-jalan di sini sangat menyenangkan, sebab kami bisa bermimpi dan berimajinasi. Melihat rumah-rumah yang dirancang dengan bermacam-macam gaya dari gaya klasik, Roman, modern atau minimalis semua ada di sini. Ada sebuah rumah, menurutku benar-benar bergaya rumah tropis, paling kusukai. Rumah itu berkesan hangat dan romantis dengan bunga warna warni menjuntai yang menghiasi balkon atas. Tanaman di halaman depan bergerombol menurut warna dan bentuk daun, berpadu serasi.

Rumah-Impian

Rumah itu punya banyak jendela yang selalu terbuka sedikit untuk masuk udara segar. Pasti penghuni rumah itu selalu sehat dan ceria. Aku sering berhayal kamilah yang berada di rumah itu, dan setiap pagi suamiku mengucapkan “Selamat pagi, sayang” sambil mengecup keningku. Ketika kubuka jendela,  cahaya matahari menerobos ke dalam kamar mencairkan udara beku. Aaaahhh…hayalanku terlalu jauh! Tapi suamiku berkata:

“Insya Allah, suatu saat nanti kita akan memilikinya.” Dia memberi semangat agar aku rajin munajat. Entah dia merasa optimis, atau hanya untuk merespon khayalanku. Aku tak tahu. Yang pasti, dia telah menanamkan harapanku akan masa depan yang lebih cerah. Meskipun pada saat itu dia baru saja diangkat menjadi PNS yang gajinya tak seberapa dibandingkan ketika dia bekerja di swasta. Sungguh, khayalan ini membesarkan hatiku, di saat keadaan perekonomian kami sangat tidak layak dengan dua orang anak.

Tiba-tiba di jalan setapak di belakang perumahan itu, kami melihat seorang nenek tua yang berjalan tertatih-tatih bertongkat sebatang ranting. Dia sendirian, padahal suasana masih berkabut di sekitar kerimbunan pokok bambu.

 

“Nenek mau ke mana?” tanyaku khawatir.

“Biasa, Neng…nenek mau ke jamban, di sana..” katanya menunjuk ke sebuah seke (mata air).

Secara otomatis suamiku menuntunnya dengan hat-hati.

“Harusnya nenek diantar oleh anak atau cucu yang sudah besar…”

“Halaah…gak ada yang sudi mengantar, mereka masih pada tidur!” nada bicaranya sangat kecewa.

Suamiku menuntunnya sampai ke dekat mata air yang dimaksud.

 

“Haturnuhuun, Cep.. Mugi Encep sareng Eneng sing mendak milik, sing beunghar, digampilkeun rijkina ku Alloh SWT. Tos, nini mah teu kedah ditungguan. Mangga lajengkeun…” kata si nenek menyuruh kami segera pergi dari situ. (=”Terimakasiih, Cep. Semoga Encep dan Eneng mendapatkan harta yang banyak dan dimudahkan dalam segala urusan rijkinya oleh Allah SWT. Sudahlah, nenek gak usah ditunggu, silahkan lanjutkan perjalanan kalian.”)

 

Sejak saat itu, kami tak pernah bertemu dengan si nenek lagi, dan sebelumnya pun kami tak pernah bertemu dengannya, entah di sebelah mana rumahnya, kami tak pernah tahu.

 

Kami  hampir melupakan kejadian itu setelah tujuh tahun berlalu. Justru aku teringat kembali kepada si nenek, ketika aku menata pot-pot bunga di balkon rumah yang baru saja dibangun. Aku menata bunga-bunga agar berjumbai  warna warni dari balkon teras depan, seperti yang kuimpikan dulu saat bertemu dengan si nenek. Rumah ini dibangun di lereng bukit, sehingga sepanjang waktu kami bisa melihat pemandangan kota Bandung yang membentang dikelilingi gunung-gunung. Dalam kesendirian di tengah malam, aku bersyukur dan bersujud kepada-Nya. Betapa cinta-Nya selalu bersama saat suka ataupun duka. Bahkan cita-cita yang saat itu tak memungkinkanpun, menjadi mungkin di waktu lain.

Dari sekian do’a yang kami mohonkan kepada-Nya, barangkali  do’a si neneklah yang dikabulkan. Tapi ke mana harus kami sampaikan rasa terimakasih ? Siapa nama nenek itu dan di mana rumahnya? Kami tak pernah bisa menemukan kembali jejaknya. Kalaupun si nenek itu sudah meninggal, semoga dilapangkan  alam kuburnya dan mendapatkan kebahagiaan akhirat kelak. Amiin..

 

Bandung, 19 Agustus 2013

RIGA

 

 

37 Comments to "Rumah Impian"

  1. Swan Liong Be  31 August, 2013 at 16:44

    @Djoko: disini kita harus bedakan antara “house” dan “home”; yang saat ini didiskusikan antara Nu2K dan Matahari menurutku adalah house, yang Djoko maksud adalah home. Sayangnya tidak ada perbedaan dalam bahsa indonesia, at least aku tidak tau istilah tepatnya, mungkin ada yang tau.

  2. Dj. 813  29 August, 2013 at 00:17

    Matahari Says:
    August 22nd, 2013 at 13:14

    “Tujuh tahun dan berhasil membangun rumah impian…benar benar sebuah perjuangan…Dilain sisi ada buanyaaaaaaakkkk sekali orang Indonesia yang “bisa”membangun rumah impian bukan satu tapi beberapa …termasuk rumah rumah impian para gundik gundik mereka hanya dalam hitungan beberapa bulan sesudah menjabat …How come ? Jawab sendiri”

    Nunuk…tdk ada satu katapun dari komentar saya…kalau kamu bacanya teliti yang mengatakan bahwa hanya di Indonesia orang bisa membangun rumah dalam hitungan bulan…Saya heran baca komentarmu yang total melenceng…dan koar koar bahwa anakmu selesai rumahnya hanya dalam 2 bulan lebih…bahwa anakmu pimpinan proyek dll…hubungan dengan komentar saya itu apa? Yang saya maksud adalah….dinegri saya Indonesia ( passportmu sudah merah).. ..banyak OKB…yang baru menjabat beberapa bulan …tapi simpanan di bank sudah bertambah beberapa milliard..mereka gampang saja beli rumah…tanpa credit….alias cash…beda dengan di Eropa…walau rumah selesai dalam waktu kurang dari 3 bulan…tapi hampir semua orang di Eropa ngutang ke bank untuk bayar cicilan rumah…umumnya 20 tahun sampai 30 tahun…dan bunga hutang itu sangat besar…bahkan ketika cicilan sudah habis 20 sampai 30 tahun…sebenarnya semua hutang belum terbayar…karena sebagian besar yang dibayar ke bank per bulannya hanyalah bunga hutang…masih ada sisa mungkin puluhan ribu euro atau sekian ratus ribu euro…tergantung pinjaman berapa dan yang dibayar per bulan berapa…Bisa saja sebuah rumahdi Eropa telah berdiri dalam waktu 3 bulan….tapi….rumah itu belum lunas…. Mungkin lunas 20 tahun lagi…Apa anakmu dengan bekerja hanya 3 bulan bisa membayar lunas rumahnya seperti OKB di Indonesia…kalau kamu jawab ya….itu baru namanya ONZIN…
    ———————————————————

    Ibu Matahari…

    Dj. baca kembali ini komentar ibu Matahari…
    Dj. jadi senyum-senyum sendiri.
    Mengapa…???
    Ya, benar ini Typis jawaban yang tegas dari seorang Matahari yang kuat sinarnya.
    Hahahahahahahahahaha…!!!
    Jadi mengingatkan Dj. akan seorang saudara di Baltyra yang bernama “Itsmi”, yang sebenarnya cukup tegas.
    Sayang dia sudah mundur, karena merasa di kompori Dj.
    Sangat disayangkan.
    Padahal Dj. harap dia bisa lebih berdiplomasi dan tidak emosi

    Untuk Dj. rumah impian, ya dimana istri dan anak-cucu bisa selalu berkumpul. ( KELUARGA )
    Walau tidak setiap hari, tapi kerukunan yang terjalin dan saling mendukung ( memitivasi )
    Itu baru Dj. namakan rumah impian ( FAMILY ).
    Dj. bangun sejak 1975.

    Salam manis dari Mainz.

  3. Lani  29 August, 2013 at 00:07

    MAWAR : akhirnya kamu mencungul disini juga………

  4. Lani  29 August, 2013 at 00:06

    31 MBAK PROBO : astaga……naga………hehehe

  5. Mawar09  28 August, 2013 at 23:55

    Bunda Riga : rumah impian adalah tempat bernaung bersama keluarga, ngga perlu indah yang penting nyaman dan teduh ! Semoga suatu hari nanti saya juga bisa membangun rumah impian yang mungil untuk dihuni kalau suami sudah pensiun. Sejuk kah daerah tempat tinggalmu ini?

  6. Garini Darsodo  28 August, 2013 at 20:41

    Walaaahh…udah rame sekali ya…
    Terimakasiiih…terimakasiiih atas sambutan teman-teman, mas dan mbak yaa.
    Rumah impian yang sebenarnya sih enggak seindah gambaran di sini, tapi lebih indah perjuangannya untuk mencapai rumah yang diinginkan seperti sekarang. Karena rumah itu rumah tumbuh. Waktu dibangun masih sederhana, jadi dibangun dari tahun ke tahun sesuai ada rijkinya aja. Tokh suami bukan seorang pejabat yang punya banyak proyek, dia hanya pekerja biasa aja…hihihihi
    Apalagi keadaan tanahnya bertahap, jadi dibangun menurut kontur tanahnya…
    Makasiih banyak mbak Dewi Aichi, Matahari, mbak Lani, mbak Nunuk, Swan Liong Be, dan JC…
    Ayuuukkk…siapa yang mau main ke rumah impianku di mBandung timur yuukkk mareee….
    I love you all….thanks a lot.

  7. probo  23 August, 2013 at 22:54

    ASTAGA!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.